Indonesia
NovelToon NovelToon
TEROR!

TEROR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:28k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sinopsis

Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.

Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.

Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kau tidak akan lepas!

"Fan! Lu gak apa-apa, kan?" tanya Julian terburu-buru seraya mendekati sisi tempat tidur.

Adrian dan Rian berdiri menyusul di belakangnya dengan raut wajah tegang. "Kenapa bisa kayak gini, bro?"

"Pasti lu teler berat kan, sampai kecelakaan begini," ujar Adrian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mencairkan ketegangan di ruangan VIP beraroma antiseptik itu.

Fano memalingkan wajahnya yang pucat pasi dari langit-langit kamar rawat. Mata dengan kantung hitam tebal itu membelalak lebar, memancarkan ketakutan yang membuat pupil matanya bergetar hebat.

Bibirnya yang kering dan pecah-pecah gemetar saat ia mencoba mengumpulkan udara di paru-parunya.

"Gue... gue di cekek," kata Fano terbata-bata, suaranya parau dan terputus-putus seolah tenggorokannya masih menyimpan rasa sakit dari tekanan berat.

"Cekek?! Lu di begal?" tanya Rian terkejut, melangkah makin mendekat ke tepi ranjang.

Fano menggelengkan kepalanya yang terbalut perban tebal dengan payah.

"Nggak. Hantu... Gue di cekek hantu," ujar Fano.

Semuanya diam. Kesunyian yang berat dan ganjil mendadak menyelimuti ruangan tersebut selama beberapa detik. Julian, Adrian, dan Rian saling melempar pandang dengan alis berkerut, mengamati wajah Fano yang tampak serius sekaligus panik setengah mati.

Namun, detik kemudian mereka bertiga tertawa. Suara tawa terbahak-bahak memecah keheningan kamar VIP itu.

Bagi mereka, ucapan Fano sungguh tak masuk akal dan terlampau konyol.

"Hahaha! Lu gila, Fan!" celoteh Adrian seraya memegang perutnya.

"Segitu parahnya alkohol diskotik semalem sampai lu halusinasi dibegal setan?"

"Aduhh, Fano, Fano... Gue kira lu ditabrak truk atau dibegal preman jalanan," timpal Rian ikut tertawa sambil menggelengkan kepala.

"Ternyata otak lu yang geser kena tiang listrik. Hantu zaman ternyata pengen naik mobil sport juga."

Julian menyunggingkan senyum tipis, meski ada sedikit kecemasan samar yang coba ia sembunyikan di balik tawa tersebut. Ia menepuk pelan bahu Fano yang masih mematung kaku.

"Udah deh, Fan. Otak lu masih teler gara-gara efek benturan sama obat bius dokter," kata Julian dengan nada menggampangkan.

"Lu cuma kebanyakan minum, hilang kendali, terus panik sendiri pas mobil lu melintir. Stop mikir yang aneh-aneh. Gak ada hantu-hantuan di dunia nyata."

Fano menatap ketiga sahabatnya dengan tatapan tak percaya. Gelak tawa mereka terasa begitu bising.

Rasa frustrasi menyengat dadanya karena sadar tidak ada satu pun dari mereka yang mempercayai teror nyata yang baru saja merenggut nyaris seluruh nyawanya.

"Gue gak halusinasi, anjing!" seru Fano dengan nada histeris, membuat tawa Adrian dan Rian perlahan terhenti.

"Terus?" tanya Adrian.

"Terus gue kecelakaan, dan gue nggak ingat apa-apa lagi," kata Fano.

"Fix! Sih ini. Lu teler berat," kata Rian.

"Iya Fan, pasti lu minum lagi kan pas kita pergi," kata Adrian.

"Antara mabuk minuman ama mabuk cewek dia," sambut Rian.

"Udah, lu mendingan istirahat aja," kata Julian.

Julian melangkah mendekati meja kecil di samping ranjang, menuangkan air putih dari teko kaca ke dalam gelas.

Dia menyerahkannya kepada Fano yang masih terbaring kaku dengan mata membelalak panik.

Bagi mereka bertiga, penjelasan logis seperti rasa pening akibat racikan alkohol mahal jauh lebih menenangkan untuk diterima, ketimbang harus berhadapan dengan kemungkinan seperti yang di katakan oleh Fano.

Fano menerima gelas itu dengan jemari gemetar hebat. Air di dalam gelas berkecak-kecak meluap ke tangannya.

Dia menatap Julian, Adrian, dan Rian bergantian dengan rasa frustrasi yang membakar dada. Gelak tawa serta celotehan meremehkan dari ketiga sahabatnya terasa seperti jarum halus yang menusuk-nusuk saraf otaknya.

Mereka tidak mengerti, atau lebih tepatnya, menolak untuk percaya.

"Kalian gak faham..." Ujst Fano dengan suara parau yang mendesis di tenggorokannya.

"Gue ngerasain jarinya di leher gue, dingin banget, tebel, dan kenceng banget."

"Cukup, Fan." Kata Julian, santai. Mata Julian berkilat tajam, memutus kalimat Fano sebelum nama itu kembali tersebut di udara.

"Gue bilang istirahat, ya istirahat. Jangan ngelindur bawa-bawa hal yang gak ada hubungannya!"

Suasana kamar perawat VIP bernuansa putih itu mendadak hening seketika. Adrian dan Rian yang tadinya terkekeh pelan kini menyilangkan tangan, mengalihkan pandangan ke sudut-sudut ruangan dengan canggung.

Julian menghela napas panjang, berusaha meredakan emosinya yang mendadak menyulut. Ia mengusap wajahnya sebentar, lalu menepuk pelan kaki Fano yang tertutup selimut tebal.

"Kita bertiga balik ke kantor dulu. Nanti sore atau besok kita mampir lagi. Lu tenangin pikiran lu," ucap Julian dingin, membalikkan badan menuju pintu keluar diikuti oleh Adrian dan Rian yang berjalan terburu-buru tanpa mengcapkan kata perpisahan lagi.

Suara dentam pintu kamar yang tertutup rapat meninggalkan Fano sendirian dalam kesunyian. Fano memejamkan mata rapat-rapat, atas kasur rumah sakit.

Namun, saat keheningan itu makin larut, pendingin udara di sudut ruangan mendadak berembun tebal.

Di atas permukaan kaca jendela kamar yang memburam karena suhu dingin, perlahan-lahan terbentuk bekas cetakan lima telapak tangan kurus berukuran kecil yang membiru, seolah-olah ada seseorang yang sedang berdiri mematung di balik kaca, memperhatikan Fano dari kegelapan.

Kepergian Julian, Adrian, dan Rian meninggalkan rasa hampa yang mencekam, diiringi suara dengung mesin pendingin ruangan yang mendadak terdengar kian nyaring.

Fano menghela napas panjang, mencoba mengabaikan rasa frustrasi di dadanya. Namun, perlahan-lahan udara di dalam kamar rawat itu berubah menjadi sedingin es.

Tuk... Tuk... Tuk...

Fano mematung. Suara langkah kaki arah lorong kamar mandi di dalam ruangan itu. Langkahnya pelan, seret, mendekat secara perlahan menuju tepi ranjangnya..

"Si... siapa?!" jerit Fano dengan suara parau. Ia berusaha mengangkat tubuhnya, namun seluruh persendiannya mendadak kaku dilumpuhkan rasa takut yang amat sangat.

Dari sudut remang-remang di dekat lemari pakaian, sesosok tubuh wanita bertubuh kurus kering perlahan melangkah keluar.

Gaun putih kusam yang dikenakannya bernoda darah basah yang menetes satu per satu ke atas lantai. Rambut hitamnya yang panjang dan lengket terurai menutupi seluruh wajahnya.

Lampu neon di langit-langit kamar mendadak berkedip liar sebelum akhirnya mati total, menyisakan kegelapan pekat yang hanya diterangi kerlip redup layar pemantau medis.

Tiba-tiba, sosok itu sudah berada tepat di atas tubuh Fano. Wajahnya yang tertutup rambut menunduk sangat dekat, hanya berjarak beberapa sentimeter dari mukanya.

Napasnya menguliti kulit pipi Fano, diiringi suara tangisan memilu yang berubah menjadi bisikan tajam.

"Kau pikir bisa lepas..."

Dua tangan pucat bertangan dingin sekeras besi meluncur cepat mencekik leher Fano. Cengkeraman itu begitu kuat hingga tenggorokannya serasa remuk.

Fano tidak bisa bernapas, dadanya terhalang udara yang tersumbat, dan matanya membelalak memerah menatap kegelapan di atasnya.

Dia berontak histeris, mencakar-cakar udara kosong, tetapi cengkeraman maut itu makin dalam menusuk urat lehernya.

"Ugh! Akh... Mmph!"

Fano tersentak hebat, dadanya melonjak kencang saat matanya terbuka lebar.

Napasnya memburu liar, naik-turun bagai orang tenggelam yang baru muncul ke permukaan.

Keringat dingin mengucur deras dari dahi hingga membasahi bantal rumah sakit. Pandangannya yang buram perlahan menguji sekelilingnya.

Lampu neon kamar itu masih menyala terang benderang.

Suara dari alat pemantau detak jantung terdengar konstan dan normal, tidak ada sosok wanita bertubuh kurus, dan tidak ada tangan dingin yang mencekik lehernya.

Fano menyentuh lehernya dengan jemari yang bergetar hebat. Itu hanya mimpi buruk, sebuah ilusi mengerikan yang diciptakan oleh trauma dan otak bawah sadarnya yang terluka.

1
Siti Yatmi
jauh dilubuk hati nya julian mah ketar ketir ..wk2....tunggu aja nt tiba saat lu ngerasain...
thor semangat yah up nya
Riska Salahudin
sudah lama tidak jumpa thor
Siti Yatmi
tunggu giliran kamu julian...sabar yah..nunggu antrian....pasti kamu kebagian, dan kamu yg spesial hukuman nya....
Nurr Tika
lanjut
Siti Yatmi
thorrrr lanjuttt
Siti Yatmi
tumben ga up....bolak balik buka??
Siti Yatmi
jgn bunuh dulu sab...trus teror..biar ilang tuh kewarasan nya
Siti Yatmi
syukurin luh...biarin..siapa suruh jahat
Siti Yatmi
setannya pengen nonton tv kali ....kan dikuburan ga ada tv
Siti Yatmi
sama ortu nya mah pada takut..taoi kelakuan kaya setan...
Siti Yatmi
sebentar lagi lo game over ..bye2 juliannnnnn
Siti Yatmi
mampus lu adrian...
Siti Yatmi
jiahhhh..katanya berkuasa...ayo dong lawan tuh setan,,,laporin ke polisi tuh setan
Siti Yatmi
nah..kan..adrian..nikmatilah...rasakanlah....
Siti Yatmi
lu pada sinting
Siti Yatmi
jadi menitikan air mata....
Siti Yatmi
hidup itu 2 pilihan, bodoh atau pintar,,sayang sabrina pilih bodoh....akhir nya, udh pasti tdk berdaya...
Siti Yatmi
pasti..itu video yg sabrina diperkosa sm 2 preman ..hadehhh
Siti Yatmi
owlah...pantes temen2 nya di teror and dimatiin....wajar sih...mending dihukum setan ketibang polisi ..💪sabrina
Siti Yatmi
ya Allah sabbb...melas banget sm nasib mu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!