Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.
Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
Keesokan harinya Cindy bangun dengan tubuh yang fit usai tadi malam ia meminum teh untuk menstimulasi tubuhnya agar lebih ringan.
Ia turun dari ranjang, tak lupa memakai sandar berbulu berbentuk beruang itu dan keluar dari kamarnya menuju dapur. Ia segera membasuh wajahnya di wastafel, lalu membersihkan wajahnya dengan tisu wajah dan mulai mencari bahan masakan untuk memasak sarapan. Pagi ini ia ingin membuat soto ayam bening. Ia buatkan khusus untuk Damian sebagai ganti karena kemarin tidak bisa merasakan sop buatannya.
Hari ini Mahen tidak datang seperti yang Cindy katakan pada Damian bahwa pria itu akan datang tiga hari sekali untuk menyerahkan editan video yang sudah jadi.
Jadi hari ini Cindy bisa berduaan dengan Damian seharian.
Saat air di dalam panci mulai memanas, mengeluarkan aroma serai, daun jeruk, dan gurihnya kaldu ayam yang gurih khas soto bening, Cindy sesekali melirik ke arah jendela kaca yang menghadap ke halaman belakang. Suasana pagi ini begitu cerah, matahari terbit dari timur membawa kehangatan yang perlahan mengusir sisa dingin angin Muson semalam.
Tepat saat ia sedang mengiris daun seledri, sebuah gerakan di balik pagar pembatas besi menangkap perhatiannya.
Itu Damian. Pria itu berjalan dari arah rumah kolonialnya dengan langkah yang begitu tenang, nyaris seperti melayang di atas rumput hijau gelap halaman samping. Pagi ini ia mengenakan kemeja rajut tipis berwarna abu-abu arang, yang membuat kulit pucatnya terlihat semakin kontras dan menonjol. Tanpa ragu atau mengetuk pintu terlebih dahulu, Damian melangkah lurus menuju teras belakang rumah Cindy.
Ia menaiki dua undakan teras kayu itu dengan keanggunan yang alami, lalu mendudukkan tubuh tingginya di atas sofa rotan di sana. Pria itu menyandarkan punggungnya, melipat satu kaki di atas kaki lainnya, lalu menatap langsung ke dalam dapur melalui pintu kaca yang terbuka lebar. Seolah-olah dia sudah tahu, atau mungkin bisa merasakan, bahwa Cindy memang sedang menyiapkannya sebuah tempat di sisinya pagi ini.
Cindy meletakkan pisaunya, menyeka tangannya pada celemek, lalu berjalan keluar menemui Damian dengan senyuman yang tak bisa ia bendung.
“Pagi, Damian. Kamu ini cenayang, ya? Baru saja mau kupanggil, kamunya sudah duduk manis di sini,” seloroh Cindy sambil menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu teras.
Damian mendongak, matanya yang sebiru langit musim dingin menatap Cindy dengan binar yang samar namun intens. “Pagi, Cindy. Saya hanya mencium aroma kunyit dan kemiri yang ditumis dari seberang dinding. Dan saya tahu... piring kosong yang kemarin tidak sempat terisi, hari ini pasti sudah siap.”
Cindy terkekeh geli, wajahnya merona tipis. “Iya, iya, tahu saja. Hari ini aku bikin soto ayam bening. Kemarin kan kamu gak mau bergabung karena ada Mahen. Hari ini dia gak datang, jadi rumahku gak akan bising seperti yang kamu takutkan.”
“Baguslah,” sahut Damian pendek. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang misterius namun menawan. “Berarti hari ini, hanya ada saya dan kamu di rumah ini?”
“Iya, cuma kita berdua,” jawab Cindy tanpa sadar dengan nada yang agak melunak.
Ia kembali ke dapur sejenak untuk mematikan kompor karena kuah sotonya sudah matang sempurna. Setelah meracik dua mangkuk soto hangat lengkap dengan suwiran ayam, soun, dan taburan bawang goreng, Cindy membawa nampan itu keluar dan meletakkannya di atas meja kopi di depan Damian.
Hawa hangat dari uap soto mengepul di antara mereka. Cindy duduk di sofa yang sama, tepat di sebelah Damian, tidak terlalu dekat untuk menjaga sopan santun, namun cukup dekat hingga ia bisa mencium wangi dingin khas Damian yang berbaur dengan aroma makanan.
“Ayo dimakan, mumpung masih panas,” ujar Cindy sambil menyodorkan sendok.
Damian menerima sendok itu. Jemarinya yang panjang tak sengaja bersentuhan dengan jari Cindy, mengirimkan sengatan dingin yang familier namun anehnya kini terasa mendebarkan di dada Cindy. Damian mulai menyuap kuah soto itu perlahan, menikmatinya dalam keheningan yang intim.
“Bagaimana? Lebih enak dari nasi goreng waktu itu kan?” tanya Cindy, menopang dagunya dengan kedua tangan sambil memperhatikan wajah Damian dari samping. Garis rahang pria itu begitu tegas, dipadukan dengan hidung bangir yang sempurna, membuatnya terlihat fana namun nyata di bawah sorotan cahaya pagi.
Damian meletakkan sendoknya setelah beberapa suapan. Ia menoleh, menatap Cindy dengan pandangan yang begitu dalam, seolah sedang membaca lembar-lembar jiwa gadis itu. “Setiap makanan yang kamu buat dengan ketulusan seperti ini... selalu terasa luar biasa bagi saya, Cindy. Kamu tidak tahu seberapa berartinya kehangatan ini bagi seseorang yang sudah lama berada di tempat yang dingin.”
Mendengar kalimat itu, detak jantung Cindy kembali berkejaran. Rasa kagum, pesona, dan debaran yang ia pendam selama beberapa bulan terakhir mendadak membuncah di dadanya, mendesak untuk dikeluarkan. Suasana yang tenang tanpa gangguan Mahen hari ini seolah memberi keberanian ekstra yang belum pernah ia miliki sebelumnya.
Cindy menarik napas dalam-dalam, menggenggam jemarinya sendiri di atas pangkuan. “Damian...”
“Ya, Cindy?”
“Aku... aku mau jujur tentang sesuatu,” suara Cindy sedikit bergetar, namun matanya menatap lurus ke dalam manik mata biru Damian yang seolah mengunci seluruh dunianya. “Sejak pertama kali kamu mengetuk pintuku malam itu, saat hujan deras dan kamu berdiri kedinginan... aku tahu ada yang berbeda darimu. Tapi seiring berjalannya waktu, setiap sore yang kita habiskan di sini, setiap perhatian kecil yang kamu berikan...”
Cindy menjeda kalimatnya, wajahnya kini sudah memerah sempurna hingga ke ujung telinga, namun ia menolak untuk memalingkan wajah. “Aku sadar kalau aku... aku jatuh cinta sama kamu, Damian. Aku suka kamu. Bukan cuma karena kamu tampan, tapi karena bersamamu, rasa sepi di rumah ini yang biasanya mencekikku... mendadak hilang.”
Keheningan seketika menyergap teras belakang itu. Angin pagi bahkan seolah berhenti berembus, membuat dedaunan pohon beringin di halaman belakang membisu.
Damian tertegun. Untuk pertama kalinya, Cindy melihat ada riak emosi yang begitu besar di mata biru pria itu, campuran antara keterkejutan, kepuasan yang mendalam, sekaligus kegelapan obsesif yang pekat. Damian tidak langsung menjawab. Ia mengulurkan tangannya yang pucat, menyentuh pipi Cindy dengan punggung jarinya yang sedingin es, mengelus kulit hangat gadis itu dengan kelembutan yang teramat sangat.
“Kamu... jatuh cinta pada saya, Cindy?” bisik Damian, suaranya terdengar lebih berat, bergema rendah dengan getaran gaib yang membuat bulu kuduk Cindy meremang namun pasrah. “Apakah kamu tahu apa artinya menyerahkan hatimu pada seseorang seperti saya?”
Cindy menatap tangan Damian di pipinya, mengabaikan rasa dingin yang menjalar, lalu mengangguk pelan. “Aku gak peduli bagaimanapun caramu memandang dunia ini, Damian. Aku cuma tahu apa yang dirasakan hatiku sekarang.”
Damian tersenyum kali ini sebuah senyuman yang sangat lebar hingga membentuk kurva samar di bibirnya, memancarkan pesona murni yang teramat pekat. “Kalau begitu, kamu sudah memilih, Cindy. Dan saya... tidak akan pernah melepaskan apa yang sudah menjadi milik saya.”
Perlahan tapi pasti, tangan besar Damian yang dingin, yang awalnya berada di pipi Cindy kini merayap ke belakang leher Cindy, ke tengkuk Cindy yang hangat, sehangat matahari pagi.
Wajah Damian miring dengan tatapan mata yang terkunci pada mata Cindy. Wajah mereka perlahan mendekat dan detik itu juga bibir mereka bertemu.
Perpaduan antara rasa mint dan dingin di mulut Damian membuat Cindy mulai terlena dan menerima ciuman yang di berikan Damian. Rasanya sangat nyata dan hampir membuat lutut Cindy bergetar.
“Emmmhh…”