Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.
Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.
Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Benturan Fisik Melawan Kekosongan
Debu reruntuhan batu masih melayang di udara ruang bawah tanah itu.
Long Zhan berdiri dengan lutut sedikit ditekuk, menancapkan ujung tombak raksasanya ke lantai batu. Urat-urat di lengan dan lehernya menonjol, dialiri Qi fisik kemerahan yang bergejolak liar.
Di seberangnya, Jenderal Bintang Lian berdiri santai.
"Seekor banteng sudah merusak pestaku," gumam Jenderal Lian dari balik topeng putihnya, memiringkan kepalanya sedikit. "Apakah kau tahu dengan siapa kau berhadapan?"
Long Zhan meludah. Gumpalan darah dan debu mendarat di ujung sepatu Jenderal Lian.
"Aku berhadapan dengan target latihanku malam ini," raung Long Zhan.
Tanpa peringatan, sang Pendekar Tombak melesat maju dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk pria setinggi dua setengah meter berzirah baja penuh.
Dalam sekejap, ia sudah di depan jenderal Lian, mengayunkan tombak seberat ratusan kilogramnya untuk membelah tubuh sang dewa jadi dua.
WUSSSHH!
Tombak itu menebas udara kosong. Bilah baja yang diliputi Qi fisik itu melesat tepat menembus pinggang jenderal Lian tanpa hambatan, lalu menghantam dinding batu di belakang sang Jenderal, meledakkannya jadi kawah sedalam satu meter.
Long Zhan melebarkan matanya, kehilangan keseimbangan sesaat akibat serangannya yang tidak mengenai sasaran.
"Otot yang besar," bisik Jenderal Lian pelan, suaranya kini muncul dari bawah kaki Long Zhan. "Tapi memiliki otak yang sangat kecil."
Jenderal Lian sudah mencair, menyatu dengan bayangan tubuh Long Zhan yang tercetak di lantai. Dari dalam bayangan hitam pekat itu, sebilah pedang bayangan melesat ke atas.
Sraak!
Pedang tak berwujud itu dengan mudah menembus zirah baja Long Zhan, mengoyak paha kanannya. Darah segar menyemprot keluar.
Long Zhan meraung kesakitan, memukul lantai tempat bayangannya berada dengan gagang tombaknya, tapi ia hanya menghantam batu padat.
Jenderal Lian sudah berpindah lagi, muncul dari bayangan rak buku di sudut ruangan.
"Long Zhan! Lari!" teriak Xing Yun yang masih tertempel di dinding. "Serangan fisik tidak bisa melukai nya. Otoritasnya memanipulasi cahaya. Keluar dari sini, panggil Divisi Pertama."
Long Zhan menekan luka di pahanya dengan tangan kiri, mencoba menghentikan pendarahan. Matanya yang merah menyala menatap Xing Yun dengan kesal.
"Diamlah," geram Long Zhan kasar. "Kalau aku lari, kau mati. Lagipula, aku tidak pernah lari dari pertarungan."
"Mengharukan." Jenderal Lian bertepuk tangan pelan. "Kesetiaan anjing peliharaan memang tidak pernah gagal menghiburku. Tapi kawanmu yang cerdas itu benar. Ototmu tidak berguna melawanku."
Long Zhan tidak merespons ejekan itu. Meski terlihat seperti pria barbar yang hanya mengandalkan otot. Insting bertarungnya jauh melampaui perhitungan cerdas Xing Yun.
Mata liarnya bergerak cepat, memindai ruangan, bayangan-bayangan memanjang yang dihasilkan, dan cahaya bulan pucat yang masuk dari lubang atap yang baru saja ia hancurkan.
Ketiadaan keparatmu itu, batin Long Zhan. Bayangan tidak akan ada tanpa cahaya untuk menghalanginya. Dan bayangan akan lenyap kalau cahayanya terlalu terang.
Ia menyeringai lebar, memamerkan taringnya.
Bukannya menyerang Jenderal Lian, Long Zhan berbalik, berlari menuju dinding penopang utama di tengah ruangan.
"Menyerah?" kekeh Jenderal Lian, bersiap melemparkan paku bayangan ke punggung Long Zhan.
"Aku sedang mendekorasi ulang tempat ini!" raung Long Zhan.
Ia memusatkan seluruh Qi fisiknya ke ujung tombak, menghantamkannya ke pilar batu penopang ruangan dengan kekuatan penuh.
Blam!
Pilar itu hancur berkeping-keping.
Tanpa berhenti, ia melesat ke dinding lain, menghancurkannya lagi.
Blam! Blam! Blam!
Seluruh markas bawah tanah mulai runtuh. Bongkahan batu raksasa berjatuhan dari langit-langit, memperlebar lubang di atap hingga cahaya bulan menyinari ruangan dengan tidak beraturan.
Lebih parah lagi, hantaman Long Zhan menciptakan awan debu batu yang sangat tebal, memenuhi seluruh ruangan seperti kabut pasir.
"Apa yang kau lakukan, makhluk bodoh?!" seru Jenderal Lian, suaranya kehilangan ketenangannya untuk pertama kali.
Kondisi ruangan kini jadi neraka bagi pengguna Otoritas Bayangan. Cahaya bulan yang masuk terhalang debu tebal yang terus berputar, membuat sumber cahaya pecah dan menyebar acak.
Bayangan-bayangan di lantai dan dinding tidak lagi teratur—terus bergerak, memudar, terdistorsi tiap detik.
Ketika sebuah batu raksasa jatuh tepat di atas kepala jenderal Lian, sang Jenderal Bintang tidak bisa mencair ke dalam bayangan karena bayangan di bawahnya mendadak lenyap, tertutup bayangan batu yang jatuh. Ia terpaksa melompat mundur secara fisik untuk menghindar.
"Kena kau," geram Long Zhan dari balik badai debu.
Ini momen yang ditunggu-tunggu sang pendekar Tombak. Ia membuang tombak raksasanya ke lantai, menarik napas dalam-dalam, mengisap seluruh udara bercampur debu ke paru-parunya, lalu membakar seratus persen esensi Qi di meridiannya serentak.
Tubuh raksasa Long Zhan mendadak bersinar sangat terang, memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan mata.
Cahaya segala arah yang sangat intens itu menyapu bersih seluruh bayangan di ruangan dalam sekejap.
Kehilangan alat untuk bersembunyi atau berubah wujud, tubuh Jenderal Lian tersentak, terpaksa memadat kembali jadi wujud fisik sepenuhnya di tengah ruangan agar eksistensinya tidak terhapus oleh cahaya itu sendiri.
Dan tepat pada sepersekian detik tubuh Jenderal Lian menjadi padat, sebuah tinju yang dibungkus Qi membara melesat menembus debu.
Kraaak!
Tinju kanan Long Zhan menghantam telak tepat di tengah wajah Jenderal Lian. Pukulan itu begitu brutal hingga menciptakan gelombang kejut yang membersihkan debu di sekeliling mereka.
Topeng putih yang selalu dikenakan Jenderal Lian hancur berkeping-keping. Sang Jenderal Bintang Bayangan, dewa pembunuh yang ditakuti bahkan oleh dewa lainnya, terlempar terbang ke belakang.
Tubuhnya menghancurkan tiga dinding batu berturut-turut sebelum berhenti, tertimbun di bawah reruntuhan.
Darah berwarna perak gelap menetes membasahi puing-puing.
Di tengah ruangan, cahaya Long Zhan meredup. Ia jatuh berlutut, terengah-engah dengan dada naik-turun.
Pukulan itu menghabiskan seluruh tenaga di Dantiannya. Ia nyaris tidak bisa merasakan tangannya sendiri.
"Hah... kau lihat itu, Xing Yun?" Long Zhan tertawa terengah-engah. Ikatan bayangan yang menahan Xing Yun di dinding sudah lenyap. "Aku baru saja... memukul hidung dewa keparat itu."
Tapi tawa Long Zhan terhenti saat ia melihat puing-puing di ujung ruangan perlahan bergeser.
Jenderal Lian bangkit berdiri. Wajah di balik topengnya kini terlihat, atau lebih tepatnya, tidak ada apa-apa di sana. Wajahnya hanya pusaran kegelapan mutlak tanpa mata, hidung, atau mulut, seperti lubang hitam.
Hawa dingin mematikan meledak dari tubuh Jenderal Lian, membekukan darah di nadi Long Zhan dan Xing Yun. Udara di ruangan itu mulai tersedot ke arah wajahnya.
"Kalian... kotoran fana... berani merusak wajahku." Suara jenderal Lian kini bukan lagi bisikan, melainkan gemuruh ruang hampa yang murka. Ia mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi. "Aku akan menelan seluruh kota rendahan ini ke dalam Jurang Keputusasaan!"
Bayangan hitam pekat mulai menyebar dari kakinya dengan kecepatan tinggi, memakan lantai batu, mengubahnya jadi jurang tak berdasar. Otoritas mutlaknya akan dilepaskan sepenuhnya.
Long Zhan mencoba berdiri, tapi ototnya menolak bekerja. Xing Yun memejamkan mata, tahu kali ini tidak ada taktik akal-akalan yang bisa menyelamatkan mereka.
Tapi tepat sebelum kegelapan itu menyentuh ujung sepatu Long Zhan...
Wussshh!
Tekanan gravitasi luar biasa berat mendadak turun dari lubang raksasa di langit-langit. Tekanan itu begitu masif hingga jurang bayangan ciptaan Jenderal Lian seketika berhenti menyebar, seolah ditindih bobot sebuah gunung.
Pilar cahaya perpaduan emas dan merah menyala menembus malam, menghantam lantai tepat di antara Jenderal Lian dan Long Zhan.
Dari dalam pilar cahaya itu, sesosok pemuda melangkah keluar. Jubahnya yang compang-camping berkibar pelan.
Lengan kanannya dibiarkan terbuka, memperlihatkan jaringan meridian yang bersinar merah kemerahan seperti lava cair yang mengalir di balik kulitnya.
Mata keemasannya menatap lurus ke Jenderal Lian.
"Tampaknya ada serangga yang mencoba merayap di kotaku saat aku sedang pergi," ucap Ye Cangtian pelan.