SINOPSIS
Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!
Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Investasi Meledak, Hujan Black Card, dan Bunga Layu Pangeran
Aura tersenyum cerah. Ia melangkah maju ke tengah ruangan, mengabaikan tatapan meremehkan dari para menteri berambut putih di sekelilingnya. Ia meletakkan tabletnya di tengah meja, lalu menekan satu tombol.
Wush! Sebuah grafik hologram merah menyala muncul di tengah meja, menampilkan data yang membuat wajah Arthur memucat.
"Selamat malam, Bapak-bapak Boomer yang terhormat," sapa Aura lantang, suaranya jernih dan penuh percaya diri.
"Apa itu Boomer? Kelancangan apa ini?!" protes seorang menteri tua.
"Itu istilah kehormatan untuk pria berpengalaman di kampung halaman saya, Pak," bohong Aura dengan lancar. "Mari kita langsung ke inti masalah. Yang Mulia Pangeran Arthur meminta dana talangan tiga ratus ribu koin emas karena 'musibah' hama. Tapi, menurut audit independen departemen kami, ini bukan musibah alam. Ini murni inkompetensi manajerial tingkat dewa."
"Jaga bicaramu, Pelayan!" bentak Marquis Vane.
Caden langsung menatap Vane dengan pandangan membunuh. "Marquis Vane. Satu kata lagi keluar dari mulutmu, tim auditku akan membongkar rumah pantaimu besok pagi."
Vane langsung bungkam, menelan ludah ketakutan.
Aura melanjutkan dengan santai. "Terima kasih, Bos." Ia menunjuk grafik. "Lihat kurva ini. Anggaran pupuk subsidi yang Bapak Arthur kelola bocor empat puluh persen ke pasar gelap. Cost produksi naik dua kali lipat dalam tiga bulan, tapi yield (hasil panen) turun drastis. Kalau dewan ngasih subsidi sekarang, itu sama aja kayak buang koin emas ke dasar jurang yang isinya lintah."
Arthur menggebrak meja, wajahnya memerah. "Kau tidak tahu apa-apa soal bertani! Hama belalang merah tidak bisa diprediksi!"
"Hama belalang merah itu siklus empat tahunan, Pangeran!" serang Aura balik, suaranya menggelegar mengalahkan suara Arthur. "Kalau Anda rajin baca jurnal klimatologi alih-alih sibuk kasih bunga ke pelayan di taman, Anda pasti udah beli cairan penangkal hama bulan lalu pas harganya masih murah! Sekarang Anda mau dewan nombokin kebodohan Anda? Nggak logis!"
Seluruh ruangan hening. Para menteri saling berbisik. Fakta yang dibeberkan gadis itu sangat akurat dan menohok. Arthur terdiam kaku, harga dirinya hancur lebur di hadapan para menteri.
"Lalu apa maumu, Caden?!" Arthur menatap saudara tirinya dengan putus asa. "Kau ingin melihat rakyat Timur mati kelaparan hanya untuk menjatuhkanku?!"
"Aku tidak sepeduli itu pada politikmu," jawab Caden dingin. "Aku hanya melihat peluang bisnis."
Aura melemparkan sebuah dokumen perkamen tebal ke depan wajah Arthur.
"Departemen Keuangan Pangeran Caden bersedia melunasi seluruh utang jatuh tempo Pertanian Timur malam ini juga. Tiga ratus ribu koin emas, tunai, tanpa termin," ucap Aura cepat, bagaikan seorang negosiator ulung.
Mata Arthur berbinar penuh harap. "K-kau serius? Tanpa bunga?"
"Oh, jangan naif, Pangeran," seringai Aura melebar. "Tentu saja ada harganya. Kami melunasi utang Anda, dan sebagai gantinya, Anda menandatangani penyerahan lima puluh satu persen saham kepemilikan lahan Pertanian Timur ke tangan Pangeran Caden. Kami yang akan mengambil alih manajemen, pengadaan pupuk, dan distribusi."
Arthur terbelalak ngeri. "L-lima puluh satu persen?! Itu namanya aku kehilangan kendali atas wilayahku sendiri! Kau merampokku di siang bolong!"
"Gue nggak merampok. Gue ngasih jalan keluar," desis Aura, mencondongkan tubuhnya ke meja, menatap tajam mata Arthur. "Anda bisa menolak, kok. Silakan tolak. Tapi besok pagi, bank pusat akan menyita seluruh lahan Anda, rakyat Anda akan demo membakar lumbung, dan gelar pangeran Anda akan dicabut karena gagal bayar. Silakan pilih, Yang Mulia: jadi pemilik saham minoritas yang masih bisa hidup enak dari dividen, atau jadi pangeran gembel besok pagi?"
Arthur gemetar. Ia menatap ke arah para menteri, berharap ada yang membelanya. Namun, semua menteri menundukkan kepala. Mereka tahu, secara hitungan angka, tawaran Caden adalah satu-satunya cara menyelamatkan pasokan pangan kekaisaran.
Caden bersandar di kursinya, memutar-mutar cincin signet di jarinya dengan santai. "Waktumu sepuluh detik, Arthur. Sepuluh... sembilan..."
"Kau iblis, Caden," kutuk Arthur, matanya berkaca-kaca penuh kekalahan.
"Lima... empat..." lanjut Caden, tersenyum sadis.
"CUKUP! Aku tanda tangan!" teriak Arthur frustrasi. Ia menyambar pena bulu di atas meja dan menandatangani perkamen itu dengan kasar.
Aura langsung menarik dokumen itu, memeriksanya dengan teliti, dan meniup tinta yang masih basah dengan gaya savage.
"Terima kasih atas kerja samanya, Pangeran Arthur," ucap Aura sambil mengedipkan sebelah mata. "Besok lusa, pupuk dan penangkal hama kualitas nomor satu bakal sampai di wilayah Anda. Management fee akan dipotong dua persen dari laba kotor tiap bulan, ya. Mari, Bos. Rapat selesai."
Aura berbalik, berjalan keluar ruangan dengan dada membusung bangga. Caden berdiri perlahan, menatap Arthur yang terduduk lemas di kursinya.
"Kau beruntung asistenku yang menangani ini, Arthur," bisik Caden dingin. "Jika aku yang turun tangan langsung, aku tidak akan menyisakan satu persen pun untukmu."
Caden berbalik dan berjalan keluar, mengikuti langkah gadis yang baru saja memperluas wilayah kekuasaannya dalam waktu kurang dari lima belas menit.
Begitu pintu ruang sidang tertutup, Aura langsung melompat kegirangan di lorong sepi itu.
"CUAANNN! GILA, BOS! MONOPOLI GANDUM! KITA BAKAL KAYA RAYA TUJUH TURUNAN!" teriak Aura, menari-nari kecil sambil memeluk dokumen akuisisi.
Caden menarik pinggang Aura dari belakang, menghentikan tarian gilanya, dan memeluknya dengan sangat posesif. Dagu Caden bersandar di puncak kepala Aura.
"Bukan 'kita akan kaya', Elara," bisik Caden dengan suara berat yang menggetarkan dada Aura. "Tapi kau yang baru saja menjadikan dirimu wanita paling berkuasa di kekaisaran ini. Kau tahu, dengan 51% saham itu, secara teknis, setengah kekaisaran ini sekarang berada di bawah telapak kakimu."
Aura mendongak, menatap mata perak yang menatapnya dengan hasrat yang membara.
"Wah... kalau gitu, gaji bulanan gue harus naik dong, Bos?" tanya Aura polos, merusak suasana romantis untuk yang kesekian kalinya.
Caden tertawa lepas, mempererat pelukannya di pinggang Aura. "Kau bisa mengambil seluruh isi brankasku malam ini juga, Gadis Serakah. Ayo kembali ke ruangan. Ada 'bonus' yang harus kuberikan padamu atas presentasi luar biasamu tadi."
Dan Aura, untuk pertama kalinya sejak ia bertransmigrasi, menyadari bahwa 'bonus' yang dimaksud Caden kali ini... sama sekali tidak berbentuk uang logam.