Indonesia
NovelToon NovelToon
I Love You Mas Mayor Galak

I Love You Mas Mayor Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.

Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Malam Syukuran dan Janji di Bawah Rembulan

Kabar mengenai aksi heroik dan keberanian luar biasa dari seorang Mayang yang turun langsung menyusup ke bawah reruntuhan lumpur demi menyelamatkan seorang anak di Desa Mekar Bakti menyebar dengan sangat cepat ke seluruh penjuru Mako Batalyon.

Jika sebelumnya masih ada beberapa perwira atau staf administrasi yang memandang sebelah mata kehadiran gadis berkacamata tebal itu, kini pandangan meremehkan tersebut menguap tanpa sisa.

Mayang bukan lagi sekadar "gadis sipil pembawa bekal", melainkan sosok wanita tangguh berjiwa kemanusiaan tinggi yang berhasil memenangkan rasa hormat seluruh anggota Batalyon.

Sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan warga, kelancaran misi evakuasi, serta kembalinya seluruh tim Reaksi Cepat dengan selamat, malam harinya pihak Batalyon menggelar acara syukuran dan makan malam sederhana di Aula Utama Mess Perwira.

Suasana malam itu terasa amat hangat dan semarak.

Aroma harum sate ayam bakar, kuah gulai yang gurih, serta teh melati hangat memenuhi ruangan besar yang diterangi lampu-lampu gantung klasik.

Para prajurit dan perwira duduk melingkar tanpa sekat kaku, saling melempar tawa lepas untuk melepas seluruh kelelahan fisik setelah berjuang di medan bencana seharian penuh.

Mayang duduk di sudut meja panjang bersama Kapten Yoga dan beberapa perwira muda Batalyon.

Pagi harinya yang belepotan lumpur tebal kini berganti bersih. Ia mengenakan tunik sederhana berwarna hijau pastel yang anggun dengan bawahan rok kain yang sopan.

Di dada kirinya, bros perak ukiran pita pemberian Ibu Diah terpasang manis dan memantulkan kilau lembut lampu aula.

"Mbak Mayang, jujur saja ya..." ujar Kapten Yoga sambil mengunyah sate ayamnya dan terkekeh renyah, "waktu Mbak Mayang teriak-teriak pakai toa kuning di pinggir lapangan latihan kemarin, kami semua di Batalyon sempat mengira Mbak ini agen rahasia khusus yang sengaja dikirim buat menguji ketahanan mental Komandan!"

Gelak tawa riuh seketika pecah di meja tersebut. Beberapa perwira muda sampai menepuk meja karena tak sanggup menahan geli.

"Eh, jangan salah, Kapten!" sahut Mayang dengan raut wajah polos seraya menyerobot segelas es teh manis di hadapannya.

"Toa kuning dan es sirup buatan Mayang itu taktik psikologis tingkat tinggi! Buktinya, Bapak-Bapak Prajurit langsung segar lagi kan? Terus, bonus utamanya... Dokter Siska yang biasanya galak dan sok dingin itu langsung kecep, bingung mau ngomong apa!"

"Nah, itu dia poin paling legendarisnya!" seru Kapten Yoga seraya tertawa makin lebar.

"Baru kali ini ada warga sipil yang bisa bikin Dokter Siska mati kutu dan mati gaya di hadapan seluruh anggota! Mbak Mayang benar-benar top deh!"

Di sudut ruangan yang agak terpisah, Dokter Siska berdiri sendirian di dekat meja prasmanan.

Dengan gaun kasual yang rapi dan elegan, ia memegang segelas cangkir teh hangat. Matanya berulang kali melirik ke arah meja tempat Mayang tertawa lepas bersama para perwira.

Ada rasa malu, penyesalan, dan gengsi yang berkecamuk di dalam hatinya. Pengorbanan dan keberanian Mayang di lokasi longsor tadi siang telah menampar kesombongannya secara telak.

Sementara itu, di pintu utama aula, Mayor Aris melangkah masuk.

Sang Komandan Batalyon kini telah berganti pakaian menggunakan kemeja kasual lengan pendek berwarna abu-abu gelap yang dipadukan dengan celana bahan hitam.

Postur tubuhnya yang tegap dan berotot tetap memancarkan aura kepemimpinan yang sangat dominan, namun ekspresi wajahnya malam ini terasa jauh lebih tenang dan hangat.

Kedatangan sang Mayor seketika membuat beberapa perwira berdiri hendak memberi hormat, namun Aris mengangkat tangannya pelan, memberi isyarat agar acara santai tersebut tetap berlanjut tanpa formalitas kaku.

Mata pekat Aris menyapu seluruh penjuru ruangan, dan dalam hitungan detik, pandangannya langsung terkunci lurus pada sosok Mayang yang sedang asyik tertawa.

Dengan langkah kaki yang mantap dan pasti, Aris berjalan membelah kerumunan aula, langsung menghampiri meja tempat Mayang duduk.

Kapten Yoga dan para perwira muda seketika membetulkan posisi duduk mereka dengan sopan.

Aris menundukkan tubuhnya sedikit, mendekatkan wajahnya ke samping telinga Mayang hingga aroma harum maskulin khas tubuhnya menguar tajam di indra penciuman gadis itu.

"Bisa ikut saya sebentar keluar?" bisik Aris dengan suara bass-nya yang sangat lembut, dalam, dan hangat.

Mayang mendongak, matanya beradu dengan manik mata hitam Aris yang menatapnya penuh arti. Dengan pipi yang mendadak merona merah, Mayang mengangguk pelan. "Bisa, Mas Mayor."

Mayang berpamitan sebentar kepada Kapten Yoga, lalu bangkit dari kursinya dan berjalan mengekor di samping Aris.

Mereka melangkah meninggalkan keramaian aula, menyusuri koridor samping yang sepi hingga tiba di teras luar Mess Perwira yang menghadap langsung ke arah taman malam Batalyon.

Suasana di luar teras terasa sangat sejuk dan damai. Semilir angin malam pegunungan berembus pelan, menerpa dedaunan pohon yang bergoyang halus.

Di atas langit malam yang bersih tanpa awan, bundaran rembulan bersinar sangat terang, dikelilingi oleh ribuan bintang yang bertebaran indah.

Aris berjalan menuju pembatas pagar kayu putih di ujung teras, lalu menyandarkan kedua tangannya di sana.

Mayang menyusul dan berdiri tepat di samping Aris, menikmati keindahan pemandangan malam seraya merapikan letak kacamatanya yang sedikit meluncur.

"Capek?" tanya Aris membuka percakapan. Suaranya terdengar begitu hangat, memecah keheningan malam.

Mayang tersenyum manis seraya menatap lurus ke arah taman.

"Sedikit capek sih, Mas Mayor... badan Mayang rasanya agak pegal-pegal karena merayap di lumpur tadi siang. Tapi rasanya puas dan lega banget waktu lihat anak kecil itu bisa kumpul lagi sama ibunya."

Aris tidak langsung menjawab. Ia memutar tubuhnya seraya bersandar pada pagar kayu, menatap lekat-lekat wajah polos Mayang dari samping.

Dalam pendar cahaya rembulan, Aris bisa melihat kejujuran dan keindahan jiwa yang begitu murni dari sosok gadis berkacamata di hadapannya ini.

Jemari tangan Aris yang kekar, berurat, dan hangat terulur secara perlahan.

Dengan gerakan yang sangat lembut, Aris meraih jemari tangan mungil Mayang dan menggenggamnya dengan amat erat di atas pagar pembatas.

"Mayang..." panggil Aris pelan, nada suaranya berubah menjadi sangat serius dan dalam.

"Iya, Mas Mayor?" Mayang menoleh, menatap tepat ke dalam manik mata Aris.

"Tadi siang, saat kamu nekat masuk ke bawah celah reruntuhan kayu itu..."

Aris menghentikan kalimatnya sejenak. Ada getaran kecemasan yang luar biasa yang tak sanggup ia sembunyikan dari intonasi suaranya.

"...jantung saya rasanya berhenti berdetak. Saya sempat marah besar pada diri saya sendiri karena membiarkan kamu berada dalam situasi selabil dan berbahaya itu. Kalau terjadi sesuatu yang buruk padamu di dalam sana, saya tidak akan pernah bisa memaafkan diri saya sendiri."

Mayang tertegun sejenak melihat raut ketakutan yang begitu jujur dari seorang Komandan Batalyon yang biasanya dikenal sangat garang dan tak pernah gentar di hadapan apa pun.

Mayang mengikis jarak di antara mereka, menggunakan tangan kirinya untuk membalas meremas punggung tangan Aris yang kokoh.

"Mas Aris..." tutur Mayang dengan nada suara yang amat lembut namun berpendirian teguh,

"Mayang tahu Mas Aris cemas. Tapi Mayang melakukan itu karena Mayang mau belajar jadi pendamping yang sepadan buat seorang perwira dan Komandan hebat seperti Mas Aris. Kalau Mas Aris selalu siap pasang badan di garis terdepan demi membela negara dan melindungi Mayang, maka Mayang juga harus punya keberanian untuk berdiri tegap di samping Mas Aris dalam kondisi dan medan apa pun."

Kalimat tulus nan mendalam yang meluncur dari bibir Mayang seketika meruntuhkan seluruh sisa dinding pertahanan dingin di dalam hati Mayor Aris.

Senyuman tulus yang amat menawan sebuah senyuman yang sangat langka dan mahal terukir sempurna di wajah tampan sang perwira.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Aris menarik jemari Mayang, membawa tubuh mungil gadis itu ke dalam pelukannya yang hangat dan kokoh.

Aris mendekap tubuh Mayang dengan amat erat, seolah-olah menegaskan bahwa gadis itu adalah harta paling berharga yang tidak akan pernah ia lepaskan.

Mayang menyandarkan kepalanya di dada bidang Aris, mendengarkan detak jantung sang Mayor yang berdegup kencang dan teratur.

Dekapan hangat itu membuat seluruh rasa lelah, dingin, dan pegal di tubuh Mayang sirna seketika, berganti dengan rasa aman yang luar biasa.

Aris menundukkan kepalanya sedikit, mendaratkan bisikan hangat tepat di atas puncak kepala Mayang:

"Terima kasih, Mayang... terima kasih banyak karena sudah hadir di kehidupan saya yang kaku, dingin, dan monoton ini. Kamu adalah warna, kehangatan, dan rumah tempat saya pulang. Mulai malam ini dan seterusnya, tidak ada lagi keraguan di dalam hati saya. Kamu adalah satu-satunya wanita yang akan menjadi takdir dan pendamping hidup saya selamanya."

Mayang memejamkan matanya rapat-rapat, tersenyum amat bahagia dalam dekapan hangat Aris di bawah naungan cahaya rembulan dan saksi bisu keindahan malam Batalyon.

1
pena putih
seru banget ditunggu updatenya ya
pena putih
Yuk mampir👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!