Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tea Time
Sore itu, di area rooftop Istana Hikari yang dikelilingi pilar-pilar marmar bergaya Barok serta panorama kubah kota yang bermandikan cahaya keemasan matahari senja, meja minum teh telah tertata dengan sangat rapi. Aragoto berdiri tegak di samping meja dengan seragam pelayan hitamnya, sementara Putri Miyura duduk anggun di kursi beludru, menikmati hidangan kecil yang tersaji.
Aragoto perlahan membuka tudung saji perak dan menyajikan hidangan penutup buatannya sendiri ke hadapan sang Ratu.
Miyura mengambil satu suap kue tersebut. Matanya sedikit berbinar, lalu ia tersenyum tipis menatap pelayan setianya. "Hmm... Aragoto, rasanya semakin hari kemampuan memasakmu semakin baik saja. Hidangan ini benar-benar lezat," puji Miyura dengan nada santai namun tetap memancarkan keanggunan seorang penguasa.
Aragoto sedikit membungkuk dengan gestur yang sangat sopan, kedua tangannya bertumpu di depan tubuhnya. "Suatu kehormatan besar mendengar pujian Anda, Yang Mulia. Saya akan terus memastikan seluruh hidangan Anda selalu disajikan dengan sempurna," jawab Aragoto tenang.
Miyura meletakkan cangkir teh porselennya di atas piring kecil, lalu menghela napas pelan. Wajahnya yang tadinya santai kini sedikit berkerut, menyiratkan rasa penasaran sekaligus ketidaksukaan.
"Ngomong-ngomong soal hidangan dan waktu luang, Aragoto..." ucap Miyura, memulai topik pembicaraan yang lebih serius. Ia mendongak menatap pelayannya. "Akhir-akhir ini, kedekatanku dengan Pangeran Yoshi dari Kurogane rasanya semakin baik. Aku bisa melihat dari caranya memandang dan berbicara, ia mulai menyukaiku."
Aragoto tetap berdiri tegak dalam diam, mendengarkan setiap patah kata saudari kembarnya tanpa menunjukkan ekspresi apa pun di balik kacamatanya.
"Tapi... ada satu hal yang sangat menggangguku," lanjut Miyura dengan nada suara yang mulai meninggi, terselip nada cemburu dan kesal di dalamnya. "Setiap kali Pangeran Yoshi pergi keluar istana atau berjalan di kawasan kota, selalu saja ada seorang wanita sialan yang berani mendekatinya. Gadis rendahan berambut hijau dari kota Fushi itu... entah apa tujuannya, ia selalu tampak mencuri perhatian Yoshi."
Miyura mengepal pelan tangannya di atas meja, kilatan amarah terpancar jelas di matanya. "Aku tidak suka ada pengganggu di dekat Yoshi. Aku adalah Ratu, dan tidak boleh ada satu pun perempuan murahan yang berani merebut perhatian apa pun yang menjadi milikku."
Miyura kemudian mengalihkan pandangannya tajam-tajam ke arah Aragoto, memberikan titah mutlak yang menjadi ciri khasnya. "Aragoto, mulai besok kau akan melakukan tugas khusus. Awasi setiap gerak-gerik Pangeran Yoshi ketika ia pergi keluar istana. Cari tahu apa hubungan wanita berambut hijau itu dengannya, dan laporkan semuanya padaku. Jangan sampai ada yang terlewat!"
Mendengar perintah yang penuh dengan kecemburuan dan ancaman itu, Aragoto sama sekali tidak menunjukkan keraguan. Ia kembali membungkuk dengan sangat hormat, menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menyembunyikan tatapan matanya yang kelam di balik bayang-bayang.
"Baik, Yang Mulia," jawab Aragoto patuh, suaranya terdengar lembut namun tegas tanpa bantahan. "Saya akan melaksanakan titah Anda. Saya akan mengawasi Pangeran Yoshi dan memastikan semuanya berada di bawah kendali Anda."
Sore itu, suasana di rooftop Istana Hikari kembali tenang setelah Miyura selesai memberikan instruksi rahasia terkait Pangeran Yoshi. Sang Ratu muda kembali menyesap sisa teh porselennya, sementara Aragoto berdiri siaga dengan posisi hormat di samping meja.
Tiba-tiba, Miyura meletakkan cangkirnya perlahan ke atas piring porselen. Bunyi benturan kecil piring itu memecah keheningan. Matanya yang tajam menatap lekat-lekat ke arah Aragoto dari atas kursi beludru, mengamati setiap detail wajah pelayannya yang berdiri di bawah cahaya senja keemasan.
"Ngomong-ngomong, Aragoto..." panggil Miyura dengan nada penasaran yang tiba-tiba berubah ringan, memiringkan sedikit kepalanya.
Aragoto mengangkat pandangannya, tetap mempertahankan postur tubuhnya yang tenang. "Ada apa, Yang Mulia?"
Miyura menopang dagunya dengan sebelah tangan, jari-jarinya mengetuk pelan pipinya sendiri. "Setiap kali aku menatapmu dari dekat seperti ini... aku merasa ada sesuatu yang sangat familier. Struktur tulang rahangmu, tatapan matamu, bahkan garis wajahmu..." Miyura terkekeh pelan, melontarkan sebuah dugaan yang seketika membuat udara di sekitar mereka terasa membeku. "Wajah kita sangat mirip. Jangan-jangan... kita ini sebenarnya saudara kembar?"
Jantung Aragoto berdegup kencang di balik seragam pelayannya, namun ia berhasil menjaga ekspresi wajahnya tetap datar dan terkendali. Ia tahu betul bahwa kebenaran itu adalah rahasia paling mematikan di seluruh penjuru Kerajaan Hikari.
Mendengar tebakan itu, Aragoto hanya menghela napas ringan—sebuah helaan napas yang terukur untuk meredakan ketegangannya—lalu terkekeh kecil guna memecah kecurigaan sang Ratu.
"Anda ada-ada saja, Yang Mulia," ucap Aragoto dengan nada santai dan sopan, menggelengkan kepalanya pelan. "Mana mungkin seorang pelayan rendahan seperti saya memiliki garis keturunan yang sama dengan penguasa tahta suci Kerajaan Hikari. Itu hal yang sangat tidak mungkin."
Miyura tidak langsung percaya begitu saja. Ia menyipitkan matanya, menatap Aragoto lebih dalam seolah mencari celah dari senyuman sang pelayan. Namun, alih-alih curiga, ekspresi wajah Miyura justru melunak, menyiratkan kesepian tersembunyi di balik kekuasaan mutlak yang ia pegang.
"Tidak mungkin, ya..." gumam Miyura pelan, lalu bibirnya mengukir senyuman tipis. Ia mendongak menatap Aragoto dengan sorot mata penuh harap kekanak-kanakan. "Tapi, seandainya saja itu benar... seandainya kita benar-benar saudara kembar, betapa menyenangkannya itu. Kita bisa menjadi lebih dekat, kan? Bukan sekadar Ratu dan pelayan, melainkan keluarga yang saling berbagi segalanya."
Aragoto tertegun sejenak. Mendengar kalimat itu dari saudari kembarnya—orang yang sama yang dibesarkan dalam kemewahan istana sementara ia dibuang ke bayang-bayang—memicu rasa getir yang dalam di lubuk hatinya. Namun, ia tahu posisinya.
Aragoto kembali merendahkan tubuhnya, memberikan gestur hormat yang sempurna, lalu mengangguk patuh untuk mengiyakan perkataan sang Ratu demi meredam situasi.
"Tentu saja, Yang Mulia," jawab Aragoto lembut, suaranya terdengar tulus sekaligus menyimpan sejuta rahasia kelam. "Jika memang takdir mengizinkan hal itu... berada di sisi Anda sebagai orang terdekat sudah lebih dari cukup bagi saya."
Miyura tersenyum puas mendengar jawaban tersebut, sama sekali tidak menyadari bahwa di balik anggukan patuh pelayannya itu tersimpan ikatan darah sesungguhnya dari masa lalu yang terkubur rapat di balik tembok istana Hikari.