When the Extra Writes the Rules/ Ketika karakter tambahan menulis aturan.
Kisah seorang pekerja kantoran modern Kirana yang masuk ke tubuh Evelyn Rosenberg, karakter figuran kaya raya namun berpenyakit kronis dalam novel fantasi favoritnya.
Karena tahu takdir karakter pendukung dan dunia novel tersebut akan berujung bad ending, Evelyn bertekad mengubah alur dengan memanfaatkan pengetahuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Di Balik Senyuman
Taman belakang Kediaman Marchioness Vally siang itu tampak begitu semarak.
Bunga-bunga mawar musim semi mekar sempurna, menebarkan wewangian lembut.
Di bawah kanopi, meja-meja bundar dijejali oleh deretan cangkir, nampan berisi scones hangat, dan menara kue-kue kecil.
Pesta minum teh sosialita bangsawan muda Kekaisaran Arkania sedang berlangsung.
Suara denting sendok teh beradu dengan gelak tawa berbisik dari para putri bangsawan.
Di sudut meja utama, Evelyn duduk di atas kursinya.
Setelah melalui perdebatan sengit selama tiga hari dengan Julian—yang sempat mengancam akan ikut duduk di sampingnya—Evelyn akhirnya diizinkan menghadiri acara sosial pertamanya.
Hari ini, Evelyn mengenakan gaun berwarna hijau mint dengan aksen renda putih di bagian kerah tingginya.
Rambutnya ditata menjuntai di bahunya.
Di samping Evelyn, Duchess Eleanor sibuk mengipasi dirinya, matanya tak pernah lepas mengawasi tiap gerakan putrinya.
"Kalau kamu merasa dadamu mulai agak sesak, bilang sama Mama ya, Sayang?" bisik Eleanor.
"Evelyn baik-baik aja, Ma," jawab Evelyn seraya menyunggingkan senyum tipis.
Tiba-tiba, suara derit langkah kaki mendekat.
Seorang gadis muda dengan gaun warna merah menyala melangkah menghampiri meja mereka. Lady Clara—putri tunggal Count Malakor—membawa cangkir tehnya sendiri dengan senyum menyipit yang dipaksakan.
Di belakangnya, dua gadis bangsawan lain dari kelompoknya mengekor dengan tatapan menilai yang tidak menyenangkan.
"Ah, Duchess Rosenberg... dan Lady Evelyn," sapa Lady Clara dengan nada suara yang ditinggikan, sengaja menarik perhatian meja-meja di sekitarnya.
Ia membungkuk singkat dengan gerakan malas. "Sungguh keajaiban yang luar biasa bisa melihat Lady Evelyn keluar dari kamarnya. Kami semua di ibu kota sempat mengira Anda... ah, maaf, maksud saya, mengira kesehatan Anda sudah tidak memungkinkan lagi untuk menghadiri acara sosial."
Eleanor langsung menegakkan punggungnya. "Kesehatan putriku sudah jauh membaik, Lady Clara. Terima kasih atas perhatianmu yang... sangat berlebihan."
Evelyn menahan tawa dalam hati. Ia tahu betul kenapa Clara mendatangi mejanya dengan aura permusuhan yang menyengat begini.
Ayah Clara—Count Malakor—baru saja rugi besar karena proyek Oakhaven yang batal secara memalukan.
Clara menyunggingkan senyum tipis yang penuh ejekan. Ia duduk di kursi kosong tepat di depan Evelyn tanpa permisi, memiringkan kepalanya dengan raut wajah pura-pura kasihan.
"Tentu saja saya cemas, Lady Evelyn," kata Clara seraya menyesap tehnya pelan.
"Apalagi kemarin saya mendengar rumor menyedihkan. Kabarnya keluarga Rosenberg membatalkan investasi berharga di Lembah Oakhaven dan malah membuang-buang kas keluarga untuk membeli tanah-tanah kosong terlantar di wilayah Utara lewat perusahaan perantara?"
Bisik-bisik langsung merebak di meja-meja sekitar. Para lady muda mulai menutupi mulut mereka dengan kipas, saling beradu pandang.
"Beli tanah gersang di Utara?" bisik salah satu lady di meja sebelah. "Bukannya daerah sana cuma berisi es dan batu nggak guna?"
"Iya, lagipula bukannya penguasa Utara itu Duke Cassian yang mengerikan itu?" timpal yang lain.
Clara tertawa halus, suaranya sengaja dibuat terdengar sangat prihatin. "Saya sungguh kasihan pada Duke Rosenberg. Tampaknya karena terlalu fokus merawat putri bungsu yang terus-menerus sakit sakitan di kamar, beliau sampai kehilangan ketajaman bisnisnya dan tertipu oleh spekulan tanah. Sungguh ironis untuk keluarga sekelas Rosenberg."
Eleanor baru saja akan berdiri dan membela suaminya, namun jemari Evelyn dengan cepat memegang pergelangan tangan ibunya di bawah meja.
Evelyn menatap Clara.
"Lady Clara," panggil Evelyn pelan.
Clara mengangkat alisnya. "Ya, Lady Evelyn? Anda mau membela keputusan salah ayah Anda?"
Evelyn menyandarkan punggungnya di kursi, mengukir senyuman. "Saya hanya penasaran, Lady Clara... apakah Count Malakor belum sempat menceritakan laporan geologi terbaru tentang Lembah Oakhaven kepada Anda?"
Raut wajah Clara sedikit berubah. "Laporan apa maksud Anda? Oakhaven adalah tanah kristal terbaik!"
"Tanah kristal terbaik?" Evelyn terkekeh pelan. "Dua hari lalu, Departemen Pengawasan Lingkungan Kerajaan baru saja menyegel seluruh kawasan Oakhaven. Tampaknya, pengeboran tanah di sana memicu semburan racun sihir purba yang mencemari seluruh pasokan air tanah."
Seluruh lady di taman itu tersentak kaget.
Wajah Clara mendadak pucat pasi. "Ap... apa?! Nggak mungkin! Itu bohong!"
"Bohong?" Evelyn memiringkan kepalanya, menatap Clara dengan pandangan kasihan. "Kabar segel resmi itu sudah ditempel di papan pengumuman balai kota pagi ini, Lady Clara. Kalau saja ayah saya menandatangani kontrak jual-beli itu minggu lalu... keluarga Rosenberg-lah yang harus bertanggung jawab membayar ganti rugi ratusan ribu koin emas atas pencemaran itu kepada Istana."
Evelyn memajukan tubuhnya.
"Jadi, kalau Anda menyebut pembatalan investasi itu sebagai bentuk 'kehilangan ketajaman bisnis'... saya justru menganggapnya sebagai perlindungan Tuhan atas keluarga kami," bisik Evelyn. "Atau mungkin... kita harus mempertanyakan niat Count Malakor yang mencoba menjual tanah beracun itu kepada ayah saya sejak awal?"
"Ka-kamu...!" Clara terbata-bata, mukanya memerah padam karena malu dan terkejut.
Bisik-bisik di sekitar mereka kini berbalik sepenuhnya. Para lady muda mulai menatap Clara dengan pandangan penuh kecurigaan dan cemoohan.
"Ya ampun... jadi Count Malakor mau menjebak keluarga Rosenberg?"
"Tega sekali! Pantas saja Duke Rosenberg membatalkannya!"
"Lady Evelyn ternyata diam-diam mengamati berita kerajaan walau sedang sakit!"
Mendengar bisikan-bisikan tajam itu, Clara gemetar hebat. Ia ingin membalas, namun Evelyn belum selesai.
Gadis itu kembali menyesap tehnya dengan santai, lalu kembali berucap. "Oh, dan soal pembelian tanah di Utara... Lady Clara tidak perlu khawatir. Wilayah Utara mungkin dingin dan penuh es, tapi di bawah kepemimpinan Duke Cassian von Obsidian, tanah itu menyimpan potensi energi yang nggak akan pernah sanggup dibayangkan oleh orang-orang yang hanya melihat permukaan."
"Kamu... kamu membela monster dari Utara itu?!" sergah Clara dengan sisa-sisa keberaniannya yang tersisa.
"Saya tidak membela siapa pun. Saya hanya menilai berdasarkan data dan logika, bukan sekadar rumor murahan," balas Evelyn tenang, menatap Clara. "Sesuatu yang tampaknya sangat langka di kalangan tertentu."
Skeeehh!
Clara berdiri mendadak hingga kursinya terdorong ke belakang dengan bunyi kasar. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, putri Count Malakor itu melangkah pergi dari taman dengan menahan malu. Kedua pengikutnya buru-buru menyusul di belakang dengan wajah tertunduk.
Duchess Eleanor menatap putrinya dengan mata membelalak takjub. Sang ibu sama sekali tidak menyangka bahwa putri bungsu yang biasanya hanya diam dan penurut ini sanggup membalikkan serangan politik kata-kata dengan begitu tenang dan cerdas!
"Evelyn..." bisik Eleanor dengan suara bergetar bangga. "Kamu... dari mana kamu tahu soal berita segel Oakhaven itu?"
Evelyn berpaling pada ibunya, mengedipkan satu matanya dengan raut wajah jenaka. "Kak Julian yang cerita tadi pagi pas ngantar susu, Ma. Evelyn cuma merangkai katanya sedikit."
Eleanor tertawa lepas. Ia meraih tangan Evelyn dan menggenggamnya erat. "Luar biasa. Putri Mama benar-benar luar biasa!"
Dan dari jauh, di balik pepohonan tinggi yang membatasi taman, sesosok pria berzirah hitam yang menunggang kuda hitam tampak memperhatikan area pesta teh sejak tadi.
Penguasa Utara—Duke Cassian von Obsidian—yang kebetulan sedang berada di ibu kota untuk urusan militer, menatap sosok gadis bergaun hijau itu dari kejauhan.
Cassian menyipitkan mata kelamnya, menarik tali kekang kudanya pelan.
"Gadis berpenyakit dari Rosenberg itu..." gumam Cassian dingin dengan nada tertarik yang jarang sekali muncul di wajah tampannya. "...ternyata punya taring yang cukup tajam.”
semangat nulisnya 💪