Indonesia
NovelToon NovelToon
SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA

SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Mulai hari ini, silakan ambil kembali anak laki-laki kebanggaanmu, Ibu. Karena suamiku... selamanya memang hanya milik keluarganya!"

​Dulu, rumah tanggaku bersama Mas Bayu begitu harmonis. Dia suami yang manis dan selalu menyerahkan seluruh gajinya padaku. Tapi semua hancur saat kami mengalah untuk pindah dan tinggal satu atap dengan Ibu Mertua serta adik ipar.

​Neraka dimulai ketika suami dari adik iparku menganggur. Alih-alih menegur menantunya yang malas, Ibu Mertua justru terus mengamuk dan memanipulasi keadaan. Kena guilt trip dan air mata sang ibu, Mas Bayu tega merebut hak keuanganku. Seluruh gajinya resmi diserahkan ke rekening ibunya demi membiayai ipar parasit.

​Saat nafkah anakku dipangkas habis dan suamiku lebih memilih melihatku menangis demi senyum ibunya, aku sadar pernikahan ini sudah mati.

​Nggak akan ada lagi tangisan mengemis. Aku akan angkat kaki membawa putriku, mengembalikan Mas Bayu pada keluarganya, dan membuktikan betapa hancurnya hidup mereka tanpa diriku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA

​Suasana di dalam rumah Bayu terasa sesak dan mencekam. Setelah pintu kamar Bayu di lantai atas dibanting dengan keras, keheningan yang menyiksa sempat menggantung di ruang tamu. Namun, keheningan itu tidak bertahan lama. Detik berikutnya, ledakan amarah yang ditahan oleh Rika akhirnya pecah seketika.

​"Ini semua gara-gara Ibu!" jerit Rika histeris, melangkah mendekati Ibu Sumiati dengan wajah memerah dan mata mendelik marah. "Ibu yang terlalu memanjakan Mas Bayu, sampai-sampai dia berani mengancam mau memotong uang bulanan dan mengusir kita!"

​Ibu Sumiati yang masih berdiri terpaku di dekat meja makan mendadak tersentak. Wajah keriputnya pucat pasi, shock mendengar gertakan anak sulungnya tadi belum sepenuhnya hilang, dan kini ia justru diserang oleh putri kesayangannya sendiri.

​"Rika! Kenapa kamu malah menyalahkan Ibu?!" suara Ibu Sumiati bergetar, mencoba mempertahankan wibawanya sebagai orang tua. "Ibu ini membela kalian! Ibu marah sama Bayu itu demi kalian berdua!"

​"Membela apa, Bu?!" potong Rika tanpa rasa hormat sedikit pun. Tangan wanitanya menunjuk-nunjuk ke arah tangga lantai dua. "Lihat hasilnya! Mas Bayu bukannya makin turutan, tapi malah kalap! Kalau Mas Bayu benar-benar tidak mentransfer uang lagi bulan depan, kita mau makan apa? Fery mau bayar cicilan motor pakai apa?!"

​Fery yang sejak tadi bersembunyi di balik ketakutan pada Bayu, kini mulai ikut melangkah maju. Raut wajahnya tak lagi memperlihatkan rasa segan, melainkan kepanikan dan kejengkolan yang teramat sangat.

​"Iya, Bu. Ibu Sumiati kan ibunya Mas Bayu," celetuk Fery dengan nada menuntut. "Masa sama anak sendiri Ibu tidak punya ketegasan? Harusnya Ibu paksa Mas Bayu! Dulu waktu ada Mbak Maya, hidup kita enak-enak saja karena Mbak Maya selalu mengalah. Sekarang setelah Mbak Maya pergi, Mas Bayu malah melampiaskan semuanya ke kita, dan Ibu cuma diam saja!"

​Ibu Sumiati membelalakkan matanya, merasa sudut hatinya ditusuk oleh menantu yang selama ini ia belakangan ini beri tumpangan gratis. "Fery! Jaga mulutmu, ya! Kamu itu menumpangkan diri di rumah ini! Dikasih makan, dikasih tempat tidur, sekarang kamu berani menyalahkan saya?!"

​"Loh, kan Ibu sendiri yang dulu menyuruh saya dan Rika tinggal di sini!" tangkis Fery tak mau kalah, menyilangkan tangan di dada dengan angkuh. "Ibu yang bilang uang Mas Bayu itu banyak dan cukup buat menanggung kita semua. Sekarang kalau Mas Bayu menutup keran uangnya, Ibu harus tanggung jawab dong."

​"Betul kata Fery, Bu." timpal Rika membela suaminya. "Ibu jangan cuma bisa marah-marah tak jelas! Cari cara dong biar Mas Bayu mau mentransfer uang lagi! Ibu bujuk dia, atau paksa dia! Ibu kan ibunya, masa kalah sama gertakan anak sendiri?"

​Ibu Sumiati memegang dadanya yang terasa nyeri. Jantungnya berdebar kencang akibat tekanan bertubi-tubi ini. Di satu sisi, ia sangat terkejut melihat perubahan sikap Bayu yang mendadak dingin, keras kepala, dan tak tersentuh. Di sisi lain, ia melihat anak dan menantunya sendiri yang selama ini disayanginya, kini berbalik menyerangnya seperti serigala kelaparan begitu sumber keuangan mereka terancam ditutup.

​"Kalian pikir Ibu tidak bingung?." teriak Ibu Sumiati akhirnya, air mata frustrasi mulai menggenang di pelupuk matanya. Suaranya melengking menahan beban yang teramat berat. "Ibu ini bingung harus bagaimana! Kamu lihat sendiri mata Bayu tadi seperti apa, Rika? Abangmu itu seperti orang kesetanan! Dia baru saja dipermalukan sama Maya dan laki-laki kaya itu."

​Rika memutar matanya, mendengus kencang. "Ya itu urusan Mas Bayu sama Mbak Maya. Kenapa kita yang kena getahnya?. Kenapa nasib Fery dan Rika yang dikorbankan?."

​"Karena kalian berdua memang tidak tahu diri!" jerit Ibu Sumiati emosi, akhirnya meluapkan kekesalannya yang selama ini terendam. "Bayu benar! Sudah berapa bulan kamu di sini, Fery? Kerjaannya cuma tidur, makan, main game! Kalau kamu punya pekerjaan dan punya penghasilan sendiri, kita tidak akan diinjak-injak sama Bayu seperti ini!"

​Wajah Fery merah padam dipermalukan oleh mertuanya. "Ooh... jadi sekarang Ibu juga ikut-ikutan menyalahkan saya? Bagus ya, Bu! Kalau memang saya dan Rika dianggap beban di rumah ini, bilang dari dulu! Jangan giliran uang Mas Bayu macet, baru saya disudutkan begini!"

​"Fery, sudah!" Rika menarik lengan suaminya, lalu menatap ibunya dengan pandangan penuh dendam dan rasa kecewa. "Awas saja ya, Bu. Kalau sampai bulan depan kita sampai tidak bisa makan atau terancam diusir gara-gara Ibu tidak bisa membujuk Mas Bayu, Rika tidak akan sudi lagi merawat Ibu kalau Ibu sakit!"

​"Rika! Berani-beraninya kamu bicara begitu sama Ibu?!" napas Ibu Sumiati tersengal-sengal.

​Tanpa memedulikan seruan ibunya, Rika menyambar tasnya dari atas sofa dan menarik tangan Fery menuju kamar mereka di bagian belakang, lalu membanting pintunya keras-keras hingga suaranya menggema di seluruh sudut ruangan.

​Brak!

​Suasana ruang tamu mendadak sunyi kembali, menyisakan Ibu Sumiati yang berdiri sendirian di tengah ruangan yang berantakan. Piring-piring bekas makanan mewah Rika dan Fery masih tergeletak di meja, kini tampak seperti cermin yang mengejek ketidakmampuannya.

​Ibu Sumiati perlahan meraba sandaran sofa dan mendaratkan tubuhnya yang terasa lemas di atas busa empuk itu. Tangannya yang gemetar mengusap wajahnya yang basah oleh air mata.

​Pikirannya benar-benar kacau balau. Bayang-bayang masa lalu mendadak melintas di benaknya. Dulu, saat Maya masih tinggal di rumah ini, rumah tangga selalu rapi. Makanan selalu tersedia tanpa ia perlu mengeluarkan uang sepeser pun, baju-bajunya selalu dicuci dan disetrika dengan rapi, dan yang paling penting, Bayu selalu menurut pada setiap perkataannya karena ada Maya yang selalu menjadi kambing hitam dan tempat pelampiasan kekesalan.

​Kini, setelah Maya pergi dari kehidupan mereka, benteng pertahanan keluarga itu runtuh sepenuhnya. Borok asli dari anak-anaknya mulai terbuka satu per satu. Bayu menjadi sosok pembenci yang dipenuhi dendam dan kekejaman, sementara Rika dan Fery menunjukkan karakter asli mereka sebagai parasit yang tidak tahu terima kasih.

​"Kenapa jadi begini..." bisik Ibu Sumiati parau, menyembunyikan wajah di kedua telapak tangannya. "Kenapa semuanya jadi berantakan seperti ini?"

​Ia mendongak, menatap ke arah lantai atas tempat kamar Bayu berada. Ia tahu betul karakter Bayu. Kalau anak sulungnya itu sudah membuat keputusan dengan mata gelap seperti tadi, gertakannya bukan main-main. Bulan depan, rekeningnya benar-benar tidak akan diisi lagi. Dan jika itu terjadi, bukan hanya Rika dan Fery yang akan kesulitan, tapi otoritasnya sebagai ibu kepala keluarga di rumah itu akan hancur lebur.

​Ibu Sumiati memeras otaknya, mencari cara agar Bayu bisa kembali terkendali. Namun, satu-satunya cara untuk mengembalikan Bayu yang dulu adalah dengan mengembalikan alat peredamnya yaitu Maya.

​Pasti karena perempuan itu, batin Ibu Sumiati dengan kertakan gigi yang penuh rasa benci. Bayu jadi gila begini karena Maya berani melawannya dan menempel pada laki-laki lain. Kalau Maya bisa diseret kembali atau dipaksa mencabut gugatan itu, Bayu pasti akan tenang lagi.

​Namun, mengingat cerita Bayu tentang pria kaya yang kini berdiri pasang badan membela Maya, Ibu Sumiati sadar bahwa mereka tidak bisa lagi menggunakan cara-cara kasar. Ia harus memikirkan rencana lain yang lebih licik, atau memaksa Bayu menggunakan jalur hukum untuk menekan Maya habis-habisan.

​Di dalam kamar belakang yang terkunci, Rika dan Fery juga sedang berbisik-bisik menyusun siasat. Rasa jengkel mereka pada Bayu dan Ibu Sumiati telah memicu niat buruk lain. Jika Bayu benar-benar memotong aliran uang mereka, mereka tidak akan tinggal diam.

​Malam semakin larut di rumah itu, membawa kegelapan yang tak hanya menutup langit, tetapi juga menutup hati setiap penghuninya yang kini saling bermusuhan di bawah satu atap yang sama.

1
sunaryati jarum
Setelah ini semoga kebahagiaan yang hanya menunggu kamu Maya dan Naya putrimu
Watini Salma
nama nya feri apa Budi sih tror???? kadang bi Nana kadang bi Lastri 🙏/Hey/
sunaryati jarum
Nikmati masa tuamu dengan berat Karena tindakan kamu dan anak- anakmu Bu Sumiati.
sunaryati jarum
Semoga cepat selesai dan diputuskan sidang perceraian kamu ,Maya
sunaryati jarum
Emak baru mampir
blcak areng: ya ampun 😁😁
total 1 replies
Zhafran Althaf
gimana enak ga bayuuu kalau kalah
Heny
Jng transfer semua bayu sebagian untuk pegangan istri mu
Zhafran Althaf
sudahh Ibra gunain kuasa kamu sebagai pengusaha kelas atas biar tau rasa si bayu
Zhafran Althaf
aku kepo loooo kak banyakin updatenya
blcak areng: 2 bab ya kak sehari
total 1 replies
Zhafran Althaf
good job mayaaa
Lee Mba Young
iya lah ngapain juga bertahan di situ, mending pergi Wong anak nya saja gk di anggep. mending pergi drpd anaknya mlh trauma seumur hidup Dan tidak berkembang krn di besarkan di kluarga toxic
Zhafran Althaf
udah pergi aja biar kapok di bayu
Zhafran Althaf
kak centong nasi di rumahku masih panas kalau buat nabok ibunya bayu
Zhafran Althaf: gemess aku sama mulutnya yang lemes ituuu🤣🤣🤣
total 2 replies
susi ana
hadir thor
blcak areng: siap Akak😍😍
total 1 replies
Himna Mohamad
sdh mampir kK lanjut
blcak areng: ehh mksh kakak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!