"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Mobil SUV hitam milik Arsyaka baru saja berhenti di depan anak tangga teras. Naya melangkah turun dengan tenang, jemarinya memegang tas travel sedang, siap untuk melangkah masuk dan menyelesaikan segalanya. Namun, derap langkah terburu-buru memotong jalannya.
Reyhan muncul dengan napas tersengal. Kemeja kokonya agak kusut, wajahnya pucat dengan lebam yang masih berbayang di sekitar pipi. Pria itu berlari seolah sedang mengejar sesuatu yang hampir luput dari genggamannya.
"Jangan pergi," celetuk Reyhan parau, menyelimuti selapis kepanikan di matanya. Ia merentangkan tangan, menghentikan langkah wanita di hadapannya.
Naya berhenti. Ia tidak mundur, tidak pula tersulut emosi. Matanya menatap Reyhan jernih, tanpa amarah, tanpa kebencian. Justru tatapan kosong tanpa riak itulah yang membuat dada Reyhan seketika dihantam ketakutan luar biasa.
"Naya, tolong."
"Ada apa, Gus?"
Panggilan itu membuat Reyhan tersentak hebat, seakan ada sembilu yang menyayat tepat di ulu hatinya. Dulu, Naya selalu memanggilnya Mas Reyhan ketika mereka hanya berdua. Bahkan dalam kesendirian yang dingin setelah menikah, perempuan itu kerap menyebut namanya dengan nada lembut yang menenangkan. Kini, hanya tersisa satu sebutan formal. Gus. Sebuah kata yang mendadak menjelma menjadi benteng tebal tak tembus pandang, membentangkan jarak ribuan kilometer di antara mereka.
"Aku bisa menjelaskan semuanya," bisik Reyhan, matanya berkaca-kaca.
Naya mengangguk pelan, amat sangat tenang. "Sudah."
"Belum, Nay. Tolong dengarkan dulu..."
"Sudah cukup, Gus."
"Nggak. Kamu belum tahu semuanya." Reyhan menggeleng cepat, melangkah maju satu tindak. "Aku memang salah. Aku nggak akan membela diri. Tapi pernikahanku dengan Rani—"
"Jangan." Naya mengangkat satu tangannya ke udara. Suaranya tidak keras, tetapi sanggup membekukan gerakan Reyhan di tempat. "Aku datang ke sini bukan untuk mendengarkan alasanmu."
"Tapi aku mencintaimu!" Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Reyhan, bergetar dan penuh dorongan keputusasaan.
Arsyaka yang berdiri di dekat pintu mobil langsung tertawa pendek—sebuah tawa dingin yang sarat cemoohan. Sementara Naya hanya memejamkan matanya sesaat, menghirup udara pagi yang menusuk paru-parunya sebelum kembali membuka mata.
"Kalau begitu," ucap Naya perlahan, suaranya mengalun bening, "kenapa kamu baru mengatakannya sekarang?"
Reyhan mematung. Lidahnya mendadak kelu.
"Kenapa selama satu tahun aku harus tidur sendirian sambil meyakinkan diriku bahwa suamiku sedang berjuang dengan sesuatu yang bahkan tidak pernah kamu ceritakan?" Naya menatap pria itu lurus-lurus. Nada bicaranya bergetar tipis oleh emosi yang tertahan rapi, namun badannya tetap tegak. "Kenapa aku harus berpikir mungkin aku kurang sabar? Kurang baik? Kurang memahami kamu?"
Reyhan menggigit bibir bawahnya yang pecah, menunduk tak sanggup bertatap mata.
"Padahal ternyata kamu punya perempuan lain."
"Maaf..." Satu kata itu terucap lirih, terasa begitu kerdil dan tak sebanding dengan gumpalan kekecewaan yang mengendap selama bertahun-tahun.
Naya menggeleng pelan. "Aku sudah memaafkanmu."
Reyhan mengangkat wajahnya, menyalakan secercah harapan rapuh di matanya. "Nay..."
"Tapi aku tidak mau kembali."
Kalimat singkat itu menghantam dada Reyhan lebih keras daripada pukulan fisik mana pun. Napasnya tercekat, kakinya terasa lemas.
"Aku sudah mengambil keputusan." Naya berucap mantap, menegaskan garis batas yang tidak bisa ditawar lagi.
Ketika Reyhan mencoba melangkah maju satu kali lagi untuk meraih jemari Naya, Arsyaka langsung pasang badan. Pria bertubuh jangkung itu menatap Reyhan dengan pandangan mengintimidasi.
"Jangan mendekat."
Reyhan terhenti, terkunci oleh wibawa Arsyaka dan tatapan tanpa rasa dari Naya.
Di saat yang sama, di komplek asrama putri Marwah, suasananya jauh lebih gaduh dan tegang.
Mbak Zaenab ditemani oleh wakil pimpinan pondok putri, Mbak Mala, berjalan cepat menelusuri koridor berbatu menuju kamar nomor empat. Mbak Mala mengetuk pintu kayu hijau itu dengan ketukan teratur namun tegas.
Tak lama, Najwa—salah satu penghuni kamar—membukakan pintu. Di dalam kamar berukuran sedang itu, enam santriwati tinggal bersama. Mbak Mala langsung bertanya tanpa perantara, "Di mana Rani?"
Najwa yang terkejut segera memanggilkan Rani yang sedang duduk di sudut dipan, tekun membaca kitab untuk persiapan setoran hafalan. Begitu mendengar namanya dipanggil oleh pengurus senior, tubuh Rani seketika menegang. Ada desir gelisah yang mendadak merayapi tengkuknya.
Mbak Zaenab melangkah maju dua tindak, menatap Rani lurus-lurus. "Rani, ikut kami sekarang ke ndalem utama."
Rani yang sudah paham kemana arah pemanggilan mendadak ini hanya mampu menganggukkan kepala pasrah. Ia merapikan jilbab putihnya dengan tangan gemetar, lalu melangkah keluar kamar mengikuti Mbak Mala dan Mbak Zaenab.
Tiga santriwati yang tersisa di dalam kamar—Najwa, Ratna, dan Mawar—saling pandang dengan dahi berkerut penuh kebingungan. Mengapa Rani dipanggil secara formal menuju ndalem utama pagi-pagi begini?
Tak lama selepas kepergian Rani, dua santriwati lain, Sinta dan Devi, berlari tergopoh-gopoh menyusuri koridor asrama. Napas mereka berdua terengah-engah saat menerobos masuk ke dalam kamar.
"Kalian sudah dengar belum? Ada kabar menggemparkan!" seru Sinta setengah berbisik, wajahnya panik bercampur syok.
Najwa, Ratna, dan Mawar yang sedang memegang kitab langsung menoleh serentak.
"Kabar apa, Sin?" tanya Najwa penasaran.
"Aku sama Devi dapat cerita ini langsung dari mbak ndalem yang kemarin sore sama pagi ini piket di dapur utama," ujar Sinta menatap teman-temannya bergantian. "Ternyata... Rani sudah menikah siri sama Gus Reyhan! Sudah sebelas bulan yang lalu!"
"Apa?!" Ratna dan Mawar berteriak serentak, menutupi mulut mereka dengan kedua tangan karena tidak percaya.
"Astaghfirullahal'adzim..." Najwa mengelus dadanya yang berdegup kencang. "Jangan sembarangan bicara, Sin. Itu fitnah besar!"
"Ini bukan fitnah, Najwa!" Devi menimpali dengan nada bersungguh-sungguh. "Berita ini sudah menyebar di seluruh pengurus pondok. Sekarang Gus Syaka—kakaknya Ning Naya—sudah ada di ndalem utama dari Jombang. Dan semalam, Ning Naya sampai menginap di ndalem timur, tidak mau tidur di ndalem utama!"
Sinta mendekat, menambahkan detail yang makin membuat suasana kamar itu mendingin. "Dan yang lebih jahatnya lagi, kata mbak piket, selama ini Gus Reyhan sama Rani sering bertemu di ndalem barat. Tempat itu dijadikan lokasi singgah mereka berdua!"
Serentak, seluruh santriwati di kamar itu beristighfar panjang. Ruangan yang tadinya hening kini diliputi rasa tidak percaya yang meluap-luap.
Ratna memegang keningnya, menggeleng heran. "Kenapa Rani tega sekali, ya? Padahal waktu pertama kali dia masuk sini dan tidak ada keluarganya yang menjenguk, Ning Naya yang paling perhatian. Ning Naya yang membelikan keperluan pribadinya, mengajari dia hafalan..."
"Iya," saut Mawar dengan raut kecewa. "Padahal Ning Naya juga yang niat bantu dia supaya bisa dapat beasiswa ke luar negeri, seperti impiannya yang ingin ke Mesir."
Sinta tersenyum sinis. "Dia pengin ke Mesir itu paling karena mau menyusul Gus Reyhan. Kan dari dulu dia memang kagum sekali sama Gus Reyhan."
Najwa mengurut pelipisnya yang mendadak pening. "Tapi kapan Rani bisa sering bertemu Gus Reyhan sampai bisa nikah siri tanpa ada yang tahu?"
"Nah, itu yang jadi pertanyaan kita semua..." Devi mendesah berat.
Semuanya mendadak terdiam. Pikiran mereka berkecamuk, membayangkan betapa rapatnya rahasia itu disimpan di balik tembok pesantren, dan betapa hancurnya perasaan Ning Naya yang selama ini mereka kenal sangat lembut dan penyabar.
***
apalah arti perasaan anak dara liat cowok ganteng pasti ada suka..tggl cowoknya aja ngeladeni atau cuekin..🤔
dibikin ruwett nyesal akhirnya 🤭😄
sepolos"nya org pasti masih punya hati dan akan berfikir sblm mengambil keputusan yg menyangkut org lain.
kalau kamukan ...begitu dah