Indonesia
NovelToon NovelToon
Belenggu Cinta Sang CEO

Belenggu Cinta Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Gastor Gaming

Anindya (22 tahun) terpaksa menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Vane (28 tahun), CEO kejam dari Vane Group, demi membayar biaya pengobatan adiknya. Adrian hanya memanfaatkan pernikahan ini untuk membalas dendam pada keluarga Anindya yang ia tuduh memfitnah keluarganya di masa lalu.

Adrian bersikap dingin, arogan, dan menetapkan batasan ketat: tidak boleh ada rasa cinta. Namun, saat rahasia masa lalu yang sebenarnya perlahan terkuak dan musuh bisnis Adrian mulai menargetkan Anindya, Adrian sadar bahwa wanita yang ia benci telah menjadi pelindung jiwa dan takdir hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gastor Gaming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertaruhan Nyawa dan Pilihan Terakhir

​Suasana di parkiran bawah tanah yang dingin mendadak membeku. Kata-kata Anindya menggantung di udara seperti bilah pisau tajam. Jemari Anindya mencengkeram erat tepi jam tangan titanium di pergelangan tangannya, siap melakukan tindakan nekat.

​Adrian menatap Anindya dengan mata membelalak. Urat-urat di pelipisnya bertonjolan. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu memegang kendali penuh atas hidup orang lain itu merasa kehilangan pijakan.

​Kau... kau mengancamku dengan nyawamu sendiri, Anindya?! bentak Adrian dengan suara bergetar menahan amarah yang membakar.

​Aku tidak sedang mengancam, Adrian. Aku sedang bertaruh, balas Anindya dengan nada dingin yang teramat tenang. Kau pikir hanya kau yang bisa memakai nyawa orang lain sebagai sandera?

Pikirkan lagi.

​Kau sudah gila! teriak Adrian, memajukan tubuhnya selangkah.

​Jangan mendekat! jerit Anindya seraya menarik pergelangan tangannya lebih erat. Satu langkah lagi kau maju, aku akan menghempaskan pergelangan tanganku ke sudut pilar beton ini. Kau tahu betul seberapa tajam pecahan jam titanium ini jika hancur, bukan?

​Adrian menghentikan langkahnya seketika. Matanya liar menatap wajah Anindya yang pucat namun memancarkan keteguhan luar biasa. Pria itu mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

​Clara tidak punya waktu banyak, Anindya! erang Adrian, suaranya terdengar frustrasi dan hampir putus asa. Setiap detik yang kau buang di sini memperbesar kemungkinan dia meninggal!

​Itu bukan masalahku! sahut Anindya tanpa belas kasihan. Dia bukan siapa-siapa bagiku! Mengapa aku harus mengorbankan darah dan nyawaku demi wanita yang menganggapku sekadar wadah donor?!

​Ponsel di saku jas Adrian kembali berdering nyaring. Bunyi nada panggil itu terdengar seperti lonceng kematian di tengah kesunyian parkiran. Adrian mencabut ponselnya dengan gemetar dan mengangkatnya.

​Tuan Adrian! suara Sarah di seberang telfon terdengar histeris diiringi suara alat medis yang berbunyi nyaring teratur namun semakin cepat.

Tekanan darah Nona Clara merosot tajam! Dokter bilang kesadarannya hampir hilang sepenuhnya! Di mana Anda sekarang?!

​Aku... aku masih di parkiran, jawab Adrian, suaranya tercekat di tenggorokan.

​Tuan! Dokter bilang jika transfusi darah tidak masuk dalam sepuluh menit ke depan, organ fisiknya akan gagal berfungsi satu per satu! Tolong cepat, Tuan! jerit Sarah sebelum panggilan terputus.

​Adrian menurunkan ponselnya secara perlahan. Pandangannya berlanjut menatap Anindya yang masih berdiri kokoh di depan pilar beton. Pria tegap yang biasanya ditakuti oleh ratusan pengusaha itu kini tampak begitu rapuh dan terdesak.

​Anindya... kubohon, bisik Adrian. Kata 'mohon' yang tak pernah sekali pun keluar dari bibir arogannya kini terucap lirih. Tolong selamatkan Clara. Aku akan melakukan apa pun yang kau minta.

​Anindya terkekeh pelan, sebuah kekehan penuh rasa pahit dan kepedihan. Apa pun yang kuminta? Kau bilang apa pun, Adrian?

​Ya! Apa pun! seru Adrian cepat. Kau ingin uang lebih? Aku akan mentransfer sepuluh miliar lagi ke rekeningmu detik ini juga! Kau ingin kebebasanmu setelah ini? Aku akan merobek kontrak pernikahan kita dan melepasmu tanpa penalti satu sen pun!

​Aku tidak butuh uangmu yang beracun itu! potong Anindya tajam. Dan aku tidak percaya pada janji manismu di saat terdesak seperti ini!

​Lalu apa yang kau inginkan?! teriak Adrian frustrasi, memegang kepalanya dengan kedua tangan.

Katakan padaku! Apa yang harus kulakukan agar kau mau melangkah ke ambulans itu dan memberikan darahmu?!

​Anindya menatap lurus ke dalam manik mata Adrian.

Aku ingin jaminan tertulis. Bukan sekadar janji mulut manis dari seorang pembohong.

​Jaminan apa?! tanya Adrian cepat.

​Pertama, batalkan semua klausa pengalihan hak hidup dan organ tubuh dalam berkas rahasiamu, ujar Anindya tegas. Kedua, buat dokumen hukum baru yang menyatakan bahwa seluruh biaya pengobatan adikku sampai sembuh total adalah murni kewajiban sosial dari Vane Foundation yang tidak dapat dibatalkan atau digugat kembali olehmu, apa pun yang terjadi pada pernikahan ini.

​Adrian menatap Anindya tak percaya. Kau memanfaatkan situasi ini untuk mengunci posisiku?

​Kau yang mengajariku cara menjadi licik, Tuan Adrian Vane, cibir Anindya dengan senyum sinis. "Bagaimana? Waktumu tinggal delapan menit sebelum cinta pertamamu membusuk di ruang jenazah.

​Adrian menarik napas panjang yang terasa sangat berat. Dada pria itu kempis-kempis menahan beban keputusan yang sangat besar. Ia menyapu wajahnya kasar, lalu menatap pengawalnya yang berdiri tak jauh dari sana.

​Geri! Ambil berkas kosong dan pulpen dari dalam mobil!" perintah Adrian dengan suara serak.

​Pengawal bernama Geri itu berlari cepat dan kembali menyerahkan map kertas serta pulpen mahal berujung emas kepada Adrian. Dengan menggunakan kap mobil Rolls-Royce sebagai landasan, Adrian menuliskan garis-garis pernyataan darurat tersebut dengan tangan gemetar.

​Ini! Adrian menyodorkan kertas yang baru diselesaikannya itu ke hadapan Anindya beserta pulpennya. Aku sudah menuliskan dan menandatanganinya! Seluruh pengobatan adikmu dijamin penuh tanpa syarat oleh Vane Foundation, dan semua hak atas tubuhmu batal demi hukum!

​Anindya mengambil kertas itu, membacanya dengan teliti setiap kata demi kata untuk memastikan tidak ada celah hukum yang bisa dimanfaatkan Adrian kemudian hari. Setelah yakin, ia menandatanganinya di atas nama Adrian.

​Sekarang, desak Adrian seraya merebut kembali kertas itu dan menyimpannya. Darahmu, Anindya! Ikut aku sekarang!

​Anindya menarik napas panjang, merapikan gaun malamnya yang sedikit kusut, lalu melangkah menuju mobil ambulans khusus yang sudah disiapkan di sudut parkiran. Ingat, Adrian. Satu liter darah ini adalah transaksi terakhir kita secara sukarela. Jangan pernah mencoba mengendalikanku lagi.

​Tiga puluh menit kemudian, di koridor ruang operasi Rumah Sakit Pusat Vane.

​Lampu merah di atas pintu operasi masih menyala terang. Adrian duduk di kursi besi dingin dengan pakaian yang berantakan, dasinya sudah terlepas dan kemejanya terlipat hingga siku. Di sampingnya, Anindya berbaring di atas ranjang dorong darurat dengan jarum transfusi besar menancap di pembuluh darah lengannya.

​Wajah Anindya tampak sangat pucat. Kelopak matanya terasa amat berat karena kantong darah kedua sudah hampir terisi penuh.

​Kau baik-baik saja? tanya Adrian pelan, suara pria itu terdengar agak canggung saat melirik ke arah Anindya.

​Anindya tidak menoleh, matanya menatap langit-langit koridor yang putih bersih. Jangan berpura-pura peduli. Kau hanya takut donor darah ini berhenti sebelum wanita itu selamat.

​Adrian menghela napas panjang, tidak membantah ucapan Anindya. Ia kembali menatap pintu ruang operasi yang tertutup rapat.

​Tiba-tiba, pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter senior berseragam hijau keluar sembari melepas masker medisnya. Wajah dokter itu tampak sangat lesu dan tegang.

​Adrian seketika meloncat berdiri dari kursinya.

Dokter! Bagaimana keadaan Clara?! Apakah transfusi darahnya berhasil?!

​Dokter itu menatap Adrian dengan pandangan penuh rasa duka. Tuan Adrian... kami telah berusaha sekuat tenaga dan memasukkan seluruh darah yang disumbangkan oleh Nyonya Anindya.

​Lalu?! desak Adrian, cengkeraman tangannya di bahu dokter itu mengencang. "Kenapa wajahmu seperti itu?! Dia selamat, bukan?!

​Dokter itu menggelengkan kepalanya perlahan.

Pendarahan dalamnya terlalu parah dan racun di tubuhnya sudah merusak jaringan otak sebelum darah ini masuk. Nona Clara... telah dinyatakan meninggal dunia lima menit yang lalu.

​Deg.

​Dunia Adrian terasa runtuh seketika. Pria itu mundur dua langkah dengan wajah melotot tak percaya, lalu tersungkur lututnya menabrak lantai marmer koridor yang dingin.

​Anindya yang terbaring lemah di ranjang dorong terkejut mendengar kabar tersebut. Namun, sebelum Anindya sempat mencerna apa yang terjadi, pintu operasi kembali terbuka. Dua orang perawat mendorong keluar jasad Clara yang tertutup kain putih.

​Saat kain putih itu sedikit tersingkap karena gerak roda ranjang, sebuah kantong plastik transparan berisi barang-barang pribadi Clara terjatuh tepat di dekat kaki Adrian. Di dalam kantong itu, tampak sebuah buku catatan kecil berdarah dan sebuah rekaman alat perekan suara (voice recorder) digital yang masih menyala.

​Adrian dengan tangan gemetar mengambil perekam suara tersebut dan menekan tombol play.

​Suara Clara yang lemah dan terbata-bata terdengar berbisik dari pengeras suara kecil alat itu:

​Adrian... jika kau mendengar ini... artinya aku sudah mati... Tapi kau harus tahu... kecelakaan ini bukan tidak sengaja... Seseorang memotong kabel rem mobilku saat aku keluar dari ballroom...

​Suara batuk berdarah Clara terdengar di rekaman, sebelum wanita itu melanjutkan kalimat terakhirnya yang membekukan darah Adrian dan Anindya:

​Orang yang menyuruh membunuhku... adalah orang yang sama yang membayar tiga miliar untuk adik Anindya... Dia ada di dekatmu, Adrian... Dialah...

​Bzzzt!

​Suara rekaman itu mendadak mati secara tiba-tiba karena baterai kehabisan daya.

1
Om Udik
lanjut🙏
Om Udik
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!