"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suasana Di rumah Ustadz Syaiful
Keesokan harinya, ummu kembali dikabari mengenai jadwal radioterapi. Namun, beliau masih menolak untuk menjalani tindakan tersebut.
“Aisyah sudah dikabari?” tanya ummu.
“Sudah, Ummu,” jawabku.
“Kita tunggu Aisyah datang dulu,” pinta ummu.
Aku mengangguk. Setelah itu, aku pamit untuk kembali memeriksa pasien.
Untuk sementara, ummu dijaga oleh Ustadz Kholid, keponakan beliau. Aku memperkirakan Aisyah akan tiba sekitar satu jam lagi.
Sebelum meninggalkan ruangan, aku sempat menatap ummu. Ada rasa khawatir yang sulit kujelaskan. Aku tahu, keputusan tentang radioterapi bukanlah sesuatu yang mudah bagi beliau. Namun, aku juga berharap Aisyah segera datang, agar bisa segera dilakukan pengobatan untuk ummu.
Di tengah kesibukanku memeriksa pasien, ponselku kembali berbunyi. Ada kabar dari Aisyah bahwa ummu akhirnya mulai menjalani radioterapi. Aisyah yang menemani beliau.
Sebenarnya ada rasa bersalah dalam hatiku karena aku tidak bisa berada di sisi ummu. Aku ingin menemani beliau, ingin melihat keadaannya secara langsung, ingin memastikan beliau baik-baik saja. Namun, di saat yang sama, masih ada pasien-pasien yang harus kutangani.
Aku hanya bisa menitipkan doa dari kejauhan.
Beberapa waktu kemudian, aku kembali mendapat kabar bahwa ummu sudah pulang.
Alhamdulillah...
Entah mengapa, kabar sederhana itu membuat dadaku terasa lebih lapang. Setidaknya hari ini ummu sudah melewati satu tahap pengobatan yang tidak mudah.
Aku menarik napas panjang. Ada lega, tetapi juga masih terselip kekhawatiran tentang hari-hari berikutnya.
Semoga setelah ini keadaan ummu berangsur membaik. Semoga Allah menguatkan tubuh beliau, memberikan kesabaran dalam menjalani setiap proses pengobatan, dan menjadikan setiap rasa sakit yang beliau rasakan sebagai penggugur dosa.
Aku hanya bisa berharap dan terus berdoa.
Sebab ketika orang yang kita sayangi sedang berjuang melawan sakit, terkadang yang mampu kita lakukan hanyalah menemani dengan doa dan menyerahkan seluruh hasilnya kepada Allah.
Aku pun pulang. Namun, sebelum kembali ke asrama, kusempatkan untuk mampir ke rumah Ustadz Syaiful.
Dari kejauhan, kulihat ada dua mobil terparkir di depan rumah. Apakah masih ada tamu? Suasana dari luar juga terlihat cukup ramai. Lampu-lampu rumah menyala terang, seolah ada banyak orang di dalam.
Aku pun melangkah menuju pintu utama yang terbuka lebar.
“Assalamu’alaikum.”
Baru saja salamku terucap, suasana yang sebelumnya ramai mendadak sedikit hening. Hanya terdengar celoteh anak kecil yang sepertinya tidak terlalu peduli dengan siapa yang baru saja datang.
Aku dipersilakan masuk.
Langkahku terasa sedikit ragu. Entah mengapa, semakin masuk ke dalam, rasa canggung itu justru semakin terasa.
Ternyata memang ada keluarga besar yang sedang berkumpul. Tidak semuanya hadir, tetapi cukup banyak orang yang memenuhi ruangan.
Aku berdiri sejenak, mencoba menyesuaikan diri dengan suasana.
Dalam hati, aku mulai bertanya-tanya, mengapa aku justru datang di saat seperti ini?
Rasanya seperti tiba-tiba menjadi orang asing di tengah sebuah pertemuan keluarga yang seharusnya hanya dihadiri oleh mereka yang memang memiliki hubungan dekat.
Di rumah itu ada Ustadz Kholid, putra tertua Ustadz Syaiful. Beliau memang tinggal di rumah yang berada tepat di samping rumah Ustadz Syaiful.
Putra kedua Ustadz Syaiful tidak terlihat. Yang ada justru putra bungsunya, Hamzah, yang kebetulan merupakan teman sekelasku. Ada pula Ihsan, putra dari suami kedua ummu Aisyah.
“Alam, gimana kabarnya?”
Hamzah langsung menghampiriku, menjabat tanganku, lalu memelukku seperti seorang kawan lama yang baru berjumpa setelah sekian lama.
“Alhamdulillah, baik,” jawabku.
“Kudengar kamu dokter yang membantu Bulek berobat, ya?” tanyanya.
Bulek adalah panggilan Hamzah untuk ummu Aisyah.
Aku hanya mengangguk. Dalam hati, aku berharap pembicaraan tentang ta'aruf-ku dengan Aisyah tidak sampai dibahas malam ini. Rasanya cukup canggung jika hal itu menjadi bahan pembicaraan di tengah keluarga yang sedang berkumpul.
Untunglah, kekhawatiran itu tidak terjadi.
Kami justru berbincang tentang keadaan ummu dan pengobatan yang sedang beliau jalani. Dari pembicaraan itu, aku baru mengetahui bahwa Aisyah memutuskan untuk menemani ummu menjalani radioterapi di sini.
Selama proses pengobatan berlangsung, ia akan berada di sini untuk mendampingi ummu.
Aku mengangguk pelan, berusaha menganggapnya sebagai kabar biasa.
Bagaimanapun, itu justru kabar yang baik. Ummu tidak perlu menjalani pengobatan seorang diri. Akan ada Aisyah yang menemani dan menguatkan beliau.
Namun, entah mengapa, setelah mendengar nama itu disebut, pikiranku justru berhenti pada satu hal.
Aisyah akan tinggal di sini.
Dan itu berarti, kemungkinan besar aku akan bertemu dengannya hampir setiap hari.
Aku segera mengalihkan perhatian pada percakapan yang sedang berlangsung. Mencoba tetap biasa saja, seolah kabar itu tidak mengubah apa pun.
Padahal, jauh di dalam hati, ada sesuatu yang mulai terasa berbeda.
Ada rasa senang yang tidak sepenuhnya ingin kuakui. Ada pula rasa canggung yang semakin sulit kuabaikan.
Bukankah sebelumnya aku berharap agar segala sesuatu berjalan biasa saja?
Lalu mengapa sekarang, ketika kesempatan untuk lebih sering bertemu dengannya justru terbuka, hatiku malah terasa tidak setenang biasanya?
Aku tidak tahu.
Mungkin aku hanya terlalu memikirkan sesuatu yang sebenarnya sederhana.
Atau mungkin, tanpa kusadari, perasaanku mulai ikut terlibat dalam setiap pertemuan yang selama ini kuanggap biasa.
jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏