Seluruh keluarga menganggap Ashlyn adalah anak pembawa sial. Sejak kecil ia dihina dan dipukuli hanya karena tak memiliki kecerdasan seperti anak kecil pada umumnya. Demi menyingkirkan Ashlyn untuk selamanya, sang ibu tiri membuang Ashlyn di perbatasan dan berbohong bahwa suami Ashlyn adalah Jenderal Ethan Harold, seorang jenderal perang yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Mereka yakin Ashlyn akan dibunuh saat berani mengaku sebagai istri sang jenderal.
"Suami mu adalah Jenderal Ethan Harold."
"Suami Ashlyn?" tanya Ashlyn dengan polosnya.
"Iya, kalau kamu tersesat, cari saja dia. Katakan bahwa kamu adalah istrinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IISJ Bab 35 - Siang Nanti
Ethan masih berdiri di hadapan Ashlyn ketika gadis itu tersenyum lebar setelah mencium kedua pipinya. Untuk beberapa detik, Ethan hanya mampu menatap wajah polos tersebut. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Ashlyn akan melakukan hal seperti itu hanya karena melihat adegan di televisi.
Huh! Diam-diam Ethan menghela nafasnya secara perlahan, ciuman Ashlyn pun membuatnya menelan ludah. Ethan yang terbiasa dengan kehidupan keras kini dihadapkan sosok sepolos Ashlyn, dia benar-benar bingung sampai terasa membeku.
"Sudah," ucap Ethan akhirnya, berusaha mengembalikan ekspresinya seperti biasa. "Sekarang kembali ke meja belajarmu."
Ashlyn mengangguk patuh dan bahagia. "Baik."
Ashlyn kemudian kembali berjalan menuju kursinya. Namun sebelum duduk, Ashlyn sempat menoleh sekali lagi kepada Ethan.
"Suamiku."
"Hm."
"Semangat bekerja."
Ethan menatapnya beberapa detik sebelum mengangguk. "Iya."
"Jangan lupa pulang ya," ucap Ashlyn lagi.
"Aku tidak akan lupa."
Barulah Ashlyn tersenyum puas dan duduk kembali di depan meja belajarnya. Ia mengambil pensil dan membuka buku yang tadi dipelajarinya, seolah-olah dua ciuman di pipi Ethan bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan.
Sementara Ethan masih berdiri di ambang pintu. Tatapannya sempat jatuh kepada Ashlyn yang sudah kembali sibuk dengan bukunya. Entah mengapa, ada perasaan hangat yang tersisa di wajahnya setelah dua kecupan singkat tadi.
Ethan akhirnya menghela napas, kemudian menutup pintu perlahan.
Begitu berjalan beberapa langkah di lorong, Ethan tiba-tiba berhenti. Tangannya terangkat menyentuh pipi kiri yang tadi dicium Ashlyn. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Ethan mengerutkan kening. "Apa-apaan ini?" gumamnya pelan.
Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian mengusap wajahnya sendiri. Tidak seharusnya dua kecupan polos dari Ashlyn membuatnya bereaksi seperti itu.
Namun baru beberapa langkah berjalan, Ethan kembali teringat perkataan Ashlyn.
'Tadi pipi kanan, sekarang cium pipi kiri juga ya biar adil.'
Ethan memejamkan mata sesaat. "Anak itu benar-benar..."
Ia tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Ethan hanya menggeleng dan melanjutkan langkah menuju tangga.
Ketika sampai di lantai dasar, sesuatu tiba-tiba terlintas dalam pikiran Ethan. Ashlyn mengatakan ia melihat adegan itu di televisi bersama salah satu pelayan.
Ethan langsung berhenti.
"Semua pelayan berkumpul di sini." titahnya dengan suara yang terdengar begitu dingin.
Beberapa pelayan yang sedang menjalankan tugas segera saling berpandangan. Tidak lama kemudian, mereka berkumpul di ruang tengah dengan wajah tegang, sangat takut. Jika sang jenderal meminta semua pelayan berkumpul pasti ada yang salah.
Ethan berdiri di hadapan mereka dengan tatapan tajamnya.
"Siapa yang kemarin menonton televisi bersama Ashlyn?"
Tidak ada yang langsung menjawab.
Beberapa pelayan bahkan saling melirik, berharap orang lain yang akan menjawab lebih dulu.
Ethan kembali bertanya, kali ini lebih tegas. "Aku bertanya sekali lagi. Siapa yang menemani Ashlyn menonton televisi?"
Seorang pelayan wanita akhirnya mengangkat tangan dengan gugup. "Sa-saya, Jenderal."
Ethan menatapnya. "Kamu?"
"I-iya, Jenderal."
"Apa yang kalian tonton?"
Pelayan itu langsung menundukkan kepala. "Acara televisi biasa, Jenderal."
Ethan menyipitkan mata. "Acara seperti apa?"
Pelayan tersebut semakin gugup. "Hanya acara keluarga, Jenderal."
"Apakah kamu yakin?"
"Iya, Jenderal."
Ethan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas. "Ashlyn baru saja mencium pipiku karena dia melihat adegan seorang istri mencium suaminya sebelum berangkat bekerja."
Wajah para pelayan langsung berubah pucat. Pelayan yang tadi mengaku menemani Ashlyn menonton televisi bahkan semakin menundukkan kepalanya ketakutan.
Sementara Ethan menatap mereka satu per satu. "Aku tidak melarang kalian menemani Ashlyn menonton televisi. Tapi kalian harus memahami kondisinya."
Tidak ada yang berani menyela.
"Pola pikir Ashlyn saat ini masih seperti anak-anak. Dia menyerap apa pun yang dilihatnya tanpa memahami konteks seperti orang dewasa." Nada suara Ethan tidak meninggi, tetapi justru terdengar lebih serius.
"Karena itu mulai sekarang jangan biarkan Ashlyn menonton acara yang berisi adegan atau pembicaraan untuk orang dewasa."
"Baik, Jenderal."
"Berikan dia tontonan anak-anak. Kartun, acara pendidikan, atau apa pun yang sesuai dengan proses belajarnya."
"Baik, Jenderal."
"Dan jangan mengajarinya sesuatu yang belum waktunya dia pahami."
Semua pelayan mengangguk bersamaan. "Kami mengerti, Jenderal."
"Sudah cukup, kalian kembali bekerja," ucap Ethan yang terakhir.
Para pelayan segera membungkuk sebelum berpencar. "Ya Tuhan, mengerikan sekali," bisik para pelayan.
"Sstt, jangan banyak bicara."
"Nona Ashlyn mencium pipi Jenderal," balas salah satu pelayan dengan tersipu. Lalu buru-buru kabur sebelum jenderal Ethan kembali memanggil.
Ethan kemudian melangkah menuju pintu utama. Namun sebelum keluar, ia sempat mengusap pipinya sekali lagi.
Entah kenapa wajah Ashlyn ketika mencium pipinya masih terbayang begitu jelas.
Ethan menghela napas. "Fokus bekerja."
Setelah mengatakan itu kepada dirinya sendiri, Ethan akhirnya meninggalkan mansion dan menuju kantornya.
Sementara itu di tempat lain, sampai pagi ini Nadine masih menunggu kabar Tante Aluna dengan gelisah.
Sejak pagi ponselnya tidak pernah benar-benar jauh dari tangannya. Bahkan ketika melakukan berbagai aktivitas, pikirannya tetap tertuju pada satu hal.
Apakah Tante Aluna sudah bertemu Ashlyn?
Nadine ingin sekali mengetahui apa yang terjadi di mansion Ethan semalam. Namun ia tidak mungkin bertanya secara langsung. Karena itu, ketika layar ponselnya akhirnya menyala dan sebuah pesan dari Aluna masuk, Nadine langsung meraihnya dengan cepat.
Senyum kecil pun muncul di wajah Nadine. "Akhirnya Tante Aluna mengirimku pesan. Benar, dia pasti butuh waktu untuk tenang karena itulah lama sekali menghubungiku," ucap Nadine begitu yakin.
Namun senyum itu hanya bertahan beberapa detik. Pesan dari Aluna ternyata sama sekali bukan seperti yang diharapkannya.
'Nadine, Tante tidak jadi berkunjung ke rumah Ethan. Tante hanya sempat meneleponnya untuk memastikan keadaannya. Ethan baik-baik saja, jadi kamu tidak perlu khawatir.'
Nadine membaca pesan itu sekali.
Kemudian dua kali.
Ia berharap ada kalimat lain setelahnya.
Tetapi tidak ada.
Tidak ada cerita tentang Ashlyn.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada permintaan Aluna agar Ethan menjelaskan pernikahannya.
Tidak ada satu pun hal yang selama ini Nadine harapkan.
"Tidak jadi berkunjung?" geram Nadine, sampai ia mengepalkan ponselnya sendiri.
"Bagaimana bisa?" Nadine berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya dengan wajah yang semakin memerah penuh amarah. Semua rencana yang sejak kemarin ia susun matang kini berantakan begitu saja.
Nadine sudah membayangkan Tante Aluna datang ke mansion Ethan dan melihat Ashlyn, kemudian terkejut dan marah. Ia berharap Aluna akan mempertanyakan keputusan Ethan dan meminta putranya segera menjauhi wanita itu.
Namun sekarang?
Tante Aluna justru mengatakan tidak jadi datang.
"Astaga! Dasar tua Bangka tidak berguna!" kesal Nadine, akhirnya ia melempar ponselnya ke atas ranjang.
Tapi tepat saat itu juga kembali muncul sebuah notifikasi pesan. Kedua mata Nadine mendelik dan buru-buru mengambil ponselnya lagi. Ia pikir pesan itu tetap saja dari Tante Aluna, tapi ternyata bukan.
"Ethan," ucap Nadine saat melihat nama sang pengirim pesan. Dengan jantung berdegup Nadine pun membuka pesan tersebut.
'Siang nanti datanglah ke kantorku,' tulis Ethan.
Deg! Jantung Nadine sontak berdenyut nyeri, awalnya begitu takut jika Ethan mengetahui rencananya untuk memancing tante Aluna berkunjung ke mansion. Namun detik berikutnya pemikiran itu menyingkir diganti dugaan lain, mungkin Ethan memintanya datang untuk memperbaiki hubungan mereka.
Mungkin Ethan mulai sadar jika dia salah dan terlalu kasar kemarin. Karena tak biasanya Ethan menghubunginya lebih dulu seperti ini.
Membayangkan hal itu Nadine mulai bisa tersenyum. "Baik," balas Nadine dan dia kirim pesan tersebut.