Aku Assasin Terkuat yang tak terkalahkan, bahkan setelah menjadi seorang kakek tua, tidak ada yang bisa membunuh ku.
"Hidup ku bosan. aku harap... aku bisa bertemu dengan musuh yang lebih kuat dari ku..."
Tenyata keinginan ku Terkabul!
Setelah aku mati oleh serangan jantung, Aku di hidup kan kembali di dunia Murim... di dunia yang banyak sekali Petarung yang sangat kuat.
ini perjalanan ku sebagai Assasin Terkuat di dunia modern, sekarang hidup di dunia murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bonggiw01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Memilih Takdir
Ryan tetap tenang, menunggu.
“Sepuluh tahun lalu, Raja Kultus Iblis menculik seorang anak berusia sepuluh tahun,” ujar Franz. “Sejak itu, bocah itu dilatih langsung oleh Raja sendiri. Selama sembilan tahun penuh.”
Ryan bergumam lirih, “Dilatih langsung oleh Raja…?”
“Ya. Dan tepat ketika kalian lulus dari pelatihan keras Kultus, bocah itu juga menyelesaikan latihannya. Dia… berbeda. Darahnya dingin, kekuatannya liar.” Franz menatap tajam. “Beberapa hari lalu, bocah itu mengalahkan Tangan Kanan Raja Kultus Iblis.”
Ryan membelalak. “Apa?! Mengalahkan tangan kanan? Itu tidak masuk akal!”
“Bukan hanya mengalahkan. Dia membunuhnya,” Franz menegaskan. “Dan sekarang dia telah diangkat menjadi Tangan Kanan yang baru. Tangan Kanan termuda sepanjang sejarah Kultus.”
Franz melanjutkan. "Kekuatan bocah itu mengerikan. Lebih kejam dari siapapun. Dia tidak punya kendali atas emosinya. Dan sekarang… dialah pewaris tahta Kultus Iblis.”
Ryan menghela napas. “Aku masih belum mengerti. Apa hubungannya denganmu menyuruhku keluar?”
Franz mendekat, suaranya menurun jadi dingin.
“Kondisi Raja memburuk. Cepat atau lambat, ia akan tumbang. Dan saat itu terjadi… bocah itu akan naik takhta. Kultus Iblis akan jatuh ke dalam kekacauan, terbakar oleh ambisi dan kekejamannya. Jika kau tetap di dalam, Ryan… kau akan ikut hancur bersama mereka.”
Ryan menatap Franz lekat-lekat. Angin malam berhembus, membawa ketegangan yang pekat.
“Apa sebenarnya yang ingin kau sampaikan padaku?” Ryan tidak ingin berbasa-basi. “Aku tidak bisa memahami tujuanmu mengatakan hal-hal itu pada ku.”
Franz menarik napas panjang. “Ryan… kau pasti sudah merasakannya. Instingku sangat tajam. Aku sudah memperhitungkan banyak hal. Dan aku bisa memastikan… dalam lima tahun ke depan, tidak akan ada satu orang pun di benua ini yang mampu mengalahkan bocah itu.”
Ryan mengerutkan kening. Franz menatapnya lebih dalam, lalu melanjutkan dengan suara lebih berat.
“Tapi pada akhirnya… aku menemukanmu, Ryan. Aku melihatnya. Kau satu-satunya orang yang memiliki potensi untuk melampaui bocah itu. Jika kau tetap berada di dalam Kultus Iblis, tiga perempat manusia di benua ini akan lenyap. Namun, jika kau keluar dan menjadi lawannya, keseimbangan Benua ini masih bisa terjaga… meski hanya sementara.”
Ryan diam beberapa saat, menimbang kata-kata itu. “Apa maksudmu? Dengan ucapanmu barusan… apakah ini bisa dikatakan kau ingin berkhianat pada Kultus Iblis?”
Franz menunduk sejenak. “Ya. Sekarang Aku sudah memiliki istri dan anak. Aku ingin melindungi mereka. Jadi, meskipun harus disebut pengkhianat, aku akan melakukannya demi keluarga.”
Ryan memperhatikan sorot mata Franz. Tidak ada kebohongan di sana. Yang terlihat hanyalah kesungguhan seorang pria yang rela mempertaruhkan segalanya demi orang yang ia cintai.
“Jadi,” gumam Ryan pelan, “kau ingin aku keluar dari Kultus Iblis… dan menghadapi bocah itu?”
Franz mengangguk pelan. “Namanya Lucas. Dia adalah anak dari pria terkuat di benua ini... Kyros.”
Ryan terdiam. 'Lucas?! Putra dari Kyros? Apa jangan-jangan… dia saudara tubuh bocah ini?!'
Ia menunduk sedikit, tersenyum miring. 'Ho… ini semakin menarik. Sepertinya bentrokan di masa depan akan berubah menjadi perang besar yang sangat dahsyat'
Tatapan Ryan kembali pada Franz. “Namamu Franz bukan? Orang sekuat dirimu takut kehilangan keluarga? Apa kau benar-benar ketakutan dengan bocah bernama Lucas itu?”
Franz menatap Ryan tanpa ragu. “Benar. Aku takut. Kekuatan bocah itu melampaui bayanganku. Aku tidak akan pernah bisa bertahan melawan dia. Dan dia pasti akan membunuh keluarga ku jika tahu aku sudah melunak.”
Ryan mendengus pelan. “Lalu, kau ingin menggunakan aku untuk melawan dia?” tanyanya dingin.
Franz menggeleng. “Tidak. Aku hanya… memilih siapa yang layak kuikuti. Dan aku memilihmu, Ryan.”
Ryan menatapnya tajam. “Memilih? Kenapa kau memilihku, bukan dia?”
“Karena dibanding Lucas, kau lebih tenang. Kau lebih matang dalam mengambil keputusan. Kau tidak mengumbar amarah seperti anak kecil. Saat aku melihatmu… aku merasa seperti melihat bayangan Raja Kultus Iblis ketika beliau masih muda dulu.” Suara Franz begitu dingin namun penuh keyakinan.
Ryan terdiam. 'Sial… apa dia menganggapku seperti itu karena aku menyelamatkan anak-anak buahku kemarin? Apa aku sudah jadi lembek? Sejak kapan aku seperti ini?'
Ryan menghela napas, menutup matanya sejenak lalu menatap Franz kembali.
“Franz… aku tidak bisa mengikuti ucapanmu begitu saja.”
Franz terkejut. “Apa?! Jadi kau ingin menjadi bawahan Lucas?”
Ryan menggeleng. “Tidak. Jika kondisi Raja Kultus Iblis benar-benar memburuk dan Lucas menggantikan posisinya… sudah di pastikan aku akan keluar dari Kultus Iblis. Tapi aku juga tidak akan bergabung dengan Aliansi Pedang Tujuh Langit, atau dengan Ordo Cahaya Senja.”
Ryan mengangkat kepalanya. “Aku akan mendirikan kelompokku sendiri. Dan ketika waktunya tiba… aku akan menghadapi semua kelompok, semua aliansi, bahkan Kultus Iblis sendiri. Aku akan menginjak semua yang berdiri di hadapanku.”
Angin malam semakin kencang, seolah menegaskan pernyataan Ryan.
Franz menyeringai, seulas senyum tipis menghiasi wajah dinginnya.
“Kalau begitu… izinkan aku menjadi pengikut pertamamu. Aku tidak peduli dengan tujuanmu. Aku hanya ingin satu hal... melindungi keluargaku. Jika dengan berada di sisimu aku bisa melakukan itu, maka aku akan menjadi pedangmu.”
Ryan menatapnya lama, kemudian tersenyum tipis. “Menarik. Sangat menarik. Kalau begitu… mungkin aku benar-benar harus membangun kerajaanku sendiri.”
Malam itu, Ryan mendengar sebuah rahasia yang mengubah segalanya.
Rahasia tentang bocah bernama Lucas, yang ternyata adalah saudaranya sendiri, sekaligus pewaris tahta Kultus Iblis.
Ryan mengepalkan tangan. “Di dunia ini, aku akan mengumpulkan kekuatan. Aku akan berdiri di puncak, di atas segalanya, sampai tidak ada lagi yang bisa memerintahku.”
Tekadnya sudah bulat. Dia sudah mengambil tujuan baru.
----------
Matahari pagi perlahan naik dari ufuk timur,
Ryan berdiri tegap di atas sebuah batu besar.
Di bawahnya, dua puluh anak buahnya berdiri membentuk setengah lingkaran, menatap ke arah pemimpin mereka dengan rasa penasaran.
“Semua dengarkan aku,” suara Ryan tenang. “Ada sesuatu yang harus kusampaikan. Hal ini akan menentukan jalan kita ke depan.”
Barnett mengangkat tangan. “Apa itu, Pemimpin? Apakah kita punya misi baru?”
Tarya menimpali, “Benar… apakah tujuan kita berubah?”
Ryan menutup matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu menatap mereka semua dengan tatapan tajam.
“Mulai hari ini… aku akan keluar dari Kultus Iblis.”
“A—Apa?!” teriak hampir semua orang serentak.
Karl maju selangkah, wajahnya penuh amarah. “Ryan! Apa yang kau katakan? Itu artinya kau berkhianat pada Kultus Iblis!”
“Benar!” sahut Sadel, suaranya bergetar antara marah dan takut. “Kau ingin jadi target seluruh anggota Kultus Iblis? Apa kau sudah gila?!”
Barnett mendengus kasar. “Jangan bilang kau berniat bergabung dengan Aliansi Pedang Tujuh Langit. Jangan bercanda dengan kami!”
Namun Ryan tetap tenang, sama sekali tidak goyah oleh teriakan mereka.
“Kalian salah. Aku keluar dari Kultus Iblis, tapi aku tidak akan bergabung dengan siapapun. Tidak dengan Aliansi Pedang Tujuh Langit, tidak dengan Ordo Cahaya Senja.”
Leo menatapnya dengan bingung. “Lalu… apa tujuanmu dengan keluar dari Kultus Iblis?”
Ryan mengangkat dagunya sedikit. “Aku tidak ingin diperintah oleh siapa pun. Karena itu, aku akan mendirikan kelompokku sendiri. Jalan yang kutempuh… adalah jalanku sendiri.”
Seketika suasana meledak.
“Kau sudah gila!” Barnett meraung marah. “Apa kau pikir kau setara dengan para dewan Kultus Iblis hanya karena sedikit lebih kuat dari kami?!”
“Benar! Jangan besar kepala, Ryan! Kau masih lemah di depan para petinggi!” Karl menambahkan dengan kesal.
“Itu ide konyol, kau pikir keluar dari Kultus semudah itu?” ucap Vierra dengan suara penuh sindiran.
Namun Ryan hanya menatap mereka dengan ketenangan. “Aku tidak akan memaksa. Siapa yang ingin tetap di Kultus Iblis, silakan. Aku hanya memilih jalanku sendiri. Dan aku tidak keberatan jika pada akhirnya… tidak ada seorang pun dari kalian yang mengikutiku.”
Hening sesaat, sampai akhirnya seorang wanita maju.
“Aku akan mengikutimu, Ryan” ucap Bella dengan suara tegas. Ia berdiri di belakang Ryan tanpa ragu.
Calvin mengepalkan tinjunya. “Aku juga! Bahkan jika harus menghadapi musuh terkuat, aku akan tetap di sisimu sampai mati, Pemimpin!”
Yovi melangkah maju. “Firasatku mengatakan… mengikuti jalanmu adalah pilihan yang benar. Maka aku pun akan ikut.”
Ryan menoleh sebentar. “Terima kasih, Bella, Calvin, Yovi. Kalian adalah anggota awal dari kelompok baruku. Mulai sekarang… kita akan memulai segalanya dari nol.”
Leo menunduk, wajahnya penuh kekecewaan. “Ryan… kau telah memecah belah tim kita. Kau mendapat kepercayaan sebagai pemimpin, tapi kau justru meninggalkan kami. Kau mengkhianati segalanya yang telah kita bangun.”
Ryan menatapnya, matanya dalam tapi dingin. “Maafkan aku Leo… tapi aku tidak melihat masa depan di dalam Kultus Iblis.”
Barnett maju lagi, matanya membara oleh emosi. “Kalau begitu dengarkan aku baik-baik, Ryan! Jika suatu hari kita bertemu di medan perang… aku tidak akan ragu membunuhmu!”
Calvin langsung melangkah ke depan, wajahnya penuh amarah. “Jaga ucapanmu, Barnett! Seumur hidupmu, kau tidak akan pernah bisa menyentuh pemimpin kami!”
“Cukup.” Ryan mengangkat tangan, menghentikan mereka. “Kita pernah menjadi teman. Meski hanya sampai detik ini. Jika suatu hari perang pecah, dan kalian berdiri di jalanku… aku tidak akan ragu untuk membunuh kalian. Jadi, sebaiknya, kalian lari sejauh mungkin jika kalian melihatku nanti.”
Keheningan menyelimuti tempat itu. Angin pagi berhembus, membawa aroma dedaunan basah, seolah ikut merasakan perpisahan yang getir itu.
Ryan menundukkan kepala sedikit. “Untuk menghormati pertemanan kita… aku akan melepaskan kalian semua tanpa darah. Jadi… selamat tinggal.”
Tanpa menoleh lagi, ia turun dari batu besar itu, melangkah pergi dengan mantap.
Bella, Calvin, dan Yovi mengikuti di belakangnya, langkah mereka penuh keyakinan.
Di tempat itu, perpecahan resmi terjadi.
Pasukan Kultus Iblis wilayah 05 kini terbelah, dan Ryan memilih takdir untuk membuat kelompok terkuat nya.