Indonesia
NovelToon NovelToon
Dinikahi Calon Ipar

Dinikahi Calon Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:32.9k
Nilai: 5
Nama Author: REZ Zha

Ini bukan tentang pengkhianatan atau perselingkuhan.

Ditinggal kabur calon suami sehari sebelum pernikahan demi wanita lain adalah hal memalukan bagi Kanaya. Namun, terjebak dalam pernikahan darurat dengan Yudha, calon adik iparnya yang 7 tahun lebih muda dari usianya, jauh di luar bayangannya.

Tanpa cinta, tanpa persiapan, dia harus memulai hidup seatap dengan laki-laki yang lebih pantas menjadi adiknya.

Inilah kisah dua jiwa yang dipaksa bersatu demi sebuah nama baik. Apa yang terjadi dengan kisah mereka setelah menikah? Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan? Apakah rasa cinta akhirnya tumbuh di antara mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa Kamu Berniat Membawa Kanaya Ke Sana?

Restoran seafood sengaja dipilih Yudha untuk tempat makan siang ia dan papanya hari ini. Jaraknya yang sangat dekat, hanya sekitar lima ratus meter dari kantor Wirawan, membuat Yudha memutuskan makan siang di sana, selain restoran itu punya cita rasa yang menggugah selera terutama pecinta seafood.

"Papa pikir kamu akan bawa istri kamu, Yud. Kenapa nggak diajak sekalian?" tanya Wirawan, sementara matanya menatap hidangan yang sudah tersaji di depannya.

Yudha tersenyum tipis. Ia meraih mangkuk kecil berisi air dan potongan jeruk nipis di dalamnya. Sambil mencelupkan ujung-ujung jarinya untuk membasuh tangan, ia menjawab, "Kanaya nggak bisa keluar kantor, Pa. Katanya ada rapat penting siang ini."

Wirawan mengangguk-angguk paham, namun sedetik kemudian tatapannya berubah menyelidik dengan suara berbisik. "Ngomong-ngomong... apa papa mertuamu itu masih galak aja sama kamu, Yud?"

Mendengar pertanyaan itu, Yudha malah terkekeh pelan. Ia menanggapi kekhawatiran papanya dengan sangat santai, seolah hal itu bukan beban besar baginya. "Nggak apa-apa lah, Pa. Wajar namanya juga orang tua yang menyayangi anaknya. Nggak ingin anak perempuannya disakiti. Nanti lama-lama Papa Danur bakal sayang sama Yudha, kalau tahu Yudha bisa bikin Kanaya bahagia."

Melihat ketegaran putranya, Wirawan menghela napas panjang. Sebenarnya ada rasa bersalah yang terselip di hati, karena dia melibatkan putra bungsunya itu masuk dalam masalah ini. Namun, melihat rumah tangga Yudha dan Kanaya tampak harmonis, membuatnya merasa lega.

"Ya sudah, yang penting kamu yang sabar aja, Yud. Bagaimanapun juga, karena ulah kakakmu itu kita berada di pihak yang salah dalam masalah kemarin."

Seperti dirinya yang selalu mencoba mengalah dan memaklumi sikap keras Danur demi menjaga hubungan baik. Ia berharap Yudha pun bisa melakukan hal yang sama.

"Iya, Pa, Yudha mengerti kok," sahut Yudha menenangkan. "Lagi pula, yang galak itu cuma Papa Danur aja. Kalau Mama Anita, kedua adik Kanaya dan suaminya, mereka udah CS-an sama aku, Pa!" Yudha tertawa cengengesan, berusaha mencairkan suasana.

Wirawan ikut tersenyum melihat tawa anaknya. Dia merasa tenang melihat kedewasaan sikap putra bungsunya itu

"Lalu, ada apa kamu tiba-tiba traktir Papa makan siang, Yud?" tanya Wirawan, "Pasti ada hal penting yang mau kamu omongin, kan?" Wirawan dapat menebak, putranya tak sekedar mengajaknya makan siang. tapi ada hal yang ingin disampaikan padanya.

Yudha menghentikan tawa kecilnya. Ekspresi wajahnya berubah sedikit lebih serius dan berusaha menyampaikannya dengan hati-hati.

"Mas Yogi tadi kirim pesan ke aku, Pa," kata Yudha perlahan, sengaja menggantung kalimatnya sesaat. "Akhir pekan ini Mas Yogi mau menikah sama Mbak Wulan."

Gerakan mulut Wirawan yang sedang mengunyah makanan langsung melambat. Suasana di meja makan yang tadinya hangat mendadak tegang.

Belum hilang rasa syok dan malunya akibat ulah Yogi yang tiba-tiba kabur dan membatalkan pernikahan dengan Kanaya, kini tanpa angin tanpa hujan, putra sulungnya itu memberi kabar akan menikah dengan wanita lain.

Wajah Wirawan yang tadinya santai dan penuh senyum kini berubah total. Guratan wajahnya memperlihatkan rasa kecewa yang mendalam. Memikirkan tingkah laku Yogi benar-benar membuat kepalanya pusing tujuh keliling.

"Mas Yogi minta aku untuk datang ke sana, Pa. Dia berharap aku bisa hadir sebagai perwakilan dari pihak keluarga kita. Mas Yogi juga bilang kalau nggak ada pesta besar-besaran, acaranya cuma akad nikah aja," sambung Yudha hati-hati.

Wirawan tidak langsung menjawab. Ia hanya memalingkan wajahnya ke arah lain, dengusan nafasnya terdengar kencang.

"Anak itu... Nggak habis pikir Papa sama ulahnya. Dia meninggalkan pernikahan dan memutuskan menikahi wanita lain, tanpa sepengetahuan dan seizin Papa. Dia anggap apa Papa ini?" tangan Wirawan mengepal menahan emosi. Jika saja tak sedang berada di tempat umum, mungkin saja meja di depannya sudah ia gebrak.

"Yudha harap Papa tetap tenang. Yudha kasih tahu ini sekedar biar Papa tahu kabar tentang Mas Yogi saja. Soalnya ini tentang pernikahannya, bagaimanapun jalannya, istri Mas Yogi nanti akan menjadi anggota keluarga kita," ucap Yudha, suaranya sengaja direndahkan, mencoba menenangkan papanya. "Papa jangan terlalu memikirkan tentang masalah Mas Yogi." Bagi Yudha, kesehatan papanya lebih penting, sehingga ia berharap Wirawan tidak lagi membebani pikirannya dengan konflik bersama Yogi.

Wirawan terdiam sejenak. Matanya menatap Yudha. "Apa kamu akan pergi ke sana?" tanyanya dengan nada berat.

"Iya, Pa," jawab Yudha mantap, namun tetap lembut. "Bagaimanapun juga, Mas Yogi butuh keluarga yang mendampingi di sana. Nggak enak sama pihak perempuan kalau nggak ada satu pun perwakilan dari keluarga kita yang datang."

Yudha menyampaikan niatnya demi menjaga nama baik keluarga mereka. Yudha juga memilih tetap menyimpan rapat soal uang tabungan kakaknya yang sempat ia gantikan demi pernikahan terdahulu. Biarlah itu menjadi urusannya sendiri.

Helaan napas berat dan panjang Wirawan kembali terdengar. Bahunya yang tegap kini tampak sedikit merosot. "Ya sudah, kalau keputusanmu sudah bulat, Papa nggak akan melarang lagi."

Mendengar sikap tulus Yudha yang sarat rasa tanggung jawab menjaga nama baik keluarga, Wirawan tak punya alasan lagi untuk tidak merestui Yudha hadir di pernikahan Yogi.

"Makasih banyak ya, Pa." Yudha menghela napas lega. Beban di pundaknya serasa menguap setelah mendapat restu dari papanya untuk hadir di hari bahagia Yogi.

"Mama gimana, Pa? Apa perlu dikasih tahu juga?"

Yudha tahu persis watak mamanya. Seandainya sang mama tahu Yogi akan menikahi kekasihnya, naluri keibuannya pasti menginginkan untuk tetap hadir. Bagaimanapun kekecewaan yang pernah dibuat Yogi, Yogi tetaplah darah daging yang lahir dari rahimnya.

"Soal mamamu, biar Papa yang bicara nanti," jawab Wirawan, "Kalau mamamu memang berminat pergi ke sana, Papa titip mamamu, jaga mamamu baik-baik."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Wirawan, mengisyaratkan bahwa Wirawan memberikan lampu hijau. Ia tidak akan menahan istrinya jika ingin menjadi saksi di pernikahan anak sulung mereka.

Seketika senyuman merekah di wajah Yudha. "Siap, Pa. Yudha janji akan jaga Mama dengan baik."

Hati Yudha menghangat melihat sikap papanya yang mulai melunak. Mengizinkan mamanya ikut pergi mungkin bisa menjadi jalan untuk memperbaiki hubungan Yogi dan kedua orang tua mereka yang sempat bersitegang.

"Bagaimana dengan Kanaya? Apa kamu berniat membawa Kanaya ke sana?" tanya Wirawan. Namun belum sempat Yudha menjawab, ia sudah menyambung kalimatnya lebih dulu, "Menurut Papa, sebaiknya nggak usah, Yud. Papa yakin papa mertuamu juga nggak akan setuju."

Wirawan tahu persis situasinya. Terhadap Yudha saja, Danur masih menunjukkan sikap dingin. Apalagi jika Danur sampai tahu anak perempuannya dibawa ke pernikahan Yogi.

Yudha terdiam, tak langsung merespons.

Logikanya membenarkan ucapan sang papa. Suasana pasti akan menjadi sangat canggung jika Kanaya ikut berada di sana. Namun di sisi lain, hati kecil Yudha berharap. Sebagai seorang suami, ada keinginan untuk menggandeng Kanaya di acara besar keluarganya sendiri.

❤️❤️❤️

Bersambung...

1
Ernalita Sitompul
senangnya jadi Kanaya
sryharty
co cwiit kalian ini
Naya Yuda bener2 terbaik
Rika Fitriana
ajak kanaya main k'rmh mmh yudha biar wulan tambah iri melihat perhatian yudha k'kanaya
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Oalah Wulan, Wulan... semoga kelak aku ngga punya menantu kayak Wulan 🥺🥺
Juwitae
Wulan nih penyakit hati di piara.. bahagia selalu Naya dan Yudha
sunaryati jarum
Up rutin lagi, Thoor
sunaryati jarum
Wulan perasaan irimu terhadap perhatian mertuamu kepada Kanaya itu berlebihan.Kamu tidak bekerja kamu bisa memberi perhatian pada dirimu sendiri.Kamu itu di tempat mertua segala kebutuhan rumah tangga tercukupi kamu dan suami hanya mengeluarkan untuk kebutuhan pribadi.Sedsngksn Yudha dan Naya sejak awal perkawinan menanggung semua kebutuhan rumah tangga sendiri, masalah Mbak Atin dipindah karena Naya belum mampu mengerjakan pekerjaan rumah tangga,saat ini bau mengalami morning sicknes.Wulan itu sok- Sokan mengancam pulang ke Bali, memanggil orang tuamu mampu mencukur kebutuhan harian seperti mertuamu.Sudah hidup enak masih kurang.Yogi sekarang terbuka ya sifat asli istrimu
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ fjR𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ
disana Wulan selalu diliputi rasa resah gelisah merasa kurang di perhatikan,merasa diabaikan padahal hatinya sendiri yang gak menerima keadaan.sedang Kanaya begitu menikmati masa2 kehamilannya,suami yang perhatian dan pengertian.
Yogi kurang perhatian sama Wulan,sibuk kerja sampai lupa kalau istrinya juga butuh dukungan.
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ fjR𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ
baru ketahuan kan sisi lain Wulan yang suka iri.
Septi
tahan dulu Yud... sabar🤭
Septi
akhirnya. selamat
ρυтяσ kang'typo✨
Atin g sabar buat cerita masalah tentang Wulan, sampe keceplosan pas di ajak ngobrol sama Kanaya🤭🤭🤭
ρυтяσ kang'typo✨
Wulan lagi hamil tapi pikiran'y selalu negatif, awas loh nanti bahaya g buat kesehatan mu 😌😌
nuraeinieni
jgn di bikin jahat dong thor peran wulannya,,,kasian,di bikin sabar biar wulan nyaman tinggal di rumah mertua.
sunaryati jarum
Dobel up Thoor
sunaryati jarum
Wulan kamu harus tahu diri dan bersabar,juga hilangkan sikapmu yang sombong dan sok berkuasa mentang- mentang menantu dari majikan para ART.Ingat yang membayar gaji ART mertuamu buka Yogi atau kamu.Seharusnya kamu malu Yudha yang muda mandiri kamu masih menumpang,tapi tidak masalah,toh mertuamu juga suka,tapi kehamilan kamu jangan kau jadikan alat untuk mendapatkan kasih sayang seperti yang diterima Kanaya.Asal sifat iri, sombong,sok berkuasa kau hilangkan mertua dan ART respect sama kamu.Ingat kau hamil pikiran ,hati,dan perilaku harus bersih nanti berdampak pada fisik dan aura bayimu.Jika hatimu bersih bayimu juga ceria dan bersinar.Namun jika hatimu penuh dengan iri ,dengki dan sombong, jangan harap bayimu beraura bersinar.Efek jadi menantu kaya jangan untuk sombong,tiru perlakuan ibu mertuamu saat minta ART mengerjakan sesuatu.Tuh Atin di rumah Naya sangat karena terbebas dari sifat arogan dan sombongmu
Ernalita Sitompul
wulan,kamu harus extra sabar,semua itu terjadi bukan niat mertuamu membedakan kalian tp semata mata krn proses awal yang jauh dari biasanya saat pernikahan diantara kalian,mertuamu lebih cemas pd rumahtangga Yudha krn insiden dr Yogi..yakinlah jika wulan tenang dan sabar,perlahan ibu mertuamu akan menyesali tindakannya..
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ fjR𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ
lama2 Wulan stres karena terlalu mengharap perhatian lebih.kasihan bayinya kalau ibunya banyak memendam pikiran karena ingin perhatian lebih.nanti jadi iri dengki.jalani sajalah hidupmu,buat dirimu sendiri bahagia tanpa iri melihat orang lain.
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Akhirnya sifat asli Wulan lama-lama jadi ketahuan deh 😁
sunaryati jarum: Benar
total 1 replies
Selin Tari
di tahan dulu y papa Yudha 🤭🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!