Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Dibuang
Bruk!
Tubuh Mireya Ananta terjatuh di antara deretan mobil yang terparkir di halaman pengadilan.
Telapak tangannya menghantam aspal lebih dulu. Rasa perih langsung menjalar hingga ke lengannya, sementara lututnya ikut terbentur dengan sangat keras.
Beberapa orang yang baru keluar dari gedung pengadilan menoleh. Namun tidak ada yang peduli.
Mireya menunduk, menahan tangis yang sejak tadi memenuhi dadanya. Hari ini adalah hari yang paling ingin dia lupakan. Hari ketika pernikahannya selama bertahun-tahun resmi berakhir.
Di tangannya masih tergenggam selembar akta cerai. Begitu pula di tangan pria yang berdiri beberapa langkah di hadapannya.
Syahzan, mantan suaminya.
Pria yang dulu berjanji akan menjaganya seumur hidup. Kini pria itu bahkan tidak sudi melihatnya.
“Pergi kau, Gendut!” Suara Syahzan terdengar dingin. "Selain membuat malu, kerjamu hanya menghabiskan beras di rumah kami saja!”
Mireya mengangkat wajahnya. Matanya yang sudah sembap kembali dipenuhi air mata.
"Alasanmu saja! Bilang saja kau ingin bersama Sonia itu kan?"
Syahzan mengatupkan bibirnya. Ia tak bisa mengelak, karena memang benar, akhir-akhir ini ia semakin dekat dengan Sonia, sekretarisnya yang baru.
Kepala Mireya turun melihat dirinya sendiri. "Dulu saat kau melamarku, aku tak begini. Apa kau melupakan semua itu?" Suaranya bergetar.
Mireya berusaha bangkit. Dengan tubuhnya yang berbobot sembilan puluh lima kilogram, gerakan itu terasa semakin berat karena lututnya juga terluka.
Tangannya bertumpu pada aspal.
Namun baru saja dia berhasil berdiri setengah badan, suara tawa sinis terdengar dari belakang Syahzan.
Nanda, ibu Syahzan, menutup mulutnya dengan tangan.
“Lihatlah dirimu sendiri,” katanya meremehkan. “Sudah diceraikan masih saja tidak tahu malu.”
Di sampingnya, Luwi, kakak Syahzan, terkekeh.
Keduanya saling melirik sebelum berbisik cukup keras agar Mireya mendengarnya.
“Dasar babi.”
Mireya membeku. Dadanya terasa semakin sesak. Dia menatap tiga orang yang selama bertahun-tahun dianggapnya sebagai keluarga.
Dulu dia memasakkan makanan untuk mereka. Mencuci pakaian. Membersihkan rumah. Mengasuh putra Luwi yang sangat nakal.
Bahkan ketika Nanda sakit, Mireya yang merawatnya selama berhari-hari.
Namun sekarang... Dia hanya dianggap sebagai perempuan gemuk yang tidak berguna.
“Aku harus ke mana?” tanya Mireya dengan suara lebih lirih.
Air mata akhirnya jatuh. “Kalianlah yang membawaku ke sini.”
Namun, tidak ada jawaban.
Syahzan justru menghela napas kesal. “Jangan membuat drama lagi.”
“Drama?” Mireya tertawa kecil di sela tangisnya.
“Setelah semua yang kita jalani, kau menyebut semua ini drama?”
Syahzan mengalihkan wajah. “Aku sudah memberikan apa yang menjadi hakmu.”
Mireya menatapnya bingung. “Hak apa?”
“Perceraian.”
Hening.
Syahzan merogoh saku celananya, lalu mengambil kunci mobil. “Aku sudah membayar semua biaya pengadilan tanpa meminta uangmu. Setelah ini kita tidak punya hubungan apa-apa lagi.”
Mireya menatap pria itu lekat-lekat. “Bagaimana dengan barang-barangku?”
“Sudah tidak ada.”
Mireya mengernyit. “Apa maksudmu?”
Nanda langsung menyela. “Barang rongsokanmu sudah kami keluarkan dari rumah.”
“Apa?”
“Jangan bilang kau berharap masih bisa tinggal di rumah kami setelah menjadi mantan istri anakku?” Suara Nanda penuh dengan kebencian.
Mireya menggeleng. “Tidak mungkin...”
Dia memang tahu pernikahannya berakhir. Tetapi dia tidak pernah membayangkan akan dibuang seperti seseorang yang tidak pernah menjadi bagian dari keluarga itu.
“Bahkan pakaian dan barang pribadiku?”
“Sudah kami masukkan ke beberapa kardus,” jawab Luwi. “Tapi kami tidak tahu harus membuangnya ke mana.”
Mireya menelan ludah. “Kalian membuang milikku?”
Syahzan membuka pintu mobil. “Sudah cukup.”
Dia hendak masuk ketika Mireya spontan meraih lengannya.
“Bang.”
Pria itu berhenti.
Mireya menatapnya dengan mata penuh harap. “Setidaknya antarkan aku ke rumah orang tuaku.”
Syahzan melepaskan tangannya dengan kasar. “Aku tidak punya kewajiban lagi terhadapmu.”
“Tapi aku tidak memiliki uang.”
“Itu bukan urusanku.”
“Aku juga tidak punya tempat tinggal.”
“Cari sendiri.” Pintu mobil ditutup.
Beberapa detik kemudian, mobil Syahzan melaju meninggalkan halaman pengadilan.
Mireya hanya bisa berdiri terpaku.
Mobil itu semakin jauh. Semakin kecil. Sampai akhirnya menghilang di ujung jalan.
Barulah Mireya menyadari sesuatu. Dia benar-benar sendirian. Perlahan dia melihat tangannya. Tak ada lagi cincin pernikahan yang kekecilan melekat di sana. Hanya bekas luka kecil di jari saat dipaksa melepaskannya.
Mireya membuka dompetnya. Kosong. Dia membalik dompet itu beberapa kali. Tidak memiliki kartu. Tidak ada uang kertas. Tidak ada apa pun.
Sampai akhirnya dari sebuah kantong kecil di dalam dompet, dia menemukan selembar uang dua puluh ribu rupiah.
Mireya menatap uang itu cukup lama. “Dua puluh ribu...”
Itulah seluruh harta yang dia miliki saat ini. Dia menggenggamnya dengan sangat erat.
Kemudian tertawa lirih. 'Ironis.'
Selama bertahun-tahun, Mireya bahkan terbiasa menghitung uang belanja agar tidak ada satu rupiah pun yang terbuang percuma. Dia lah yang mengurus rumah. Dia juga yang membantu mengelola kebutuhan keluarga.
Namun sekarang, setelah pernikahannya berakhir, seluruh hidup yang dibangunnya seakan ikut dirampas.
Mireya mengusap air mata. Tidak. Dia tidak boleh terus menangis. Dia harus pulang.
Tetapi saat hendak melangkah, dia teringat sesuatu. Rumah orang tuanya berada ratusan kilometer dari kota ini. Mereka tinggal di desa kecil dan hidup dari perkebunan.
Mireya tahu kedua orang tuanya tidak akan pernah menolak kedatangannya. Tetapi dia juga tahu kondisi mereka. Ayah dan ibunya sudah semakin tua. Dia tidak ingin pulang hanya untuk menjadi beban.
“Aku harus segera mencari pekerjaan.” Mireya mengusap lututnya yang terluka.
Entah bagaimana caranya. Yang jelas, dia harus bertahan. Dia memasukkan kembali uang dua puluh ribu itu ke dalam dompet.
Kemudian berjalan meninggalkan halaman pengadilan. Tak ada lagi yang menunggunya. Mulai hari ini, Mireya harus menghadapi dunia seorang diri.
Menjelang sore, Mireya duduk di bangku halte. Baterai ponselnya hanya tersisa beberapa persen. Dia sudah menghubungi beberapa teman lama.
Sebagian tidak menjawab. Sebagian lainnya hanya memberikan ucapan prihatin tanpa bisa menawarkan pekerjaan.
Mireya membuka media sosial. Jarinya berhenti ketika melihat sebuah unggahan.
DIBUTUHKAN SEORANG YANG BERSEDIA MENJADI IBU TIRI.
*bersambung*
Ditunggu cerita selanjutnya
ini cerita tee realistis yg pernah aku baca di sepanjang baca pernovelan si.
kenapa?
karena untuk bahagia itu sebenarnya sederhana.
kita ga perlu merubah orang lain atau memaksa keadaan yg penuh problematika biar lepas dr masa lalu.
cukup jadi diri sendiri dan merubah mindset kita sendiri si.
terimakasih atas cerita indah nya Thor.
mungkin Se savage aku mesti belajar jadi orang woles yaa🤣🤣
kalau aku udah bertanduk itu...
tapi ga bikin puas ya
kalau begini mereka yg malu sendiri
Sekarang kalau mereka tahu Mireya hamil....bakalan heboh.
kira² gmn reaksi keluarga mantan jika tau mireya hamil?
bahagia itu sederhana ya ven
gaya hidup lu yg dulu,yg bebas bisa ga ngasih kebahagiaan kyk gini?