Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Yang Tak Berarti Lagi
Juvan menatap lutut Yena yang terbalut perban putih bersih, jemarinya menyentuh pelan perban itu dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"Kak... kakinya masih sakit ya?" tanyanya lembut, suaranya terdengar getir.
"Sebenarnya aku tahu... semalam Kakak dicegat oleh dua orang preman. Aku ada di sana, Kak. Aku lihat semuanya dari kejauhan, aku bahkan sudah berlari hendak menolong Kakak... tapi tiba-tiba ada seorang pria yang menyelamatkan Kakak duluan."
Yena terdiam, tak mampu berkata apa-apa. Hatinya terasa perih melihat wajah penuh penyesalan remaja di hadapannya ini.
"Maaf ya, Kak..." Juvan menunduk, genggaman tangannya di atas lutut Yena mengerat pelan.
"Aku selalu terlambat untuk menolong Kakak."
Yena segera mengangkat wajah Juvan dengan lembut, menatapnya lekat-lekat sambil menggeleng tegas.
"Udah... jangan menyalahkan diri kamu terus, ya," ucapnya lembut namun tegas. "Kakak nggak apa-apa kok. Kamu nggak pernah terlambat, Juvan. Kehadiranmu saja sudah cukup menyelamatkan aku dari hal yang jauh lebih menyakitkan dari sekadar luka fisik."
Mereka berbincang berjam-jam, melepaskan segala rindu yang tertahan selama sebulan penuh — menertawakan kesalahpahaman, menangis bersama, dan saling meyakinkan bahwa kali ini tak ada yang akan pergi. Hingga jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam, Juvan pun bersiap untuk pulang.
"Juvan, hati-hati di jalan ya," pesan Yena sambil menatap punggung remaja itu yang berbalik menatapnya dengan senyum paling lebar dan cerah yang pernah ia lihat.
"Iya, Kak. Kakak juga hati-hati di jalan ya" jawabnya sebelum melesat pergi dengan sepedanya.
Yena masih berdiri di depan toko sejenak, menatap siluetnya yang perlahan menghilang di kegelapan malam dengan senyum tak lepas dari bibirnya. Namun senyum itu seketika lenyap saat sepasang lampu mobil yang menyilaukan melintas di depannya, lalu berhenti tepat di sampingnya. Sebuah mobil hitam mewah — mobil yang sangat ia kenal.
"Ngapain lagi dia ke sini?" gumam Yena pelan, rasa takut yang dulu sempat kembali mengancam, namun seketika digantikan oleh rasa kesal yang mendominasi.
Pintu pengemudi terbuka, dan sosok pria itu turun — Arga. Ia melangkah mendekat dengan tatapan yang sedingin es, seolah-olah ia adalah penguasa yang datang menuntut ketaatan dari pelanggarnya.
"Sayang..." sapanya, nada bicaranya datar dan penuh kepemilikan.
"Ngapain kamu malam-malam ke sini?" tanya Yena langsung, tanpa basa-basi, menatapnya lurus tanpa rasa takut sedikit pun.
Arga tak menjawab. Ia justru mendekatkan wajahnya, mencondongkan tubuh hendak mencium yena,tapi arga justru mencium aroma parfum di baju Yena. Aroma parfum yang lembut dan khas — bukan aromanya.
"Aroma parfum siapa ini?" tanyanya tajam, matanya menyipit curiga.
"Jelas-jelas ini bukan parfummu. Kau habis bertemu siapa? Oh... apa jangan-jangan kau menemui anak laki-laki itu di belakangku? Kau tidak lupa kan dengan perjanjian kita?" suaranya naik sedikit, penuh tekanan dan ancaman.
Yena mundur beberapa langkah, menjaga jarak, dan menatapnya dengan tatapan yang kini sepenuhnya berubah — dingin, kecewa, dan penuh ketegasan.
"Cukup, Arga. Cukup!" potongnya dengan suara yang mantap dan keras. "Aku sudah capek. Aku bukan mainanmu yang harus selalu menuruti kemauanmu. Dan ya, benar... aku tadi bertemu dengan laki-laki itu. Kenapa? Kau mau apa?"
Wajah Arga berubah merah padam menahan amarah. Ia melangkah cepat, mencengkeram pergelangan tangan Yena dengan kasar, lalu mendorongnya hingga punggung gadis itu hampir menyentuh bodi mobil hitam itu.
"Kau melanggar perjanjian kita!" desisnya di wajah Yena. "Jadi kau harus siap-siap saja... laki-laki itu akan mendapat balasannya. Aku sudah bilang, tak ada yang berani melawanku dan selamat begitu saja."
Tawa sinis meluncur dari bibir Yena, membuat Arga tertegun sejenak.
"Heh... kau saja bisa bermain-main dengan wanita lain di belakangku," ucap Yena dengan nada yang penuh penghinaan dan ketegasan,
"berarti aku juga bisa bermain-main dengan laki-laki manapun iyakan?"
"Apa maksudmu, Yena?" tanya Arga, matanya membelalak tak percaya.
Yena berusaha melepaskan cengkeraman tangan pria itu — dan kali ini ia berhasil, karena Arga sendiri yang melemah karena kata-katanya. Dengan tangan yang sedikit gemetar namun penuh keyakinan, Yena merogoh ponsel dari saku celananya, menekan layar sebentar, lalu menyodorkan layar itu tepat ke wajah Arga. Di sana terlihat jelas — foto Arga sedang berpelukan intim dengan seorang wanita yang bukan dirinya, di ruangan kantor arga.
"Sudah berapa wanita yang kau permainkan, Arga?" tanya Yena dengan suara bergetar karena amarah.
"Setelah Fira muncul wanita ini... lalu wanita mana lagi yang tak aku ketahui? Kau tahu, Arga... kau itu sangat menjijikkan."
Wajah Arga seketika berubah pucat pasi. Matanya terpaku pada layar ponsel itu, tak mampu berkedip.
"Dari mana... dari mana kau dapatkan foto itu?" suaranya bergetar, kehilangan semua keangkuhan yang tadi ada.
"Kau tidak perlu tahu," jawab Yena tegas, menarik kembali ponselnya dan menatapnya lurus ke mata dengan tatapan yang penuh kekecewaan terdalam.
"Aku benar-benar tidak menyangka sama sekali padamu, Arga. Laki-laki yang dulu aku anggap paling baik, paling bertanggung jawab, paling setia... ternyata aslinya semenjijikkan ini.
Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut, tanpa ingin mendengar satu kata pun pembelaan yang keluar dari mulutnya, Yena berbalik badan. Ia melangkah pergi — menjauh dari pria yang selama bertahun-tahun menjadi dunianya, menjauh dari semua kebohongan, ancaman, dan kepalsuan yang selama ini membelenggunya. Langkah kakinya terasa sakit, namun hatinya terasa begitu ringan, seolah beban berton-ton baru saja diangkat dari pundaknya.
Langkah Yena baru saja hendak melangkah menjauh, namun suara Arga kembali terdengar, kali ini penuh kepanikan yang tak bisa disembunyikan.
"Yena, tunggu! Aku bisa jelasin semuanya, sayang!" seru Arga sambil melangkah cepat dan kembali menggenggam erat pergelangan tangan gadis itu, mencegahnya pergi.
Yena berusaha melepaskan diri, menarik tangannya dengan kuat, namun genggaman Arga terlalu kuat dan kokoh. Bukannya melepaskan, Arga justru menarik tubuh Yena hingga masuk ke dalam pelukannya yang erat, membiarkan aroma parfum mahalnya menyelimuti mereka berdua — aroma yang dulu begitu ia kenal, namun kini terasa menjijikkan dan menyesakkan dada.
"Tolong... jangan pergi ya," bisik Arga di telinganya, suaranya terdengar memelas namun tetap memaksa.
"Aku akan jelaskan semuanya... percayalah padaku, sayang. Semua itu tidak seperti yang kamu pikirkan."
Hati Yena terasa seperti diiris sembilu mendengar kata-kata itu. Ia memberontak sekuat tenaga, kedua tangannya mendorong dada bidang Arga dengan segala kekuatan yang ia miliki.
"Lepas, Arga! Lepaskan aku!" teriaknya keras, suaranya bergetar penuh amarah dan kebencian.
Beruntung, dorongan Yena cukup kuat membuat Arga sedikit kehilangan keseimbangan, dan pelukan itu akhirnya terlepas. Yena langsung melangkah mundur beberapa langkah, menjaga jarak aman sambil menatap Arga dengan tatapan paling dingin dan menghina yang pernah ia miliki.
"Dengar baik-baik, Arga," ucap Yena tegas, suaranya tenang namun tajam bagaikan belati yang menancap tepat ke jantung pria itu.
"Ingat ini baik-baik — aku tidak mau lagi berhubungan denganmu. Urusi saja wanita-wanita simpananmu itu! Jangan pernah lagi mengganggu hidupku, jangan pernah lagi menyebut namaku, dan jangan pernah lagi berpikir bahwa aku akan kembali ke pelukanmu. Karena bagi aku, kamu sudah mati sejak hari kamu memilih mengkhianatiku."
Tanpa menunggu satu kata pun balasan dari mulut Arga, tanpa menoleh sedikit pun ke belakang, Yena berbalik dan melangkah pergi — meninggalkan pria itu yang berdiri terpaku, hancur oleh kebenaran yang akhirnya menghancurkan segala keangkuhan dan kekuasaannya.
Arga berdiri terpaku di tempatnya, menatap mobil Yena yang perlahan menjauh dan menghilang di kegelapan malam. Tak ada satu kata pun yang mampu ia ucapkan. Ancaman yang tadi ia lontarkan kini terasa begitu konyol dan tak berarti.
"Agh.....sialan dapat dari mana dia foto itu,dan siapa yang yang berani-beraninya memotret ku diam-diam" ucap arga sambil mengusap kasar wajahnya.
Sesampainya di rumah, baru saja ia mengunci pintu dan meletakkan tas, ponselnya bergetar pelan. Sebuah pesan masuk. Dari Juvan.
"Kak, aku sudah sampai rumah dengan selamat. Jangan lupa istirahat dan kompres kakinya ya. Jangan lupa makan malam. Selamat tidur, Kak Yena. 😊"
Seketika senyum merekah di bibir Yena. Hatinya terasa hangat dan tenang. Ia membalas pesan itu dengan cepat, membayangkan wajah Juvan yang pasti sedang tersenyum lebar di seberang sana.
"Terima kasih ya sudah mengabari. Kamu juga istirahat, jangan lupa makan.Selamat tidur, Juvan."
Sejak malam itu, hidup Yena berubah menjadi jauh lebih indah. Sinar matahari terasa lebih hangat, udara terasa lebih segar, dan setiap hari yang ia lalui terasa penuh makna. Seolah beban berat yang memikul pundaknya selama bertahun-tahun baru saja terangkat sepenuhnya. Ia bebas. Bebas dari kebohongan, bebas dari rasa takut, dan bebas untuk merasakan kebahagiaan yang tulus.
Begitu juga dengan Juvan. Wajahnya tak lagi tampak murung atau cemas. Setiap pagi, senyumnya tampak lebih cerah dari biasanya. Semangatnya seolah tak pernah habis. Ia kini tahu bahwa perasaannya tak bertepuk sebelah tangan, dan tak ada lagi dinding pemisah di antara mereka.
Hari-hari mereka pun berlalu begitu indah. Seringkali Juvan menyempatkan waktu untuk menemui Yena. Terkadang mereka duduk bersama di sudut toko kue, Juvan membantunya belajar untuk ujian sementara Yena sesekali menyelipkan potongan kue ke mulut remaja itu. Terkadang mereka berjalan berkeliling pasar, tertawa bersama sambil membandingkan harga buah atau sekadar memilih camilan. Atau hanya sekadar berjalan santai di pagi hari, menikmati udara segar dan sinar matahari yang menembus celah dedaunan, saling bercerita tentang hal-hal kecil yang tak penting namun terasa menyenangkan saat diucapkan.
Tak ada lagi rasa takut, tak ada lagi jarak, dan tak ada lagi rahasia. Mereka menikmati setiap detik kebersamaan itu, menyadari betapa berharganya waktu yang sempat terbuang karena kesalahpahaman dan kebohongan orang lain. Yena pun perlahan pulih — bukan hanya lukanya di tubuh, melainkan juga luka di hatinya yang selama ini perlahan sembuh dan tertutup rapat oleh kasih sayang tulus dari seorang remaja yang mencintainya dengan segenap jiwa.
Sementara di seberang sana arga masih memikirkan setrategi agar yena dapat kembali ke padanya, arga juga sesekali membuntuti yena dan juvan melihat aktivitas apa yang mereka berdua lakukan.