Lima tahun lalu, Clara Jasmine melarikan diri dari sebuah malam penuh gairah di daratan Swiss, meninggalkan secarik pesan usang dan membawa pergi rahasia besar yang mengubah hidupnya selamanya.
Kini, Clara kembali ke Jakarta sebagai single mother yang berjuang membesarkan anak kembarnya, Ken dan Key. Namun, si kembar bukanlah balita biasa. Di balik wajah polos mereka, Ken dan Key adalah peretas cilik jenius dengan sepasang mata abu-abu yang sangat tajam.
Takdir seolah mempermainkan Clara ketika ia tak sengaja bekerja di Van Der Berg Group.
Alexio Van Der Berg, sang CEO dingin dan tak tersentuh penguasa perusahaan tersebut.
Melihat sepasang mata abu-abu yang menatapnya dengan berani, dunia Alexio berhenti berputar. Pria yang selama lima tahun nyaris gila mencari pemilik surat di dompetnya itu akhirnya menemukan buruannya.
"Lima tahun kau berlari membawa darah dagingku, Clara. Mulai hari ini, kau dan anak-anak tidak akan bisa pergi ke mana-mana lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Alexio terdiam sejenak menghadapi tuntutan sang Kakek. Ia memperbaiki posisi berdirinya, melirik kedua anaknya yang kini sibuk mengamati selang infus sang Kakek dengan rasa ingin tahu yang kelewat analitis untuk anak seusia mereka.
"Ibunya... ada di tempat lain, Kek," jawab Alexio dengan ketenangan yang terukur.
"Dia belum siap untuk bertemu keluarga besar kita secara mendadak. Aku tidak ingin memaksanya."
Olivia sontak bangkit dari kursinya. Dahi wanita anggun itu berkerut cemas.
"Tunggu dulu, Xio. 'Belum siap' bagaimana? Jadi selama lima tahun ini kamu sengaja menyembunyikan mereka? Atau... kamu baru saja menemukan mereka?"
Pertanyaan itu menyedot habis suara di ruangan tersebut. Andries menatap putranya, menuntut penjelasan logis.
Sementara itu, Alexander semakin mengeratkan genggamannya pada tangan kecil Ken dan Key, seolah takut kedua cicit berharganya itu akan menguap ke udara jika dilepaskan.
"Aku baru berhasil menemukan mereka hari ini, Mom," akui Alexio tanpa ragu.
"Dialah wanita di Swiss lima tahun lalu. Wanita yang jejaknya terus aku buru selama ini."
"Astaga..." Olivia menutup mulut, matanya berkaca-kaca menyadari kebenaran yang menghantamnya.
"Wanita itu... membesarkan dua anak kembar sendirian selama lima tahun? Tanpa suami dan tanpa pernah meminta sepeser pun bantuan finansial dari Van Der Berg?"
Mendengar percakapan orang-orang dewasa di sekitarnya, Ken perlahan mendongak. Ia menatap Olivia dari balik kacamata kecilnya, menyorotkan ketajaman mata abu-abu jernih yang diwarisinya dari sang ayah.
"Mama Clara adalah wanita yang sangat tangguh, Oma," ucap Ken dengan artikulasi tertata yang mengagumkan untuk ukuran anak balita.
"Mama bekerja keras sebagai desainer agar nutrisi dan fasilitas pendidikan kami terjamin sempurna. Kami tidak pernah kekurangan secara materi. Tapi... secara emosional, Mama sering menangis diam-diam saat malam hari karena merindukan sosok Papa."
Kalimat polos namun tajam itu bagaikan sembilu yang menyayat hati Olivia dan Andries. Clara tidak hanya sukses membentuk si kembar menjadi anak yang cerdas dan beretika, tapi ia juga menanggung semua beban psikologis itu sendirian. Murni tanpa berniat memeras nama besar keluarga mereka.
Itu adalah bukti karakter moral yang sangat langka di lingkaran sosial konglomerat.
Alexander menepuk sisi ranjang dengan tegas, membuyarkan keheningan emosional tersebut. Wajah rentanya yang tadi berseri-seri kini berubah serius, memancarkan aura dominan seorang perintis dinasti Van Der Berg. Otak bisnisnya berputar cepat.
"Alexio!" Suara berat Alexander menggema, sarat akan wibawa.
"Dengarkan ini baik-baik. Bagi keluarga kita, kualitas seorang pendamping dinilai dari penerus yang ia hasilkan. Wanita ini tidak hanya menjaga kehormatannya, tapi ia terbukti memiliki kapabilitas luar biasa dalam mendidik anak-anak dengan IQ jenius. Dia tahu bagaimana membentuk mental pewaris masa depan, dan itu adalah kunci kelangsungan kerajaan bisnis Van Der Berg!"
Sang Kakek menatap tajam cucunya. "Wanita seberkualitas ini adalah aset tak ternilai. Aku tidak mau tahu, dia tidak boleh dilepaskan!"
"Kakek tidak perlu khawatir," sahut Alexio mantap, sorot matanya menggelap oleh kabut obsesi.
"Sekalipun dunia ini runtuh, aku tidak akan pernah melepaskannya lagi."
Andries mencondongkan tubuhnya, menatap Alexio dengan ketegasan mutlak.
"Bukan sekadar ditahan, Xio! Kamu harus melegalkan statusnya. Daddy dan Mommy menuntutmu menyelesaikan administrasi pernikahan secepatnya! Berikan wanita itu status yang sah sebagai Nyonya muda Van Der Berg!"
"Mommy setuju seratus persen!" Olivia menimpali, air matanya tergantikan oleh antusiasme yang menggebu.
"Kami tidak mau kehilangan calon menantu dengan mentalitas baja sepertinya. Kalau sampai kamu berulah, menunda-nunda, dan membuatnya kabur lagi, Mommy sendiri yang akan mencoret namamu dari hak waris!"
"Keputusan yang brilian," angguk Alexander penuh kepuasan.
"Besok, bawa dia ke kediaman utama kita. Aku sendiri yang akan menyambut pilar baru keluarga Van Der Berg. Jangan bersikap kasar apalagi membuat dia takut. Pastikan dia tahu bahwa keluarga ini sangat menghargai kontribusinya."
Mendengar dukungan tanpa syarat itu, Alexio tersenyum miring, sebuah senyum kepuasan absolut.
Ketakutan Clara bahwa ia akan ditolak oleh keluarga konglomerat ini terbukti salah besar.
Tanpa wanita itu sadari, pembuktian kualitas dirinya selama lima tahun telah meruntuhkan dinding keangkuhan dinasti Van Der Berg.
Mereka bukan sekadar menerimanya karena simpati, melainkan berbalik mendesak Alexio untuk segera mengamankan statusnya!
"Aku akan membawanya menghadap Kakek, Daddy dan Mommy besok pagi," janji Alexio penuh tekad.
Keluarga Van Der Berg tidak akan membiarkan wanita tangguh itu berjuang sendirian lagi. Bagi Alexio, pernikahan ini bukan lagi sekadar desakan keluarga, melainkan takdir mutlak. Ia akan mengunci Clara Jasmine dalam genggamannya, menjadikan wanita itu miliknya seumur hidup.
Bersambung ...
asli part ini bacanya seru