Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.
Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 - Pengepungan Lembah Naga Merah
Kabut tebal berwarna kelabu kehitaman bergulung merayap turun dari puncak Pegunungan Merah, membungkus cekungan Lembah Naga Merah dalam keheningan yang membekukan. Di tengah cekungan raksasa itu, Benteng Utama Istana Naga Merah menjulang tinggi bagaikan raksasa baja keemasan. Dinding granit tebal setinggi dua puluh tombak dilapisi lempengan perunggu berukir naga melingkar, dengan sepuluh menara pengawas utama yang menampung ribuan busur panah otomatis dan meriam besi raksasa.
Sepuluh ribu prajurit zirah emas Istana Naga Merah merapatkan barisan di pelataran luar benteng. Tameng baja segi enam keemasan berjejer membentuk dinding rapat tiga lapis. Di balik barisan perisai, tombak-tombak tembaga tebal teracung miring membelah udara pagi yang dingin. Pendar kemewahan zirah emas mereka berkilat menyilaukan di bawah siraman samar cahaya fajar.
Di puncak panggung pengintai benteng utama, Pangeran Zhao Xu berdiri kaku dengan jubah sutra merah bersulam benang emas murni. Tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan emas menggenggam Pedang Naga Perkasa, sementara sepasang matanya yang tajam menatap dingin ke arah celah tebing selatan.
"Bocah Ma itu telah menghancurkan dua benteng luarku," kata Pangeran Zhao Xu dengan suara mendatar yang memancarkan keangkuhan mutlak. "Hari ini seluruh sisa darah Keluarga Ma akan punah di lembah ini."
Dari lorong celah tebing selatan, guncangan halus terasa merambat menembus ubin batu pelataran. Suara derap paku sepatu kuda bergema kencang, menyatu dalam riuh yang menggetarkan tebing-tebing basal di sekeliling lembah.
Lima ribu prajurit Pasukan Serigala Hitam muncul melintasi gulungan kabut subuh. Mereka bergerak teratur membentuk formasi sabit mengepung seluruh pintu keluar Lembah Naga Merah. Zirah Bencana kehitaman bergaris emas yang membungkus tubuh prajurit memancarkan pendar kelam yang menyerap cahaya fajar. Tidak ada helai panji yang berkibar kencang, hanya kilatan mata panah dan kampak meteorit yang menembus kabut.
Tie Shan memimpin tiga ribu kavaleri zirah berat di sayap kanan. Kampak kembar baja meteorit di kedua tangannya terangkat melintang, sementara kuda jantan hitamnya menapak kencang di atas tanah berlumpur. Di sayap kiri, Feng Ni berdiri tegak di atas benteng batu alami, memimpin dua ribu pemanah yang telah menyajikan panah meteorit berlapis racun Ular Hijau di tali busur mereka.
Ma Huang melangkah keluar dari barisan tengah kavaleri. Jubah kulit serigala kelabunya berkibar kencang ditiup angin lembah. Tangan kirinya memegang erat Pedang Tulang Hitam yang masih terbungkus kain kelabu. Sepasang matanya yang berkilat merah mengunci rapat sosok Pangeran Zhao Xu di puncak panggung pengintai.
Ma Huang menghentikan langkahnya lima puluh depa di hadapan barisan perisai emas musuh. "Zhao Xu," panggil Ma Huang kaku. Suaranya tidak keras, namun mengandung getaran tenaga dalam Inti Bencana yang menghenyakkan dada ribuan prajurit musuh. "Lima belas tahun lalu kau mengirim Tuan Kota Jian dan Sekte Cakar Iblis untuk membantai Keluarga Ma demi Segel Besi Hitam."
Pangeran Zhao Xu terkekeh dingin. Tawa perlahan itu bergema nyaring di seluruh pelataran benteng. "Keluarga Ma hanyalah kerikil kecil di jalan kekuasaanku. Segel Besi Hitam itu adalah kunci pusaka Kekaisaran, dan kau tidak pantas memegangnya!"
Pangeran Zhao Xu mengangkat Pedang Naga Perkasa tinggi-tinggi ke udara. "Barisan perisai emas, maju sepuluh langkah! Bantai seluruh pasukan serigala!"
Brak! Brak! Brak!
Sepuluh ribu prajurit zirah emas menghentakkan kaki dan tameng baja mereka serempak ke tanah. Getaran dahsyat meretakkan permukaan tanah berlumpur lembah. Barisan perisai tiga lapis bergerak maju perlahan bagaikan dinding keemasan raksasa yang hendak meremukkan segala sesuatu di hadapannya.
Dari atas dinding benteng, lima ratus pemanah musuh melepaskan hujan anak panah berujung tembaga. Ribuan anak panah meluncur deras membelah udara fajar, menghujani posisi kavaleri Serigala Hitam.
Ma Huang menyalurkan sirkulasi tenaga dalam dari Dantian Hitam-Keemasan lurus ke dalam telapak tangan kirinya. Ia mencabut Pedang Tulang Hitam dari sarung kainnya dalam satu tarikan kencang yang memotong udara dingin.
Srettt!
Uap racun asam korosif meledak keluar dari bilah pedang hitam. Ma Huang mengayunkan pedangnya memutar melingkar di atas kepala, menciptakan gelombang angin beracun pekat yang membendung seluruh hujan anak panah di udara.
Anak-anak panah tembaga musuh yang menyentuh gelombang racun Ma Huang meleleh kehitaman, patah berkeping-keping sebelum sempat menyentuh Zirah Bencana prajurit Serigala Hitam.
Feng Ni menarik tali busur baja meteoritnya kencang-kencang di Puncak Tebing Barat. "Pemanah! Sasarkan ke celah leher barisan perisai emas! Lepaskan!"
Dua ribu anak panah meteorit berlapis racun Ular Hijau meluncur deras bagaikan gelombang belalang hitam dari langit. Anak-anak panah itu menembus celah-celah perisai emas dengan presisi sempurna.
Srettt! Cring!
Jeritan histeris pecah seketika dari barisan terdepan prajurit zirah emas. Anak panah meteorit menembus pelindung leher tembaga musuh tanpa hambatan. Asam racun Ular Hijau merembes cepat ke dalam pembuluh darah, menghitamkan kulit dan melumpuhkan ratusan prajurit emas dalam tiga hitungan napas.
Dinding perisai tiga lapis milik Istana Naga Merah terpecah kaku oleh kepanikan massal.
Tie Shan menghentakkan kekang kudanya kencang-kencang. Tawa parau yang penuh haus darah membakar dadanya yang tegap. "Serbu! Ratakan zirah emas mereka!"
Tiga ribu kavaleri Zirah Bencana meluncur deras bagaikan gelombang pasang kehitaman dari arah sayap kanan. Kampak-kampak meteorit bergerigi menghantam perisai emas musuh yang retak.
Brak! Krak!
Benturan dahsyat dua kekuatan raksasa menggoncangkan seluruh tanah Lembah Naga Merah. Zirah-zirah emas musuh hancur berkerutup terkena tebasan kampak meteorit Pasukan Serigala Hitam. Darah segar menyembur kental membasahi ubin pualam pelataran, mengubah tempat itu menjadi medan pembantaian berdarah.
Ma Huang menjejakkan kaki kirinya kencang ke atas tanah. Tubuhnya meluncur mendatar bagaikan kilat kelabu, menembus kerumunan prajurit zirah emas yang kacau balau. Pedang Tulang Hitam di tangannya melancarkan tebasan-tebasan lurus yang memotong leher dan dada prajurit musuh tanpa ada yang mampu menahan lintasannya.
Prajurit zirah emas roboh bergelimpangan di kiri dan kanan Ma Huang. Pijakan kaki Ma Huang tak terhentikan saat tubuhnya menaiki lima belas anak tangga pualam utama, meluncur lurus menuju panggung pengintai Pangeran Zhao Xu.
Pangeran Zhao Xu menyipitkan matanya tajam. Rasa terkejut kilat memancar dari raut wajahnya saat menyaksikan ketangguhan luar biasa Zirah Bencana dan kejamnya racun Ma Huang. Ia menyalurkan seluruh sisa tenaga dalam keemasan ke dalam Pedang Naga Perkasa.
Bilah pedang emas pangeran memancar kencang, membendung udara pagi dalam gelombang energi panas yang membara.
"Kau membunuh seluruh bawahanku, Bocah Ma!" raung Pangeran Zhao Xu dengan suara penuh murka. "Hari ini aku sendiri yang akan mencabut jantungmu!"
Pangeran Zhao Xu melompat turun dari panggung pengintai. Pedang Naga Perkasa di tangannya diayunkan miring membawa seluruh bobot tenaga dalam emas, mengincar leher Ma Huang dalam satu tebasan pemutus kehidupan.
Ma Huang mengangkat Pedang Tulang Hitam melintang dengan tangan kiri. Uap racun asam dari Dantian Hitam-Keemasan bergejolak hebat, membungkus bilah pedang hitamnya dalam pendar kehitaman yang pekat.
Dua senjata pusaka beradu kaku di tengah pelataran pualam yang terbakar.
Tinggg! Bummm!