Indonesia
NovelToon NovelToon
Sweet & Psycho

Sweet & Psycho

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cinta setelah menikah / Psikopat itu cintaku / Perjodohan
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Pena kira

Axcelino Pierce tampak sempurna, namun raganya terpecah oleh dua kepribadian yang saling berebut kendali akibat trauma masa kecil. Menyaksikan rumahnya terbakar dan sang kakak tewas mengenaskan tepat didepan mata, membuat Amnesia traumatis yang mengunci kehidupannya. Penyakit itu mustahil disembuhkan medis, hingga ia lelah terus berbagi kehidupan.

Kehadiran Sora Kyne yang ceria menjadi titik balik. Sora bukan hanya satu-satunya orang yang sanggup meredam gejolak kepribadian ganda Axcelino, tetapi juga bertekad membantunya mengingat kembali masa lalu yang terkunci demi kesembuhan sahabat barunya itu.

Namun, misteri besar menanti, bagaimana cara mereka membongkar skandal konspirasi di balik kematian sang kakak yang janggal, sekaligus membuka kunci rahasia kesembuhan Axcelino, sebelum kepribadian gelapnya mengambil alih selamanya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Piercing Baru

Bab. 11

# Piercing baru #

"Untung bau mobil ini bukan kopi atau jeruk. Kalau iya, bisa mati dua kali aku di sini..."

Ino dan Sora bersandar lemas di kursi penumpang dengan wajah sepucat kapas. Nafas mereka tersengal-sengal, berusaha keras menahan gejolak di perut yang rasanya siap memuntahkan isi perut dalam wujud 'pelangi' untuk kedua kalinya.

"Aduh, Maaf Nona-nona, aplikasi saya mendadak error," ujar sopir taksi online sambil menoleh ke belakang. "Boleh jalan di luar aplikasi saja? Tolong bantu pin alamat tujuannya di navigator ya."

Bi Muna menoleh ke belakang, menatap iba ke arah Sora dan Ino yang masih memejamkan mata rapat-rapat sembari memijit kening masing-masing. Dengan kondisi mengenaskan bagai korban selamat dari pusaran angin puting beliung, Sora jelas tidak punya impian lain selain pulang. Bayangan kasur empuk dan selimut hangat mendadak terasa seperti surga dunia.

Namun, di luar nalar manusia normal, Ino yang kondisinya jauh lebih mengenaskan justru tetap kukuh ingin pergi ke mall demi menagih janji.

"Kau yang benar saja, Inoooo!" seru Sora histeris, meski suaranya terdengar seperti bisikan orang sekarat. "Baju kita sudah bau sangit dan sedekil ini! Lihat mukamu, sudah mirip vampir kurang darah! Kan kita bisa ke mall besok?!"

"Tidak bisa! Hari ini harus tetap jalan!" jawab Ino penuh harga diri. Menurut logika ajaibnya, mereka tinggal membeli pakaian baru, pergi ke salon, lalu makan sepuasnya untuk mengisi ulang stamina sebelum bersenang-senang.

Sora cuma bisa menghela nafas pasrah yang teramat berat. Dengan nada lunglai bagai tak berjiwa, ia menyebutkan tujuan mereka. "Pak... tolong antar kami ke Nexus Center Mall ya..."

---

"Biiik... apa aku akan jatuh miskin mendadak hari ini juga?" bisik Sora meratapi nasib.

Bi Muna meringis prihatin melihat Nonanya berdiri mematung di tengah-tengah pintu masuk mall yang megah. Sora berdiri kaku bagaikan zombie linglung, menatap Ino yang justru melangkah riang melewati pintu kaca sebuah toko branded.

Bi Muna mengelus-elus lengan kanan Sora, mencoba menyalurkan ketabahan spiritual. Bagaimana tidak pusing? Pagi tadi Sora baru saja membakar uang sakunya sebanyak 10 juta demi membayar uang tutup mulut, ditambah 35 juta untuk biaya "penyembuhan" Ino ke tabib bodong, yang terbukti 100% tidak efektif! Dan kini, ia harus menanggung biaya hura-hura Ino.

Padahal, selama ini Sora cuma mengandalkan uang jajan bulanan. Walau otaknya encer luar biasa, ia sama sekali tak punya gairah untuk berbisnis atau mencari uang sendiri.

"Soraaa! Kenapa malah melamun di sana? Ayo masuk!" seru Ino setengah berteriak dari dalam toko. "Aku sudah pilihkan baju-baju yang lucu buat kamu! Cepat cobain!"

Ino kembali keluar, menarik paksa lengan Sora yang berjalan menyeret kaki. Para pramuniaga toko fashion ternama itu menyambut mereka dengan senyuman formal yang super ramah. Mereka mempersilakan Sora dan Ino duduk di sofa empuk sembari menyiapkan baju-baju yang sudah dipilihkan.

Tak berapa lama, dua orang pramuniaga datang mendorong trolley gantung berisi sekitar lima sampai enam setel pakaian wanita kelas atas.

"Oya, kak! Tolong sedeeeeret pakaian yang sudah aku tunjuk tadi dikemas yang rapi ya," pesan Ino santai pada pramuniaga. "Dan semua yang pas di badan temanku ini, bungkus semua tanpa terkecuali!"

Sora mendelik lebar. "Ino! Kau belanja banyak banget?! Kan rumahmu dekat, kita bisa mampir dulu buat ambil pakaianmu selama tiga hari!"

Ino sama sekali tak menghiraukan omelan Sora. Di kasir, sudah berjejer enam paper bag besar berisi pakaian mahal.

"Bagaimana untuk pembayarannya, Tuan...eh, Nona?" tanya kasir ramah namun kebingungan melihat penampilan acak-adut Ino yang memakai setelan pria tapi berbelanja baju wanita.

Sora menghela nafas panjang, bersiap merelakan sisa saldo rekeningnya. Namun sebelum ia sempat merogoh ponselnya, Ino sudah lebih dulu mengulurkan sebuah kartu.

"Pakai credit card ini aja," potong Ino santai.

Sora melongo. Ternyata Ino masih mengantongi dompetnya yang tebal lengkap dengan jajaran kartu sakti! Sora mendadak merasa bersalah. Niat hatinya ingin mentraktir Ino demi menebus insiden tabib gadungan tadi, tapi justru Ino yang mengeluarkan kartu kredit sakti tanpa kedip.

"Ayo kita makan! Hari ini habiskan uangku sesukamu, jangan ragu-ragu!" ujar Ino penuh wibawa sembari menepuk dada. "Toh aku sudah lama tidak memakai kartu ini. Bi Munaaa, Bibi mau makan apa?"

Sora mengerjap. Baru kali ini ia punya teman yang royalnya tidak masuk akal seperti Ino. Biasanya, Sora lah yang selalu ditumbalkan menjadi "pahlawan traktiran" setiap kali hangout bersama teman-temannya.

Seketika, raut wajah Sora yang tadinya suram berubah cerah ceria bagai ketiban durian runtuh. Nafas kehidupannya kembali! Mereka bertiga menyambangi restoran mewah pilihan Ino dan memesan hampir seluruh menu rekomendasi waiters. Sesi makan siang itu berubah menjadi ajang mukbang brutal yang teramat nikmat.

Di tengah-tengah mengunyah daging steak yang juicy, Ino tiba-tiba berbisik polos, "Sora... sebenarnya aura apa yang kau cari dari Kakek Tua tadi sih? Dia aja kayaknya nggak pernah gosok gigi begitu, yang ada cuma aura kematian, tahu!"

"UHUKKK! UHHHKKK!"

Sora tersedak hebat sampai matanya membelalak. Ia buru-buru menutup mulut dengan tangan kanannya agar daging yang sedang dikunyah tidak melompat keluar menghantam piring Ino.

*TAKKK!*

Sora memukulkan garpunya ke meja hingga menciptakan bunyi nyaring yang membuat beberapa pengunjung restoran menoleh kaget. Muka Sora memerah padam menahan malu sekaligus emosi.

"Aduh, pelan-pelan makannya," kekeh Ino santai sambil menyodorkan segelas air putih. "Kenapa jadi sensitif begitu? Lagipula yang jadi korban kan aku, harusnya aku yang marah pada kalian berdua."

Bi Muna yang kepo ikut bertanya sambil membulatkan mulutnya, "Tapi Nona Ino, memangnya kenapa tadi kok bisa mual parah begitu?"

"Nafas Kakek tadi baunya seperti kabel terbakar campur bangkai tikus, Bik!" omel Ino berapi-api. "Aku ini paling tidak tahan bau-bau menyengat. Mau itu wangi dupa, lilin aromaterapi, apalagi bau busuk! Makanya 'pelangi' (isi) di perutku mendadak keluar semua!"

Bi Muna manggut-manggut paham. Ternyata bukan karena arwah Ino kesakitan disiksa mantra keramat, melainkan murni karena nafas naga si Tabib gadungan!

Ino melirik Sora yang masih bersungut-sungut. "Habis berapa kau bayar Kakek tua itu, Sora? Nanti kuganti uangmu. Kasihan kalau uang jajanmu habis. Anggap aja itu biaya sewa kamar selama aku menumpang di rumahmu."

Sora yang mendengar kalimat "nanti kuganti" langsung tersenyum lebar. Matanya berbinar-binar. Ternyata begini rasanya punya teman sultan yang seimbang dan tahu diri!

"Nah! Karena kita sudah shopping dan makan kenyang, kamu mau treatment di salon, Ino? Atau mau nonton bioskop?" tawar Sora bersemangat.

Ino hanya tersenyum misterius. Ia kemudian menyodorkan sisa makanan di piringnya pada Bi Muna yang masih malu-malu. Beberapa menit kemudian, Ino malah melangkah masuk ke dalam sebuah studio khusus yang membuat mata Sora hampir melompat keluar dari kelopaknya.

"O... M... G... Inoooo! Kamu cuma bercanda kan?!" jerit Sora panik saat melihat papan nama studio tersebut. "Kita beli es krim aja yuk! Hehehe... maaf ya Kak, kami cuma lihat-lihat aja! Ayo keluar, Inooo!"

Ino menepis tangan Sora yang terus menarik-narik jaketnya. Dengan sekali dorongan santai, Ino mendudukkan Sora di sofa tunggu.

"Bi Muna... bagaimana ini?!" bisik Sora histeris sembari mengacak-acak rambutnya sendiri. "Masa Ino beneran mau pasang piercing (tindik)?! Ini pasti gara-gara tadi pagi aku puji perutnya bagus, terus dia bilang mau pasang tindik di pusar! Kalau orang tuanya tahu, aku pasti dikira membawa pengaruh sesat! Arah hidupku makin tidak jelas ini, Bik!"

Bi Muna cuma bisa mengurut dada, ikut berdoa dalam hati.

Beberapa saat kemudian, Ino keluar dari ruangan dengan wajah tanpa dosa. "Oke, yuk kita nonton bioskop!"

Sora langsung buru-buru menegakkan tubuh dan merapikan rambutnya. Namun, begitu matanya tertuju ke arah Ino, Sora mendadak melongo. Di balik Hoodie crop top yang Ino kenakan, sebuah tindikan perak berkilau dengan cantiknya tepat di bawah pusar Ino!

Sora mendongak kaget, lalu memekik lebih keras. "INOOOO! Telingamu juga?!"

Dengan panik, Sora menarik lengan kanan Ino, mengamati tindikan baru di daun telinganya. Sora bahkan memutar-mutar tubuh Ino bagai memutar gasing, memastikan tidak ada area ekstrim lain yang ikut ditindik.

"Bagaimana? Keren kan?" kekeh Ino santai. "Sudah, jangan muter-muter begitu! Aku cuma pasang di dua tempat kok, nggak ada yang lain. Jadi nonton nggak?"

Karena Sora masih terus sibuk menginterogasi tubuhnya, Ino langsung menarik kupluk hoodie yang dikenakan Sora dan menentengnya dari belakang, persis seperti orang sedang mengangkat anak kucing pasrah. Tangan kirinya merangkul lengan Bi Muna, menyeret mereka berdua menuju lantai bioskop.

Sepanjang koridor mall, ketiga manusia ajaib itu sukses menjadi pusat perhatian para pengunjung. Bagaimana tidak? Ino berjalan santai sembari terus menenteng kupluk hoodie Sora, sementara Sora terus merengek minta dilepaskan bagai anak ayam yang dicengkeram elang.

Namun, langkah Ino mendadak terhenti di dekat deretan toko branded.

"Lihat baik-baik foto ini! Sekitar satu jam yang lalu, credit card Tuan kami digunakan berbelanja di toko ini, kan?" sahut sebuah suara bariton yang teramat familiar di telinga Ino. "Tunjukkan rekaman CCTV toko! Saya akan cek sendiri. Rio, bawa dua orang bersamamu untuk cek CCTV mall. Dan sisanya, sisir seisi mall ini! Hari ini kita HARUS membawa Tuan Axcel pulang!"

*DEG!*

Jantung Ino serasa melompat ke tenggorokan. Tanpa membuang waktu, ia langsung menyeret Sora dan Bi Muna untuk bersembunyi di balik pilar tembok toko. Ino menarik rapat kupluk hoodie nya sendiri, lalu mendekap Bi Muna dan Sora dalam pelukannya.

Sora dan Bi Muna yang kebingungan setengah mati berniat membuka suara. Namun sebelum nama 'Ino' terucap dari mulut mereka, dengan gerakan refleks yang secepat kilat, Ino langsung membungkam mulut kedua orang itu dengan kedua tangannya!

*PAK! PAK! PAK!*

"Mmmmphhh! Inoooo... bulu mata ku rusaaaaakkk!" jerit Sora teredam, kakinya menendang-nendang udara. Rupanya karena tubuh pendeknya, ini yang berniat membungkam mulut Sora, ternyata malah menyuruh bagian mata gadis itu.

*Sssttt!*

Ino yang sadar bahwa ia salah meletakkan tangan, yang mana bukannya membungkam mulut Sora tapi malah menyekap matanya rapat-rapat, buru-buru memindahkan tangannya ke mulut Sora. Dalam situasi yang menegangkan itu, Ino berjuang mati-matian menahan tawanya agar tidak pecah.

Di luar pilar, empat pria berjas hitam berbadan tegap keluar dari toko fashion. Ino tahu betul, sebentar lagi puluhan pengawal berjas tegap akan menyisir setiap sudut mall ini atas perintah pria kepercayaan keluarganya.

"Ayo antar aku ke toilet," bisik Ino panik dengan suara sepelan mungkin. "Ingat, jangan bersuara dan JANGAN sebut nama ku! Bik, aku tadi membelikanmu beberapa pakaian kan? Aku pinjam satu setel dulu ya!"

Meski otak mereka belum berhasil memproses apa yang sebenarnya sedang terjadi, Bi Muna dan Sora tetap menurut. Mereka berjalan mengendap-endap menirukan gaya Ino menuju toilet terdekat.

Ino dengan cepat menyambar paper bag berisi baju wanita pilihan Bi Muna, lalu menerobos masuk ke dalam bilik pintu toilet demi menyamar dan melepas pakaian prianya.

Beberapa menit kemudian, pintu toilet terbuka. Seorang pria pengunjung mall yang baru saja ingin melangkah masuk mendadak menghentikan langkahnya dengan wajah cemas.

"Haiiihh... Maaf Nona! Sepertinya saya salah masuk toilet... Maaf... Maaf..." Pria itu mundur dua langkah, lalu mendongak menatap papan petunjuk di atas pintu. Dahi pria itu berkerut heran. "Loh? Tapi ini benar tanda toilet pria! Nona yang salah masuk!"

"Tunggu sebentar... Berhenti di sana! Jangan bergerak!" gertak pria itu curiga. "Kamu... kamu sebenarnya pria atau wanita?!"

⭐⭐⭐⭐⭐

*WADUH PARAH! Mampus kau Ino! 😱 Udah kabur, pakai acara pasang tindik di mana-mana, sekarang malah kekepung sama pasukan berjas hitam milik Pierce Group! Mana salah masuk toilet lagi!*

*Kira-kira gimana cara Ino lolos dari toilet pria itu tanpa ketahuan pengawal Axcel?! Dan gimana reaksi Sora kalau tahu teman 'sultan' nya ini ternyata buronan keluarga kaya raya yang kepribadiannya ganda?!*

*Yuk, uji imajinasimu dan tulis tebakanmu di kolom komentar! 💬👇*

*Jangan lupa:*

TEKAN TOMBOL LIKE & LOVE (❤️) untuk terus dukung kisah kocak Ino & Sora!

SIMPAN CERITA INI KE LIBRARY supaya kamu tidak ketinggalan Notifikasi Bab 12 yang rilis NANTI MALAM JAM 19.00 WIB! 🕗✨

FOLLOW PROFILKU supaya selalu dapat info update cerita terbaru!

*Terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di bab berikutnya! Happy reading! 🚀🔥*

Pria itu menatap sosok di depannya dari ujung kepala sampai ujung kaki, sebelum akhirnya matanya membelalak lebar saat menyadari sesuatu yang sangat aneh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!