Setelah menyelesaikan masa militernya, Jiang Ming mendapati dirinya terjebak dalam kerasnya realita sebagai pemuda tanpa uang, pekerjaan, maupun koneksi, yang harus memutar otak demi menghidupi adik perempuannya.
Di tengah himpitan utang dan cibiran orang-orang yang meremehkannya, sebuah aplikasi aneh bernama "Toko Dewa Tiga Alam" tiba-tiba terinstal secara paksa di ponsel bututnya.
Aplikasi tersebut menjual berbagai barang supranatural dan keajaiban dari dimensi para dewa, namun ironisnya, semua benda ajaib itu hanya bisa dibeli jika Jiang Ming memiliki uang.
Alih-alih menjadi pahlawan super, Jiang Ming menggunakan kecerdasan dan insting bisnisnya untuk memanfaatkan barang ajaib termurah demi membangun kekayaan dari nol, perlahan memutarbalikkan nasibnya dari seorang pengangguran rendahan menjadi sosok yang mengendalikan kekuatan Tiga Alam di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Tetapi masalah baru langsung muncul dan berputar di dalam kepalanya yang cerdas.
Jika dia membawa ginseng utuh raksasa ini ke pelelangan obat dan menjualnya secara langsung, dia pasti akan dicurigai dan diinterogasi.
Orang-orang akan bertanya dari mana dia mendapatkannya, di gunung mana dia memanennya, dan siapa pencari akarnya.
Geng mafia obat-obatan pasar gelap atau perusahaan farmasi raksasa pasti akan melacak identitasnya sampai ke tempat tinggalnya.
"Kekuatan tanpa otak hanya akan membuatku menjadi target panah yang paling terang di malam hari."
Jiang Ming membungkus ginseng itu dengan kain bersih dan memasukkannya ke dalam lemari pendingin agar tetap segar.
Dia membersihkan sisa pecahan pot tanah liat di balkon dan segera berganti pakaian kerja yang terlihat rapi dan profesional.
Sudah waktunya dia mendirikan tameng resmi untuk menutupi semua keajaiban yang akan dia jual di masa depan.
Jiang Ming keluar dari apartemennya dan memanggil taksi menuju gedung perkantoran kelas menengah di distrik bisnis.
Gedung Menara Perak adalah tempat berkumpulnya berbagai perusahaan rintisan dan agen perdagangan skala menengah ke bawah.
Jiang Ming masuk ke lobi dan langsung menuju meja informasi untuk menemui agen penyewaan gedung.
"Selamat siang, saya mencari agen properti yang mengurus penyewaan ruang kantor bulanan di gedung ini," ucap Jiang Ming dengan nada sopan.
Seorang pria muda berkacamata dengan setelan jas rapi segera menghampirinya dari ruang tunggu.
"Selamat siang, Tuan. Saya Li Wei, agen resmi Menara Perak. Ada yang bisa saya bantu hari ini?" sapa pria itu sambil menyodorkan kartu nama profesionalnya.
Jiang Ming menerima kartu itu dan langsung mengutarakan tujuan utamanya.
"Aku butuh ruang kantor kecil berukuran sekitar lima puluh meter persegi untuk operasional awal perusahaan perdaganganku."
"Apakah ada unit yang kosong dan siap disewa untuk hari ini juga?" tanya Jiang Ming tanpa membuang waktu.
Li Wei tersenyum dengan profesional dan langsung menganggukkan kepalanya dengan antusias.
"Kebetulan kami memiliki dua unit yang baru saja kosong minggu lalu di lantai tujuh, Tuan."
"Harga sewanya adalah lima ribu yuan per bulan, dengan minimal pembayaran di muka selama enam bulan."
"Itu belum termasuk biaya pemeliharaan kebersihan gedung dan tagihan listrik bulanan," jelas Li Wei dengan rincian yang jelas.
Jiang Ming menghitung cepat angka-angka itu di dalam kepalanya.
Tiga puluh ribu yuan untuk biaya sewa enam bulan pertama adalah harga yang sangat wajar dan masuk akal untuk ukuran distrik bisnis.
Modal satu juta yuannya masih akan bersisa banyak untuk mengurus perizinan badan hukum dan membeli peralatan kantor.
"Bawa aku melihat unitnya sekarang, jika posisinya cocok aku akan langsung membayar lunas hari ini juga," putus Jiang Ming sangat tegas.
Li Wei sedikit terkejut dengan gaya pengambilan keputusan klien mudanya yang sangat cepat dan tidak bertele-tele ini.
"Tentu saja, Tuan. Mari ikut saya naik ke lift sebelah sana."
Mereka berdua naik ke lantai tujuh dan Li Wei membuka pintu kaca sebuah ruangan kosong di ujung lorong.
Ruangan itu terlihat cukup bersih, dengan karpet abu-abu standar dan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke jalan raya.
"Ini sangat pas. Tidak terlalu besar sehingga terlihat berlebihan, dan tidak terlalu kumuh untuk sebuah perusahaan yang baru merintis," gumam Jiang Ming menilai ruangan itu.
"Apakah Tuan sudah memiliki nama perusahaan yang terdaftar di dinas perdagangan kota?" tanya Li Wei sambil mulai menyiapkan dokumen sewa dari tasnya.
"Aku akan mendaftarkannya besok pagi. Namanya adalah Perusahaan Agrikultur Alam Hijau," jawab Jiang Ming dengan spontan.
Nama yang sangat biasa, membosankan, dan tidak mencolok sama sekali, persis seperti kesan yang dia inginkan.
"Baik, Tuan. Kita bisa memproses kontrak sewanya atas nama pribadi Anda terlebih dahulu sambil menunggu izin resmi perusahaannya keluar."
Jiang Ming menggesek kartu debitnya pada mesin portabel dan membayar uang tiga puluh ribu yuan tanpa banyak menawar lagi.
Ting.
Struk pembayaran tercetak keluar dan Li Wei menyerahkan set kunci elektronik ruangan itu kepada Jiang Ming dengan senyum lebar.
"Selamat atas kantor baru Anda, Tuan Jiang. Semoga Perusahaan Alam Hijau Anda sukses besar ke depannya," ucap Li Wei sambil menjabat tangan Jiang Ming erat-erat.
"Terima kasih, Li Wei. Aku mungkin akan membutuhkan bantuanmu lagi nanti untuk mencarikan beberapa perabotan kantor bekas yang masih layak pakai," balas Jiang Ming tersenyum ramah.
"Dengan senang hati, Tuan. Anda bisa menghubungi nomor saya kapan saja Anda butuhkan."
Li Wei pamit undur diri, meninggalkan Jiang Ming sendirian menatap ruang kantor kosongnya.
Jiang Ming berjalan mendekati kaca jendela dan menatap lalu lintas kota Jinhai yang mulai padat di bawah sana.
"Ruangan ini akan menjadi pusat operasional dan wajah resmiku di dunia manusia normal."
"Di dalam gedung ini, aku bukan pemegang kekuatan petir naga atau perantara seniman misterius bernama Tuan Wu Ming."
"Aku hanyalah Jiang Ming, seorang direktur muda dari perusahaan agrikultur kecil yang sedang merintis karier dari bawah."
Jiang Ming memutar otak merencanakan langkah pengolahan produk untuk perusahaannya ini.
Dia sama sekali tidak akan menjual akar ginseng utuh seperti yang baru saja dia panen di apartemennya tadi.
Itu terlalu mencolok dan akan mengganggu harga pasar lelang ginseng nasional secara drastis, mengundang mata-mata dari segala penjuru.
Dia akan memotong tipis ginseng itu, mengeringkannya dengan panas oven, dan menumbuknya hingga menjadi bubuk ekstrak murni.
Ekstrak itu kemudian akan dia campur dengan teh herbal biasa dari pasar dan dikemas secara modern sebagai produk minuman kesehatan premium buatan Alam Hijau.
Dengan cara dilusi ini, efek ajaib penyembuhan dari ginseng itu akan sedikit menurun dan terlihat seperti obat herbal yang sangat manjur namun masih bisa dijelaskan oleh logika medis didunia ini.
"Margin keuntungannya mungkin akan sedikit berkurang karena harus dicampur, tapi keamanan nyawa dan identitasku terjamin seratus persen."
"Orang-orang kaya yang sakit parah pasti akan berebut membeli teh kesehatanku ini dengan harga setinggi langit setelah mereka merasakan efeknya."
Jiang Ming tersenyum sangat puas dengan kerangka bisnis taktis yang telah dia susun di dalam kepalanya.
Semuanya berjalan sesuai rencana awal dan sangat logis untuk diterapkan di dunia nyata.
Saat adiknya, Jiang Lin, datang mengunjungi kota Jinhai bulan depan, dia akan melihat kakaknya sedang sibuk mengurus bisnis pemasaran teh herbal di kantor yang layak.
Rahasia Toko Dewa Tiga Alam akan tetap aman bersembunyi di bawah lapisan perusahaan palsu yang memproduksi uang nyata ini.
Drrrt drrrt.
Ponsel butut Jiang Ming tiba-tiba bergetar kuat di dalam sakunya.
Dia mengambil ponselnya dan melihat sebuah pesan singkat masuk dari nomor kontak Su Qingxue.
"Jiang Ming, datanglah ke Galeri Bintang Langit besok siang. Ada sesepuh dari Asosiasi Seni Nasional yang sangat ingin bertemu dan bertanya tentang Tuan Wu Ming."
Jiang Ming membaca isi pesan itu dengan tatapan mata yang perlahan kembali mendingin.
"Benar kata pepatah orang-orang kuno. Pohon yang tumbuh paling tinggi akan selalu menjadi sasaran hantaman angin yang paling kencang."
Uang sepuluh juta yang dia kuras dari dompet Grup Tianyu rupanya mulai memancing rasa penasaran orang-orang kuat lainnya di kota ini.
Jiang Ming memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dan berjalan tenang keluar dari kantor barunya.
Klak.
Dia mengunci pintu kaca itu dari luar dengan sangat rapat.
"Biarkan mereka bertanya sampai mulut mereka berbusa. Tuan Wu Ming hanyalah sesosok hantu yang tidak akan pernah mereka temukan di dunia fana ini selamanya, hahaha."
Jiang Ming melangkah pergi menyusuri lorong Menara Perak menuju lift.
Keseimbangan antara dua dunia berbeda yang sedang dia bangun kini mulai diuji dari luar.
Dia harus memainkan kedua perannya dengan sangat sempurna tanpa melakukan satu pun kesalahan fatal.