Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.
Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Tetangga Berbaju Loreng
BAB 2: Tetangga Berbaju Loreng
Menjadi tetangga dari sebuah markas militer Batalyon itu memiliki suka dan dukanya tersendiri.
Sisi positifnya sangat jelas: tingkat keamanan di lingkungan tempat tinggalku berada di level maksimal. Mana ada pencopet, curanmor, atau maling jemuran yang nekat beroperasi kalau cuma perlu belok kanan sedikit dari kompleks rumahku langsung berhadapan dengan gerbang utama yang dijaga barisan pria bertubuh tegap berambut cepak.
Lingkungan rumahku aman tenteram tanpa perlu bayar uang ronda ekstra.
Namun, sisi negatifnya juga tidak kalah nyata.
Alarm pagiku bukan lagi suara dentang jam dinding klasik atau lantunan lagu pop manis dari ponsel, melainkan yel-yel membahana yang mengguncang kaca jendela dan suara hentakan langkah sepatu boot berat di atas aspal tepat pukul lima pagi.
“SATU! DUA! TIGA! EMPAT!”
Suara lantang dan kompak puluhan prajurit yang sedang berlari pagi menggelegar, menembus dinding kamarku di lantai dua.
Aku menggeliat pelan di balik selimut tebal bermotif kucing.
Kupeluk guling erat-erat, berusaha membenamkan kepala di bawah bantal empuk agar bisa mencuri waktu tidur sepuluh menit lagi.
Rumah sederhana bernuansa krem yang kutinggali bersama Mbak Rina memang cuma berjarak dua blok dari tembok pembatas kompleks asrama militer.
Bahkan jika aku berdiri di balkon kamar, ujung tiang bendera megah dan sebagian lapangan tempat para prajurit biasa menggelar apel pagi bisa terlihat dengan sangat jelas.
"Mayang! Bangun! Jangan nyambung tidur lagi setelah Subuh!" teriak Mbak Rina dari arah dapur di lantai bawah, disusul suara dentuman penggorengan yang beradu dengan spatula.
"Beli garam dapur dan minyak goreng di toko Bu Maya! Sekalian belikan kue basah untuk sarapan kita!"
"Iya, Mbak Rina Ku Sayang! Jiwa dan ragaku sudah bangun, tinggal badanku saja yang masih menempel di kasur!" balasku nyaring sambil menguap lebar.
Dengan sisa-sisa kesadaran yang belum terkumpul penuh, aku akhirnya menyeret kakiku turun dari tempat tidur.
Aku tidak repot-repot berdandan atau menyisir rambut dengan rapi. Hairnet acak-acakan yang membentuk cepol di atas kepala, celana kulot longgar bermotif polkadot warna merah cabai, dan kaos kebesaranku yang gambarnya sudah agak mengelupas menjadi "seragam" resmiku pagi ini. Tak lupa, kacamata bingkai hitam tebal kupasang mantap di atas hidung.
Aku menuruni tangga kayu menuju lantai bawah. Mbak Rina sedang sibuk memotong daun bawang di meja dapur saat melihat penampilanku.
"Ya ampun, Mayang... kamu mau ke toko depan atau mau ikut ronda malam?" goda Mbak Rina sambil mengamati celana kulot polkadot mencolok yang kupakai.
"Minimal sisir dulu itu rambut, nanti anak-anak prajurit di depan gerbang bisa kaget disangka lihat hantu pagi-pagi."
Aku tertawa terkekeh sambil mengambil uang kertas dari atas meja.
"Ah, Mbak Rina tidak tahu saja. Ini namanya tren gaya busana-boho-casual! Prajurit di depan itu justru bakal terkesima melihat kecantikan alamiku yang merakyat ini!"
"Terserah kamu saja, Mayang. Jangan lama-lama, minyaknya sudah mau panas ini," sahut Mbak Rina geleng-geleng kepala.
Aku melangkah keluar rumah menembus udara pagi yang masih segar. Jalanan kompleks perumahan kami cukup rindang, dipenuhi pohon-pohon mangga dan mahoni di sepanjang trotoar.
Burung-burung berkicau riang, berpadu harmonis dengan derap langkah barisan prajurit yang kini terdengar makin mendekat dari arah jalan utama.
Di seberang jalan, gerbang utama asrama militer berdiri megah dengan pilar-pilar batu berwarna hijau tua. Dua prajurit piket dengan seragam loreng rapi, baret di kepala, dan sangkur menempel di pinggang berdiri tegak lurus menjaga pos penjagaan.
"Pagi, Mas-Mas Seragam! Semangat dinasnya hari ini ya!" sapaku nyaring dan riang sambil melambaikan tangan polos tanpa dosa saat berjalan melewati depan pos.
Dua prajurit muda yang tadi bersiap dengan wajah kaku seketika tersentak kaget. Mereka membetulkan posisi berdirinya dengan cepat, saling melirik satu sama lain dengan canggung, lalu hanya bisa mengangguk kaku sambil menahan senyum tipis di wajah mereka.
Muka mereka terlihat sangat tegang, seolah-olah menyapa warga sekitar yang lewat adalah sebuah pelanggaran kode etik militer tingkat tinggi.
"Si Mbak Mayang itu memang tidak ada takut-takutnya," bisik salah satu prajurit pelan saat aku sudah berjalan membelakangi mereka menuju toko kelontong Bu Maya.
"Kalau sampai kelihatan Komandan baru kita yang baru pindah kemarin, bisa disuruh push-up lima puluh kali dia di tempat."
"Hus, diam! Jangan sebut-sebut nama Komandan baru, dengar namanya saja bulu kudukku sudah merinding," balas prajurit satunya lagi setengah berbisik.
Aku yang tidak mendengar bisikan ketakutan mereka santai saja masuk ke dalam toko Bu Maya. Toko kelontong itu cukup lengkap, menjual berbagai kebutuhan pokok hingga jajanan tradisional yang selalu digemari warga kompleks.
"Pagi Bu Maya Cantik! Beli garam satu bungkus, minyak goreng satu liter, dan... kue lupis kesukaanku dua bungkus ya!" seruku penuh semangat begitu mendaratkan kaki di dalam toko.
Bu Maya yang sedang menata beras langsung tertawa ramah.
"Pagi, Mayang! Kamu ini selalu saja jadi yang paling heboh tiap pagi. Ini kue lupisnya baru datang, gulanya masih hangat dan melimpah."
"Wah, mantap betul! Terima kasih Bu Maya!" jawabku gembira sambil membayar belanjaan.
Keluar dari toko Bu Maya, aku berjalan santai menelusuri trotoar kembali ke arah rumah.
Tangan kananku memegang kantong plastik berisi garam dan minyak, sementara tangan kiriku sibuk memegang satu bungkus kue lupis. Aku membuka plastiknya, menusuk kue lupis berselimut kelapa parut itu dengan tusuk bambu kecil, lalu mencelupkannya ke dalam genangan saus gula merah cair yang pekat.
"Nyam... enak banget! Gula merahnya legit tiada tara," gumamku menikmati setiap gigitan manis sambil melangkah tanpa melihat jalanan di depan dengan benar.
Kecerobohan yang sudah mendarah daging dalam diriku mendadak kambuh di saat dan lokasi yang sangat tidak tepat.
Langkah kakiku terhenti secara refleks ketika mendengar suara derum mesin mobil yang cukup berat dan berwibawa. Dari arah perempatan jalan, sebuah mobil jip dinas berwarna hijau tua mengilap dengan plat nomor militer khusus melaju pelan dan berhenti tepat di depan pintu gerbang utama asrama.
Seketika itu juga, suasana di depan pos penjagaan berubah 180 derajat.
Dua prajurit piket yang tadi sempat tersenyum padaku langsung mengambil posisi siap sempurna. Langkah mereka menyentak bumi, tangan mereka terangkat memberikan hormat dengan wajah super tegang tanpa kedip sedikit pun.
Bahkan beberapa prajurit yang sedang berada di area lapangan dalam langsung menghentikan kegiatan mereka.
Aura di sekitar gerbang mendadak berubah mencekam, dingin, dan penuh ketegangan.
Pintu jip dinas sisi penumpang depan perlahan terbuka. Dari dalam kendaraan tersebut, turun seorang pria berseragam militer lengkap dengan pakaian atribut P D U yang sangat rapi. Di bahunya, pangkat tiga melati berwarna keemasan berkilau diterpa sinar matahari pagi dia seorang Mayor.
Postur tubuh pria itu sangat tinggi, tegap, dan proporsional. Langkah kakinya saat menapak jalan aspal memancarkan wibawa dan ketegasan yang sangat dominan. Wajahnya memiliki garis rahang yang kokoh, hidung mancung tajam, dan tatapan mata hitam pekat yang dingin tanpa ekspresi.
Dari jarak sepuluh meter saja, aura "jangan berani mendekat atau kamu akan dihabisi" sudah tercium sangat kuat mengudara.
Aku tertegun kaku di atas trotoar, memegang bungkus kue lupis yang lengket di tangan. Mataku yang terlindung kacamata tebal mengerjap berkali-kali.
Wah... siapakah pria berwajah super galak tapi memiliki pesona ketampanan yang tak masuk akal ini? batinku polos, memiringkan kepala sedikit untuk mengamati sosoknya lebih jelas.
Pria itu adalah Mayor Aris pimpinan baru Batalyon yang baru saja dipindahtugaskan untuk memimpin markas ini.
Seorang komandan lulusan terbaik yang terkenal dengan kedisiplinan tingkat tinggi, aturan tanpa kompromi, dan sifatnya yang sangat dingin terhadap siapa pun.
Di tempat tugas sebelumnya, julukan "Mayor Galak" atau "Komandan Es" sudah melekat erat pada dirinya.
Mayor Aris membalas hormat para prajurit piket dengan gerakan tangan yang singkat dan tegas. Matanya yang tajam menyapu sekeliling area gerbang, memeriksa setiap sudut dengan ketelitian seorang perwira tinggi.
Saat itulah, matanya yang dingin tak sengaja berpapasan dengan pandanganku.
Aku yang berdiri di atas trotoar dengan celana kulot polkadot merah cabai, hairnet acak-acakan di kepala, dan saus gula merah yang menempel di sudut bibir... menatapnya secara terang-terangan tanpa ada rasa segan sedikit pun.
Mayor Aris menaikkan sebelah alisnya. Dahinya bertaut erat, menunjukkan rasa heran dan ketidaksukaannya melihat ada seorang gadis warga sipil yang berdiri menatapnya dengan penampilan seajaib itu di depan markas militer pada pagi hari ini.
Tatapan matanya makin membeku, seolah memberi peringatan secara tidak langsung agar aku segera pergi dari sana.
Namun, dasar aku yang otaknya terbuat dari bahan yang berbeda dari manusia biasa, bukannya merasa takut atau intimidatif, aku justru melemparkan senyum lebar tanpa dosa ke arah sang Komandan baru.
"Pagi, Mas Mayor baru!" seruku santai sambil mengangkat tangan kiriku yang memegang tusuk kue lupis, bermaksud menyapanya dengan ramah.
Seketika, dua prajurit penjaga pos di dekat jip hampir saja membelalakkan mata mereka karena terkejut setengah mati. Muka mereka pucat pasi melihat kenekatanku yang menyapa pimpinan tertinggi mereka dengan sebutan sembarangan di pagi pertama kedatangannya.
Mayor Aris menghentikan langkahnya sejenak. Matanya memicing tajam menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Rahangnya mengeras, lalu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia memalingkan wajahnya dan kembali melangkah masuk ke dalam area markas dengan langkah-langkah lebar yang penuh wibawa.
"Galak sekali..." gumamku pelan saat melihat punggung tegapnya menghilang di balik dinding gerbang.
"Tapi tidak apa-apa! Pria galak biasanya hatinya selembut kue lupis kalau sudah disiram gula manis!"
Aku tertawa kecil sendiri, kembali mengunyah kue lupis dengan santai, lalu melanjutkan langkah kakiku menuju rumah Mbak Rina.
Aku sama sekali tidak menyadari, bahwa sapaan konyol di depan gerbang pagi ini hanyalah sebuah babak pembuka kecil dari kisah panjang yang akan mengikat hidupku dan sang Mayor Galak dalam ikatan takdir yang tak terduga.