Norman Turner mengira Grace Wills, wanita yang mudah dibodohi, sayangnya ia tidak memahami istrinya dengan baik.
Grace Wills malah memilih langkah yang paling berbeda saat mengetahui suaminya mendua.
Apa yang dilakukan Grace Wills? Penasaran, kepoin yuk ceritanya ...
Untuk tahu info update, follow IG: @nana_vinli
Diusahakan update setiap hari, 1 sampai 3 bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berhati-hatilah
Dengan sabar Norman menunggu jawaban dari Fallen. Namun, senyum di wajah Fallen perlahan menghilang.
Pria tua itu kembali menatap layar laptop dengan alis berkerut. "Astaga ..."
"Ada apa?" Norman yang semula begitu bersemangat langsung merasa tidak tenang.
"Orang ini benar-benar licik, Tuan," kata Fallen kemudian.
"Apa maksud Anda?"
"Lokasinya tetap berada di sini, tetapi saya tidak bisa menemukan pelacaknya."
Kini Norman mengerutkan kening dengan sangat kuat. "Hah? Bagaimana bisa?"
Fallen menghela napas. "Orang ini benar-benar pintar."
Norman mulai kehilangan kesabaran.
"Aduh, bagaimana bisa, Tuan? Bukankah seharusnya Anda bisa menemukannya? Anda dikenal sebagai orang yang mampu melacak keberadaan seseorang dalam waktu singkat. Kenapa sekarang Anda tidak bisa?"
Fallen hanya tersenyum kecil. "Benar, Tuan Norman. Jasa saya memang Anda gunakan, tetapi saya tidak pernah mengatakan bahwa saya adalah orang paling andal di California."
Norman terdiam.
"Saya hanya bekerja berdasarkan permintaan para konsumen. Jika hasil pekerjaan saya kurang memuaskan, saya minta maaf," lanjut Fallen.
Fallen kemudian menutup laptopnya. "Kalau begitu, saya pamit. Uang yang sudah Tuan Norman kirim akan saya kembalikan."
Fallen berdiri dan merapikan jasnya. Senyum tipis masih terlihat di wajahnya. Entah mengapa, senyum itu justru terasa seperti ejekan bagi Norman.
"Anda ..." Norman menahan emosinya dengan wajah mulai memerah.
Namun, Fallen tidak lagi memperpanjang percakapan. Dia hanya mengangguk singkat, lalu berjalan meninggalkan ruangan.
Norman yang merasa kesal hanya bisa mengepalkan tangannya.
Brak!
Sebuah benda di atas meja dilempar begitu saja hingga jatuh ke lantai.
"Kenapa selalu seperti ini?" teriak Norman sambil mengacak rambutnya dengan kasar.
Norman tidak menyadari Fallen yang sudah berada di depan pintu sempat melirik ke belakang. Pria tua itu hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya keluar dari ruangan.
Sesampainya di lantai satu, Fallen berhenti sejenak di depan gedung. Kemudian mendongak, memandangi gedung tinggi tempat Norman bekerja.
Fallen hanya bisa menggelengkan kepala.
"Anak muda," gumamnya pelan.
Setelah itu, dia berjalan meninggalkan gedung.
Fallen pun tiba di sebuah restoran yang cukup tenang. Pria tua itu masuk ke dalam dan langsung menuju salah satu meja di sudut ruangan.
Di sana, seorang wanita sudah menunggunya. Wanita itu mengenakan kacamata dengan mantel panjang yang menutupi sebagian tubuhnya. Rambut merahnya dibiarkan tergerai. Siapa lagi kalau bukan Grace.
Fallen menarik kursi lalu duduk di hadapan wanita tersebut.
Tanpa banyak bicara, Grace mengambil sebuah amplop cokelat yang sudah disiapkan di atas meja. Dia menggesernya ke arah Fallen.
"Terima kasih, Tuan Fallen. Aku tidak menyangka Tuan Fallen akan membaca pesanku."
Fallen mengambil amplop tersebut, tetapi tidak langsung membukanya. "Justru aku yang berterima kasih."
Grace mengerutkan kening.
"Karena berkat dirimu, aku tidak salah mempercayai seseorang," lanjut Fallen.
Grace hanya diam.
Sebelumnya, ketika Fallen masih berada di ruangan Norman dan sibuk membuka laptop serta perangkat pelacaknya, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Pesan itu berasal dari Grace.
"Tuan Fallen, akulah yang meneror suamiku. Tolong jangan buka identitasku. Aku diselingkuhi Norman. Aku hanya ingin membuatnya merasakan sedikit dari apa yang kurasakan. Aku akan memberimu uang berkali-kali lipat dari yang Norman bayarkan."
Fallen membaca pesan tersebut dengan tenang. Dia juga sudah mengetahui bahwa perangkat yang digunakan untuk melakukan panggilan kepada Norman memiliki jejak yang mengarah kepada Grace. Namun, pria tua itu memilih untuk membantu wanita tersebut.
"Aku mempunyai seorang putri yang juga pernah dikhianati," ujar Fallen pelan.
Grace terdiam.
"Aku tahu rasanya melihat seseorang yang kita percaya justru menyakiti kita. Jadi, aku senang bisa membantumu," sambungnya.
Tatapan Grace sedikit berubah, menjadi terharu.
Fallen tiba-tiba menatap Grace dengan serius. "Nona Grace, kau harus berhati-hati."
Grace mengangkat wajahnya.
"Untuk saat ini, keberuntungan mungkin sedang berpihak padamu. Namun, aku yakin Tuan Norman tidak akan tinggal diam," kata Fallen seraya berdiri dari kursi.
"Jadi, berhati-hatilah." Fallen kemudian melangkah meninggalkan meja.
Grace hanya memandangi kepergian pria tua itu dengan tatapan nanar.
***
Siang harinya, Norman menerima pesan dari tangan kanan Edmund yang memintanya segera datang ke mansion sang kakek.
Edmund sudah tiba di California sekitar dua jam yang lalu. Norman yang masih sibuk dengan pikirannya akhirnya terpaksa memenuhi panggilan tersebut.
Begitu sampai di mansion, seorang pelayan langsung mengantarnya menuju ruangan besar tempat Edmund berada.
Norman baru saja melangkah masuk ketika sebuah pukulan keras langsung mendarat di wajahnya.
Brak!
Tubuh Norman terhuyung ke belakang. Dia memegang sudut bibirnya yang terasa perih, lalu menatap pria tua yang berdiri di hadapannya.
"Kakek?"
Edmund Turner menatapnya dengan wajah penuh amarah lalu berseru, "Berani sekali kau mempermalukan keluarga Turner!"
Norman masih terdiam karena terkejut. Baru setelah itu dia menyadari bahwa dirinya tidak sendirian di ruangan tersebut.
Di sana ada Victor Hale, tangan kanan Edmund yang selama bertahun-tahun selalu mendampingi kepala keluarga Turner. Selain itu, terdapat beberapa orang penting lainnya.
Salah satunya adalah Julian Sinclair, seorang konglomerat besar yang memiliki pengaruh luas di California. Di sampingnya duduk Richard Beaumont dan Adrian Crawford, dua pengusaha yang juga memiliki hubungan dekat dengan keluarga Turner.
Norman menundukkan kepala.
Edmund kembali menghampirinya. "Kenapa kau diam?!"
Norman tidak menjawab.
Sebuah pukulan kembali mendarat di wajahnya. Tubuh Norman kembali terdorong ke belakang.
"Sejak kapan keluarga Turner membuat skandal seperti ini?!" bentak Edmund.
Norman hanya mengusap darah yang mulai mengalir dari sudut bibirnya.
"Aku bertanya kepadamu!"
"Maaf, Kakek." Hanya itu yang keluar dari mulut Norman.
Edmund semakin murka. "Maaf kau bilang!" serunya sambil mencengkeram kerah jas Norman.
"Berapa kali aku harus mengatakan kepadamu untuk menjaga nama keluarga kita, hah?" kata Edmund.
Norman tetap diam.
Edmund melepaskan cengkeramannya dengan kasar. "Selama beberapa generasi, keluarga Turner tidak pernah dipermalukan seperti ini di depan publik!"
Padahal Edmund sendiri tahu betul bahwa keluarga Turner tidak pernah benar-benar bersih. Namun, di hadapan orang-orang seperti Julian Sinclair, semua itu harus tetap tertutup rapat.
Edmund tidak ingin seorang pun melihat celah dalam keluarganya.
"Seharusnya kau bisa berkaca pada kakakmu," lanjut Edmund.
Norman masih menundukkan kepala.
"Adikmu saja tidak pernah membuat masalah besar!"
Nyatanya, Ruby hamil di luar nikah, tapi Ruby berhasil menutupi skandalnya.
Edmund menunjuk Norman dengan penuh amarah. "Tapi kau? Kau justru membiarkan seluruh dunia melihat skandalmu!"
Norman mengepalkan tangan. Dia ingin menjelaskan bahwa video itu bukan dirinya. Namun, melihat tatapan Edmund dan orang-orang yang berada di ruangan tersebut, Norman memilih diam.
Julian Sinclair sejak tadi hanya memperhatikan Norman tanpa banyak bicara. Tatapannya tenang, tetapi sulit ditebak.
Edmund kembali membuka suara. "Bagaimana dengan Grace?"
Norman perlahan mengangkat wajah.
"Apa yang akan dilakukan istrimu jika mengetahui suaminya terlibat dalam video seperti itu?"
Norman akhirnya bersuara. "Itu bukan videoku, Kakek. Video itu direkayasa."
"Diam!" Bentakan Edmund menggema di seluruh ruangan. "Kau pikir aku bodoh?"
Norman kembali terdiam.
Edmund menghela napas panjang, lalu merapikan jasnya seolah baru saja tidak melakukan apa-apa. "Kau harus membawa Grace ke sini."
Norman menatap kakeknya. "Temui istrimu. Jelaskan semuanya. Dan minta maaf kepadanya."
Norman hanya mengangguk. "Baik, Kakek."
"Pergilah."
Norman berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan dengan bibir yang masih berdarah.
Tak seorang pun menghentikannya.
Namun, sebelum Norman benar-benar keluar, dia sempat melirik ke arah orang-orang yang masih berada di ruangan itu.
Julian Sinclair masih duduk tenang. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Norman kemudian pergi meninggalkan mansion tersebut.
Malam itu, Norman akhirnya pergi mencari Grace. Sesuai perintah kakeknya, dia mendatangi kediaman orang tua Grace.
Begitu pintu terbuka, Emma langsung terlihat di hadapannya.
"Norman?"
"Selamat malam, Ma."
Emma menatap Norman beberapa detik. "Ada apa?"
Norman mencuri-curi pandang ke dalam ruangan. "Aku ingin bertemu Grace."
Emma terdiam sesaat. "Grace tidak ada di sini."
Norman menatap wajah ibu mertuanya dengan saksama. "Benarkah?"
"Iya. Memangnya ada masalah?"
Norman menggeleng. "Ah, tidak ada. Kalau begitu, aku pergi."
Dia membungkuk kecil. "Selamat malam, Ma."
"Selamat malam."
Emma menutup pintu setelah Norman pergi. Dia berdiri beberapa saat di balik pintu, memastikan pria itu benar-benar meninggalkan rumah.
Setelah itu, Emma berjalan masuk ke dalam rumah. Dia menemukan George berada di ruang makan. Pria itu sedang menyelimuti Grace yang terlihat tertidur dengan kepala bersandar di atas meja.
Emma menghampiri mereka.
"Grace akan mengira aku lagi yang menyelimutinya," kata Emma seketika sambil mengulum senyum.
"Hm, siapa yang datang?" George bertanya tanpa menatap lawan bicara. Pandangannya masih tertuju pada Grace.
"Norman."
Mendengar nama Norman, tangan George langsung terkepal.
"Aku yakin sekali video itu tidak direkayasa," katanya penuh penekanan.
"Entahlah, tapi pihak ahli digital mengatakan itu hasil editan AI." Emma menyampaikan apa yang dia lihat di televisi kemarin.
Dari kemarin Grace lebih banyak diam. Jika ditanya Emma, Grace selalu mengalihkan obrolan. Ditambah lagi, tadi Grace meminta kepadanya untuk berbohong kalau Norman menanyakan keberadaannya di sini.
George tersenyum miring. "Jangan terlalu polos, Emma. Aku yakin sekali itu video asli. Jika terbukti Norman menyakiti Grace, aku akan membunuhnya," katanya.
Emma bergidik ngeri sejenak saat melihat senyum George. "Iya, iya. Aku juga akan melakukan hal yang sama jika putriku disakiti. Tapi bagaimana caranya kau membunuh Norman jika berjalan saja kau kesusahan?"
Emma berusaha mencairkan suasana dengan melemparkan sebuah guyonan garing.
George tersenyum angkuh sambil melirik sekilas ke bawah. "Yang lumpuh hanya kakiku, bukan tanganku. Dengan tanganku ini, aku bisa menembaknya sekarang. Apa kau lupa aku ini dulu mantan tentara?"
Emma malah tertawa rendah lalu menepuk pelan pundak George. "Sudah, sudah. Hentikan imajinasi liarmu itu. Mari kita tidur juga di sini. Aku mau ambil selimut dulu."
Emma berjalan ke arah kamar, meninggalkan George mengulum senyum melihat kepergian istrinya itu.
Keesokan harinya.
Sejak pagi, Grace terus memandangi ponselnya. Selama dua hari terakhir, dia sengaja tidak menghubungi Norman.
Kebohongan-kebohongan Norman membuat Grace terluka. Dan luka itu seolah susah untuk ditutupi, meskipun selama ini dia berpura-pura dalam keadaan baik-baik saja.
Namun, Grace tak mau rencananya gagal total. Perjalanannya masih sangat panjang.
Grace pun terpaksa kembali ke rumah dan akhirnya bertemu dengan Norman.
Begitu melihat Grace, Norman langsung menghampirinya dengan wajah berseri-seri.
"Sayang, aku bisa menjelaskan," kata Norman sambil meraih tangan Grace.
"Percayalah. Semua video itu tidak seperti yang kau pikirkan."
Bersambung ~
Akan bahagia klo video perselingkuhan Edmund juga juga viral 🤣
Mona yang haus status Turner hingga tak sadar bahwa Mona membuka jalan untuk keruntuhan Turner sekeluarga 🤣