Terlahir kembali sebagai NPC ber-skill ampas [Fortify], Raka—yang kini bernama Kayy—hanya ingin hidup tenang dan memanjakan istrinya, Alya.
Siapa sangka, kebiasaannya merawat gubuk jutaan kali malah mengubah rumah dan pekarangannya menjadi [Sanctuary Domain]—zona perlindungan mutlak terkuat di dunia yang membalatkan semua sihir pemusnah, sementara sayur kebunnya sanggup menyembuhkan luka fatal secara instan.
Kini, di saat dunia terancam hancur oleh Raja Iblis, para Pahlawan malah mengantre dan berlutut di pagar rumahnya demi meminta bantuan. Namun bagi Kayy, tak ada urusan dunia yang lebih penting daripada menyeduh teh sore bersama Alya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PASAR KOTA DAN HEWAN SUCI
Pagi hari yang cerah menyelimuti Hutan Kelam. Setelah pekarangan rumah kayu dua lantai milik Kayy makin ramai oleh kehadiran wortel emas raksasa, Rumah Pohon Ajaib, Serigala Es Shiro, peri-peri malam, dan Naga Kuno mungil yang baru bergabung, Kayy memutuskan bahwa hari ini adalah waktunya untuk berbelanja ke pasar kota.
"Stok bumbu dapur dan garam kita sudah mulai tipis," ucap Kayy santai seraya mengikat tali apronnya sebelum diganti dengan pakaian bepergian yang sederhana.
Alya tersenyum manis seraya merapikan rambut pirang putrinya. "Ibu setuju. Elena pasti senang bisa melihat keramaian pasar."
"Horeee! Jalan-jalan ke pasar!" seru Elena melompat-lompat gemari di atas rumput.
Di punggung Elena, sebuah tas ransel kecil terpasang rapi. Dari dalam tas tersebut, menyembul kepala mungil bersisik merah dengan dua tanduk kecil dan mata yang berkedip-kedip penasaran. Itu adalah sang Naga Kuno—yang kini dipanggil Ignis oleh Elena. Ignis awalnya berniat menolak dimasukkan ke dalam tas mainan, tetapi setelah mendapat satu lirikan dingin dari Kayy, sang naga purba langsung menurut pasrah demi keselamatan jiwanya.
"Shiro, kamu jaga rumah dulu bersama para peri kecil ya," kata Kayy menepuk kepala Serigala Es raksasa itu. Shiro menggonggong pelan dan mengnodai patuh, merebahkan tubuhnya di samping wortel emas.
Pasar Kota Manusia di pinggiran Hutan Kelam selalu dipenuhi pedagang dan pembeli yang hilir mudik. Suasana bising dan aroma rempah-rempah memenuhi udara begitu keluarga kecil itu melangkahkan kaki di area pasar.
Kehadiran keluarga Kayy yang tampil sederhana namun anggun langsung mencuri perhatian. Terutama Elena yang berjalan riang sambil memeluk tas ransel berisi Ignis.
"Aduh, lucu sekali kadal merah bersayap itu!" puji seorang ibu pedagang buah saat Elena melintas. "Itu boneka atau mainan sihir, Nak?"
Ignis yang mendengar dirinya disebut 'kadal' langsung membelalakkan matanya yang merah menyala. Kebanggaan diri sang Naga Kuno purba terbakar seketika. Ignis membuka mulut mungilnya, bersiap menyemburkan api neraka untuk membakar seluruh pasar ini hingga jadi abu!
TAP.
Jemari mungil Elena dengan lembut menepuk-nepuk kepala Ignis. "Ignis, tidak boleh nakal ya. Nanti Ayah marah."
Kata 'Ayah' mendadak bekerja seperti sihir pembeku paling ampuh. Ignis seketika mengatupkan mulutnya rapat-rapat, berkeringat dingin seraya menatap Kayy yang sedang tawar-menawar harga garam di lapak sebelah. Naga purba itu memejamkan mata dan memilih pura-pura pingsan di dalam tas Elena.
Kehebohan lain terjadi saat Kayy membayar beberapa karung beras dan bumbu dapur. Karena tidak membawa keping emas, Kayy menyerahkan dua buah apel merah dari pekarangannya sebagai alat tukar.
Pedagang bumbu yang menerima apel itu awalnya ragu, namun begitu menggigit sedikit daging apel tersebut, matanya langsung membelalak lebar. Rasa manis yang luar biasa meledak di lidahnya, dan rasa pegal di punggungnya yang sudah diderita selama sepuluh tahun mendadak sembuh total dalam hitungan detik!
"I-Ini buah mukjizat dari mana?!" jerit pedagang itu gemetaran, hendak berlutut memohon lebih banyak. Namun Kayy sudah lebih dulu menyunggingkan senyum ramah, membawa barang belanjaannya, dan berjalan pergi bersama Alya dan Elena.
Siang harinya, dengan membawa beberapa kantong belanjaan, keluarga Kayy berjalan pulang melintasi jalan setapak di tepi Hutan Kelam.
Saat sedang menikmati hembusan angin sore, indra pendengaran Alya yang peka menangkap suara ringkikan lemah dari balik semak-semak tebal di pinggir hutan.
"Kayy... Dengar suara itu?" bisik Alya menahan langkahnya.
Kayy mengnodai pelan. Rombongan kecil itu mendekati sumber suara, membelakangi semak-semak berduri. Di sana, tergeletak seekor makhluk agung yang sangat indah.
Seekor Pegasus Putih—kuda bersayap perak yang sangat langka dan suci—sedang terbaring lemas di atas tanah. Bulu-bulu putihnya yang halus tampak kusam, dan sayap kirinya terkulai lemas akibat luka goresan racun hitam dari binatang buas hutan. Napas sang Pegasus tersengal-sengal, matanya yang redup menatap pasrah ke arah langit.
"Kasihan... Kudanya punya sayap tapi lagi sakit," ucap Elena iba. Bocah kecil itu tanpa rasa takut langsung berlari mendekati sang Pegasus dan melingkarkan lengan mungilnya di leher kuda suci tersebut.
"Elena, hati-hati—" Alya sempat khawatir, namun terhenti saat melihat reaksi sang Pegasus.
Kuda bersayap itu bukannya meronta, melainkan justru merasakan aura kehangatan murni dari Elena. Elena memejamkan mata, menyalurkan sihir pemulihannya (Saintly Healing Pulse). Pada saat yang sama, Kayy melangkah mendekat dan meneteskan sedikit air kelapa berenergi murni buatan rumahnya ke dalam mulut sang Pegasus.
BZZZZZZT!
Cahaya putih suci menyelimuti tubuh Pegasus tersebut! Racun hitam yang menempel di sayapnya menguap menjadi asap dalam sekejap. Luka-lukanya menutup sempurna, bulu-bulu peraknya kembali berkilau indah diterpa sinar matahari sore, dan kedua sayapnya membentang gagah melebar hingga tiga meter!
NEIGHHH!
Pegasus itu bangkit berdiri dengan anggun, meringkik nyaring penuh energi. Kuda suci itu menundukkan kepalanya yang indah, menggesekkan hidungnya ke pipi Elena sebagai tanda terima kasih yang mendalam.
"Ibu, kudanya sudah sembuh!" seru Elena gembira seraya tertawa geli karena tergelitik oleh bulu halus sang Pegasus.
Pegasus itu kemudian menoleh menatap Kayy. Indra magis sang kuda suci—yang sangat peka terhadap aura alam—seketika bergetar hebat saat merasakan keberadaan status MAX yang tenang di dalam diri Kayy. Sang Pegasus langsung melebarkan sayapnya dan berlutut rendah di hadapan Kayy, menyatakan kesetiaan mutlaknya kepada sang Penguasa Hutan.
Kayy melihat barang belanjaan beras dan bumbu dapur yang cukup berat di tangannya, lalu menatap Pegasus anggun yang sedang berlutut di hadapannya. Sebuah ide praktis mendadak muncul di kepala pria berstatus MAX itu.
"Daripada kamu terbang sendirian di hutan dan berisiko diserang monster lagi..." kata Kayy santai seraya mengelus surai putih Pegasus tersebut. "Bagaimana kalau kamu ikut ke rumah kami, dan membantu kami menarik kereta belanja kalau kita mau ke pasar?"
Alya menepuk jidatnya pelan sambil tertawa kecil. Hanya suaminya yang berpikir untuk menjadikan makhluk mitologi sesuci Pegasus sebagai kuda penarik kereta belanjaan pasar!
Namun sang Pegasus bukannya merasa dihina, melainkan justru meringkik gembira dan mengnodai antusias! Bagi sang Pegasus, diberi tugas melayani keluarga ajaib ini—bahkan hanya sebagai penarik kereta belanja—adalah kehormatan tertinggi di seluruh benua.
"Horeee! Kita punya kuda terbang!" jerit Elena gembira, langsung melompat naik ke punggung Pegasus dengan dibantu Kayy.
Sore itu, perjalanan pulang ke Hutan Kelam terasa makin istimewa. Dengan Pegasus putih bersayap yang berjalan anggun menuntun mereka, keluarga Kayy pulang menyongsong matahari terbenam, siap menyambut hari-hari penuh keajaiban baru di pekarangan rumah mereka.