Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 10, PERJALANAN DIMULAI
Tiga hari setelah kedatangan pasukan Veyra, Zhoo duduk di tepi sungai, membiarkan air dingin membasahi kakinya. Di sampingnya berdiri Kael, yang sejak tadi diam saja.
"Kau benar-benar akan pergi?" tanya Kael akhirnya.
Zhoo mengangguk pelan. "Aku tidak punya pilihan lagi, Kael. Perwira itu benar—Raja Vereon tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja. Jika aku tetap di sini, suatu hari pasukan yang jauh lebih besar akan datang, dan kali ini tidak akan ada lagi negosiasi. Aku harus pergi, mencari kekuatan, mencari sekutu, agar suatu hari aku bisa melindungi tempat ini dengan benar."
"Kalau begitu aku ikut!" tegas Kael. "Kita tumbuh bersama. Jika kau pergi, aku tidak akan tinggal diam di sini menunggu berita tentang kematianmu."
Zhoo menoleh, menatap sahabatnya itu dengan lembut namun serius. "Ini bukan perjalanan yang menyenangkan, Kael. Bisa jadi kita tidak kembali hidup-hidup. Bisa jadi di jalan nanti kita akan menghadapi hal-hal yang bahkan tidak bisa kita bayangkan sekarang."
"Justru karena itu aku harus ikut," jawab Kael tak bergeming. "Kau bilang tadi kau tidak akan berjalan sendirian. Jadi jangan coba-coba mengusirku."
Zhoo tersenyum—senyum yang tulus, yang jarang ia tunjukkan. "Baiklah. Terima kasih, sahabatku."
Tak lama kemudian, Arvin datang membawa bungkusan bekal dan senjata pedang yang terawat baik. "Aku sudah menyiapkan semuanya. Dan ya—aku juga ikut."
"Arvin, kau..." Zhoo terkejut.
"Jangan berpikir kau bisa pergi ke dunia luar sendirian dengan hanya keberanian dan senyum itu," potong Arvin. "Aku sudah melihat terlalu banyak pemuda berbakat mati sia-sia karena kurang pengalaman. Aku akan memastikan kau tidak menjadi salah satunya. Setidaknya sampai kau cukup kuat untuk berdiri sendiri."
Mereka bertiga saling bertatapan. Tiga orang yang berbeda latar belakang, namun terikat oleh satu tujuan—bukan untuk menaklukkan dunia, tapi untuk mengubahnya menjadi tempat yang lebih baik.
"Kemana tujuan pertama kita?" tanya Kael, matanya berbinar penuh semangat.
"Oakhaven," jawab Zhoo tegas. "Di sana hutan dan pegunungan memberikan perlindungan alami. Dan kabarnya, orang-orang Oakhaven tidak terlalu tunduk pada kemauan Raja Vereon. Jika kita bisa mendapatkan kepercayaan mereka... mungkin kita bisa menemukan tempat untuk memulai."
Sebelum berangkat, Zhoo menoleh ke arah desa untuk terakhir kalinya. Ia berjanji pada dirinya sendiri: Aku akan kembali. Dan saat aku kembali, tidak ada yang boleh lagi menindas kalian.
Mereka berjalan berangkat saat matahari baru saja terbit, langit berwarna keemasan dan ungu, seolah-olah dunia sedang menyambut perjalanan yang akan mengubah musejarah Benua Est. Namun jauh di dalam hutan, di tempat yang gelap dan tak tersentuh cahaya, ada sosok lain yang juga sedang bergerak—Rhaen. Seorang pria yang memiliki kemampuan membaca arus angin dan bisikan bumi, yang telah meramalkan kedatangan Zhoo sejak lama. Dan ia tahu, perjalanan pemuda itu bukan sekadar perjalanan seorang pemuda... melainkan awal dari akhir zaman damai, dan permulaan zaman baru.
Hutan Oakhaven menyambut mereka dengan keheningan yang berat. Pohon-pohon raksasa berdiri beratus-ratus tahun, cabang-cabangnya saling bertautan hingga cahaya matahari hanya bisa menembus dalam bentuk bintik-bintik cahaya yang samar. Udara di sini terasa lebih sejuk, lebih lembap, dan penuh dengan aroma lumut, daun basah, dan kayu tua.