"Perhatian ini yang aku inginkan. Tapi ... kenapa rasanya asing?" ~Danira
...
Seperti biasa, Ezran pergi ke luar kota untuk mengurus bisnisnya. Danira dan kedua anak mereka sudah terbiasa dengan rutinitas itu.
Namun ketika Ezran kembali, ada sesuatu yang terasa berbeda.
Pria yang biasanya sibuk, cuek, dan selalu punya alasan untuk menolak menghabiskan waktu bersama anak-anak, kini justru menjadi jauh lebih perhatian.
“Ma, Papa ... aneh,” ujar Arelio, anak pertama mereka.
Senara pun, ikut memperhatikan. “Iya, tumben nda malah-malah macam Papa tili Cindelela?”
Danira hanya terdiam. Ia juga merasakan perubahan itu.
Ezran mulai mengantar anak-anak, membantu pekerjaan rumah, bahkan memperhatikan hal-hal kecil tentang Danira yang selama ini tak pernah ia pedulikan.
Awalnya Danira bahagia. Namun semakin lama, perubahan itu justru membuatnya curiga.
Apa yang sebenarnya terjadi selama Ezran pergi Dan mengapa pria yang kembali ke rumah itu terasa begitu berbeda dari suami yang ia kenal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Lebih Baik Berpisah?
Evran melangkah membelah heningnya malam menuju pintu depan. Rasa lelah luar biasa seolah meremukkan seluruh persendiannya, imbas dari pertengkaran hebat dengan Aruna siang tadi dan sandiwara gila yang menyita energinya. Namun, tatkala jemarinya mengoyak gagang pintu dan mendorongnya pelan, langkah pria itu mendadak terkunci rapat di ambang pintu.
Danira berdiri menyambutnya di balik remang lampu teras. Wanita itu mengulas senyum manis yang sangat melegakan. Namun, bukan hanya senyuman itu yang membuat Evran mematung membisu, melainkan penampilannya. Danira tidak lagi dibalut daster rumahan yang longgar atau rambut yang dicepol asal-asalan. Malam ini, ia tampil begitu memukau dalam balutan dress hitam elegan yang membingkai lekuk tubuhnya dengan sempurna. Riasan wajahnya terpoles natural, menonjolkan kecantikan alaminya yang selama ini tersembunyi.
Sejenak, Evran terpaku. Tak sanggup ia pungkiri dalam benaknya, wanita yang berdiri di hadapannya ini benar-benar sangat cantik.
"Mas, sudah pulang? Malam banget pulangnya," ucap Danira lembut. Wanita itu maju beberapa langkah, meraih tas kerja dan melonggarkan jas yang melekat di bahu Evran dengan gerakan yang amat telaten.
Evran berdeham pelan, berusaha menguasai diri dan berakting seolah-olah ia baru saja merampungkan pekerjaan korporasi di kantor Ezran, bukan seharian berkutat di dapur restoran miliknya.
"Iya ... lagi banyak pekerjaan di kantor yang harus diselesaikan," sahut Evran seadanya, mencoba bersikap sebiasa mungkin.
Ia melangkah masuk meninggalkan Danira yang merapikan barang-barangnya. Malam itu, perlakuan Danira begitu hangat dan penuh perhatian. Wanita itu sigap menyajikan makan malam hangat, menuangkan segelas air, hingga membimbing Evran untuk duduk di sofa ruang tamu. Tanpa diminta, Danira memijat lembut bahu dan punggung pria itu, mencoba mengurai ketegangan otot-otot suaminya. Sentuhan lembut itu terasa begitu nyaman, membuat Evran sempat memejamkan mata menikmati sensasi hangat yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, rasa nyaman itu seketika buyar oleh rasa bersalah yang mendadak menikam dadanya. "A-aku mau mandi dulu," pamit Evran. Pria itu buru-buru menyanggah dan beranjak berdiri untuk membersihkan diri di kamar mandi. Meninggalkan Danira yang terlihat kebingungan.
Seusai mandi dan membasuh tubuhnya dengan air dingin, Evran mengusap rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil. Ia mendorong pintu, berniat mengambil pakaian santai. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti di tengah ruangan. Matanya membelalak menatap pemandangan di depannya.
Danira berada di sana. Wanita itu tengah duduk bersandar di kepala ranjang utama, menunggunya.
Jantung Evran berdegup kencang secara tidak teratur. Biasanya, selama menyamar beberapa hari ini, Danira selalu tidur di kamar anak-anak bersama Senara, membiarkan Evran menempati kamar utama sendirian. Namun mengapa malam ini wanita itu justru berada di kamarnya?
Evran mematung di dekat lemari, memegangi pinggiran pintu dengan jemari yang mendingin. "Kamu ... enggak tidur bersama Sena di kamarnya?"
Danira menghentikan kegiatannya membaca buku, lalu mengalihkan pandangan lurus ke arah suaminya. Raut wajahnya mendadak berubah serius, memancarkan kepedihan yang tersimpan rapi selama bertahun-tahun.
"Mas, sampai kapan kamu mau terus membuang muka?" suara Danira terdengar tenang, namun sarat akan emosi yang menahan sesak.
"Maksudmu?" tanya Evran makin kikuk.
"Aku merasa kita harus memperbaiki hubungan ini, Mas. Kita tidak bisa terus-menerus menghindari masalah dan berpura-pura menganggap semuanya baik-baik saja," ujar Danira lirih. Matanya mulai berkaca-kaca menatap pria yang ia yakini sebagai suaminya itu. "Hubungan kita ini dingin ... sepi, seperti tidak ada jiwanya."
Evran membisu, lidahnya terasa kelu bagai terkunci rapat. Haruskah ia benar-benar tidur seranjang dengan wanita yang merupakan istri sah dari saudara kembarnya sendiri? Bayangan batas moral, pengkhianatan pada Aruna, serta dosa besar seolah membentang tebal di depan matanya.
Danira yang menangkap raut ketidaknyamanan, ketakutan, dan keraguan yang begitu jelas di wajah Evran seketika menghembuskan napas panjang yang terasa sangat berat. Senyum pahit terukir tipis di bibirnya yang bergetar.
"Sebenarnya ... apa yang salah denganku, Mas?" tanya Danira dengan suara yang mulai serak menahan tangis.
Evran tersentak. "Danira, bukan begitu—"
"Lalu kenapa?!" potong Danira cepat, menatap langsung ke dalam manik mata Evran. "Kenapa kamu selalu menolak dan tidak pernah mau sekamar lagi denganku? Penampilanku yang kurang menarik? Aku sudah mencoba berdandan malam ini, Mas. Aku mencoba merapi-rapikan diriku seperti yang kamu mau, tapi kamu bahkan tidak berselera melihatku!"
"Demi Tuhan, Danira, kamu sangat cantik malam ini. Sungguh," potong Evran jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Kalau aku cantik, lalu kenapa kamu menyentuhku saja tidak mau?!" cecar Danira dengan air mata yang akhirnya menetes membashi pipinya. "Setiap kali aku mendekat, kamu selalu menarik diri. Kamu selalu cari alasan untuk tidur terpisah! Kalau memang kamu sudah tidak menyukaiku, kalau memang aku sudah menjadi beban bagimu ... apa lebih baik kita berpisah saja?"
Deg!
Kata-kata itu terlempar bagai petir di siang bolong. Evran tercekat kaget setengah mati. Dadanya bagai dihantam palu godam yang sangat berat.
"Berpisah?" bisik Evran tak percaya.
"Iya! Berpisah!" seru Danira terisak pelan, mengusap air matanya dengan kasar. "Untuk apa kita bertahan dalam pernikahan yang matang di luar tapi membusuk di dalam seperti ini? Aku lelah menebak-nebak pikiranmu, Mas. Aku lelah merasa asing di rumahku sendiri!"
Degh!
_____________________________
10 tahun,km di cuekin..dah lah ceraikan ajj abis ini,Deket sama evran ajj lah.
justru ada nya Evran keluarga kamu jadi harmonis ..