Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.
Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.
Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.
Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Pertemuan Tanpa Pengakuan
Langkah kaki Lin Meiying terasa begitu berat ketika ia berjalan kembali menyusuri koridor rumah sakit menuju lift. Isak tangisnya sudah mereda, menyisakan sesak yang menghimpit dada serta linangan air mata yang mengering di pipinya. Baru saja ia memohon dengan sangat kepada kepala perawat, dan ajaibnya, sebuah keajaiban kecil terjadi secara mendadak.
Beberapa menit lalu, perawat senior itu tiba-tiba berlari menghampirinya dengan ekspresi tercengang, menyatakan bahwa seluruh tunggakan biaya pengobatan ibunya di kamar 302 telah dilunasi sepenuhnya oleh pihak administrasi pusat. Bahkan, ancaman pencabutan alat bantu pernapasan dibatalkan seketika. Meiying tidak tahu malaikat penolong mana yang telah menyelamatkan nyawa ibunya malam ini, tetapi ia bersyukur hingga nyaris sujud di lantai koridor rumah sakit.
Saat pintu lift terbuka berdenting, Meiying menunduk sambil mengusap sisa air matanya, lalu melangkah masuk ke dalam kabin yang sudah terisi oleh seorang pria berjas rapi.
Bau parfum mahoni yang lembut dan maskulin langsung menyergap indra penciumannya. Aroma itu begitu familier, begitu dekat, hingga membuat langkah Meiying terpaku di tempat.
Di dalam kabin lift yang hanya diisi oleh mereka berdua, Lu Jingyan berdiri tegak menghadap pintu tertutup. Pria itu sebenarnya bisa saja memilih naik lift pribadi atau menunggu gelombang berikutnya, tetapi melihat Meiying masuk seorang diri membuatnya kehilangan kendali atas akal sehatnya. Ia ingin melihat wanita itu dari dekat, memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa istrinya sudah sedikit lebih tenang setelah ancaman rumah sakit dicabut.
Pintu lift menutup rapat, mengurung mereka berdua dalam keheningan yang tegang dan sarat akan emosi yang tertahan.
Jingyan mengepalkan tangannya di dalam saku celana, menggigit bagian dalam pipinya agar tidak meloloskan satu kata pun. Melirik sekilas dari ekor matanya, ia melihat wajah Meiying yang sangat tirus, lingkaran hitam di bawah mata, serta jemari wanita itu yang masih gemetar memegang tali tas usang.
“Kau dilarang keras mengungkap identitas aslimu kepada siapapun... Jiwamu akan lenyap selamanya jika melanggar.”
Peringatan Shen Wuming berdenging keras di kepalanya, bertarung hebat dengan dorongan nurani seorang suami yang ingin mendekap istrinya yang hancur.
Merasa diperhatikan secara intensif oleh pria asing berjas mewah di sebelah kanannya, Meiying mendongak perlahan. Ia menatap pantulan wajah pria itu di dinding cermin lift. Jantungnya berdegup tak beraturan. Postur tinggi tegap, garis rahang yang tegas, hingga cara pria itu berdiri—semuanya memancarkan bayangan sosok yang sudah satu tahun terkubur di dalam ingatannya.
"Anda..." suara Meiying bergetar pelan, memecah kesunyian kabin lift. Ia memberanikan diri menoleh ke samping. "Apakah Anda... orang yang sama yang datang ke kontrakan saya malam ini?"
Jingyan menoleh pelan. Menatap manik mata Meiying yang basah dan penuh selidik membuatnya nyaris berhenti bernapas. Ia harus menjaga suaranya agar tetap sedingin es, tidak boleh ada kehangatan yang bocor.
"Anda salah orang, Nyonya," jawab Jingyan dengan nada datar, kaku, dan berwibawa. Ia menatap lurus ke depan, menolak memberikan celah emosional. "Saya adalah direktur utama Lu Group. Tidak ada alasan bagi saya untuk mendatangi kontrakan kumuh di distrik utara."
Mendengar penyebutan nama Lu Group, ekspresi Meiying berubah seketika. Ada kilat kebencian dan luka mendalam yang melintas di balik mata sayunya. Nama korporasi itu adalah sinonim dari kematian suaminya—perusahaan busuk yang merenggut nyawa Chen Guowei dan membuang keluarganya ke dalam jurang kemiskinan.
"Direktur Lu Group..." gumam Meiying pelan penuh sarkasme, senyum pahit terukir di bibirnya. Ia tidak lagi takut menatap pria di hadapannya. "Kalian memang hebat. Kalian bisa dengan mudah melunasi tagihan rumah sakit orang miskin seperti kami untuk membersihkan nama korporasi kalian yang kotor, tapi kalian tidak akan pernah bisa membeli nyawa suami saya yang kalian bunuh di proyek jahanam itu!"
Deg!
Kata-kata itu menghantam dada Jingyan bagaikan hantaman palu godam. Suami saya yang kalian bunuh. Kalimat itu keluar langsung dari bibir Meiying, membuktikan betapa besar luka dan dendam yang disimpan istrinya selama setahun ini terhadap Lu Group—perusahaan yang kini justru ia pimpin dari singgasana tertinggi.
Ding.
Pintu lift lantai dasar terbuka lebar.
Tanpa menunggu balasan dari Jingyan, Meiying melangkah keluar dengan kepala tegak, meninggalkan aroma air mata dan kepedihan yang mendalam di dalam kabin.
Jingyan tetap berdiri terpaku di dalam lift yang kosong, menatap pintu yang perlahan menutup kembali. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah menuruni pipinya.
"Maafkan aku, Meiying," bisiknya parau pada dinding lift yang sunyi. "Aku bukan membunuhmu, tapi aku akan menghancurkan mereka semua demi membalaskan kematianku."