Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29: Mirip Ibunya
"Dokter kenal Sena?"
Perempuan itu tersentak seperti baru sadar telah mengucapkan nama yang seharusnya tidak ia ketahui. Kardus di antara tangan kami kembali miring. Aku menahannya, lalu mundur setapak sambil merapatkan Sena ke dada.
"Saya Anindya," katanya. "Dokter baru di klinik kesatrian. Maaf, saya membuat Ibu kaget."
"Nama saya Larasati. Tapi saya belum menjawab pertanyaan saya."
Tatapannya turun ke wajah Sena. Mata perempuan itu mulai basah.
"Dia mirip ibunya."
Jantungku menghantam tulang rusuk. Sejak datang ke kompleks ini, tak seorang pun pernah berbicara tentang ibu kandung Sena di depanku. Bram hanya mengatakan perempuan itu telah meninggal. Bahkan nama Ratih kutemukan sendiri dari belakang sebuah foto.
"Dokter kenal Ratih?"
Anindya mengangkat wajah cepat. "Kamu tahu namanya?"
"Saya menemukan fotonya."
Sena mengulurkan tangan ke arah pin nama di dada Anindya. Dokter itu hampir menyentuh jemarinya, lalu berhenti beberapa senti sebelum kulit mereka bertemu.
"Kami teman kuliah," katanya akhirnya. "Sudah lama sekali."
"Kalau begitu, kenapa Dokter tahu ini Sena?"
"Ratih pernah mengirim foto. Waktu itu dia masih sangat kecil."
Jawabannya masuk akal, tetapi jeda sebelum setiap kata terasa seperti pintu yang dikunci dari dalam.
Seorang perawat muncul dari ruang obat dan memanggil Anindya untuk serah terima inventaris. Dokter itu menarik napas.
"Besok pagi bawa Sena untuk pemeriksaan tumbuh kembang. Saya perlu memastikan catatan kliniknya setelah pindah tugas."
"Dia tidak sakit."
"Pemeriksaan rutin." Matanya kembali ke Sena. "Tolong datang."
Keesokan paginya, aku membawa buku kesehatan Sena ke klinik. Anindya memeriksa berat, panjang badan, suhu, rongga mulut, dan respons geraknya. Ia bertanya tentang ASI, tekstur MPASI, jadwal tidur, buang air, serta riwayat demam. Aku menjawab satu per satu.
Sena merebut stetoskop dan menggigit selangnya.
"Bukan kerupuk," kataku sambil melepaskannya.
Anindya tertawa, tetapi air mukanya segera berubah lembut. "Beratnya naik baik. Gerak motoriknya sesuai. MPASI boleh dinaikkan teksturnya perlahan, tetap perhatikan sumber protein dan zat besi. ASI dilanjutkan."
Ia menulis hasil pemeriksaan tanpa tergesa. "Kamu merawatnya dengan sangat baik."
Pujian itu justru menusuk. "Saya ibu susuannya."
"Saya tahu."
"Bukan ibunya."
Anindya meletakkan pena. "Orang yang merawat anak setiap hari tidak perlu mengecilkan tempatnya sendiri."
Sebelum aku membalas, pintu terbuka. Ratna masuk membawa keranjang buah dan senyum yang terlalu cerah.
"Dokter Anindya, selamat datang. Saya baru dengar teman lama keluarga Komandan pindah kemari." Ia menoleh kepadaku. "Oh, Laras juga di sini. Baguslah, jadi sekalian belajar cara merawat anak dari orang berpendidikan."
Aku menutup buku kesehatan Sena. "Dokter baru saja bilang pertumbuhannya baik."
"Syukurlah. Tapi pengalaman kampung tentu beda dengan ilmu kedokteran." Ratna menggeser keranjang ke meja. "Dokter masih sendiri, kan? Pak Bram juga terlalu lama sendiri. Kompleks ini pasti lebih hidup kalau orang yang cocok saling mengenal."
Anindya tidak menyentuh buah itu. "Saya datang untuk bekerja, Bu Ratna. Status perkawinan saya tidak tercantum dalam surat tugas klinik."
"Saya cuma bercanda."
"Kalau begitu, candanya cukup sampai di sini." Anindya menyerahkan buku kesehatan kepadaku. "Kontrol berikutnya sesuai jadwal. Kalau ada demam, diare, atau anak tampak lemas, datang lebih cepat."
Aku mengangguk. Saat melewati Ratna, aku melihat senyumnya masih ada, tetapi rahangnya mengeras.
Di luar klinik, aku menoleh melalui jendela. Anindya berdiri membelakangiku, kedua tangannya mencengkeram tepi meja. Ratna bicara lagi, entah tentang Bram atau masa lalu. Dokter itu tidak menjawab.
Aku pulang dengan lebih banyak pertanyaan daripada sebelumnya.
***
Adi meletakkan daftar personel baru di mejaku menjelang siang.
"Dokter pengganti sudah melapor, Komandan. Kapten Ckm dr. Anindya Prameswari."
Ujung penaku berhenti.
"Sejak kapan dia tiba?"
"Tadi malam. Katanya pernah kenal keluarga Komandan. Perlu saya jadwalkan menghadap?"
Aku membaca nama itu sekali lagi. Ratih pernah menyebut Anindya dalam cerita masa kuliahnya, jauh sebelum semua keadaan berubah menjadi kebohongan yang harus kujaga. Dari sedikit orang yang mengenal Ratih sebelum ia datang kepadaku, Anindya adalah salah satu yang mungkin menyusun potongan paling cepat.
"Jadwalkan sesuai prosedur. Jangan beri akses ke dokumen keluarga tanpa permintaan tertulis."
Adi mengerutkan kening. "Ada masalah?"
"Belum."
Namun tubuhku sudah menolak kata itu. Bahuku menegang, dan telapak tangan yang memegang pena menjadi dingin.
"Laras sudah bertemu dia?"
"Pagi ini Sena diperiksa. Bu Ratna juga datang bawa buah."
Tentu saja Ratna bergerak lebih cepat daripada laporan resmi.
Aku bangkit. "Pastikan catatan pasien tetap hanya di klinik."
"Siap."
Aku berjalan ke klinik setelah rapat sore selesai. Bukan untuk melarang Anindya bicara. Laras berhak mengetahui hal yang menyangkut anak yang dirawatnya. Tetapi kebenaran tentang Sena bukan hanya kisah seorang ibu yang meninggal. Ada nama, kesalahan, dan keselamatan orang hidup yang masih terikat di dalamnya.
Dari ujung koridor, kulihat Laras keluar membawa tumpukan kain bersih. Ia berhenti saat melihatku.
"Kamu kenal dokter baru itu?" tanyanya.
"Kenal namanya."
"Dia bilang Sena mirip ibunya."
Aku menahan napas terlalu lama. Laras memperhatikan wajahku, menunggu jawaban yang tidak bisa kuberikan di koridor.
"Kita bicara nanti," kataku.
"Kapan? Setelah saya menemukan jawabannya sendiri lagi?"
Ia pergi sebelum aku sempat memperbaiki kalimatku. Punggungnya tegak, tetapi langkahnya lebih cepat dari biasanya.
Di ruang periksa, Anindya masih duduk dengan lampu meja menyala. Sebuah foto lama tergeletak di samping buku catatan. Ia segera membaliknya ketika aku masuk.
"Bram."
"Kamu tidak memberi kabar akan dipindahkan ke sini."
"Kalau kuberi kabar, apa kamu akan mencegahnya?"
"Aku tidak punya hak mencegah surat tugas."
"Tapi kamu ahli membuat orang berhenti bertanya."
Kalimat itu mengenai sasaran. Selama ini aku menyebut diam sebagai perlindungan. Kepada kesatuan, diam mencegah skandal. Kepada Sena, diam memberinya rumah yang sah dan nama yang aman. Namun kepada Laras, diam mulai menyerupai dinding. Semakin ia merawat Sena sebagai anak sendiri, semakin kejam rasanya membiarkan dia mengetuk dari luar.
"Laras bukan ancaman," kata Anindya.
"Aku tahu."
"Lalu kenapa dia masih tidak tahu?"
"Karena begitu satu orang tahu, dia ikut memikul akibatnya. Aku tidak akan meletakkan beban itu padanya hanya untuk membuat diriku lega."
"Mungkin kamu bukan sedang melindungi dia. Mungkin kamu takut dia akan memilih pergi setelah tahu."
Aku tidak menjawab. Keheningan di ruangan itu lebih jujur daripada apa pun yang dapat kukatakan.
Aku menutup pintu. "Apa yang kamu katakan kepada Laras?"
"Hanya bahwa aku mengenal Ratih. Itu bukan rahasia."
"Yang lain?"
Anindya menatapku lama. Lalu suara Sena terdengar dari luar, tertawa kecil dalam gendongan Tuti. Dokter itu bangkit, membuka pintu, dan memandang anak tersebut seolah sedang melihat seseorang yang telah dikubur hidup-hidup dalam ingatannya.
Bibirnya bergerak.
"Anak ini..."