Indonesia
NovelToon NovelToon
Di Sini Ada Arwah, Di Sana Ada Polisi

Di Sini Ada Arwah, Di Sana Ada Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Mata Batin
Popularitas:77k
Nilai: 5
Nama Author: Ichageul

Nino dan Asep harus mengungkap peristiwa pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah wanita.

Musuh kali ini adalah seorang pembunuh yang kejam, licik, dan cerdas. Mereka berpacu dengan waktu untuk mengungkap pelaku sebelum lebih banyak korban berjatuhan.

Disclaimer:
Seluruh tokoh, tempat, dan peristiwa dalam novel ini adalah fiksi. Apabila terdapat kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata, hal tersebut murni kebetulan.

Novel ini mengandung adegan kekerasan dan pembunuhan yang ditujukan untuk kepentingan cerita. Tidak dimaksudkan untuk mendorong atau membenarkan tindakan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Markonah

“Di rumah. Aku menaruhnya di koper yang berisi pakaian bekas.”

“Kami perlu mengambil ponselmu.”

“Untuk apa?”

“Kami mencurigai Rama sebagai pelaku pembunuhanmu dan Riri.”

“Apa? T-Tidak mungkin,” Nilan menggelengkan kepalanya beberapa kali.

Wanita itu tidak percaya, atau lebih tepatnya tidak ingin mempercayai bahwa pelaku yang sudah menghabisi nyawanya adalah Rama.

Dia memang memutuskan mengakhiri hubungan dengan Rama, tetapi masih ada sisa perasaan tertinggal untuk pria itu.

“Ini memang masih dugaan. Rama tidak bisa membuktikan alibinya saat kematianmu. Begitu juga saat kematian Riri. Dia tertangkap berada di klub Butterfly beberapa jam sebelum Riri terbunuh. Dia bahkan mencoba berinteraksi dengan Riri, tapi diabaikan oleh Riri.”

Nilan masih belum mempercayai apa yang dikatakan Nino. Wanita itu masih berkeyakinan bukan Rama yang membunuhnya. Rama tidak akan berbuat sekejam itu padanya.

“Apa kalian akan tetap mengambil ponsel itu?” tanya Nilan setelah berhasil menenangkan dirinya.

“Ya.”

“Apa aku bisa minta tolong?”

“Katakan saja.”

“Tolong jangan beritahu suamiku tentang perselingkuhanku. Biarkan dia mengenangku sebagai istri yang setia. Aku mohon,” Nilan menangkupkan kedua tangannya.

“Aku tidak bisa janji. Karena untuk mengambil koper itu, tentu saja kami harus meminta izin pada suamimu.”

“Apa aku boleh ikut dengan kalian?”

“Asalkan kamu tidak berbuat macam-macam, kamu boleh ikut.”

Nilan tersenyum tipis. Hantu wanita itu segera mengikuti Nino dan Asep yang keluar dari rumah.

Sementara itu, Prisa dan Riri yang tidak dilibatkan dalam pembicaraan, hanya bisa menatap penuh penuh rasa penasaran.

“Menurutmu apa yang terjadi pada Nilan?” tanya Prisa.

“Tidak tahu,” jawab Riri polos.

“Apa menurutmu Nino dan Asep sudah menemukan pelakunya, makanya mereka mengajak Nilan pergi.”

“Kalau mereka sudah menemukan pelakunya, pasti aku akan diajak juga. Pelaku yang membunuhku dan Kak Nilan sama.”

“Oh iya,” Prisa menepuk keningnya.

“Dasar belet. Heran gue, pas masih hidup dia makannya apa sih,” celetuk Gilang yang berada tak jauh dari Prisa dan Riri.

Pemuda itu sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahnya. Hari ini tidak ada jadwal mata kuliah, karena itu dia memilih berada di rumah. Bisa bahaya jika dia berkeliaran di luar dengan tiga hantu yang selalu mengikutinya.

“Gue dengar ya!” teriak Prisa dengan nada kesal.

“Emang benar kok, elo tuh beletnya keterlaluan.”

Prisa hanya mencebikkan bibirnya. Kalau tidak ingat ancaman Ahqam, dia pasti sudah merasuki tubuh Gilang lagi. Lalu dia akan berdandan seperti wanita dan mengamen di lampu merah sambil membawa kecrekan.

“Oh iya,” seakan teringat sesuatu, Gilang mengubah posisi duduknya. Dia berbalik menghadap pada Prisa. “Lo apain motor gue? Kenapa di motor gue ada baretnya?”

Begitu mengambil motornya yang ditinggalkan di kampus, Gilang menemukan beberapa goresan di bodi motornya. Pemuda itu termasuk apik mengurus motornya. Karenanya goresan sekecil apa pun akan terlihat olehnya.

Seketika Prisa terdiam mendengar pertanyaan Gilang. Hantu wanita itu langsung berbalik membelakangi Gilang.

“Udah gue duga, pasti elo biang keroknya. Dasar Markonah!” teriak Gilang kesal.

“Lo panggil gue apa?” sontak Prisa langsung berbalik. Mata hantu itu melotot dengan kedua tangan bertolak pinggang.

“Markonah. Budeg lo?!”

“Seenaknya aja lo manggil gue Markonah. Orang tua gue kasih nama yang bagus dan dikasih bubur merah putih,” geram Prisa.

“Masih mending Markonah, daripada gue panggil Ijem. Mau, lo?”

Mata Prisa semakin melotot. Namun Gilang tidak merasa ketakutan sedikit pun pada hantu wanita itu. Dia malah balas menatap Prisa sambil membulatkan matanya ala Suzanna.

“Markonah,” panggil Gilang dengan nada meledek.

“Gilaaaang!”

“Apa Ijem?” balas Gilang. Pemuda itu mengeluarkan lidahnya, meledek pada Prisa lalu keluar dari rumah.

“Beneran nyebelin tuh anak. Awas aja, gue bakal rasukin elo lagi. Terus gue bakal mangkal di lampu merah, godain cowok-cowok, biar harga diri lo semakin berserakan.”

Dada Prisa tampak naik turun saking kesalnya pada Gilang. Riri langsung menenangkan temannya itu. “Sabar, Pris. Lagian wajar kalau dia marah. Motornya kan banyak goresan gara-gara kamu.”

“Tapi kan aku lagi nolong kamu juga.”

“Iya sih. Tapi kasihan juga Gilang. Pasti biaya buat mulusin lagi bodi motornya mahal.”

“Kok kamu malah belain Gilang sih? Jangan bilang kamu naksir sama dia?”

Tidak ada jawaban dari Riri. Namun senyum manis hantu itu sudah cukup memberi jawaban bagi Prisa. Arwah wanita itu hanya menepuk keningnya saja.

“Daripada sama Gilang, mending sama Nino atau Asep,” celetuk Prisa.

“Nggak ah. Mereka ketuaan buatku. Aku lebih suka Gilang yang kinyis-kinyis.”

“Astaga,” Prisa kembali menepuk keningnya. Pada saat bersamaan Gilang kembali. Pemuda itu membawa dua bungkus bubur bayi instan kemasan sachet.

Apa yang dibawa Gilang tentu saja menarik perhatian Prisa yang super kepo. Tanpa sadar dia mengikuti Gilang sampai ke dapur. Tampak pria itu tengah menyeduh bubur bayi itu menggunakan air panas.

“Dih makan begituan. Udah kayak bayi aja,” ledek Prisa.

“Biarin. Bawel amat sih lo, dasar Markonah.”

Prisa mengepalkan kedua tangannya lalu memukulkannya ke kepala Gilang. Tentu saja pukulannya hanya mengenai ruang kosong. Dia terus mengikuti Gilang sampai ke tempatnya semula.

“Mulai hari ini gue bakal panggil elo Markonah. Nih, sebagai tanda ganti nama, gue udah buatin bubur bayi rasa beras merah buat lo. Puas?” tanya Gilang sambil melihat ke arah Prisa. Dia menyuapkan sesendok bubur bayi itu ke dalam mulutnya.

“Gue nggak suka dipanggil Markonah!”

“Terus mau lo dipanggil apa? Ijem? Icih? Munaroh? Juju? Apa Bambang?”

Wajah Prisa langsung cemberut. Dia langsung berbalik memunggungi Gilang sambil melipat kedua tangannya. Riri hanya bisa tertawa melihat pertengkaran Gilang dan Prisa.

Sementara Gilang memilih menghabiskan bubur bayi instan yang diseduhnya tadi. Dalam hatinya puas sudah membalas Prisa yang berulang kali merasukinya dan membuat motornya tergores.

***

Nino menghentikan mobilnya di depan rumah kecil bercat hijau. Nilan yang ikut dengan duo kancing cetet itu keluar dari dalam mobil. Matanya memandangi rumah yang dulu menjadi tempatnya tinggal bersama keluarga kecilnya.

Dia kembali mengenang masa-masa bahagianya bersama anak dan suaminya. Tanpa disadari buliran bening membasahi pipinya.

Lamunan Nilan buyar ketika mendengar Nino mengetuk pintu seraya mengucapkan salam. Namun sama sekali tidak ada jawaban dari dalam.

Ketukan dan suara Nino tertangkap oleh tetangga samping rumah. Seorang wanita paruh baya segera keluar begitu mengetahui ada yang mengunjungi rumah tetangganya.

“Cari siapa?” tanyanya.

“Pak Dadannya ada, Bu?”

“Oh … barusan pergi. Katanya mau memberikan pakaian bekas Nilan ke tetangga yang membutuhkan.”

“Pergi ke mana, Bu?”

“Ke rumah Bu Nengsih. Rumahnya ada di ujung. Terus aja, nanti ketemu rumah yang dari bilik, itu rumahnya.”

“Terima kasih, Bu.”

Bergegas Nino dan Asep menuju rumah yang ditunjukkan ibu tadi. Jika Dadan membagikan pakaian bekas yang ada di dalam koper, bukan tidak mungkin pria itu menemukan ponsel Nilan di dalam koper.

Keduanya sampai ketika Dadan baru membuka koper dan meminta Nengsih dan anaknya mengeluarkan pakaian di dalamnya. Pria itu terkejut melihat kedatangan Nino dan Asep.

“Pak Nino, Pak Asep. Apa kalian sengaja menemuiku?” tanya Dadan dengan sopan.

“Ya.”

“Apa pelakunya sudah tertangkap?”

“Belum. Kami datang untuk—“

“Kang Dadan, ini hape siapa?” sela anak Nengsih tiba-tiba.

***

Nah lho ...

Awas Prisa dan Gilang, jangan berantem terus, kalau cinlok bahaya😂

1
Wardah Saiful
seruuu ceritanya
Febri Nayu
R A inisial nya garasi inget ramaa
tehNci
Harus kebongkar doong
tehNci
Ladalah....tambah 1 lagi yg harus dijaga Gilang si penjaga arwah. 5 arwah jadi anak asuh gilang😅😅😅
Humaira
kebongkar kayaknya 🤔
Ani
kebongkar lah
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
takajutlah Ramli denger karyawan yg kerja dgn nya yg jadi korban ke sadisan si pelaku....apalagi bila tau korbannya itu selingkuhan WIL-nya....wah pasti langsung kena shock terapi dia.. apakah bakal lanjut dinas ke Singapura nya apa di cancel ya 🤔🫣
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
ahahahahhaha kamu mah wayahe Lang jd bulan² Asep... selalu di bikin jengkel olehnya 😂
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
mungkin saja laptop nya Dipta ada lebih dari satu........ laptop khusus eksekusi sama laptop buat tugas dr Nino dan Asep terpisah biar gk di curigai....namanya juga orang jahat yg pintar ....jd udah di perhitungkan semuanya....cara eksekusi korban juga rapih dan teliti dia ngerjainnya.... jangan sampe meninggalkan jejak biar gk terendus polisi....dia tuu pintar dan licin 🫣
Ria alia
Stlh denger inisial apakah pa ramli trkjut lgsg inget sama selingkuhan’y 🤔
Munas Tuti
nahh ketar ketir tu Ramli, takut terbongkar sesuatunya 😄😄
yula
💪💪💪💪💪thor
❤Rainy Wiratama Yuda❤️
Nambah lagi anak asuh Gilang 🤭
❤Rainy Wiratama Yuda❤️
Pasti terbongkar
❤Rainy Wiratama Yuda❤️
Setelah mendengar berita dari anaknya, cangkir kopi yang dipegangnya langsung terlepas, pecah tak terarah 🤭 dia langsung membelalakan matanya sambil berteriak "apa !!!" sehingga membuat istri dan anaknya kaget. hehehe.... imajinasiku tentang lanjutan cerita ini 🤭😄😄😄
sakura hanae @ mimie liyana❤️
Pasti si Ramli panas dingin tuh🤭
sakura hanae @ mimie liyana❤️
Jadi hantusitter kedatangan anak asuh baru lagi? 😏🤣🤣🤣🤣
Humaira
asiaap 💪
tehNci
Apakah Yuniar akan mengikuti jejak para arwah para korban pembunuhan topeng Rahwana yg sudah mati dan ngumpul jadi anak asuh Gilang? Lumayan tuh Gilang, bisa konsultasi masalah tugas kuliahnya sama arwah Bu yuniar🤣🤣🤣
Febri Nayu
ikut kami.. eh langsung melok dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!