Indonesia
NovelToon NovelToon
Salahkan Aku Mencintaimu

Salahkan Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

SALAHKAN AKU MENCINTAIMU

​Sinopsis

Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.

​Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

​Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: JEJAK YANG TERTINGGAL

Suara gemericik air dari pancuran kamar mandi perlahan meredup, menyisakan keheningan pekat yang kembali menyergap ke dalam kamar Devan. Di dalam ruangan berlantai dua yang masih berpendar temaram oleh lampu tidur kekuningan itu, aroma kayu cendana khas Devan bercampur hangat dengan atmosfer sisa keintiman yang baru saja tercipta. Aluna duduk bersimpuh di tepi tempat tidur yang sedikit acak-acakan. Jemari mungilnya memegang erat pinggiran selimut tebal yang membalut tubuhnya, mencoba mencari pijakan di tengah badai emosi yang masih bergemuruh di dalam dadanya.

Di atas permukaan meja nakas dari kayu mahoni, jam digital berwarna hijau pendar menunjukkan pukul tujuh malam lewat sedikit. Tepat pada detik itu, suara deru mesin mobil Ayah Danu dan Ibu yang baru saja memasuki pelataran rumah memecah keheningan di luar. Pantulan cahaya lampu mobil yang menyapu dinding luar jendela menghantam kesadaran Aluna bagaikan siraman air es. Jantungnya mendadak berdegup berantakan, menghantarkan sensasi dingin yang menyengat dari ujung jari tangan hingga ke kakinya.

Pintu kamar mandi berbahan kayu jati melangkah terbuka. Devan berjalan keluar dengan celana kain panjang dan kaus santai polos yang sudah terpasang rapi di tubuh tegapnya. Helai-helai rambut hitamnya masih sedikit basah membasahi kening, namun ekspresi di wajah tampannya telah kembali tenang sempurna—seseorang master dalam mengenakan topeng kendali diri yang selalu ia tampilkan dengan sangat rapi di hadapan dunia luar.

"Mereka sudah pulang," bisik Devan rendah, suaranya yang berat memecah kebekuan ruangan.

Devan melangkah mendekati tempat tidur, mendudukkan diri di samping Aluna yang masih gemetar. Tangannya terulur mengusap puncak kepala gadis itu dengan kelembutan yang sangat kontras jika dibandingkan dengan intensitas posesif yang baru saja ia tunjukkan beberapa menit lalu.

"Mandi dan ganti bajumu sekarang, Aluna. Aku akan turun duluan untuk menahan perhatian Ibu di bawah," sambung Devan, memberikan instruksi yang jelas tanpa cela.

Aluna mendongak perlahan, menatap iris mata cokelat gelap Devan dengan pandangan yang menyisakan kelelahan emosional dan ketakutan mendalam. "Kak... gimana kalau Ibu lihat sesuatu yang aneh? Gimana kalau mereka curiga?"

Devan menatap Aluna lurus-lurus tanpa riak ragu sedikit pun. Tangannya terulur merapikan kerah gaun tidur Aluna yang sedikit miring, dengan sengaja menutupi jejak-jejak keintiman memerah yang tertinggal di kulit halus dekat tulang selangkanya.

"Jangan ada suara yang gemetar saat kamu bicara dengan mereka nanti," bisik Devan tegas namun sarat akan rasa protektif yang mutlak. "Jaga ekspresimu. Biar aku yang memegang penuh kendali di bawah."

Beberapa saat kemudian di meja makan lantai bawah, aroma masakan malam yang dibeli Ibu dari restoran langganan menguar hangat, memenuhi area ruang makan. Ayah Danu duduk di ujung meja sembari membaca barisan berita koran digital di ponselnya, sementara Devan dengan sangat santai membantu Ibu menata piring dan alat makan—berakting dengan sangat natural sebagai seorang putra sulung yang berbakti, tenang, dan selalu dapat diandalkan.

Aluna melangkah turun menyusuri anak tangga satu per satu dengan amat perlahan. Demi menyembunyikan setiap garis memar halus dan tanda kepemilikan rahasia yang ditinggalkan Devan di kulitnya, ia sengaja memilih mengenakan sweater berkerah tinggi berwarna pastel dan celana panjang kain yang tebal.

"Aluna, ayo makan malam sama-sama," sapa Ibu hangat saat menangkap sosok putri tunggalnya yang melangkah mendekat ke ruang makan. Namun, langkah Ibu terhenti sejenak, menatap wajah Aluna dengan dahi berkerut. "Kamu kok kelihatannya lemas banget, Nak? Wajahmu juga kelihatan agak pucat."

Jantung Aluna serasa melompat ke tenggorokan seraya ia menduduki kursi tepat di seberang Devan. "E-enggak kok, Bu. Aluna cuma agak capek aja habis belajar seharian di kamar."

Ayah Danu menurunkan ponselnya, menatap Aluna sebentar sebelum mengalihkan pandangannya pada Devan. "Oh ya Devan, besok Sabtu Ayah dan Ibu ada acara makan malam resmi dengan relasi bisnis sampai larut malam. Kalian berdua akan di rumah lagi, ya? Jangan lupa untuk mengunci semua pintu pagar dan tirai jendela."

"Siap, Yah. Semuanya bakal Devan jaga dengan baik," jawab Devan lancar tanpa ada nada ragu atau penyesuaian suara sedikit pun.

Di balik meja makan yang tertata rapi, tatapan Devan menyambar Aluna secara sekilas—sebuah kilatan tajam yang dingin, penuh intensitas, dan sarat akan makna terselubung. Tanpa perlu ada kata-kata yang terucap, Aluna tahu pasti apa yang sedang direncanakan Devan untuk akhir pekan besok: sebuah ruang kosong tanpa pengawasan di mana tidak ada lagi topeng, norma, atau batas yang bisa menghalangi mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!