Indonesia
NovelToon NovelToon
SESALMU YANG TERLAMBAT

SESALMU YANG TERLAMBAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

perkenalan yang direncanakan

Makan malam dengan keluarga Hartono berlangsung sesuai jadwal, kali ini dengan suasana yang terasa lebih formal dan penuh perhitungan dibandingkan pertemuan pertama beberapa bulan lalu. Ibu Retno telah mempersiapkan segalanya dengan sangat detail, termasuk mengundang beberapa kerabat dekat sebagai saksi tidak langsung dari rencana besar yang ingin ia wujudkan.

"Raka, kamu ingat kan tujuan makan malam ini?" tanya Ibu Retno sebelum tamu-tamu tiba, nadanya penuh penekanan.

"Ingat, Ma. Bahas soal... pertunangan," jawab Raka dengan berat hati.

"Ibu harap kamu bisa bersikap terbuka malam ini. Jangan seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya."

Raka tidak menjawab, hanya mengangguk pelan sambil menahan gejolak emosi yang terus bergejolak sejak beberapa hari terakhir. Tidak lama kemudian, keluarga Hartono tiba, disambut dengan keramahan khas yang selalu ditunjukkan Ibu Retno kepada kolega-kolega bisnis pentingnya.

Melati tampak lebih anggun dari pertemuan sebelumnya, mengenakan gaun formal berwarna merah marun yang membuatnya terlihat semakin dewasa. Ia tersenyum ramah ketika berjabat tangan dengan Raka, meski ada kegugupan yang tersirat jelas di matanya.

"Senang bisa ketemu lagi, Raka,"

katanya sambil duduk di kursi yang telah disiapkan untuknya, tepat di sebelah Raka.

"Senang ketemu kamu juga, Melati,"

jawab Raka dengan nada yang berusaha terdengar ramah, meski jelas dipaksakan.

Makan malam berlangsung dengan obrolan formal seperti biasa, membahas berbagai topik mulai dari perkembangan bisnis kedua keluarga hingga rencana-rencana masa depan yang ingin dicapai. Namun kali ini, pembicaraan mulai mengarah lebih spesifik pada topik yang sebenarnya menjadi tujuan utama pertemuan tersebut.

"Bagaimana kalau kita bicarakan langsung soal rencana pertunangan?" kata Ibu Hartono akhirnya, memecah suasana formal yang mulai terasa canggung.

"Melati dan Raka sudah cukup lama saling kenal. Kami rasa sudah waktunya untuk melangkah lebih serius."

Raka merasakan seluruh mata di ruangan itu tertuju padanya, menunggu responsnya dengan penuh harap. Ia menatap sekilas ke arah ibunya yang memberikan tatapan penuh penekanan, seolah memperingatkan agar tidak mengecewakan harapan yang telah dibangun sedemikian rupa.

"Saya menghargai kepercayaan yang diberikan keluarga Hartono," kata Raka akhirnya, memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati.

"Tapi saya rasa, keputusan sepenting ini butuh waktu lebih lama untuk dipertimbangkan matang-matang."

Jawaban itu jelas mengecewakan Ibu Retno, meski ia berusaha menyembunyikan kekecewaannya dengan senyum yang dipaksakan.

"Maksud Raka, dia masih ingin memastikan semuanya berjalan sesuai kesiapan kedua belah pihak. Bukan berarti menolak, kan, Raka?"

"Betul, Ma," jawab Raka, meski jelas ia menggunakan kalimat itu sebagai jalan keluar sementara dari tekanan yang begitu besar.

Melati, yang sejak tadi diam mendengarkan, akhirnya angkat bicara dengan nada yang lembut namun penuh keberanian.

"Raka, saya rasa saya perlu bicara langsung sama kamu, tanpa perantara orang tua kita."

Permintaan itu mengejutkan semua orang di meja makan, namun Ibu Retno dengan cepat menangkap kesempatan itu.

"Bagus sekali. Kenapa kalian berdua tidak bicara di taman belakang? Biar lebih leluasa."

Di taman belakang rumah yang tenang, jauh dari suasana formal ruang makan, Raka dan Melati akhirnya bisa bicara empat mata untuk pertama kalinya sejak perkenalan mereka beberapa bulan lalu.

"Raka,"

Melati memulai, suaranya lebih santai dibandingkan saat berada di meja makan.

"Saya tau kamu nggak benar-benar tertarik sama rencana pertunangan ini."

Pengakuan jujur itu membuat Raka sedikit terkejut.

"Kenapa kamu bilang begitu?"

"Karena saya juga ngerasa hal yang sama," jawab Melati dengan senyum kecil yang penuh pengertian.

"Sejujurnya, saya setuju sama rencana ini awalnya karena tekanan dari orang tua saya juga. Tapi setelah beberapa kali ketemu kamu, saya sadar, kita berdua nggak punya chemistry yang cukup buat lanjut ke pernikahan."

Raka menatap Melati dengan rasa lega yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Saya juga ngerasa hal yang sama, Melati. Tapi saya nggak enak buat langsung nolak, mengingat posisi keluarga kita."

"Saya ngerti perasaan itu," Melati mengangguk pelan.

"Tapi saya rasa, lebih baik kita jujur dari awal daripada memaksakan sesuatu yang nggak akan membawa kebahagiaan buat kita berdua."

"Terima kasih udah jujur, Melati. Ini sangat membantu."

"Sama-sama," Melati tersenyum tulus.

"Boleh saya tanya sesuatu yang mungkin agak personal?"

"Silakan."

"Apa ada orang lain yang bikin kamu nggak bisa buka hati buat orang baru?"

Pertanyaan itu membuat Raka terdiam cukup lama, memikirkan jawaban yang tepat. Akhirnya, dengan berat hati, ia memilih untuk jujur.

"Iya, ada. Seseorang dari masa lalu yang... rumit."

"Saya rasa saya bisa menebak siapa," Melati tersenyum kecil.

"Staf baru yang katanya bikin kamu berubah sikap akhir-akhir ini, kan?"

Raka terkejut mendengar betapa banyak orang yang ternyata sudah menyadari perubahan sikapnya, meski ia sendiri berusaha keras menyembunyikannya.

"Bagaimana kamu tau soal itu?"

"Ibu saya cerita, katanya ibu kamu sempat curhat soal kekhawatirannya," jawab Melati jujur.

"Tapi saya rasa, Raka, kamu harus jujur sama diri kamu sendiri soal perasaan itu. Jangan biarkan tekanan keluarga membuat kamu kehilangan kesempatan buat bahagia dengan orang yang benar-benar kamu inginkan."

Kata-kata itu menyentuh bagian terdalam dari hati Raka, sebuah kejujuran yang datang dari orang yang seharusnya menjadi

"saingan"

namun justru memberikan pengertian yang tulus.

"Terima kasih, Melati. Kamu benar-benar baik hati."

"Saya cuma pengen kita berdua bahagia dengan cara masing-masing," jawab Melati sambil tersenyum.

"Ayo kita kembali, dan sampaikan pada orang tua kita bahwa kita sepakat untuk tetap berteman baik, tanpa melanjutkan ke arah pertunangan."

Kembali ke ruang makan, Raka dan Melati menyampaikan keputusan mereka dengan hati-hati, memilih kata-kata yang bisa mengurangi kekecewaan kedua orang tua tanpa merusak hubungan bisnis yang telah terjalin lama antara keluarga mereka.

Ibu Retno, meski awalnya tampak kecewa, akhirnya menerima keputusan itu dengan lapang dada setelah melihat kesungguhan dan kedewasaan yang ditunjukkan kedua anak muda tersebut.

"Ibu menghargai kejujuran kalian," katanya akhirnya, meski nada suaranya masih menyimpan sedikit kekecewaan.

"Yang penting, hubungan bisnis kedua keluarga tetap terjaga baik."

Malam itu berakhir dengan suasana yang jauh lebih ringan dari yang dibayangkan sebelumnya. Sepulang tamu-tamu, Ibu Retno menghampiri Raka yang baru saja mengantar keluarga Hartono ke pintu depan.

"Raka, Ibu perlu bicara sama kamu," katanya, nadanya lebih serius dari biasanya.

"Ada apa, Ma?"

"Soal staf kamu itu... Larasati," Ibu Retno melanjutkan, membuat Raka langsung waspada.

"Ibu rasa udah waktunya kita bicara jujur soal semua yang terjadi lima tahun lalu."

Kalimat itu membuat jantung Raka berdegup kencang, sebuah firasat kuat mulai muncul bahwa kebenaran yang selama ini ia cari mungkin akhirnya akan terungkap malam ini juga, dari mulut orang yang paling bertanggung jawab atas segala kesalahpahaman yang telah menghancurkan kebahagiaannya bertahun-tahun lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!