Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!
Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Tandu kayu cendana berlapis beludru merah itu berhenti tepat di depan pelataran Paviliun Awan Mengambang.
Empat murid dalam tingkat atas yang memikul tandu segera menurunkan palang kayu dengan gerakan sangat halus, menjaga agar penumpangnya tidak merasakan guncangan sedikit pun.
Gu Ran melangkah turun perlahan. Udara malam di Puncak Pedang Utama berhembus sejuk, membawa wangi bunga persik dan dupa gaharu yang dibakar di sepanjang serambi.
Bangunan bertingkat tiga di hadapannya biasanya hanya dibuka saat utusan istana kekaisaran berkunjung. Dindingnya terbuat dari kayu besi berukir awan, sementara atap genting giok hijaunya memantulkan cahaya rembulan perak.
Lima tahun tidur beralaskan jerami basah di Lembah Tungku membuat Gu Ran sempat memandangi karpet sutra tebal di lantai lorong selama beberapa detik.
“Adik kecil Gu, kamar utama di lantai atas sudah disiapkan.”
Suara Song Pojun terdengar dari samping tandu. Leluhur tua itu kini mengenakan jubah abu-abu baru, meski balutan perban tebal di bahu kirinya masih merembeskan bau obat herbal yang pahit. Janggut putihnya telah dibersihkan dari noda darah, namun wajah keriputnya tampak layu menahan sisa rasa sakit di dantiannya.
Di belakang sang Leluhur, Patriark Song Tianhe berdiri membungkuk kaku. Di sebelahnya lagi, Song Ming berdiri dengan tubuh gemetar.
Dada pemuda berjubah hijau zamrud itu dibebat kain perban putih yang sangat tebal. Wajah aristokratnya lebam kebiruan di pipi kiri, sementara langkah kakinya terseret pelan akibat benturan keras di pilar arena siang tadi.
“Ming’er,” ucap Song Pojun dengan nada rendah yang menekan.
Song Ming tersentak pelan. “H-hamba, Kakek Buyut…”
“Mulai malam ini sampai luka Adik Gu sembuh total, kau berdiri berjaga di depan pintu kamarnya,” perintah sang Leluhur tanpa menoleh sedikit pun. “Siang dan malam. Jangan sampai ada angin kencang atau nyamuk hutan yang mengganggu tidurnya.”
Song Ming mengangkat kepalanya dengan pupil mata melebar. “Kakek Buyut… dada hamba masih retak tiga rusuk, luka dalam hamba belum—”
“Kalau kau berani membantah satu patah kata lagi,” potong Song Pojun dengan nada sedingin dasar sumur, “aku sendiri yang akan mematahkan sisa tulang rusukmu yang lain.”
Song Tianhe buru-buru menyenggol lengan putranya dengan keras, memberi isyarat mata penuh peringatan agar tidak memancing amarah Leluhur lagi.
Song Ming menelan ludah getirnya. Kepalanya tertunduk lesu menatap ujung sepatunya yang berdebu.
“Hamba… patuh pada titah Kakek Buyut,” bisik Song Ming dengan suara parau menahan sesak di dada.
Di dalam kamar tidur utama lantai dua, aroma kayu cendana menguar dari bak mandi bundar berukuran besar.
Gu Ran melepas jubah abu-abu penempaannya yang sudah robek dan bernoda darah kering. Luka sayatan di bahu kirinya masih terasa berdenyut pedih, tetapi salep obat giok yang diantarkan Alkemis Bai tadi sore telah menghentikan pendarahan luar.
Ia melangkah masuk ke dalam bak mandi kayu, membiarkan air hangat merendam tubuh kurusnya hingga ke dada.
Otot-otot punggungnya yang kaku selama bertahun-tahun perlahan mengendur. Uap air yang mengepul hangat mengikis sisa jelaga belerang yang menempel di pori-pori kulitnya.
Gu Ran mengetuk tepi bak mandi dua kali dengan jari telunjuknya.
“Pengawal di luar,” panggil Gu Ran santai ke arah pintu geser kertas sutra.
Pintu terbuka sedikit. Song Ming berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat dan perban di dada yang tampak meregang tegang.
“Ada apa lagi?” tanya Song Ming dengan gigi terkatup rapat, berusaha menekan getaran amarah di suaranya.
“Airnya agak dingin,” sahut Gu Ran tanpa menoleh, menyandarkan kepalanya di bantalan kayu bak. “Tambahkan dua ember air panas dari dapur utama. Pastikan suhunya pas di kulit.”
Song Ming mengepalkan tinjunya hingga kuku jarinya memutih. “Dapur utama berada di kaki paviliun, jaraknya tiga ratus anak tangga batu…”
Gu Ran menghela napas pelan, lalu terbatuk kecil dengan nada lemah. “Dada kiriku tiba-tiba agak ngilu…”
Di puncak bukit belakang, sebuah dengung gelisah samar terasa bergetar di udara, menandakan kesadaran spiritual Song Pojun sedang memantau ruangan itu dari kejauhan.
Wajah Song Ming seketika berubah pasi.
“S-segera hamba ambilkan!” seru Song Ming terburu-buru.
Pemuda itu berbalik cepat, mengabaikan rasa nyeri yang menyengat tulang rusuknya saat ia berlari terhuyung menuruni tangga kayu.
Dua puluh menit kemudian, Song Ming kembali dengan napas tersengal-sengal. Keringat dingin membasahi dahinya, mengalir di antara lebam ungu di pelipisnya. Kedua tangannya memegang dua ember tembaga besar berisi air mendidih yang mengepul tebal.
Dengan napas terengah, sang Tuan Muda menuangkan air panas itu ke dalam bak secara perlahan, memperhatikan setiap riak air agar tidak menciprati wajah Gu Ran.
Gu Ran menggerakkan ujung kakinya di dalam air, merasakan kehangatan yang pas merayap di kulitnya.
“Lumayan,” gumam Gu Ran datar. “Tutup pintunya lagi. Jangan berisik di luar, aku mau istirahat.”
Song Ming melangkah mundur ke koridor luar tanpa bersuara, lalu menutup pintu geser dengan tangan gemetar.
Malam kian larut. Angin gunung berhembus dingin menembus kisi-kisi koridor lantai dua.
Song Ming berdiri bersandar pada pilar kayu koridor. Rasa ngilu di dadanya semakin menusuk setiap kali udara dingin terhirup masuk ke paru-parunya.
Pewaris tahta Sekte Pedang Langit yang selama ini dipuja ribuan murid itu kini berdiri layaknya penjaga rendahan, mengawal pemuda yang siang tadi hendak ia tebas lehernya.
Rasa malu dan dendam yang membakar batinnya terasa jauh lebih menyiksa daripada tiga tulang rusuknya yang patah.
Tangan kanan Song Ming merayap masuk ke balik lipatan jubah sutra zamrudnya.
Ujung jarinya menyentuh sebuah botol porselen hitam seukuran ibu jari yang tersimpan di kantong rahasia pinggangnya.
Di dalam botol itu tersimpan racun Rumput Pengurai Meridian—cairan pekat tanpa warna dan beraroma samar bunga melati yang mampu mengikis jalur energi fana hingga membusuk secara perlahan dari dalam perut.
Song Ming menatap bayangan pintu geser kamar Gu Ran dengan pupil mata menyipit tajam.
Kakek Buyut marah karena tebasan pedangku melukai anak ini, batin Song Ming dengan napas tersengal penuh kebencian. Tapi kalau dia mati karena racun yang bekerja lambat… tanpa sayatan senjata, tanpa bekas tebasan di tubuhnya… tak ada yang bisa membuktikan bahwa ini perbuatanku.
Song Ming menggenggam erat botol porselen itu di balik bajunya, merancang cara menyusupkan setetes cairan maut tersebut ke dalam cawan teh pagi Gu Ran esok hari.