Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.
Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang dan Rahasia Rahasia Kuno
Keheningan melingkupi reruntuhan gerbang Lembah Kelam setelah pusaran portal hitam melenyapkan sosok wanita bertopeng perak dan naga hitamnya. Asap tipis yang berbau belerang perlahan menguap ke udara malam, menyisakan puing-puing batu yang hancur dan tanah yang menghitam akibat hempasan sihir gabungan.
Di atas tanah yang dingin, kelima anggota Tim Vanguard terbaring dan berlutut dalam kondisi krisis. Tubuh mereka gemetar hebat. Penggabungan seluruh cadangan mana untuk merapal Astraea’s Judgement telah menguras habis energi sihir hingga ke titik nol, meninggalkan rasa sakit berdenyut di setiap persendian dan otot.
Reno menyandarkan punggungnya pada bongkahan batu besar.
Armor perak kebanggaannya kini penuh retakan dalam dan bagian dada perisainya hancur berkeping-keping. Di sebelahnya, Kazuma memegangi kepalanya yang terasa memutar akibat reaksi balik dari kehabisan mana secara mendadak. Sementara itu, Danis menatap langit malam dengan napas memburu, belati kembarnya tergeletak tak berdaya di samping jemarinya yang lemas.
"Monica..." suara Elena terdengar sangat parau.
Gadis berambut cokelat itu mencoba merangkak pelan, mengabaikan rasa sakit di lengannya demi menghampiri sang ketua tim.
Monica terduduk dengan kedua lutut menempel di tanah.
Tangannya masih memegang erat tongkat safirnya yang kini meredup sepenuhnya—kristal biru di ujungnya tampak pudar bagai kaca biasa. Kuncir kuda rambut hitamnya telah berantakan, beberapa helai rambut menutupi wajahnya yang pucat bersimbah keringat dingin. Ada garis darah tipis yang mengering di sudut bibir dan pelipisnya.
"Aku... tidak apa-apa, Elena," bisik Monica dengan suara serak. Ia mencoba menegakkan badannya, menatap sekeliling untuk memastikan seluruh rekannya masih bernapas. "Kalian semua... masih utuh, kan?"
"Masih bernapas, walau rasanya seperti dilindas oleh tiga ekor naga sekaligus," gurau Reno dengan tawa kecil yang langsung terhenti karena ia meringis menahan sakit di dadanya.
"Kita tidak boleh bertahan di arena terbuka ini," tegas Monica seraya memaksakan kakinya untuk berdiri. Pijakannya goyah, tetapi Elena dengan sigap menopang bahunya. "Miasma kegelapan di tempat ini sangat beracun bagi tubuh yang tidak memiliki perlindungan sihir. Kita harus mencari perlindungan sementara."
Dengan saling merangkul dan bertumpu satu sama lain, kelima anak muda itu bergerak tertatih meniti jalan setapak menuju sebuah goa kecil di kaki tebing, tak jauh dari bekas lokasi gerbang. Di dalam goa yang gelap dan lembap tersebut, Danis mengumpulkan beberapa ranting kayu kering, sementara Kazuma memercikkan sisa-sisa kehangatan api kecil tanpa sihir untuk menyalakan api unggun sederhana.
Malam itu berjalan sangat lambat. Di bawah pendar api unggun yang remang-remang, mereka mengoleskan salep penyembuh darurat dan membalut luka-luka di tubuh masing-masing. Tidak ada canda tawa seperti biasanya. Kekuatan dahsyat dan aura dingin yang dipancarkan wanita bertopeng perak itu meninggalkan bekas kecemasan yang mendalam di hati mereka.
Mereka menyadari sepenuhnya bahwa jika bukan karena taktik penggabungan mana yang nekat, mereka mungkin tidak akan keluar dari lembah itu dalam keadaan bernapas.
Ketika fajar menyingsing membelah garis cakrawala, warna merah keemasan matahari mulai mengikis kegelapan Hutan Mistik. Energi sihir alami yang dibawa oleh sinar matahari perlahan memulihkan sedikit stamina Tim Vanguard.
Setelah memastikan rasa sakit di tubuh mereka cukup berkurang untuk melakukan perjalanan jauh, Monica memimpin timnya untuk memulai perjalanan panjang kembali ke selatan.
Dua hari perjalanan menempuh jalur pegunungan terjal terasa seperti siksaan fisik. Namun, tekad untuk menyampaikan informasi penting mengenai musuh membuat mereka terus menggerakkan kaki tanpa mengeluh.
Pada sore hari di hari ketiga, megahnya benteng batu dan menara-menara kaca patri Akademi Sihir Grandoria akhirnya terlihat di balik perbukitan. Gerbang besi utama akademi terbuka lebar saat para penjaga mengenali lambang Tim Vanguard. Kepulangan mereka langsung menyedot perhatian puluhan murid yang sedang beraktivitas di halaman. Sorak-sorai yang semula ingin digaungkan oleh para murid seketika tertahan di tenggorokan saat melihat penampilan Tim Vanguard.
Jubah biru mereka robek dan ternoda darah kering, armor Reno hancur, dan langkah kaki mereka nampak sangat lelah.
Tanpa membuang waktu untuk membersihkan diri, Monica membawa seluruh anggotanya menuju menara tertinggi akademi—ruang kerja Kepala Sekolah Alaric.
Di dalam ruangan yang harum oleh aroma kertas tua dan ramuan herbal, Kepala Sekolah Alaric berdiri di depan jendela besar.
Sosok penyihir veteran itu berbalik saat pintu kayu ek dibanting pelan. Matanya yang tajam memindai kondisi kelima murid terbaiknya satu per satu dengan raut wajah yang kian memberat.
"Laporkan, Monica," ujar Alaric dengan suara berat dan dalam.
Monica melangkah ke depan meja kayu besar, membetulkan posisi berdiri dan merapikan kuncir kuda rambutnya. Dengan nada tenang namun penuh penekanan, ia menceritakan seluruh kronologi kejadian: mulai dari jebakan altar segel di Ngarai Tengkorak dan desa mati, kemunculan naga hitam, hingga pertarungan sengit di gerbang utama yang berujung pada pecahnya topeng perak musuh.
"Wanita itu... memiliki mata kiri berwarna merah menyala dan bekas luka bakar berbentuk ukiran kuno di pipinya," jelas Monica, matanya menatap lurus ke arah sang Kepala Sekolah. "Ia mengendalikan naga hitam itu seolah-olah binatang itu adalah bagian dari jiwanya sendiri."
Mendengar deskripsi tersebut, raut wajah Kepala Sekolah Alaric berubah drastis. Ia melangkah mundur satu tapak, menyandarkan jemarinya yang gemetar di tepi meja.
Ia berjalan menuju rak buku kayu raksasa di sudut ruangan, menarik sebuah kitab tebal bersampul kulit hitam berdebu, lalu membukanya di depan Monica dan teman-temannya.
Di atas lembaran kertas perkamen yang sudah menguning, terukir sketsa sebuah lambang kuno—gambar yang sama persis dengan motif luka bakar di pipi wanita tersebut.
"Ordo Umbra," bisikan pelan, suaranya dipenuhi gema masa lalu yang kelam. "Organisasi penyihir terlarang yang diyakini telah musnah sepenuhnya dalam Perang Besar seratus tahun lalu. Mereka adalah kelompok yang mencoba mengekstrak sihir murni dari inti bumi menggunakan ritual pengorbanan."
"Jadi... wanita itu adalah penyintas dari Ordo tersebut?" tanya Kazuma seraya membetulkan posisi kacamatanya yang retak.
"Lebih buruk dari itu," jawab Alaric. "Jika dia mampu mengendalikan Naga Miasma dan bertahan dari Astraea’s Judgement milik kalian, berarti dia adalah salah satu Petinggi Ordo yang telah membangkitkan diri dari tidur panjangnya. Dan sasaran mereka selanjutnya bukan lagi sekadar Hutan Mistik, melainkan inti energi sihir yang tertanam tepat di bawah fondasi Akademi Grandoria ini."
Suasana ruangan mendadak menjadi sangat dingin. Reno mengepalkan tangannya kuat-kuat, Elena meremas busurnya, sementara Danis menunduk rapat.
Monica melangkah satu tapak lebih maju, mengangkat tongkat safirnya yang kini mulai memancarkan pendar biru tipis—tanda bahwa sihirnya telah kembali terbangun.
"Kepala Sekolah Alaric," kata Monica dengan nada bicara tegas, matanya memancarkan tekad membara yang tak terpadamkan.
"Kami tidak akan membiarkan tempat ini dihancurkan. Pertarungan di Lembah Kelam memperlihatkan betapa banyaknya kekurangan kami dalam menguasai sihir tingkat tinggi. Berikan kami izin dan akses untuk mempelajari mantra terlarang serta teknik bertarung kuno di akademi ini."
Alaric menatap dalam ke dalam mata Monica. Ia melihat kepemimpinan yang tangguh, keberanian tanpa batas, dan ikatan persahabatan yang tak tergoyahkan dari kelima anak muda di hadapannya. Setelah menghela napas panjang, sang Kepala Sekolah mengangguk pelan.
"Mulai esok hari, tidak ada lagi pelajaran standar untuk kalian," tegas Alaric. "Kalian akan menjalani latihan khusus tingkat akhir. Perkuat tubuh, asah sihir, dan pererat ikatan kalian. Karena saat Ordo Umbra kembali bergerak nanti, kalianlah yang akan menjadi benteng utama kerajaan ini."
Monica menoleh ke arah empat sahabatnya. Elena, Reno, Kazuma, dan Danis mengangguk serempak, mengutarakan kesiapan tanpa ragu. Di balik dinding-dinding batu Akademi Grandoria, masa-masa latihan berat yang akan menguji batas kemampuan mereka resmi dimulai, demi menyambut badai pertempuran terbesar yang akan meluas di masa mendatang.