Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Single Mom
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

"Wanita yang dulu kau buang seperti sampah, kini menjadi Ratu yang tak sanggup kau beli!"
Demi Fandi, Maya rela melepas statusnya sebagai supermodel ternama dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, pengorbanannya dibalas penghinaan. Begitu penampilannya tak lagi segar, Fandi menceraikannya demi wanita lain dan mengusirnya tanpa membawa apa pun.
Fandi mengira hidup Maya sudah hancur. Namun, ia salah besar.
Di balik kehancurannya, Maya bangkit merintis kembali kerajaannya. Ketika Maya berdiri di puncak kejayaan sebagai wanita paling berpengaruh, Fandi merangkak dalam penyesalan yang tak bertepi.
Sayangnya... Ratu yang dulu disia-siakannya kini melayang terlalu tinggi untuk kembali.

bagaimana ceritanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. DSKKR

Setelah keberhasilan presentasi di depan banyak investor, keesokan harinya, Suasana ruang rapat VANE Group memancarkan kemewahan yang tenang. Dinding kaca tebal memperlihatkan pemandangan lanskap ibu kota dari lantai tiga puluh, sementara lampu gantung berdesain kontemporer memberikan pencahayaan sempurna di atas meja kayu mahoni panjang.

Maya duduk di kursi kapten di salah satu sisi meja, mengenakan blus hitam simpel bermodel dipadu dengan celana pipa berpotongan tajam. Meski penampilannya terbilang minimalis dibanding para eksekutif yang hadir, cara duduknya yang tegak serta pancaran matanya yang tenang menarik perhatian siapa pun di ruangan itu. Di sebelah kirinya, Arch duduk santai dengan kemeja putih bergulung hingga siku, mengamati tumpukan dokumen presentasi di hadapannya.

"Semua tim kreatif dan brand manager sudah berkumpul, Maya," ujar Arch pelan, suaranya tenang tapi sarat ketegasan yang tak terbantahkan. "Waktu kamu untuk memaparkan visi awal dari sub-brand baru kita."

Beberapa eksekutif senior melirik Maya masih dengan tatapan ragu. Bagi mereka, memercayakan creative direction proyek bernilai puluhan miliar kepada wanita yang telah vakum bertahun-tahun adalah perjudian besar.

Maya menyadari tatapan-tatapan meragukan itu. Dulu, keraguan seperti ini mungkin akan membuatnya merasa kerdil. Namun kini, setelah melewati hantaman pahit perceraian dan pengusiran, ujian profesional semacam ini terasa sangat sepele.

Maya berdiri santai, melangkah ke depan layar proyektor. Dia tidak langsung menyalakan slide presentasi, melainkan menatap satu per satu wajah orang di ruangan itu.

"Kebanyakan brand fashion saat ini menjual fantasi," suara Maya mengalun jernih, santai, namun sarat akan penekanan. "Mereka jualan citra wanita yang sempurna tanpa cela tubuh tanpa garis halus, wajah tanpa lelah, dan hidup tanpa masalah."

Maya menyalakan proyektor, menampilkan sketsa-sketsa buatannya yang memadukan garis tegas bernuansa maskulin dengan siluet lembut di bagian pinggang.

"Tapi wanita yang sesungguhnya tidak hidup di dalam fantasi," lanjut Maya, menyunggingkan senyum tipis. "Wanita modern adalah mereka yang pernah jatuh, yang punya bekas luka, tapi tetap berdiri tegak. Lini busana ini tidak diciptakan untuk menyembunyikan siapa diri mereka, melainkan untuk menegaskan keberanian mereka. Kita tidak jualan baju tapi kita memberi mereka zirah yang elegan."

Suasana ruangan mendadak hening. Konsep yang dibawakan Maya tidak sekadar menjual estetika, melainkan menyentuh emosi paling dalam dari pasar wanita bernilai tinggi. Penjelasan yang lugas, emosional, dan sangat relevan itu memukau seluruh tim.

Arch menyandarkan punggungnya ke kursi, menyunggingkan senyum puas yang sangat tipis. Jemarinya bertepuk tangan perlahan, diikuti oleh tepuk tangan meriah dari seluruh peserta rapat.

"Konsep yang luar biasa, Bu Maya," puji Head of Marketing VANE Group yang tadinya paling skeptis. "Isu emosionalnya sangat kuat dan target market nya belum tersentuh oleh pesaing mana pun."

Maya tersenyum tulus, mengangguk sopan. "Terima kasih. Kita mulai pengerjaan koleksi pertamanya minggu ini."

Selepas rapat ekslusif pagi itu, semua tim bergerak dan bekerja masing-masing. Maya mengawasi dan memperhatikan detail yang sedang di kerjakan oleh rekan team nya itu.

"Semangat semua nya. Project summer royalti adalah tujuan kita dan fokus kita sekarang." Ucap maya menyemangati semua rekan nya.

"Yooooww.." Semua tim bersorak.

"Seperti pelatih saja kamu may," ucap kekeh arch.

Maya menoleh ke arah arch dan berkata "Semua ini juga mereka butuhkan mas arch, kamu tenang saja, dengan semangat dari atasan nya semangat mereka juga akan semakin membara.."

Dengan tawa elegan arch menjawab "Iya sudah, kalau itu keputusan kamu"

***

Sore harinya, kontras yang bertolak belakang terjadi di pinggiran kota.

Fandi berdiri di dalam kamar kontrakan sempitnya yang berantakan. Bau lembap dan debu menyeruak di udara. Di atas kasur busa yang tipis, ibunya, Ibu Ratna, duduk menangis seraya memegang keningnya.

"Gimana bisa disita, Ndi?!" tangis Ibu Ratna pecah, suaranya parau. "Barang-barang kamera mahal kamu bawa ke mana?! Kenapa rumah kontrakan ini juga belum kamu bayar?! Kita mau tinggal dimana lagi ini?"

Fandi meremas rambutnya yang acak-acakan, mukanya sangat kusam dengan kantung mata hitam yang tebal. "Kamera sebagian udah Fandi lelang murah buat bayar utang sewa studio kemarin, Bu! Uangnya masih kurang!"

"Terus kita tidur di mana malam ini?!" pekik Intan yang baru masuk membawa koper plastik murah. "Mas Fandi gila ya?! Masa Intan sama Ibu disuruh numpang di rumah saudara yang sempit itu?! Intan malu, Mas!"

"Kamu kira Mas gak malu?!" bentak Fandi meledak, matanya merah menyala. "Kalau kalian gak nuntut gaya hidup mahal dan gak maksa Mas turutin semua kemauan Siska dulu, uang simpanan Mas gak bakal ludes! Kalian yang bikin Mas buta!"

"Ooh... sekarang nyalahin keluarga lagi?!" timpal Ibu Ratna berdiri dengan kaki gemetar. "Kamu sendiri yang gatal pengen sama Siska! Harusnya kamu mikir!"

Di tengah pertengkaran mulut yang makin panas itu, ponsel Fandi yang tergeletak di atas meja bergetar pendek. Sebuah notifikasi berita hiburan dan fashion muncul di layar:

[VANE Group Resmi Tunjuk Maya Kartika Sebagai Creative Director Lini Mewah Terbaru]

Fandi meraih ponselnya dengan tangan gemetar. Matanya membelalak menatap artikel tersebut. Di sana terpasang foto Maya yang tampil begitu anggun dan berwibawa di samping Arch, pria jangkung berwajah rupawan yang merupakan salah satu konglomerat paling berpengaruh di industri fashion dan magazine Asia.

"Maya..." gumam Fandi lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.

Ibu Ratna dan Intan serta-merta menghentikan omelan mereka, ikut mengintip layar ponsel Fandi.

"I-ini si Maya?!" bisik Intan tak percaya, matanya melotot menatap foto mantan kakak iparnya yang tampak sangat berkelas dan elegan.

"Maya beneran masuk berita?" Ucap ibu ratna.

"Kok mbak maya sekarang kurus, putih, dan elegan sekali mas?" Ucap intan lagi tak percaya.

Fandi merebut kembali ponselnya, dadanya hantam oleh rasa penyesalan dan penderitaan yang tak tertahankan. Maya yang dulu diejek kusam, dihina seperti pembantu, dan diusir dari rumahnya... kini berdiri jauh di atas awan, disanjung oleh para raksasa industri, sementara dirinya terperosok ke dasar jurang kemiskinan yang paling dalam.

"Sudah ku bilang! Ini semua karena kalian!" Ucap Fandi lalu meninggalkan ibu dan adiknya.

~Bersambung~

1
Heny
Sdh pergi baru nyesal
Heny
Sudah sukses lupa daratan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!