Di usianya yang baru 25 tahun, Inayah Putri adalah gabungan sempurna antara kecerobohan, ketomboyan, dan kejeniusan. Ide-ide cemerlangnya sukses mengguncang perusahaan papan atas, melejitkan karier dan gajinya secara instan.
Sayang, sukses di dunia kerja tak sebanding dengan percintaannya. Bertahun-tahun berkorban demi Pasya, Inayah justru menerima kenyataan pahit saat tak sengaja mendengar percakapan Pasya dan ibunya, yang menganggapnya "ATM berjalan". Janji pertunangan dan pernikahan yang diimpikan hanyalah kebohongan belaka.
Dalam keputusasaan di tepi pantai, matanya tertuju pada Abiyan Zimraan, pria misterius berkursi roda yang dikiranya hendak bunuh diri. Tepat ketika ibunya mendesak untuk segera menikah dan Inayah menolak untuk kembali pada Pasya, ia membuat keputusan ternekat dalam hidupnya.
Menatap Abiyan, meski lumpuh tapi memiliki ketampanan memikat, Inayah berpikir: "pria ini seribu kali lebih berharga dibanding pengkhianat seperti Pasya." Tanpa ragu, Inayah melamarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMU YANG TAK TERDUGA
Matahari mulai condong ke barat saat deretan mobil mewah milik Abiyan kembali merayap pelan memasuki area perkantoran. Semenjak kejadian beberapa waktu lalu saat Pasya mencoba menghadangnya, hak Inayah untuk mengendarai sepeda motor kesayangannya telah dicabut secara sepihak oleh Abiyan. Meskipun hatinya selalu jengkel dan dongkol setengah mati, Inayah terpaksa menuruti keinginan suaminya demi keselamatannya.
Namun, drama sore hari selalu berulang. Setiap kali dijemput, Inayah harus mempraktikkan aksi layaknya seorang pencuri yang takut tertangkap basah. Ia sengaja mengulur waktu dan pulang paling akhir, celingukan menatap ke kiri dan kanan sebelum melangkah keluar dari pintu kaca. Ia sudah berkali-kali memperingatkan Abiyan agar tidak menjemputnya tepat di depan lobby utama yang terbuka lebar, tetapi instruksi itu selalu diabaikan. Dan pada akhirnya, Baralah yang selalu menjadi sasaran empuk meluapkan kemarahan. Padahal, pria berwajah datar itu hanya menjalankan perintah mutlak dari bosnya.
Di dalam mobil, Inayah memilih menyandarkan bahu dan menatap lurus keluar jendela. Ia bersedekap dada, mengunci bibir rapat-rapat karena merajuk. Ia sedang malas menatap wajah Abiyan yang selalu bertindak sesukanya tanpa memikirkan kepanikannya di kantor.
Abiyan yang menyadari sikap dingin istrinya memecahkan keheningan. "Apakah hari ini ada kejadian yang aneh di kantor?"
Inayah menjawab asal-asalan tanpa memutar kepala, nadanya terdengar sangat ketus. "Enggak ada. Semuanya biasa aja."
Tidak puas dengan jawaban singkat dan asal-asalan dari istrinya, Abiyan kembali bertanya dengan raut tenang. "Apakah ada pria yang mencoba menculikmu tadi siang?"
Mendengar pertanyaan itu, kepala Inayah seketika menoleh patah-patah. Matanya membelalak menatap tepat ke arah wajah Abiyan. "Dari mana Mas tahu?! Mas memata-matai aku, ya?!"
Abiyan membalas tatapan itu tanpa keraguan. Ia memilih berkata jujur. "Ada orang yang mencoba membunuhku kemarin. Karena usaha mereka gagal total, sasaran mereka pasti beralih padamu. Mereka tahu kamu adalah kelemahanku."
Kata pembunuh seketika membuat bulu kuduk Inayah berdiri. Kepanikannya melesat naik. Rasa jengkel yang tadi memenuhi dadanya menguap begitu saja. Tanpa sadar, Inayah mendekat dan mulai memeriksa tubuh Abiyan secara mendadak, memeriksa tangan, bahu, hingga dada suaminya untuk memastikan tidak ada luka.
"Aku tidak apa-apa, Nayah," ucap Abiyan lembut, membiarkan tangan halus istrinya menyentuh jasnya. "Bara dan timnya sudah mengendalikan situasi."
Inayah menarik nafas lega, namun benaknya langsung bekerja keras. Ia menatap Abiyan yang sedang duduk di sampingnya, lalu beralih menatap kaki suaminya. "Mas... apakah alasan Mas harus pakai kursi roda, ini ada hubungannya sama orang-orang jahat itu?"
Abiyan mendadak terdiam. Bibirnya terkatup rapat, tidak berniat menjawab pertanyaan yang menyenggol masa lalunya itu.
Namun, Bara yang mengemudikan kendaraan memecah kesunyian lewat kaca spion tengah. "Mungkin saja, Nyonya. Kejadian kemarin, mereka berusaha membunuh Tuan lewat rekayasa kecelakaan. Sama persis seperti peristiwa tujuh tahun lalu. Waktu itu, mereka berhasil menyamarkan aksi sabotase itu seolah-olah hanya kecelakaan lalu lintas biasa. Makanya saat melihat Tuan harus menggunakan kursi roda, mereka merasa puas karena menganggap targetnya sudah lumpuh."
Rasa empati dan simpati terpancar kuat dari raut wajah Inayah. "Siapa mereka sebenarnya? Dan apa tujuan mereka melakukan hal sekejam itu?"
"Kami belum bisa menyimpulkannya secara pasti, Nyonya. Mereka selalu bertindak rapi dan menghapus semua jejak dengan sangat cepat," jawab Bara jujur.
Inayah mengerutkan keningnya, memikirkan setiap potongan teka-teki. "Apakah ini ada hubungannya dengan keluarga Mas Abiyan sendiri?"
Deg!
Spontan, Abiyan langsung memutar pandangannya menatap tajam wajah Inayah. Di depan, Bara juga sempat kaget matanya langsung melirik Inayah lewat kaca spion sebelum cepat-cepat memfokuskan pandangannya kembali ke jalanan.
"Mengapa kamu berpikir seperti itu?" tanya Abiyan penuh rasa penasaran. Sejujurnya, kecurigaan itu pernah terlintas di benaknya, tetapi ia tidak pernah menemukan bukti fisik yang solid.
Inayah menghela napas panjang, menyampaikan analisis polos namun tajam dari sudut pandangnya. "Soalnya waktu kita makan malam bersama di mansion waktu itu, aku melihat raut wajah keluarga Mas penuh dengan kepalsuan. Apalagi ibu tiri Mas. Kelihatan banget kalau dia selalu ingin menonjolkan putranya yang katanya sehat dan cerdas itu. Dia ingin menunjukkan pada pemilik utama Zimraan Group kalau dibandingkan Mas yang dianggap punya keterbatasan, anaknya jauh lebih layak. Makanya dia selalu berusaha menjatuhkan Mas di depan Kakek. Ditambah lagi sikap Ayah Mas yang seolah-olah enggak peduli... itu yang bikin ibu tiri Mas merasa makin punya angin segar."
Abiyan kembali terdiam seribu bahasa setelah mendengar penuturan jujur dari istrinya. Apa yang dikatakan Inayah memang tepat seperti yang dirasakannya selama ini. Hanya saja, Abiyan sangat membenci drama keluarga dan memilih tidak ingin terlibat terlalu jauh, sehingga ia lebih sering mengabaikannya.
Tak lama kemudian, mobil mewah itu berbelok memasuki kawasan perumahan dan berhenti tepat di depan gerbang rumah sederhana milik Inayah. Namun, langkah mereka terhenti ketika melihat sebuah mobil sedan hitam mewah yang sangat familier sudah terparkir rapi di halaman rumah tersebut.
Abiyan memicingkan matanya, bertopang dagu seraya bergumam dingin. "Kakek? Mau apa beliau ke sini... Bagaimana bisa beliau tahu tempat in..."
Belum sempat Abiyan menyelesaikan kalimatnya, tatapannya menyapu kaca spion dan menangkap raut wajah Bara yang mendadak tegang dan serba salah.
"Maafkan saya, Tuan Muda," potong Bara cepat dengan suara pelan. "Saya tidak bisa berbohong saat Tuan Besar bertanya langsung. Beliau kemarin datang ke mansion Anda, tetapi Kepala Pelayan terlanjur memberi tahu kalau Anda sudah beberapa hari tidak tinggal di sana. Beliau menekan saya untuk menjawab, jadinya..."
"Sudah, diamlah!" bentak Abiyan memotong ucapan Bara dengan nada gusar. Matanya memancarkan kekesalan karena rencana persembunyiannya terus terusik. "Sekarang ambil kursi rodaku!"
Bara bergegas keluar, membuka pintu bagasi, dan menyiapkan kursi roda canggih milik bosnya. Dengan sigap, Bara berpura-pura membantu Abiyan berpindah ke kursi roda dan mulai mendorongnya pelan. Inayah hanya mengekor pasrah di belakang dengan perasaan cemas.
Saat mereka mendekati teras, pintu rumah yang tadinya terbuka memperlihatkan sepasang pria dan wanita lanjut usia yang tampil sangat elegan. Begitu melihat sosok Inayah yang baru datang, sang Nenek langsung mengulas senyum hangat dan melangkah menghampiri.
"Anak baik, kamu sudah pulang?" sapa Nenek dengan suara lembut penuh kasih sayang.
Inayah yang merasa gugup setengah mati mendadak canggung. Hadirnya sang pemilik utama konglomerasi besar di rumah kecilnya membuat lidahnya agak kelu. "Eh... iya, Nek. Anu... ayo silakan masuk, Kakek, Nenek," ajak Inayah seraya menunduk santai dan sopan.
Sementara itu, Abiyan hanya duduk diam di kursi rodanya. Pandangannya menatap lurus ke arah Kakeknya, menyuarakan pertanyaan tanpa kata tentang maksud kedatangan mereka secara mendadak.
Seakan sangat paham dengan arti tatapan menusuk dari cucunya, sang Kakek justru terkekeh pelan seraya berkacak pinggang.
"Mengapa kamu menatapku seperti itu, Biyan? Apakah seorang kakek tidak boleh datang berkunjung untuk melihat cucu mantunya sendiri, hah?"