Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)
Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.
Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)
Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Alunan musik klasik di ballroom mewah itu akhirnya mereda, digantikan oleh tepuk tangan meriah dari para tamu undangan yang terpesona oleh penampilan dansa penutup dari sang pewaris Ar-Rasyid Group dan istri barunya. Alexander menarik tubuhnya sedikit menjauh, namun tangan kanannya tetap kokoh dan hangat di pinggang ramping Keisha, memastikan bahwa jarak di antara mereka tidak terlalu longgar di hadapan puluhan mata yang masih mengawasi dari berbagai penjuru ruangan.
"Kau bertahan lebih baik dari yang kuduga, Nyonya Ar-Rasyid," bisik Alex tepat di telinga wanita itu dengan nada suara rendah yang terdengar setengah memuji, setengah mengejek. "Kupikir kau akan pingsan atau menginjak kakiku hingga pincang sebelum lagu selesai."
Keisha mendengus pelan, menegakkan postur tubuhnya dan melepaskan tangannya dari bahu sang CEO begitu alunan musik benar-benar berhenti. Ia balas menatap Alex dengan senyuman palsu selebar mungkin yang tampak sangat manis di mata para wartawan, namun memancarkan kilat ancaman maut di hadapan suaminya.
"Simpan pujian murahanmu itu, Tuan Ar-Rasyid," balas Keisha melalui celah giginya yang terkatup rapat dengan senyuman yang terus dikulum. "Kakiku sudah mati rasa menahan beban siksaan dari sepatu hak tinggi ini, dan kesabaranku sudah berada di ambang batas kepunahan. Mari kita akhiri sandiwara menjijikkan ini dan segera pulang."
Alex terkekeh kecil, menikmati setiap detik perlawanan yang ditunjukkan oleh istri kontraknya. Tanpa membuang waktu lebih lama, ia menggandeng tangan Keisha dengan lembut—namun dengan cengkeraman tegas yang tidak memberikannya ruang untuk melarikan diri—lalu membimbing wanita itu berjalan meninggalkan area ballroom menuju pintu keluar utama tempat mobil limusin mereka telah bersiap di pelataran hotel.
Namun, di tengah perjalanan menuju pintu keluar, langkah mereka tiba-tiba terhenti oleh seseorang yang memanggil nama Alex dengan suara manja yang sarat akan kepalsuan.
"Alexander? Ya ampun, benar-benar kau!"
Suara itu menghentikan langkah keduanya. Alex dan Keisha menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara. Seorang wanita bergaun merah menyala dengan potongan leher rendah melangkah mendekat dengan senyuman menggoda. Wajahnya dipoles riasan sempurna, rambut hitam legamnya tergerai indah, dan sorot matanya memancarkan kombinasi antara rasa rindu yang dibuat-buat serta kebencian terselubung yang langsung disadari oleh insting tajam Keisha.
Nama wanita itu berkelebat di kepala Alex sebelum ia sempat menyembunyikan ekspresi dingin di wajahnya. Jessica Pranata—mantan kekasih dari lingkaran sosial elit yang hubungannya telah diputus sepihak oleh Alex beberapa bulan lalu karena wanita itu terbukti mencoba memanipulasi laporan investasi perusahaan demi kepentingan pribadinya.
"Jessica," ucap Alex datar, suaranya berubah menjadi sedingin es kutub utara. Ia menarik pinggang Keisha semakin merapat ke sisi tubuhnya secara protektif. "Apa yang kau lakukan di sini? Tempat ini khusus untuk undangan terbatas."
Jessica mengabaikan tatapan dingin sang CEO. Ia melangkah semakin dekat, lalu mengarahkan pandangannya penuh selidik dan permusuhan kepada wanita yang berdiri di samping Alex. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman meremehkan.
"Jadi... ini dia wanita beruntung yang berhasil merebut kursi di sisi Tuan Alexander Ar-Rasyid?" Jessica mendengus pelan, melirik Keisha dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menghina. "Aku dengar dia hanyalah seorang desainer butik kecil yang hampir bangkrut. Alex, kau benar-benar menurunkan standar selera duniamu hanya demi sebuah perjodohan kuno?"
Keisha merasakan darahnya mendidih hingga ubun-ubun. Alih-alih merasa ciut atau tersinggung oleh hinaan terbuka dari wanita asing bergaun merah itu, Keisha justru mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Sebagai pemilik Azalea Label yang telah berdarah-darah membangun bisnisnya dari nol, ia paling pantang diremehkan oleh seseorang yang hidupnya hanya bergantung pada manipulasi dan paras cantik palsu.
Sebelum Alex sempat membuka mulut untuk membungkam mulut wanita di hadapan mereka, Keisha melangkah maju selangkah, melepaskan diri sejenak dari rangkulan sang suami, lalu menatap Jessica dengan senyuman setajam silet.
"Setidaknya, Nona... siapapun namamu," ucap Keisha dengan nada suara yang anggun namun penuh racun tajam, "aku membangun butikku dengan keringat, kerja keras, dan bakat asli dari tanganku sendiri. Bukan dengan cara merengek-rengek di hadapan seorang pria atau mencoba memanipulasi aset perusahaannya demi menutupi ambisi pribadi yang murahan."
Skakmat! Kalimat telak itu sukses membuat wajah Jessica berubah pucat pasi dalam hitungan detik. Napas wanita itu memburu karena amarah yang meluap-luap. Ia tidak menyangka istri kontrak pilihan keluarga Ar-Rasyid ini memiliki lidah yang jauh lebih berbisa dan tajam daripada yang ia bayangkan.
Alex terpaku sejenak menatap reasi istrinya. Sebuah kilatan rasa bangga dan ketertarikan yang mendalam berkelebat di balik manik mata gelap sang CEO. Ia tidak menyangka Keisha akan membela diri dengan cara yang begitu elegan sekaligus mematikan.
"Jaga mulutmu, jalang murahan!" desis Jessica murka, kehilangan kendali atas topeng elegannya di depan umum. Ia mengangkat tangan kanannya, berniat melayangkan tamparan keras ke wajah Keisha.
Namun, sebelum tangan itu sempat bergerak mendekat, sebuah cengkeraman tangan yang sangat kuat dan dingin telah mencekal pergelangan tangan Jessica di udara. Alexander Ar-Rasyid maju menepis tangan wanita itu dengan kasar, sorot mata sang CEO memancarkan amarah mematikan yang sanggup membekukan siapa saja yang melihatnya.
"Sentuh dia sekali lagi dengan tangan kotor itu, Jessica, dan aku pastikan keluargamu kehilangan seluruh kontrak bisnis dengan Ar-Rasyid Group dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam," suara Alex menggelegar rendah penuh ancaman mutlak yang tidak terbantahkan.
Jessica merinding ketakutan. Ia tahu betul bahwa Alexander tidak pernah main-main dengan ucapannya. Dengan wajah menahan malu dan amarah yang tertahan, Jessica menarik tangannya kasar, lalu berbalik pergi meninggalkan mereka di tengah kerumunan tamu yang mulai memerhatikan insiden tersebut.
Alex menarik napas panjang, menetralkan emosinya, lalu kembali merangkul pinggang Keisha dengan erat. "Kita pulang," bisiknya tegas.
Pukul dua pagi, suasana di dalam penthouse lantai 50 terasa sangat sunyi. Namun, ketegangan di antara mereka belum juga mereda. Keisha berjalan mondar-mandir di ruang tengah, sementara Alex melepas jasnya dan melemparnya ke atas sofa kulit.
"Jadi, wanita tadi adalah salah satu dari deretan mantan kekasihmu yang belum beres urusannya?" tanya Keisha sinis, melipat tangan di dada sambil menatap tajam ke arah suaminya.
Alex menghentikan langkahnya, menatap Keisha lekat-lekat. "Dia masa lalu yang sudah kubuang jauh sebelum aku terpaksa menikahimu, Keisha."
"Tetapi masa lalumu itu hampir saja membuat kepalaku bersarang di berita utama gosip murahan besok pagi!" balas Keisha dengan nada tinggi.
Alex mendengus pelan, lalu melangkah mendekati Keisha dengan langkah pasti. Sebelum wanita itu sempat mundur, Alex mengurung tubuh Keisha di antara kedua lengannya yang menumpu pada dinding, memangkas jarak hingga napas mereka saling beradu di keheningan malam.
"Kau membela diri dengan sangat baik tadi, Nyonya Ar-Rasyid," bisik Alex tepat di depan bibir istrinya, suaranya berubah menjadi serak dan berat. "Aku bahkan tidak tahu kau memiliki cakar yang begitu tajam."
Keisha menatap manik mata hitam pria itu dengan debar jantung yang tak lagi terkendali. "Aku bukan wanita lemah yang bisa kau kurung dan injak sesukamu, Alexander."
Alex tersenyum tipis, sebuah senyuman berbahaya yang membuat dunia Keisha jungkir balik. "Aku tahu... dan itu membuatku semakin sulit untuk melepaskanmu ketika kontrak ini berakhir."
Malam itu, di bawah bayang-bayang badai intrik yang siap menghantam, benteng es di antara mereka perlahan mulai retak, menyisakan bara api yang siap membakar segalanya.