Nabila tidak pernah menyangka jika putri yang selama enam tahun ia besarkan dengan kemewahan ternyata adalah anak palsu. Darah dagingnya yang asli, Luna Wegan, diam-diam ditukar saat lahir oleh keluarga suaminya sendiri dan terpaksa hidup menderita sebagai pengemis jalanan. Takdir akhirnya mempertemukan Nabila dengan seorang gadis kecil penuh luka memar di depan mall, di mana sebuah tahi lalat di balik telinga membongkar pengkhianatan keji masa lalu. Bersama suaminya, sang CEO kejam Leon Wegan, Nabila kini siap menghancurkan siapa pun yang telah berani menyiksa putri kandung mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Lampu neon putih bersinar sangat terang menyilaukan mata di ruang interogasi markas bawah tanah Wegan Group.
Suster Rini duduk gemetar di atas kursi besi yang dingin.
Kedua tangannya diikat kuat ke belakang kursi menggunakan tali tambang tebal.
"Tolong lepaskan saya! Saya tidak melakukan kesalahan apa pun!" jerit Suster Rini memalingkan wajahnya dari sorot lampu.
Pintu besi berat ruangan itu terbuka perlahan mengeluarkan suara derit yang menyeramkan.
Ngiik.
Leon Wegan masuk ke dalam ruangan itu dengan langkah santai dan wajah tanpa ekspresi.
Aura pria itu sangat tenang, tapi ketenangannya justru terasa jauh lebih mengerikan dari amarah yang meledak-ledak.
Leon menarik sebuah kursi kayu dan duduk tepat di hadapan Suster Rini.
Asisten Budi dan dua pengawal bayangan berdiri siaga di belakang punggung bos besar mereka.
"Kau tahu kenapa aku membawamu kemari secara paksa, Rini?" tanya Leon dengan nada suara yang sangat datar.
Suster Rini menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin membasahi seragam perawatnya.
"Saya benar-benar tidak tahu, Tuan Leon," bohong Suster Rini mencoba mempertahankan rahasianya.
"Saya cuma perawat biasa yang kerja di rumah sakit milik keluarga Anda. Saya tidak pernah buat masalah," tambahnya lagi.
Leon tersenyum miring mendengar kebohongan murahan dari mulut wanita paruh baya itu.
"Enam tahun lalu di malam badai hujan," Leon mulai bercerita dengan pelan.
"Kau menukar anak perempuanku yang baru lahir dengan bayi orang miskin bernama Bianca," lanjutnya menatap lurus mata perawat itu.
Deg!
Jantung Suster Rini seolah berhenti berdetak detik itu juga.
Wajahnya yang sudah pucat kini berubah menjadi seputih kertas HVS.
"Itu... itu fitnah, Tuan! Saya tidak pernah menukar bayi siapa pun!" bantah Suster Rini mati-matian.
Plak!
Asisten Budi melangkah maju dan menampar keras pipi kanan Suster Rini tanpa aba-aba.
Tamparan itu membuat sudut bibir wanita paruh baya itu sobek dan mengeluarkan darah.
"Jawab dengan jujur saat Tuan Besar bertanya padamu, jalang kotor," ancam Asisten Budi mundur kembali ke posisinya.
Leon sama sekali tidak peduli melihat darah menetes dari mulut perawat itu.
Dia menyandarkan punggungnya ke kursi dan melipat kedua tangannya di dada.
"Aku sudah memegang bukti tes DNA yang menyatakan seratus persen anak itu tertukar," jelas Leon dengan tenang.
"Dan aku juga sudah menangkap sepasang suami istri bernama Herman dan Siska semalam," lanjutnya menyebutkan dua nama kunci.
Mata Suster Rini membelalak ketakutan mendengar nama Siska dan Herman sudah ditangkap oleh bosnya.
Habis sudah semua alasan untuk mengelak dari tuduhan penukaran bayi ini.
"Mereka berdua sudah mengaku bahwa kau yang menyerahkan bayiku pada mereka di gang belakang rumah sakit," tambah Leon menyudutkan Suster Rini.
"Tuan... tolong ampuni saya! Saya terpaksa melakukannya karena butuh uang!" Suster Rini akhirnya menangis dan mengakui perbuatannya.
"Saya diancam! Kalau saya tidak mau melakukannya, saya akan dipecat dan dikirim ke penjara, Tuan!" lanjutnya memelas.
Leon mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap tajam mata Suster Rini.
"Aku tidak peduli dengan alasan busukmu itu," ucap Leon dingin.
"Aku hanya ingin satu nama. Siapa orang yang menyuruhmu menukar bayiku dan memberimu uang sepuluh juta itu?" tanya Leon menuntut jawaban pasti.
Suster Rini menangis tersedu-sedu meratapi nasib buruknya hari ini.
"Kalau saya menyebutkan namanya, orang itu akan membunuh keluarga saya, Tuan!" teriak Suster Rini ketakutan.
Leon tertawa pelan mendengar alasan wanita itu.
"Kau takut padanya tapi tidak takut padaku?" tanya Leon tersenyum meremehkan.
"Budi, kirim beberapa orang ke rumah perawat ini. Patahkan kaki suaminya dan potong jari anak laki-lakinya," perintah Leon tanpa mengubah nada suaranya.
"Siap laksanakan, Tuan Besar!" jawab Asisten Budi langsung mengeluarkan ponselnya.
Suster Rini menjerit histeris mendengar perintah kejam Leon tersebut.
"Jangan sentuh keluarga saya, Tuan! Saya mohon ampun!" rintihnya meronta di kursinya.
"Sebutkan namanya sekarang atau jari anakmu akan dikirim ke sini dalam kotak es lima menit lagi," ancam Leon melirik jam tangan mahalnya.
"Tante Rosalina! Tante Anda sendiri yang menyuruh saya, Tuan!" jerit Suster Rini akhirnya membongkar rahasia terbesarnya.
Leon terdiam selama beberapa detik mendengar nama tantenya disebut dengan sangat jelas.
Alisnya bertaut dan rahangnya mengeras menahan amarah yang mulai mendidih di dadanya.
Tante Rosalina Wegan adalah adik kandung dari mendiang ayah Leon.
Wanita tua itu memang terkenal sangat serakah dan selalu iri dengan kesuksesan Leon memimpin Wegan Group.
"Jadi wanita tua bangka itu yang bermain di belakangku selama ini," desis Leon dengan suara yang sangat rendah.
"Kenapa dia menyuruhmu menukar bayiku? Apa tujuannya?" tanya Leon kembali menuntut jawaban Suster Rini.
Suster Rini menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil menangis.
"Nyonya Rosalina sangat membenci Nyonya Nabila, Tuan," jawab Suster Rini jujur.
"Dia bilang Nyonya Nabila itu wanita rendahan yang tidak pantas melahirkan pewaris Wegan Group," lanjutnya menirukan ucapan Rosalina enam tahun lalu.
Leon mengepalkan tangannya kuat-kuat mendengar istrinya dihina oleh tantenya sendiri.
"Nyonya Rosalina ingin anak kandung Anda hidup menderita di jalanan sebagai pengemis," tambah Suster Rini membuat hati Leon panas.
"Dan sebagai gantinya, dia memasukkan bayi dari orang miskin ke keluarga Anda agar Anda membesarkan anak orang lain."
Kebenaran yang sangat menyakitkan ini akhirnya terungkap sepenuhnya di hadapan Leon Wegan.
baru mulai baca
Cerita nya bagus banget