Indonesia
NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nayara Putri

Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.

"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.

Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.

Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.

"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28: Panjang Umur Bareng

Galih membungkuk dan memungut jepit itu.

Lumpur menempel pada deretan mutiara yang ia pilih hampir setengah jam di toko. Salah satu sisinya lecet seperti pernah terseret ujung sepatu.

Ia mengusap noda dengan ibu jari. Laras bilang benda itu hilang di mobil. Namun sekarang jepit itu berada di anak tangga rumah Laras, dibuang begitu saja setelah makan malam.

Mungkin Laras menemukannya lalu lupa. Mungkin jatuh dari tas.

Namun kotaknya sudah dikembalikan dalam keadaan kosong. Dan ketika ia bertanya tadi, Laras bahkan tidak terlihat terlalu ingin mencarinya.

"Lih, ayo," panggil Bu Yayuk dari pagar.

Galih mengepalkan jepit di dalam telapak tangan. Ia menatap pintu dapur yang masih terang, berharap Laras keluar dan memberi penjelasan yang tidak perlu ia minta.

Pintu itu tetap tertutup.

Bu Yayuk kembali memanggil, kali ini dengan nada tidak sabar. Galih menjawab sebentar, lalu menggunakan ujung bajunya untuk membersihkan mutiara satu per satu. Noda cokelat bisa hilang, tetapi lecet pada pengaitnya tetap terlihat.

Ia teringat bagaimana Laras dulu menyimpan baut kecil pemberian Pak Darto karena merasa setiap alat punya gunanya. Kalau sebuah jepit baru saja bisa berakhir di lumpur, mungkin benda itu memang tidak pernah berarti.

Yang lebih menyakitkan bukan harga hadiah tersebut. Melainkan kenyataan bahwa ia sudah menafsirkan telepon panjang Laras, kekhawatirannya, dan semua pertengkaran kecil mereka sebagai sesuatu yang lebih dekat daripada persahabatan.

Mungkin Rayhan benar. Laras bahkan tidak suka jepit.

Galih memasukkan jepit ke saku dan pergi tanpa mengucapkan selamat malam.

Dari balik tirai ruang tengah, Rayhan melihat punggungnya menjauh. Wajahnya tidak menunjukkan kemenangan. Hanya ada ketenangan dingin seseorang yang baru memastikan perangkapnya menutup.

Keesokan pagi, ketenangan itu berubah menjadi wajah anak sekolah yang membawa dua bungkus nasi uduk.

Rayhan datang ke bengkel sebelum Laras mengangkat pintu lipat sepenuhnya. Ia sudah mandi dan berpakaian rapi, rambutnya masih sedikit basah.

"Buat apa pagi-pagi ke sini?" tanya Laras.

"Kasih sarapan."

Ia menyerahkan nasi uduk dengan telur balado dari warung di sebelah tempat Bang Ucok biasa membuka kios cukur. Bungkusnya masih hangat.

"Lo harusnya berangkat sekolah."

"Bus jemput masih empat puluh menit."

"Terus satu bungkus lagi buat siapa?"

"Aku. Biar makan bareng."

Mereka duduk di bangku kayu depan bengkel. Jalan masih basah oleh hujan semalam, dan warung Mbah Surti baru mulai membuka tutup stoples.

Laras mencicipi telur, lalu mengangguk puas. "Lumayan."

"Cuma lumayan?"

"Yang masak warungnya, bukan lo. Jangan cari pujian."

Rayhan tersenyum. Ia makan beberapa suap, lalu menatap Laras terlalu lama.

"Apa lagi?"

"Nanti kalau aku sudah gede, kita panjang umur bareng, ya, Ras."

Laras tersedak nasi. Rayhan buru-buru menyodorkan air mineral dan menepuk udara tanpa berani menyentuhnya.

"Makan aja diomongin macam-macam," gerutu Laras setelah bisa bernapas.

"Aku serius."

"Lo masih harus masuk sekolah, masuk kampus, cari kerja. Panjang umur jangan dibagi sebelum hidup lo sendiri beres."

"Makanya aku bilang nanti."

Jawaban itu begitu sederhana sampai Laras tidak bisa menertawakannya. Ia hanya melipat bungkus nasi lebih kecil untuk menyembunyikan telinga yang mulai panas.

"Panjang umur bareng juga bukan janji yang bisa dibuat sembarangan," katanya.

"Aku nggak sembarangan."

"Semua anak umur lo merasa hidupnya sudah jelas. Dua tahun lagi bisa berubah."

"Kalau berubah, biar aku yang buktikan. Kamu nggak perlu percaya sekarang."

Laras memandang anak yang duduk di sampingnya. Beberapa bulan lalu Rayhan akan memaksa sebuah jawaban. Pagi itu ia justru merapikan bungkus makanannya dan membiarkan Laras diam.

Perubahan kecil itu lebih berbahaya bagi pertahanan Laras daripada seratus kalimat rayuan.

Rayhan melihatnya, tetapi kali ini tidak mendesak. Ia berdiri saat bus sekolah terdengar dari jalan besar.

"Jangan lupa obat Mbah siang nanti."

"Gue yang harus ingetin atau lo?"

"Dua-duanya. Biar Mbah nggak kabur."

Menjelang siang, Nadia menelepon lagi. Ia akan datang dari Surabaya beberapa hari lagi dan sudah merencanakan acara kecil bersama Laras.

"Gue bawa dua dress," katanya. "Kita pakai yang warnanya nyambung."

"Gue nggak punya acara nikahan."

"Sekali aja jangan pakai celana bengkel. Jepit dari gue masih ada, kan?"

Laras membuka laci kasir. Jepit mutiara lama itu terbaring di bawah kuitansi, kusam oleh debu tetapi masih utuh.

"Ada."

"Coba sekarang. Kirim foto."

Laras pulang saat jam istirahat dan membongkar lemari. Ia menemukan blus krem serta rok panjang yang jarang dipakai. Setelah membersihkan jepit Nadia, ia memasangnya pada sisi rambut pendek yang mulai tumbuh.

Perempuan di cermin tampak terlalu rapi untuk dirinya sendiri.

"Aneh," gumamnya.

Ia mengirim foto setengah wajah kepada Nadia. Balasan datang berupa tiga pesan suara penuh teriakan senang, disusul perintah agar Laras tidak mengganti pakaian sampai Nadia melihat langsung.

Pak Darto yang lewat di depan kamar ikut berhenti. "Mau ke kondangan siapa?"

"Nggak ada. Nadia yang maksa."

"Bagus sekali-sekali. Biar orang tahu montir Bapak kalau bersih bukan baut semua."

Laras melempar bantal ke pintu. Pak Darto pergi sambil tertawa.

Namun ia tidak langsung melepasnya.

Pagi berikutnya, Laras memakai pakaian itu untuk menemui Nadia di terminal. Rayhan sudah menunggu di depan rumah dengan alasan ingin membantu membawa tas. Ia menatap Laras sampai lupa menyapa.

"Kalau mau ketawa, sekarang," kata Laras.

"Aku nggak mau ketawa."

"Terus kenapa bengong?"

"Kamu cantik."

Laras mengambil helm agar wajahnya tertutup. "Naik."

Di tengah jalan, indikator bensin berkedip. Mereka berhenti di pom bensin yang sama tempat Rayhan melihat Reno pertama kali.

Rombongan kendaraan mahal sudah memenuhi sisi lain. Reno berdiri dekat mesin pembayaran, tertawa bersama teman-temannya. Begitu melihat Laras turun dari motor, matanya menyipit, lalu melebar karena mengenali wajah di balik pakaian yang berbeda.

Ia mendekat sambil bersiul pendek.

"Wah, cewek bengkelnya bisa secantik ini?"

Laras menyerahkan uang kepada petugas tanpa memandangnya. "Minggir. Gue mau isi bensin."

"Mau ke mana? Biar gue antar. Mobil lebih nyaman daripada motor tua ini."

Rayhan turun dari jok belakang dan berdiri di sisi Laras. Tangannya tidak menyentuh, tetapi bahunya sengaja menghalangi garis pandang Reno.

"Dia sama gue," katanya.

Reno tertawa. "Lo lagi, Dek? Jadi satpam juga sekarang?"

Kata itu membuat wajah Rayhan mengeras.

"Rayhan," Laras memperingatkan.

Ia baru hendak menarik motor maju ketika seseorang muncul dari arah minimarket.

Galih berhenti di sudut jalan dengan kantong belanja di tangan. Wajahnya kurang tidur, dan jepit berlumpur pemberiannya masih tersimpan di saku.

Ia melihat Laras berdandan rapi, Reno berdiri dekat sambil tersenyum, dan Rayhan menjaga sisi lain seperti tidak memberi ruang untuk siapa pun.

Wajah Galih langsung menggelap.

Angin mengangkat struk bensin dari tangan Laras. Kertas itu melayang ke tengah jalan, tetapi tak satu pun dari mereka bergerak untuk mengambilnya.

1
Tuningsih Tuningsih
karyamu bgus thor, ditunggu lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!