Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.
"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.
Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.
Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.
"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29: Bakar-Bakar
Galih tidak menghampiri mereka di pom bensin.
Ia berbalik sebelum Laras sempat memanggil, meninggalkan kantong belanja yang berayun cepat di tangannya. Reno juga pergi setelah teman-temannya membunyikan klakson berkali-kali.
"Kenapa mukanya begitu?" tanya Laras.
Rayhan pura-pura tidak tahu. "Mungkin kurang tidur."
Mereka melanjutkan perjalanan ke terminal. Nadia sudah menunggu di dekat pintu keluar dengan dua tas besar dan kacamata hitam yang terlalu lebar untuk wajahnya.
Begitu melihat Laras, ia menjerit.
"Akhirnya manusia bengkel gue keluar juga!"
Nadia memeluk Laras, lalu mundur untuk memeriksa pakaian serta jepit mutiara di rambutnya. Dress Nadia berwarna cokelat muda, senada dengan blus krem dan rok Laras. Mereka tidak benar-benar kembar, tetapi cukup mirip untuk membuat Rayhan menatap dua kali.
"Gimana?" Nadia berputar. "Cocok, kan?"
"Cocok buat bikin satu terminal lihat kita," kata Laras.
"Biarin. Rayhan aja sampai lupa kedip."
Rayhan mengambil tas Nadia. "Berat banget. Kak Nadia pindahan?"
"Oleh-oleh. Sama baju Laras, karena dia nggak bisa dipercaya pilih sendiri."
Malamnya, Pak Darto menyiapkan bakar-bakar kecil di halaman. Nadia mengirim pesan kepada Bima sejak sore, berharap pacarnya ikut datang. Balasan baru muncul ketika arang sudah menyala.
Ada kerjaan mendadak. Maaf, Nad. Besok gue ganti.
Senyum Nadia turun sesaat.
"Bima nggak jadi?" tanya Laras.
"Sibuk."
"Telepon aja."
"Nggak usah. Kalau dia mau datang, dia datang."
Nadia meletakkan ponselnya telungkup. Ia lalu tertawa lebih keras dari biasanya, sibuk mengoles saus ke jagung dan mengajak semua orang berfoto.
Mbah Surti memuji dress mereka sambil berkali-kali membetulkan posisi duduk agar ikut masuk kamera. Pak Darto memakai penjepit arang seperti mikrofon dan menyanyi satu bait lagu lama sampai Laras mengancam menyiram bara.
Nadia merekam semuanya. Setiap kali layar ponselnya menyala, matanya otomatis mencari nama Bima. Tidak ada pesan baru.
"Dia memang sering batal mendadak?" tanya Rayhan ketika membantu membawa piring.
"Kerjaannya lagi banyak," jawab Nadia cepat. "Bima bukan orang yang bisa santai kayak kalian."
Nada pembelaannya terlalu tajam. Rayhan tidak membalas, hanya menaruh sebotol air di dekat kursinya.
Laras duduk di samping Nadia. "Kalau kecewa, bilang kecewa. Nggak perlu pura-pura ketawa."
"Kalau gue bilang kecewa, dia tetap nggak datang. Jadi mending makan."
Nadia menggigit jagung dan tersenyum lebar untuk kamera, tetapi setelah foto diambil ia tidak langsung melihat hasilnya.
Rayhan memilih potongan ayam paling matang, memisahkan bagian gosong, lalu menaruhnya di piring Laras. Belum sempat Laras protes, Galih muncul dari pagar membawa sekantong es batu untuk Pak Darto.
Tatapannya langsung jatuh pada jepit di rambut Laras.
"Jadi lo memang punya jepitnya," katanya.
Laras menyentuh rambut. "Ini dari Nadia."
"Bedanya apa? Sama-sama mutiara."
"Bedanya yang satu ada di gue, yang satu hilang di mobil lo."
Galih mengeluarkan sesuatu dari saku. Jepit pemberiannya kini bersih, tetapi lecet dan noda tipis masih tampak di sisi pengait.
"Hilang di mobil? Gue nemu ini di depan rumah lo. Di lumpur."
Nadia berhenti mengipas arang. Pak Darto memandang mereka bergantian.
"Gue nggak pernah buang," kata Laras.
"Terus dia jalan sendiri dari mobil ke tangga rumah?"
"Gue bahkan nggak tahu jepitnya ketemu."
"Kotaknya lo balikin kosong. Waktu gue tanya, lo juga kayak nggak peduli. Kalau nggak suka, bilang dari awal. Nggak perlu bikin gue kelihatan bego."
Laras merasa pipinya panas. Bukan karena bersalah, melainkan karena dituduh di depan semua orang atas sesuatu yang tidak ia lakukan.
"Gue bilang jepitnya jatuh. Kalau lo lebih percaya barang di tanah daripada omongan gue, terserah."
"Gue percaya apa yang gue lihat."
"Yang lo lihat cuma hasil akhirnya," balas Laras. "Lo nggak lihat siapa yang bawa dari mobil, siapa yang naruh, atau kapan jatuh."
"Di rumah ini siapa lagi yang punya urusan sama jepit gue?"
Pertanyaan itu menggantung. Galih memandang Rayhan, lalu kembali kepada Laras. Ia tidak punya bukti untuk menuduh siapa pun, dan rasa sakit membuatnya memilih sasaran yang paling dekat.
"Mungkin memang gue yang salah," katanya. "Gue pikir hadiah kecil begitu bakal lo simpan."
"Gue simpan baut, kunci, bahkan tiket bus. Jangan ajarin gue soal menghargai barang."
"Tapi bukan barang dari gue."
Laras berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser. "Kalau dari awal lo kasih cuma supaya gue membalas sesuai harapan lo, ambil lagi."
Nadia hendak menyela, tetapi Pak Darto menggeleng kecil. Kalimat-kalimat yang sudah terlanjur keluar tidak bisa dikembalikan dengan menyuruh mereka diam.
Rayhan berdiri di sisi meja, diam dengan piring di tangan. Tidak ada satu otot pun di wajahnya yang bergerak.
Laras menoleh kepadanya. Entah kenapa, ketenangan itu membuat kecurigaan kecil dari malam keluarga kembali muncul.
"Lo tahu sesuatu?" tanyanya.
"Soal apa?"
"Soal jepit ini."
Rayhan menggeleng. "Aku cuma tahu Galih terlalu gampang menuduh kamu."
Galih tertawa pahit. "Dan lo selalu ada di tempat yang paling enak buat kelihatan baik."
"Sudah," potong Pak Darto. "Kalau mau bicara, jangan di depan makanan."
Galih memasukkan jepit itu kembali ke saku. "Nggak ada yang perlu dibicarakan."
Ia meletakkan es batu di dekat kotak minuman, pamit singkat kepada Pak Darto, lalu pergi tanpa menyentuh makanan.
Laras memandangi punggungnya sampai hilang di ujung gang. Rasa marah bercampur malu membuat tenggorokannya sempit.
"Ras," panggil Nadia pelan.
"Gue nggak apa-apa."
"Muka lo bilang sebaliknya."
Laras duduk kembali. Di atas piringnya, potongan ayam terbaik yang dipilih Rayhan masih hangat. Rayhan mengambil satu sayap yang baru matang, meniup asapnya, lalu menaruhnya di sebelah ayam tadi.
"Nggak usah dipikirin dia," katanya. "Ada aku."
Laras menatapnya. Kalimat itu seharusnya menenangkan, tetapi bayangan Rayhan yang terlalu tenang terus mengusik pikirannya.
"Kenapa lo nggak kaget lihat jepit itu?"
Rayhan berhenti sesaat. "Aku sudah lihat waktu dia kasih ke kamu."
Jawaban itu benar, tetapi tidak lengkap.
"Terus malam di mobil, lo bilang ada yang jatuh," lanjut Laras. "Lo lihat jepitnya?"
"Aku lihat kotaknya jatuh. Kamu sendiri bilang cari nanti pas berhenti."
"Dan kita nggak pernah cari."
"Karena Galih bilang dia sudah cari di mobil."
Rayhan menatapnya tanpa berkedip. Setiap kalimat tersusun rapi di atas fakta yang dipilih. Laras tidak bisa menemukan kebohongan, tetapi tetap merasa ada ruang gelap di antara kata-katanya.
Nadia menyelipkan tangan ke lengan Laras sebelum suasana kembali tegang. "Malam ini jangan sidang siapa-siapa. Gue baru pulang, Bima batal datang, terus Galih bikin acara kayak pengadilan. Gue butuh minum."
"Di sini ada teh," kata Rayhan.
"Bukan minum itu. Ada warung kecil dekat jalan utama, kan? Kita lanjut di sana."
Pak Darto hendak melarang, tetapi Nadia sudah mengangkat dua jari seperti bersumpah.
"Cuma sebentar. Laras temenin gue. Rayhan kalau mau ikut, jangan cerewet."
Nadia mengambil tasnya dan menggandeng Laras keluar halaman. Di belakang mereka, arang masih menyala merah.
Rayhan memandang dua perempuan itu berjalan menuju mulut gang, lalu mematikan bara yang jatuh ke tanah dengan ujung sandal.
Entah kenapa, percikan kecil itu membuat dadanya terasa tidak enak.