Livia Prameswari, gadis lembut berusia delapan belas tahun, tanpa sengaja menyaksikan pembuangan mayat. Orang yang memergokinya adalah Keenan Adiprana—pewaris keluarga konglomerat nomor satu di Asia Tenggara sekaligus komandan tertinggi pasukan khusus yang ditakuti semua orang.
Keenan berusia dua puluh tiga tahun, tampan, berkuasa, arogan, dan berbahaya. Malam itu, pistolnya mengarah tepat ke kepala Livia. Seharusnya ia membunuh satu-satunya saksi tersebut, tetapi pelarian Livia justru membangkitkan obsesi yang tak pernah bisa ia kendalikan.
Livia takut, melawan, berbohong, mengkhianati, dan berkali-kali mencoba kabur. Namun semakin jauh ia melarikan diri, semakin kuat Keenan menariknya kembali ke dalam dekapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
Pasangan Paling Sempurna!
Setelah perjuangan dan permintaannya gagal, Livia hanya bisa memandang Jolene meninggalkannya.
Jordan membawa Livia kembali ke tempat semula dan menurunkannya di kursi santai.
Tak jauh dari sana, seorang pria muncul dari dalam kolam dan bertumpu pada tepinya.
"Bukankah Bang Jordan tidak suka memaksa perempuan? Gadismu kelihatannya tidak terlalu rela."
Jordan menoleh dan melotot tajam.
"Omong kosong! Dia sengaja kubawa untuk mengalahkan kalian. Tadi melihatku dekat dengan perempuan lain, jadi sekarang dia cemburu dan mengamuk."
Pria di kolam tertawa keras.
"Langka sekali. Kalau begitu, Bang Jordan harus membujuknya. Kami belum pernah melihatmu membujuk perempuan."
Jordan bertumpu pada kursi dan mendekat ke telinga Livia.
"Sayang, aku sudah telanjur berbicara di depan mereka. Kau tidak akan mempermalukanku, kan?"
Jarak mereka terlalu dekat. Bibir hangat pria itu sengaja menyentuh telinganya sekilas, membuat tubuh Livia langsung meringkuk karena takut.
Seluruh Kota Kayan mengenal Jordan sebagai playboy. Menarik perhatiannya bukan keberuntungan, melainkan bencana.
Livia menghindari wajahnya yang semakin dekat dan berusaha mengatur napas.
"Apa yang kau ingin aku lakukan?"
"Kau bisa minum?"
Livia mengangguk.
"Bisa."
Itu bukan kebohongan. Kemampuan minumnya sangat tinggi, bahkan Livia sendiri tidak tahu batasnya.
Terakhir kali ia mabuk adalah ketika berusia delapan tahun dan tanpa sengaja mengira minuman beralkohol sebagai jus. Setelah itu, ia tidak pernah kehilangan kesadaran karena alkohol lagi.
Jordan tersenyum senang.
"Setelah semua orang berkumpul, kita akan memainkan sebuah permainan. Para pria menyediakan uang, para perempuan menghabiskan sebotol minuman. Setiap detik bernilai sepuluh juta rupiah. Pemenang mendapat uang. Tapi kalau kalah..."
Ia melepas kacamata hitam dan mengamati gaun tipis Livia sambil mengangkat alis nakal.
"Harus melepas pakaian."
Jordan sengaja mengucapkan kata-kata terakhir dengan sangat lambat, berharap melihat Livia malu dan ketakutan.
Namun rasa takut di mata gadis itu justru lenyap.
Livia mendongak.
"Kalau aku menang, berapa banyak uang yang akan diberikan Bang Jordan kepadaku?"
"Ha-ha!"
Jordan tertawa dan mengusap kepalanya.
"Aku hampir lupa, kau mata duitan kecil. Kalau menang, semuanya untukmu."
"Benarkah?"
Livia menatap tak percaya. Ia bahkan otomatis mengabaikan sapaan menjijikkan pria itu.
"Semuanya?"
"Ya."
Jordan memandang wajah mungil itu tanpa berkedip. Semakin dilihat, semakin ia menyukainya.
Ia mendorong lidah ke sisi pipi dan menambahkan, "Semuanya untukmu, asalkan kau menemaniku tidur satu malam."
Benar saja.
Semangat Livia langsung menghilang. Ia mendorong dada Jordan untuk berdiri, tetapi kedua tangannya ditangkap dengan cepat.
"Jangan terburu-buru, Sayang. Nanti malam baru boleh menyentuhku."
Tangan kiri Livia masih terluka, hanya saja perbannya tertutup sarung tangan beludru hitam.
Genggaman Jordan menekan tepat pada lukanya. Livia refleks melonjak dan dahinya menghantam dagu pria tersebut.
Jordan mengerutkan kening sebelum sempat mengeluh. Tawa mengejek sudah terdengar dari sisi kolam.
"Bang Jordan, kau bisa atau tidak? Perempuan sekeras itu tidak boleh terlalu dimanjakan!"
Belum selesai kalimat tersebut, seluruh ruangan tiba-tiba sunyi.
Livia mengikuti arah pandang orang-orang.
Seorang pria bertubuh tinggi berdiri di ambang pintu.
Mata biru yang dingin terangkat perlahan.
Keenan tidak mengatakan dan tidak melakukan apa pun. Namun satu tatapan saja membawa tekanan berat yang membuat suhu di sekitar kolam seolah jatuh beberapa derajat.
Pandangannya berhenti pada kursi santai, tepat pada Livia yang dikunci dalam pelukan Jordan.
Dari sudut tempat Keenan berdiri, Jordan terlihat menggenggam tangan Livia erat dan seolah baru saja mencium dahinya.
Mata Keenan menggelap.
Ia melangkah masuk. Para pemuda di kolam serempak berdiri dan menyapanya dengan nada hormat.
"Tuan Keenan."
Jordan bertanya, "Bukankah Tuan Keenan sedang membicarakan urusan di lantai dua? Kenapa tertarik datang kemari?"
Keenan tersenyum tipis.
"Aku ingin menanyakan perkembangan penyelidikan formula parfum."
"Untuk masalah sekecil itu, Tuan tidak perlu datang sendiri. Bagaimana kalau setelah permainan selesai aku menghadapmu dan melaporkan semuanya?"
Di wilayahnya sendiri pun Jordan sengaja merendahkan sikap.
Bukan karena takut, melainkan karena Keenan terlalu dingin dan membosankan. Selama pria itu berada di sini, tidak ada seorang pun yang berani bersenang-senang.
Keenan melepaskan mantel. Tegar maju untuk menerimanya.
Sejak memasuki ruangan, tatapan tajam Keenan tidak pernah meninggalkan Livia. Gadis itu ketakutan dan terus memandang ke segala arah, kecuali kepadanya.
Keenan sampai tertawa karena marah.
Ia mengalihkan mata kepada Jordan.
"Permainan apa? Aku juga ingin ikut."
"Ini..."
Jordan menggaruk kepala, tidak tahu apakah harus menjelaskan.
Angga, pria yang sebelumnya berada di tepi kolam, justru tidak sabar menjabarkan seluruh aturan. Setelah itu, ia bertanya sambil tersenyum lebar.
"Bagaimana, Tuan Keenan? Permainan Bang Jordan menarik, bukan? Mau ikut?"
Alis Keenan menegang. Ia tidak menjawab.
Tegar dan Reza serempak mundur satu langkah.
Menurut pengalaman mereka, ketika bos mereka tersenyum lalu mendadak berhenti, itu berarti amarahnya sudah hampir meledak.
Keduanya merinding dan otomatis menyentuh senjata di pinggang, menunggu satu perintah yang mungkin akan mengubah kolam menjadi merah.
Namun Keenan tidak berniat melakukannya.
Ia memberi isyarat agar mereka menyimpan senjata, lalu berjalan maju dan duduk santai di ujung meja kaca panjang.
Tatapannya menyapu semua orang yang bahkan tak berani bernapas keras.
"Aku ikut. Reza, ambil uangnya."
Begitu kalimat itu keluar, suasana tegang di sekitar kolam langsung hidup kembali.
Keenan mengambil kotak rokok dan menjepit sebatang di antara jari.
Angga buru-buru maju dengan pemantik dan menyalakannya sambil tersenyum menjilat.
Keenan melihat Livia bangkit atas perintah Jordan, lalu duduk patuh di sisi pria itu pada ujung meja yang berlawanan.
Ia menoleh kepada Angga.
"Pinjamkan pasanganmu kepadaku. Kalau kalah, aku yang membayar. Kalau menang, semua uang menjadi milikmu."
"Tuan Keenan benar-benar murah hati!"
Angga memanggil seorang perempuan berbikini dan menyuruhnya duduk di sebelah Keenan.
"Namanya Diana. Beberapa hari ini saya mencari ke berbagai klub di Kota Kayan. Dia perempuan dengan kemampuan minum terbaik yang berhasil saya temukan."
Kemampuan minum terbaik.
Keenan tidak menjawab.
Ia sebenarnya tidak ingin Diana menang. Jika Diana menang, Livia harus melepas pakaian di depan semua orang.
Jemari yang memegang rokok menegang.
Namun Keenan juga ingin melihat sejauh apa perempuan yang terus mengaku hanya menyukai Jordan itu bersedia merendahkan diri demi pria tersebut.
Peserta lain datang satu demi satu bersama pasangan masing-masing.
Beberapa orang yang mengenal Keenan terpaku ketika melihatnya. Setelah menyadari pria itu juga mengikuti permainan dengan seorang perempuan di sisi, mereka diam-diam mengacungkan jempol kepada Jordan.
Benar-benar hebat. Bahkan Keenan bisa diseret ikut bermain.
Jordan menikmati kekaguman tersebut. Setiap kali senang, ia akan mengangkat alis kepada Livia.
Namun gadis itu terus menunduk seperti burung unta yang hampir bersembunyi di bawah meja.
"Jangan takut, Sayang."
Jordan ikut menunduk dan mencari wajahnya dari dekat lutut.
"Tuan Keenan tidak semenakutkan kabar di luar. Kalau kita menang, tak akan terjadi apa-apa. Semua uang kuberikan kepadamu. Tapi jangan melupakan... kesepakatan kita."
"Siapa yang membuat kesepakatan denganmu?"
Livia membalas dengan suara tertahan. Wajahnya dipenuhi keputusasaan.
Diam-diam ia mengangkat kepala dan melirik Keenan.
Akhirnya mata mereka bertemu.
Keenan melengkungkan bibir dan mengucapkan satu kata tanpa suara.
Sayang.
Ia mendengar semuanya.
Hati Livia jatuh. Air mata ketakutan mulai menggenang di matanya, sementara Jordan masih terus membujuk dengan gembira.
"Sayangku pandai bernyanyi dan luar biasa cantik. Kita benar-benar pasangan paling hebat, paling serasi, paling sempurna!"
Livia hampir menangis.
Ia mengumpulkan keberanian, mengulurkan tangan, dan langsung menutup mulut Jordan.
"Bisakah kau... diam sebentar?"