Indonesia
NovelToon NovelToon
When The Extra Writes The Rules

When The Extra Writes The Rules

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

When the Extra Writes the Rules/ Ketika karakter tambahan menulis aturan.

Kisah seorang pekerja kantoran modern Kirana yang masuk ke tubuh Evelyn Rosenberg, karakter figuran kaya raya namun berpenyakit kronis dalam novel fantasi favoritnya.

Karena tahu takdir karakter pendukung dan dunia novel tersebut akan berujung bad ending, Evelyn bertekad mengubah alur dengan memanfaatkan pengetahuan ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 : Teka-teki Bahasa Asing

Sinar matahari pagi menembus celah gorden di kamar Cassian.

Di atas ranjang, Evelyn masih tertidur lelap. Napasnya kini terdengar teratur.

Di sudut ruangan, Cassian duduk di balik meja kerjanya.

Pria berambut hitam itu sedang menatap lurus ke arah sebuah buku catatan kecil ber-sampul kulit cokelat tua yang tergeletak terbuka di atas meja.

Buku catatan itu terjatuh dari jubah milik Evelyn saat Marsha merapikan pakaian sang gadis tadi pagi.

Cassian memegang selembar halaman dari buku tersebut dengan dua jarinya. Dahinya berkerut kebingungan.

Tulisan tangan di dalamnya sangat membingungkan.

Tulisan itu menggunakan huruf-huruf abjad yang sekilas mirip dengan bahasa resmi Kekaisaran Arkania.

Namun, saat Cassian mencoba merangkai kata-katanya, tak ada satu pun kalimat yang masuk akal di otaknya.

Struktur bahasanya benar-benar asing, terasa aneh, unik, dan dipenuhi istilah-istilah absurd yang tak pernah ia dengar dalam literatur militer atau dokumen politik mana pun.

Jari Cassian menelusuri baris demi baris tulisan di atas kertas tersebut:

> "Target 1: Cassian (Duke Obsidian) — Karakter tsundere parah, tipe geladak kapal yang kaku tapi sebenarnya peduli rakyat. Harus ditekan pakai isu krisis logistik dan kebocoran alur mana bawah tanah (Bab 45 di novel asli).

> Target 2: Pangeran Pertama — Tipikal protagonis yang maruk. Kerjain terus pakai skema investasi bodong Asteria.

> Note penting: Jangan sampai jatuh cinta sama karakter fiksi ini, Kirana! Fokus sembuhin tubuh Evelyn, amankan aset Rosenberg, baru kabur ke wilayah Selatan buat pensiun dini."

>

Cassian mengulang membaca kata demi kata di dalam hatinya.

"Tsundere...?" gumam Cassian rendah. "Karakter fiksi...? Kirana...?"

Pria itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, mengusap rahangnya seraya menatap buku catatan itu dengan tatapan liar.

Sebagai seorang komandan tertinggi yang terbiasa memecahkan sandi rahasia musuh di medan perang, Cassian langsung tahu kalau tulisan ini bukan sekadar coretan asal.

Ini adalah sebuah catatan strategi tingkat tinggi yang ditulis menggunakan bahasa kode rahasia yang teramat canggih!

Siapa itu Kirana? Apakah itu nama sandi Evelyn di dalam organisasi rahasianya? Dan apa arti dari istilah-istilah asing yang tak tercantum di kamus mana pun ini?

Suara gesekan selimut dari arah ranjang membuat perhatian Cassian teralih seketika.

Evelyn menggeliat pelan. Kelopak matanya perlahan terbuka.

ia menarik napas panjang, meresapi rasa hangat yang mengalir lancar di sekujur tubuhnya.

Pertama kalinya sejak ia terbangun di dunia ini, dadanya terasa begitu ringan dan bebas dari sengatan rasa sakit.

"Ngh..." Evelyn mendudukkan dirinya di atas ranjang, rambutnya yang panjang terurai acak-acakan menutupi bahunya. Ia mengusap matanya yang agak kabur, lalu menoleh ke arah jendela.

Mata Evelyn seketika membelalak lebar saat melihat Cassian sedang duduk di sana... memegang buku catatan pribadi miliknya!

DEG!

Jantung Evelyn serasa berhenti berdetak! Rasanya lebih menakutkan dibanding saat pedang Cassian menempel di lehernya kemarin!

Buku catatan itu adalah diari pribadinya—tempat Kirana menuliskan seluruh pengetahuan novel, rencana taktik, dan keluh kesahnya dalam bahasa Indonesia agar tidak ada seorang pun di dunia fiksi ini yang bisa membacanya!

Evelyn menyibak selimut dengan panik, lalu secara refleks menurunkan kakinya ke lantai.

"C-Cassian! Apa yang kamu pegang itu?!"

Pria itu berdiri dari kursinya secara perlahan, memegang buku catatan itu di tangannya, lalu melangkah mendekati ranjang dengan gerakan yang tenang.

"Kamu sudah bangun, Evelyn?" tanya Cassian, suaranya terdengar datar dan berat.

Ia berhenti tepat di samping ranjang, menatap gadis yang sedang menatapnya dengan raut wajah panik luar biasa.

"Kenapa... kenapa buku catatan pribadiku ada di tanganmu?!" cecar Evelyn, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya seraya mengulurkan tangan hendak merebut buku tersebut.

Namun Cassian dengan mudah mengangkat tangannya lebih tinggi, menjauhkan buku itu dari jangkauan Evelyn.

"Buku ini jatuh dari jubahmu saat Marsha membereskan pakaianmu pagi tadi," jawab Cassian.

Pria itu memiringkan kepalanya, menatap Evelyn dengan pandangan yang sarat akan rasa ingin tahu. "Saya tidak bermaksud mengintip hal pribadimu... tapi tulisan di dalam buku ini benar-benar memancing perhatian saya."

Evelyn menahan napasnya. Otak Kirana berputar liar bagaikan mesin yang kepanasan.

Gawat! Mati aku! Kalau dia tahu aku ini jiwa dari dunia lain yang tahu jalan cerita hidup dia... dia bisa menganggap aku iblis atau penyihir terlarang!

"Itu... itu cuma coretan asal!" sergah Evelyn cepat, mencoba memamerkan raut wajah sesantai mungkin walau telapak tangannya mulai berkeringat dingin.

"Hanya kumpulan kata-kata acak yang saya buat waktu saya bosan dikurung di kamar!"

Cassian menyipitkan matanya. Pria itu membalikkan halaman buku catatan tersebut, lalu membacakan salah satu baris kalimat di dalamnya dengan logat bahasa Arkania yang kaku dan terasa aneh di telinga:

"Kar-ak-ter tsun-de-re pa-rah... tipe ge-la-dak ka-pal yang ka-ku tapi se-be-nar-nya pe-du-li rak-yat…”

Cassian mendongak, menatap lurus mata ungu Evelyn. "Apa arti kata 'Tsundere' ini, Evelyn? Bahasa dari wilayah mana ini? Saya sudah membaca ribuan dokumen diplomasi dari benua Barat sampai Selatan, tapi tidak pernah menemukan susunan kata seaneh ini."

Pipi Evelyn seketika merona merah padam! Rasa malu yang luar biasa mendadak membakar wajahnya!

Bagaimana tidak? Pria tinggi besar dan dingin yang berdiri di depannya baru saja membaca ejekan pribadinya tentang sifat pria itu sendiri dengan nada suara yang begitu serius!

"I-itu..." Evelyn gagap, memalingkan wajahnya ke samping seraya memijat pelipisnya. "Itu bahasa kuno dari... dari suku terasing di daerah perbatasan Selatan! Kata itu cuma lambang khusus!"

"Lalu... bagaimana dengan kata ini?" sela Cassian tak mau kalah. Ia menunjuk kata berikutnya. "Siapa itu 'Kirana'? Di halaman ini kamu menulis: 'Jangan sampai jatuh cinta sama karakter fiksi ini, Kirana!'... Siapa Kirana ini, Evelyn? Apakah dia nama pimpinan rahasia di balik Perusahaan Asteria? Atau..."

Cassian memajukan badannya sedikit, suaranya merendah dengan nada yang mendadak terasa begitu intens. "...dia adalah namamu yang sebenarnya?"

Evelyn membeku di tempatnya. Binar mata ungunya menatap Cassian dengan keterkejutan.

Ia tidak menyangka kalau penguasa Utara yang kaku ini punya ketajaman insting yang begitu menakutkan hingga kebohongan apa pun rasanya gampang runtuh di hadapannya.

Otaknya, yang biasa berputar cepat menyusun taktik, mendadak menjerit histeris.

Gawat. Ini beneran gawat tingkat dewa! Batin Kirana.

Kalau ini cowok sampai paham isi tulisanku... seluruh penyamaranku sebagai Evelyn bisa hancur saat ini juga!

Evelyn tidak membiarkan rasa syok itu melumpuhkan geraknya terlalu lama.

Sebelum Cassian sempat mengeja kata berikutnya dari halaman yang terbuka, Evelyn sengaja memegang dadanya dengan telapak tangan yang gemetar.

Wajahnya yang tadinya mulai merona langsung ia buat mengernyit penuh penderitaan, disusul sebuah bisikan napas yang tertahan dan payah.

"Ngh... khh..."

Evelyn merintih halus, memejamkan matanya.

Siasat itu berhasil.

Cassian tersentak. Buku catatan di tangannya otomatis teredam fokusnya. Raut kaku dan penuh selidik di wajah sang Duke Utara seketika berganti kerutan cemas.

Ia memajukan badannya, meletakkan buku itu di tepi meja kecil, lalu mengulurkan tangannya untuk menopang bahu Evelyn.

"Evelyn? Kamu kenapa?" suara bariton Cassian merendah, dipenuhi getaran kekhawatiran. "Dadamu sakit lagi? Tristan! Panggil—"

"T-tidak... Nggak usah panggil Dokter Tristan..." potong Evelyn cepat dengan suara parau. "Cuma... cuma pusing mendadak. Alur manaku sepertinya belum sepenuhnya stabil kalau kaget."

Evelyn menyandarkan punggungnya. Jemarinya bergerak amat perlahan, seolah-olah butuh perjuangan berat hanya untuk meraih buku catatan cokelat di tepi meja.

Saat jarinya berhasil mendekap buku itu dan menariknya ke dalam pelukannya, Evelyn menghembuskan napas panjang.

Cassian memperhatikan setiap gerakan kecil itu dengan matanya yang tajam.

Pria itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, melipat kedua tangannya di depan dada.

Rasa cemasnya perlahan surut.

"Pusing mendadak, atau kamu cuma panik karena saya memegang rahasiamu, Evelyn?" tanya Cassian tepat di sasaran.

Evelyn memiringkan kepalanya sedikit, memamerkan senyuman tipis yang tampak polos.

"Seorang wanita punya hak buat panik saat barang pribadinya diacak-acak pria yang belum lama ini menodongkan pedang ke lehernya, Lord Obsidian," balasan Evelyn meluncur sangat mulus, mengubah posisi defensifnya menjadi serangan balik yang halus.

Cassian memicingkan mata. "Buku itu jatuh di lantai saat pakaianmu diganti. Saya tidak sengaja membacanya. Tapi tulisan di dalamnya..." Cassian menggantung kalimatnya, memajukan badannya sedikit hingga bayangan tubuhnya menutupi sebagian cahaya matahari di atas ranjang.

"...tulisan itu tidak menggunakan bahasa Arkania, tidak juga bahasa wilayah Selatan atau Barat. Dan kata-kata yang sempat saya eja... rasanya sangat tidak masuk akal untuk ukuran diari seorang putri bangsawan."

Evelyn terkekeh pelan—sebuah tawa kecil yang terdengar sangat renyah dan santai, seolah-olah tuduhan Cassian adalah hal paling konyol yang pernah ia dengar sepanjang pekan ini.

"Cassian, Cassian..." panggil Evelyn dengan nada yang sengaja ia buat agak mengejek.

"Kamu ini komandan perang yang hebat, tapi kadang-kadang imajinasimu terlalu jauh melompat ke awan."

"Jelaskan pada saya, Evelyn," potong Cassian kaku, tak terpengaruh oleh nada mengejek gadis di depannya. "Apa arti kata 'tsundere' dan 'karakter fiksi' yang kamu tulis di halaman itu? Dan siapa itu 'Kirana'?"

Evelyn menatap lurus mata Cassian. Otak Kirana di dalam dirinya sedang bekerja dalam kecepatan penuh, menenun kebohongan tingkat tinggi yang memadukan fakta sejarah, istilah sihir kuno, dan drama psikologis yang masuk akal.

"Itu bahasa sandi buatan ibu saya," jawab Evelyn mantap, suaranya mengalir begitu jernih tanpa ada getaran ragu sedikit pun.

Cassian mengerutkan dahi. "Ibumu? Duchess Eleanor?"

"Bukan. Ibu kandung saya dari garis keturunan kuno keluarga ibu," ralat Evelyn cepat, menciptakan latar belakang fiktif yang sulit dilacak dalam hitungan detik. "Ibu saya berasal dari klan peraba masa depan yang sudah lama punah di Kepulauan Timur. Sebelum beliau meninggal, beliau mengajari saya bahasa rahasia yang hanya dipahami oleh keturunan darah kami—sebuah bahasa yang tidak bisa dibaca oleh para penyihir Istana atau pembaca pikiran."

Evelyn mengelus sampul buku catatannya dengan tatapan melankolis yang dipasang begitu sempurna.

"Kata 'Tsundere' itu... dalam bahasa kuno ibu saya berarti 'serigala bernapas es yang berpura-pura galak padahal hatinya hangat'," lanjut Evelyn seraya menyunggingkan senyum miring yang penuh pesona ke arah Cassian.

"Istilah yang sangat cocok untuk menggambarkan dirimu yang menodongkan pedang ke leher saya, tapi malah menyalurkan mana murni dan menjejalkan obat ke mulut saya waktu saya pingsan semalam, kan?"

Pipi Cassian seketika menegang! Ada rona merah samar yang nyaris tak terlihat melintas cepat di tulang pipinya sebelum pria itu dengan cepat berdehem berat untuk menutupi rasa canggungnya.

"Lalu... bagaimana dengan kata 'karakter fiksi' dan nama 'Kirana'?" cecar Cassian lagi, berusaha keras menjaga intonasi suaranya agar tetap terdengar mengintimidasi.

Evelyn mendesah halus, memajukan tubuhnya sedikit mendekati tepi ranjang.

"Dunia bangsawan ibu kota itu penuh dengan manusia panggung yang palsu, Cassian," terang Evelyn dengan intonasi kata yang mendadak dalam dan sarat akan emosi yang menyentuh. "Bagi saya, orang-orang di Istana—termasuk para Pangeran dan bangsawan licik—hanya 'karakter fiksi', manusia tanpa jiwa yang jalannya sudah bisa ditebak karena mereka bergerak berdasarkan kerusakan nafsu dan keserakahan. Catatan itu adalah analisis saya untuk memetakan langkah mereka."

Evelyn menjeda kalimatnya, menatap lurus ke dalam mata Cassian.

"Dan 'Kirana'..." bisik Evelyn pelan. "...itu adalah nama baptis rahasia yang diberikan ibu saya saat saya lahir. Nama yang hanya boleh diucapkan oleh orang yang benar-benar saya percayai."

Evelyn mengulurkan tangannya, menyentuh pergelangan tangan Cassian.

"Di catatan itu, saya menulis pengingat buat diri saya sendiri..." lanjut Evelyn. "...'Jangan sampai jatuh cinta dan terbuai sama kebaikan serigala Utara ini, Kirana. Fokus pada tujuanmu untuk sembuh dan menyelamatkan keluargamu.'... Karena saya tahu, orang seperti kamu tidak punya waktu buat urusan perasaan di tengah krisis perang ini."

BOOM!

Rangkaian kalimat yang disusun Evelyn itu menghantam pertahanan emosi Cassian!

Cassian terpaku.

Matanya menatap tangan Evelyn yang menggenggam pergelangan tangannya, lalu beralih menatap wajah cantik gadis itu yang tampak begitu tulus.

Prasangka bahwa Evelyn adalah mata-mata atau penyihir terlarang berganti dengan rasa bersalah yang luar biasa karena telah membongkar diari rahasia dan nama baptis paling sakral milik gadis tersebut!

"Evelyn... saya..." suara Cassian keluar begitu serak dan kaku.

"Nggak apa-apa, Cassian," sela Evelyn cepat.

Ia perlahan menarik tangannya kembali, mendekap buku catatannya. "Saya tidak marah karena kamu membaca catatan itu. Justru bagus... artinya sekarang tidak ada lagi rahasia besar di antara kita."

Cassian menarik napas, mencoba meredakan gejolak aneh yang berdebar terlalu kencang di balik dadanya. Ia berdiri dari kursinya, merapikan kemejanya dengan gerakan yang canggung.

"Saya... saya minta maaf karena sudah lancang menyentuh barang pribadimu," kata Cassian. "Nama baptismu... Kirana... adalah nama yang indah. Dan saya berjanji tidak akan pernah menanyakan soal diari itu lagi."

Evelyn menundukkan kepalanya sedikit, menyembunyikan sunggingan senyum kemenangan gila yang nyaris meledak di bibirnya.

Berhasil! Anjay, aku beneran bakat jadi aktris pemenang piala Oscar! jerit Kirana girang dalam hatinya.

"Terima kasih atas pengertianmu, Lord Obsidian," sahut Evelyn manis saat mendongak kembali. "Sekarang... daripada kita membuang waktu membedah diari saya, bukankah ada hal yang jauh lebih penting untuk kita urus hari ini?"

Cassian mengernyit halus. "Hal penting apa?"

"Pengawalan pasokan kristal Luminite tahap pertama dari Asteria yang sebentar lagi bakal menembus gerbang perbatasan," terang Evelyn. "Dan tentu saja... dokumen pengumuman resmi aliansi kita yang harus dikirimkan ke dewan kerajaan sebelum sore nanti."

Cassian menatap gadis di depannya dengan pandangan yang benar-benar takjub. Baru saja beberapa menit lalu gadis ini hampir menangis karena rahasia pribadinya terbongkar, kini ia sudah kembali berubah menjadi ahli taktik bisnis yang dingin dan penuh perhitungan.

Sebuah senyuman tipis yang sangat tampan terukir di bibir Cassian. Pria itu menggelengkan kepalanya pelan, terpesona oleh putri Rosenberg.

"Kamu benar-benar tidak pernah memberi saya kesempatan untuk bernapas lega, Putri Evelyn," ujar Cassian dengan nada bercanda yang hangat. "Baiklah. Saya akan panggil Komandan Bane dan menyiapkan pasukan pengawal untuk menyambut kereta Asteria di gerbang utama."

Cassian melangkah menuju pintu kamar, namun sebelum ia memutar gagang pintu, pria itu menghentikan langkahnya dan menoleh kembali ke arah ranjang.

"Istirahatlah sedikit lagi, Evelyn," kata Cassian pelan.

"Biar saya yang menyelesaikan urusan di luar sana."

Pintu kamar tertutup dengan bunyi dentum halus.

Begitu bayangan Cassian menghilang sepenuhnya, Evelyn langsung melempar buku ke atas selimut, lalu menjatuhkan badannya terlentang di atas tempat tidur itu!

"HUAAAAGH! GILAAA! HAMPIR AJA MATI BERDIRI AKU!" jerit Evelyn tanpa suara, menutupi wajahnya dengan kedua tangan seraya menendang-nendang selimut dengan panik bercampur tawa lega.

1
Fazira
Cassian 😍😍
Fazira
padahal Rosalia di dunia novel ini protagonis, kenapa sifatnya jadi kaya antagonis gini yaa/Doubt/
Fazira
udah Rosalia 🤭
Fazira
Evelyn Evelyn pinter akting yaa🤣🤣
Fazira
Wah Duke Utara 😍
Fazira
Evelyn Evelyn udah badan penyakitan kenapa akting sakit 🤭
Fazira
kehidupan novel dalam novel ya😄
Fazira
wow transmigrasi kak👍
semangat nulisnya 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!