Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.
Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.
Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.
Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.
Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.
Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.
Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sampai Kasurku Pun Dirampas Juga
Waktu berlalu tanpa terasa.
Raya kini berdiri di dekat jendela kaca. Tatapannya tertuju ke luar, sambil menikmati hangatnya cahaya keemasan itu.
“Tidak pulang?” tanya Kansa dari belakang.
Raya menoleh.
“Ingin, Pak. Tapi kalau saya pulang, pasti saya akan berdebat dengan orang-orang di rumah, saya malas meladeni mereka,” jawabnya jujur.
Setelah menjelaskan, suasana seketika hening. Hanya samar-samar suara deru kendaraan dari bawah sana terdengar.
“Pulang ke rumah saya bagaimana?” tanya Kansa, seakan memberikan solusi yang tepat.
Raya akhirnya berbalik sepenuhnya, ia menatap atasannya.
“Saya akan pulang ke rumah saya saja, Pak. Saya ingin lihat proyek baru apa yang mereka kerjakan.”
“Kalau begitu, saya antar. Mobilmu juga masih di bengkel.”
Raya mengangguk. “Baik, Pak.”
Ia lalu berjalan menuju meja. Tas yang sejak tadi diletakkan di sana segera diraihnya.
“Ayo, Pak. Perasaan saya malah jadi tidak tenang sekarang.”
Kansa lalu mengangguk.
Setelah Raya memastikan tidak ada barang yang tertinggal, ia akhirnya berjalan bersama Kansa meninggalkan ruang kerja CEO.
Mereka menyusuri lorong kantor menuju lift.
“Pak, kira-kira perosesnya berapa hari?” tanya Raya.
“Saya usahakan kalau hari ini sudah keluar.”
“Tapi apa bisa? Kan butuh pertimbangan,” ucap Raya.
“Percayakan pada saya, semua beres tanpa menunggu hari yang ditentukan, mengerti?”
Raya terdiam sejenak sebelum akhirnya ia mengangguk.
Tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Mereka akhirnya keluar dan berjalan menuju area parkir.
. . .
Setibanya di area parkir, Raya dan Kansa langsung masuk ke dalam mobil. Setelah keduanya memasang sabuk pengaman, Kansa menyalakan mesin.
Suara mesin terdengar pelan, lalu mobil perlahan bergerak meninggalkan pelataran gedung perusahaan.
Memasuki jalan utama, kendaraan mereka mulai menyusuri padatnya lalu lintas sore.
Namun suasana di dalam mobil justru begitu kontras. Tak ada percakapan di antara mereka.
Raya hanya duduk diam, hanya mengikuti arus kendaraan yang sesekali menyalip dan berhenti di persimpangan.
“Saya dapat konfirmasi dari bengkel.”
Suara Kansa memecah keheningan didalam mobil.
“Lalu bagaimana, Pak?”
“Mobilmu rusaknya cukup parah, Ray. Bagian depannya lumayan hancur. Kalau mau di perbaiki cukup berisiko juga nanti.”
Raya menghela napas.
“Kalau begitu, jual saja bagian mesin yang masih bagus. Buat tambahan saya beli mobil baru.”
“Saya akan bilang kepada pemilik bengkelnya.”
Raya mengangguk. “Terima kasih, Pak.”
Setelah itu, suasana kembali hening.
. . .
Dua puluh menit kemudian, mobil yang di kendarai oleh Kansa akhirnya berbelok menuju sebuah kawasan perumahan.
Tak lama, kendaraan itu berhenti tepat di depan gerbang rumah Raya.
“Terima kasih, Pak,” ucap Raya sambil membuka sabuk pengaman.
Kansa hanya mengangguk singkat.
Raya turun dari mobil, tetapi ia tidak langsung masuk ke dalam rumah. Ia berdiri di dekat gerbang sambil menunggu mobil Kansa meninggalkan tempat tersebut.
Tiin!
Klakson pendek terdengar dari dalam mobil.
“Hati-hati, Pak,” ujar Raya sambil mengangkat tangannya.
Mobil itu kembali melaju, perlahan menjauh hingga akhirnya menghilang di balik tikungan.
Raya menurunkan tangannya.
Setelah memastikan Kansa sudah pergi, ia berbalik. Tatapannya langsung tertuju pada rumah di hadapannya.
Tanpa berpikir panjang, Raya kemudian melangkah masuk melewati gerbang.
. . .
Begitu tiba di depan pintu, ia mendorongnya kemudian melangkah masuk.
Namun baru saja ia memasuki rumah, suara tawa langsung menyambut kedatangannya dari ruang tamu.
Beberapa suara yang familiar terdengar, seakan tak terjadi apapun. Raya hanya melirik sekilas ke arah mereka tanpa berniat bergabung, dan memilih untuk beristirahat.
Namun, suara Bu Riana menghentikan langkahnya.
“Raya, kemari.”
Raya menghela napas pelan. Ia sempat memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya berbalik dan berjalan mendekat.
“Ada apa?”
“Nih, buatmu.”
Bu Riana tiba-tiba melemparkan sesuatu ke arahnya.
Raya sengaja tidak mengulurkan tangan. Benda itu pun jatuh ke lantai dan menimbulkan bunyi kecil.
Matanya menunduk.
Sebuah cincin tergeletak di lantai. Namun, dari tampilannya saja ia bisa tahu bahwa benda itu hanyalah cincin mainan.
“Berikan saja kepada Rara,” ucap Raya datar. “Aku nggak butuh.”
“Dasar nggak tahu berterimakasih! Seharusnya kamu terima hadiah, buat mengganti cincinmu yang ibu jual.”
Raya tersenyum miring.
“Hadiah dari hasil menjual cincinku saja Ibu banggakan? Hati-hati loh, Bu. Barang yang orang lain nggak ihklas kasih, bisa jadi dapat karma.”
“Mbak Raya, nanti uangnya diganti, kok.”
Mendengar ucapan Rara, senyum tipisnya seketika memudar. Ia menatap Rara dengan tatapan dingin.
“Nggak perlu diganti,” sahut Bu Riana cepat. “Kan Raya kakakmu.”
“Nggak papa, terserah mau ganti atau enggak. Tinggal kalian saja yang melihat, apakah uang itu halal atau haram di tangan kalian.”
Namun, suara Zevan terdengar.
“Raya, kenapa dengan keningmu?”
Raya baru hendak menjawab, tetapi Bu Riana lebih dulu menyahut.
“Halah, paling kebentur pintu. Sudah, jangan dipikirkan. Paling juga sembuh,” ucap Bu Rodiah.
Raya tersenyum getir mendengar suara ibunya sendiri.
“Iya, Bu. Nanti juga akan sembuh, tapi enggak untuk hati ini.”
Lalu ia menatap mereka satu per satu wajah-wajah itu.
Luka di keningnya masih tertutup perban, tetapi tidak seorang pun benar-benar menanyakan keadaannya. Meskipun ada, ibunya atau ibu mertuanya pasti menganggap sepele.
Padahal dirinya hampir saja berhadapan dengan malaikat maut.
Tapi semakin lama rasanya semakin muak jika berada di ruang tamu.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia berbalik dan meninggalkan ruang tamu. Ia berjalan menuju lantai atas.
. . .
Beberapa saat kemudian, begitu masuk ke dalam kamar, Raya melangkah beberapa langkah sebelum tiba-tiba berhenti.
Matanya menyapu seluruh ruangan. Saat ia merasa ada yang kurang di kamarnya. Ia kembali melangkah, lalu berhenti di tengah-tengah ruangan itu.
“Dimana kasurku.” gumamnya “Astaghfirullah, apalagi yang ini. Pasti kerjaannya ibu.”
Tanpa berpikir panjang, ia kembali keluar dari kamar.
Langkahnya cepat menuruni tangga hingga akhirnya ia kembali ke ruang tuan.
. . .
Begitu tiba.
“Di mana kasurku?!”
Semua orang yang berada di sana sontak menoleh.
Bu Riana justru menjawab dengan santai.
“Oh, sudah Ibu pindahkan ke kamar Rara dan Zevan. Ada apa?”
Raya menatapnya tajam. “Pindahkan lagi.”
“Cuma kasur, Ray. Ngapain dipermasalahkan?”
Raya tertawa hambar. “Sudah ku tebak.”
“Kalau cuma kasur, kenapa main dipindahkan? Memangnya uang hasil menjual cincin mendiang Ayahku masih kurang?” tanya Raya.
Bu Riana terdiam.
Raya kembali membuka suara.
“Oh, lupa. Ibu kan tadi siang belanja tas sama makan di restoran yang baru buka ya. Bagaimana rasanya? Ibu masih bisa nelan daging impornya?” tanya Raya.
“Bu,” panggil Zevan. “Ibu makan di restoran?”
“Jangan di dengarin ucapan dia, Van. Dia Cuma mau adu domba kita.”
Raya tersenyum miring sembari melipat tangannya.
“Kalau nggak percaya, cek saja story nya, Ibu. Dia pamer tuh. Dan tas yang di beli ibu harganya empat juta sampai lima juta loh.”
“Loh, kata ibu. Tas itu harganya cuma tiga puluh ribu?” tanya Zevan.
“Lihat saja mereknya, merek lokal. Untuk bukan merek yang terkenal, bisa ludes tuh uangnya. Ujung-ujungnya minta ke aku, atau jual rumah buat gengsi.”
“Tutup mulutmu!”
Raya terkekeh. “Terserah deh.”
“Mas, pindahkan lagi kasurnya Mbak Raya. Aku nggak apa-apa kalau pakai kasur yang lama.”
Raya langsung mengalihkan pandangan ke arah Rara. Lalu menepuk kedua tangannya.
“Sip. Memang harus tahu posisi madu,” ucap Raya. “Jadi jangan lama-lama, ya. Ngantuk banget, karena kerja di tempat yang ber- Ac.”
Tanpa menunggu ucapan dari mereka, Raya kembali ke kamarnya.
Setelah punggung Raya menghilang di balik tangga, Zevan mengembuskan napas panjang. Ia kemudian berdiri dari tempat duduknya dan hendak melangkah pergi, namun suara sang ibu berhasil menghentikannya.
“Zevan, mau ke mana kamu?” tanya Bu Riana.
Zevan menoleh.
“Kembalikan kasurnya Raya, Bu.”
“Jangan, Zevan. Biar Raya beli lagi,” tegas Bu Riana.
“Mas, buruan!”
Suara Raya terdengar dari lantai atas. Membuat Zevan menghela napas.
“I-iya, tunggu sebentar.”
Ia hendak melangkah, tetapi suara ibunya kembali menahannya.
“Zevan!”
Zevan berhenti dan menoleh.
“Bu, jangan cari masalah lagi sama Raya. Aku akan mengembalikan kasur itu.”
Setelah berkata demikian, ia mengalihkan pandangan kepada Rara yang sejak tadi menunduk.
“Ra, nggak apa-apa, kan, kalau kasurnya dikembalikan?”
Rara mengangkat wajahnya. Kemudian kembali menunduk lalu menggeleng pelan.
“Nggak apa-apa, Mas. Lagian kita seharusnya sudah bersyukur karena sudah dikasih tempat yang nyaman di rumah ini.” Rara tersenyum tipis. “Rara akan berusaha tidur di kasur lama kita. Meski setiap bangun badan Rara selalu pegal-pegal.”
Zevan terdiam.
“Tuh, kan, Van. Kamu nggak kasihan sama Rara?” Bu Riana kembali menyela.
Sebelum Zevan menjawab, suara Raya terdengar lagi dari lantai atas.
“Mas Zevan!”
Suara Raya kembali terdengar, kali ini nadanya naik satu oktaf.
“Aku akan usahakan beli kasur baru buat Rara,” ucapnya akhirnya. “Tapi nggak sekarang.”
“Pokoknya harus! Ini cucu pertama Ibu, loh, Van,” ucap Bu Riana, seakan mendesaknya.
“Iya, iya. Aku usahakan.”
Zevan mengusap wajahnya pelan. Ia tidak ingin memperpanjang perdebatan.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia berjalan menuju kamar yang kini ditempatinya bersama Rara.
.
Melihat Zevan benar-benar pergi untuk mengembalikan kasur yang nyaman itu, jemari Rara perlahan mengepal di atas pangkuannya.
Rahangnya mengeras.
Rara menunduk, berusaha menyembunyikan ekspresi kesalnya di hadapan ibunya dan ibu mertuanya.
‘Kenapa Mas Zevan harus mengembalikannya?’