Bagi dunia, Hades Sterling adalah pengusaha kejam yang tak tersentuh. Namun bagi Persephone Sinclair, dia adalah suami posesif yang memanggilnya "Ma chérie". Percy suka petualangan dan kegilaan keliling dunia, sementara Hades suka membiarkannya bebas, dalam pengawasan ratusan pengawal bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Langit London menyambut kedatangan jet pribadi keluarga Sterling dengan selimut kabut kelabu tipis yang menggantung rendah di atas Sungai Thames. Udara dingin khas Inggris langsung menusuk kulit begitu pintu kabin terbuka. Namun, bagi Percy, hawa dingin tersebut justru terasa menyegarkan, sebuah kontras yang menyenangkan setelah berminggu-minggu terkurung dalam pengawasan ketat di dalam benteng mewah Manhattan.
Di belakang Percy, Zeus melangkah turun dengan mantel wol hitam panjang yang ukurannya disesuaikan khusus untuk bocah empat tahun, lengkap dengan kacamata hitam kecil bertengger di hidungnya. Di tangan kanannya, ia menggenggam miniatur mobil klasik Inggris pemberian sang mommy.
Hades menyusul di belakang mereka, mengenakan mantel panjang berwarna arang dengan kerah ditegakkan. Aura dominasi mutlak sang penguasa langsung mendominasi landasan pacu pribadi Bandara Farnborough. Barisan pengawal berpakaian jas rapi telah bersiaga di samping tiga unit mobil Rolls Royce hitam legam yang berbaris rapi, siap mengantar keluarga itu menuju hotel eksklusif di jantung kota London.
"Ingat aturan main kita, Ma chérie," bisik Hades tajam, merangkul pinggang Percy erat-erat saat mereka berjalan menuju kendaraan. "London bukan Paris. Lingkaran elit di sini jauh lebih berbahaya, dan pergerakan kita diawasi oleh dewan faksi lama."
Percy mendengus ringan, menepis pelan tangan Hades dengan gaya anggun namun menantang. "Tenanglah, Tuan Sterling. Aku tidak datang untuk memicu perang dunia ketiga. Aku hanya ingin menikmati teh sore, mengunjungi toko mainan terbesar di Regent Street, dan mungkin... melihat bagaimana para bangsawan bawah tanah itu gemetar saat melihat suamiku datang."
Hades mendengus, setengah jengkel namun tak kuasa menahan senyuman tipis yang terpatri di sudut bibirnya. Ia tahu betul, keberadaan Percy selalu menjadi magnet bagi kekacauan.
Sore menjelang ketika konvoi mobil mewah Sterling berhenti di depan sebuah toko mainan terbesar dan paling ikonis di Regent Street. Atas instruksi langsung dari Hades, seluruh lantai utama toko tersebut telah dikosongkan dari pengunjung umum demi keamanan sang pewaris takhta.
Namun, bagi Zeus kecil, pengosongan tempat itu sama sekali tidak mengurangi keseruannya. Bocah empat tahun itu berjalan berlari kecil di antara deretan rak set permainan raksasa, didampingi oleh tiga orang pengawal berbadan kekar yang tampak kaku membawa keranjang belanjaan penuh dengan mainan robot edisi terbatas.
Di sudut ruangan, duduk di atas sofa velvet merah bergaya Victoria, Percy menyesap secangkir earl grey tea hangat yang disiapkan khusus oleh pelayan pribadi mereka. Di sampingnya, Hades berdiri tegak dengan tangan bersidekap di dada, manik mata kelabunya terus mengawasi setiap gerak-gerik sang putra sekaligus memastikan tidak ada celah keamanan sekecil apa pun di dalam gedung berlantai lima itu.
"Kau terlalu tegang, Hades," ujar Percy tanpa mengalihkan pandangannya dari cangkir teh porselen di tangannya. "Bahkan di toko mainan pun kau memasang ekspresi seolah-olah kita sedang berada di zona pertempuran."
Hades melirik istrinya dengan tatapan dingin penuh makna. "Aku tidak tegang, Percy. Aku hanya memastikan bahwa tidak ada lagi 'kejutan' tidak diinginkan seperti di Paris kemarin. Faksi London berbeda. Mereka bermain dengan politik bayangan dan racun, bukan tembakan membabi buta."
Percy tersenyum miring, meletakkan cangkirnya ke atas meja kecil. Ia berdiri, merapikan mantel kasmirnya, lalu berjalan mendekati suaminya. Tangannya yang lentik terulur merapikan kerah kemeja Hades dengan gerakan lambat yang disengaja.
"Justru karena mereka bermain dengan politik bayangan, kita harus memberi mereka sedikit pertunjukan nyata," bisik Percy tepat di depan bibir Hades, suaranya mengandung nada menggoda yang mematikan. "Bagaimana kalau malam ini, di gala perayaan seni kuno itu, kita tunjukkan kepada mereka siapa penguasa sebenarnya di atas tanah Inggris ini?"
Hades menatap manik mata amber istrinya yang berkilat penuh kenakalan. Alih-alih marah, tangan besar Hades langsung mencengkeram tengkuk Percy, menarik wanita itu dalam ciuman dalam yang menuntut dan penuh kepemilikan di tengah sunyinya lantai toko mainan tersebut.
Malam menyelimuti distrik elit Mayfair dengan kemegahan lampu kristal jalanan yang memantul di atas aspal basah usai diguyur hujan gerimis. Di dalam kamar suite mewah sebuah hotel bersejarah, persiapan untuk gala perayaan dekade perdagangan seni kuno sedang berlangsung dalam keheningan yang penuh konsentrasi.
Percy berdiri di depan cermin besar berbingkai ukiran emas. Ia mengenakan gaun malam halter neck berwarna hitam pekat berbahan sutra satin yang memeluk tubuhnya sempurna, dengan belahan tinggi di sisi kiri yang mengekspos jenjang kakinya yang indah. Di leher jenjangnya, melingkar kalung berlian tua berukuran besar warisan keluarga Sterling yang memancarkan kilau dingin luar biasa.
Pintu kamar terbuka perlahan, memperlihatkan Hades yang sudah siap dengan setelan tuksedo hitam klasik buatan tangan penjahit Savile Row. Pria itu tampak bagaikan malaikat maut berbalut kemewahan berbahaya, elegan, dan mutlak tak tersentuh.
Manik mata kelabu Hades terpaku pada pantulan sang istri di cermin. Untuk sepersekian detik, napas pria itu tertahan. Ia melangkah mendekat tanpa suara, melingkarkan kedua lengannya di pinggang Percy dari belakang, lalu mendaratkan ciuman lembut di bahu telanjang wanita itu.
"Kau berniat membuat seluruh petinggi faksi London mengalami serangan jantung malam ini, Ma chérie?" bisik Hades berat di dekat telinga Percy.
Percy tersenyum miring, memutar tubuhnya menghadap sang suami, lalu meringankan tangannya di pundak Hades. "Aku hanya ingin memastikan mereka ingat siapa ratu yang sebenarnya memegang kendali di dunia bawah."
Di ambang pintu kamar penghubung, Zeus kecil muncul dengan setelan tuksedo mini yang persis sama seperti ayahnya, lengkap dengan dasi kupu-kupu kecil berwarna hitam. Bocah itu menguap kecil sambil menggosok matanya.
"Zeus ikut ke pesta?" tanya bocah itu dengan suara serak khas kantuk, namun manik matanya tetap tajam menatap kedua orang tuanya.
Hades berlutut, merapikan kerah tuksedo putranya. "Tidak, jagoan. Malam ini kau dijaga oleh tim pengamanan khusus di suite ini. Pesta orang dewasa tidak cocok untuk bos kecil."
Zeus mendengus kecil, melipat tangannya di dada dengan gaya arogan yang sangat mirip ayahnya. "Baiklah. Tapi pastikan makan malam Zeus datang tepat waktu, Daddy."
Gedung galeri seni kuno di kawasan Kensington tampak bermandikan cahaya kemerahan dari lampu sorot eksterior yang megah. Ratusan tamu undangan yang terdiri dari para kolektor seni terkaya di dunia, politisi korup, hingga para petinggi sindikat kriminal bawah tanah Eropa berkumpul di ruang dansa utama yang luas beratap kubah kaca klasik.
Suasana ruangan yang awalnya diisi oleh alunan musik klasik orkestra dan bisikan percakapan bisnis mendadak membeku seketika ketika pintu utama balroom berukuran besar terbuka lebar secara otomatis.
Semua pasang mata menoleh ke arah pintu.
Hades Sterling melangkah masuk terlebih dahulu, posturnya yang tinggi tegap memancarkan aura dominasi mutlak yang membuat seluruh orang di ruangan itu serta merta menahan napas. Di sampingnya, menggandeng lengan kokoh sang penguasa, Percy melangkah dengan anggun di atas sepatu hak tinggi berbalut kristal. Kilau berlian di leher Percy dan tatapan tajam manik mata ambernya menyapu ruangan bagaikan seorang ratu yang sedang meninjau wilayah taklukannya.
Bisikan-bisikan tertahan langsung menyebar di antara para tamu undangan. Beberapa pemimpin faksi lama London yang tadinya duduk santai di sudut ruangan mendadak menegakkan punggung mereka, wajah mereka pucat pasi menyadari bahwa kehadiran sang penguasa imperium Sterling bukanlah kunjungan kehormatan biasa ini adalah eksekusi berjalan.
"Selamat malam, Tuan Sterling... dan Nyonya Sterling," sambut seorang pria tua berbalut jas putih formal dengan tangan gemetar, ketua dewan perdagangan seni kuno London, yang berjalan mendekat dengan senyuman kaku di wajahnya. "Sebuah kehormatan luar biasa... kami tidak menyangka Anda akan hadir secara langsung."
Hades bahkan tidak melirik pria tua itu. Manik mata kelabunya menatap lurus ke depan dengan dingin, sementara tangannya semakin mengeratkan genggaman di pinggang Percy.
"Aku tidak datang untuk mendengarkan basa-basi busuk kalian, Lord Sterling," suara Hades bergemuruh rendah, memecah kesunyian ruangan tanpa menggunakan mikrofon. "Aku datang untuk memastikan bahwa batas wilayah kekuasaan kalian di tanah Inggris ini masih diingat dengan baik."
Pria tua itu menelan ludah susah payah, keringat dingin membasahi pelipisnya. "Tentu saja... imperium Sterling adalah hukum mutlak di sini. Tidak ada satu pun yang berani melangkah melewati garis."
Percy tersenyum tipis senyuman manis yang justru terlihat sangat mematikan di bawah temaram lampu kristal balroom. Ia menatap berkeliling ke arah para tamu undangan yang kini tertunduk kaku, tidak berani membalas tatapannya.
"Baguslah kalau kalian tahu diri," bisik Percy cukup keras untuk didengar oleh orang-orang di sekitarnya. "Karena jika ada yang mencoba bermain-main di belakang suami ku lagi... aku sendiri yang akan merobek imperium kecil ini dari akarnya."
Pesta malam itu berakhir jauh lebih cepat dari yang dijadwalkan oleh para tuan rumah di London. Tidak ada dansa perayaan, tidak ada pidato panjang lebar, yang ada hanyalah teror psikologis mutlak yang ditinggalkan oleh keluarga Sterling di tengah balroom yang megah.
Di dalam limusin lapis baja yang meluncur membelah jalanan malam London menuju landasan pacu pribadi, suasana terasa begitu tenang. Percy menyandarkan kepalanya di bahu Hades, menikmati kehangatan tubuh suaminya sementara jemari mereka saling bertaut erat di atas konsol tengah mobil.
"Kau benar-benar menikmati teror malam ini, Ma chérie?" tanya Hades rendah, membelai lembut helaian rambut chesnut istrinya.
Percy menutup matanya perlahan, menyunggingkan senyuman puas di bibirnya. "Aku hanya memastikan mereka tidak lupa siapa pemilik rantai di leher mereka, Hades. Dunia ini terlalu membosankan jika tidak ada sedikit ketegangan."
Hades mendengus pelan, mengecup pucuk kepala Percy penuh kepemilikan. "Tidurlah, Ratu Sterling. Besok pagi, kita kembali ke Manhattan. Jagoan kita sudah menunggu di rumah."
Dan di bawah langit malam kota London yang berkabut, limusin hitam itu melesat cepat, membawa serta sang penguasa dan ratunya kembali ke dalam dekapan imperium yang tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh siapapun.