Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.
Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.
Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kotak Bekal Pink
Aroma gurih minyak goreng dan sosis memenuhi area dapur rumah bernuansa minimalis itu sejak pukul lima pagi. Suara desis penggorengan beradu dengan gemercik air keran, menciptakan harmoni kesibukan yang sangat tidak biasa di kediaman Reyhan se-pagi ini.
Nadhira, dengan rambut yang diikat asal-asalan dan celemek kain bermotif kotak-kotak yang kebesaran melilit tubuhnya, tampak sibuk mondar-mandir di depan kompor.
Tangannya yang mungil belepotan sedikit minyak, namun binar matanya memancarkan semangat yang membara.
Hari ini, Nadhira punya misi khusus. Sebagai bentuk rasa terima kasihnya yang mendalam atas aksi heroik Reyhan yang pasang badan mengusir Bramantyo di kafe dua hari lalu, ia bertekad ingin menjadi sosok istri yang berbakti.
Karena kemampuan memasaknya yang masih sekelas amatir, pilihan menu jatuh pada makanan yang paling aman dan praktis, chicken nugget goreng, sosis yang dipotong menyerupai gurita, dan telur gulung tipis.
"Selesai!" cicit Nadhira gembira.
Ia menata lauk-pauk itu di atas nasi putih hangat dalam sebuah kotak makan plastik. Namun, bukan sembarang kotak makan.
Karena tidak menemukan tempat bekal polos di rak piring, Nadhira terpaksa menggunakan kotak bekal koleksi pribadinya dari zaman SMA, wadah plastik warna merah muda cerah dengan gambar karakter kartun kelinci bermata bulat besar di bagian tutupnya.
Sebagai sentuhan akhir, Nadhira menambahkan potongan rumput laut kering di atas nasi, membentuk huruf 'R' kecil yang agak miring.
Tepat saat Nadhira sedang menutup wadah merah muda itu dengan sangat hati-hati, sebuah langkah kaki yang teratur dan tenang terdengar mendekat ke area dapur.
Reyhan muncul dengan kemeja abu-abu tua yang sudah rapi, celana kain hitam, dan jam tangan yang melingkar sempurna di pergelangan tangannya.
Rambutnya disisir rapi ke belakang, memancarkan aura formal nan kaku seperti biasa. Bau harum minyak wangi woody maskulin langsung mengalahkan aroma sosis goreng di ruangan tersebut.
Reyhan menghentikan langkahnya di dekat meja makan, melirik ke arah kompor yang masih hangat, lalu beralih menatap Nadhira dan benda merah muda yang ada di tangannya.
"Kamu... sedang apa subuh-subuh begini?" tanya Reyhan dengan intonasi datar, kedua tangannya terbenam santai di dalam saku celananya.
Nadhira berbalik dengan senyum merekah paling manis yang ia miliki. Ia mengangkat wadah merah muda bergambar kelinci itu ke udara seperti seorang sales yang sedang memamerkan barang dagangan unggulan.
"Tadaaa! Ini bekal buat Pak Reyhan!" seru Nadhira riang.
"Ini bentuk ucapan terima kasih saya karena Bapak udah baik banget kemarin pas ngebantu saya dari Mas Bram. Saya bangun dari jam setengah lima lho buat nyiapin ini!"
Reyhan mengerutkan keningnya tipis. Mata tajam di balik kaca matanya meneliti isi wadah melalui bagian tutup plastik yang agak transparan. Ia mengenali bentuk-bentuk tepung gorengan dan sosis berlemak itu dengan sangat jelas.
"Nugget? Sosis kemasan? Dan olahan olahan beku lainnya?" Reyhan menggelengkan kepala pelan, melontarkan kritik khasnya tanpa filter.
"Nadhira, kadar garam dan pengawet di makanan olahan seperti ini sangat tinggi. Nutrisinya hampir nol, dominan lemak jenuh dan karbohidrat sederhana. Ini bukan makanan sehat untuk dikonsumsi sebagai menu makan siang."
Senyum gembira di wajah Nadhira seketika surut setengahnya. Bibirnya langsung mengerucut maju. "Ih, Pak Reyhan! Ini kan nugget kualitas premium. Terus sosisnya juga yang rasa keju favorit saya. Lagian saya kan udah bela-belain bangun subuh, minyaknya juga sempat nyiprat ke tangan saya nih!" Nadhira menyodorkan punggung tangannya yang kemerahan sebagai bukti drama perjuangannya.
Reyhan menatap punggung tangan Nadhira yang kemerahan itu. Ada desakan kecil di dadanya untuk menarik tangan gadis itu dan memeriksanya, namun gengsi memaksanya tetap berdiri tegap di tempat.
Reyhan menghembuskan napas panjang. Di satu sisi, logika medis dan pola hidup sehatnya menolak keras memakan olahan junk food semacam itu untuk makan siang.
Namun di sisi lain, bayangan Nadhira yang berkutat di dapur sejak fajar menyingsing, sibuk menggoreng dengan celemek kebesaran hingga tangannya terkena cipratan minyak, menghantam perasaan bersalahnya dengan cukup telak.
"Lagian... kalau Bapak gak mau makan, ya udah," gumam Nadhira pelan, membuang muka sambil berniat memasukkan kembali kotak makan itu ke dalam tas ranselnya sendiri. Suaranya mendadak berubah agak lesu. "Biar saya makan sendiri aja di kantin nanti."
"Tunggu."
Gerakan tangan Nadhira terhenti. Ia mendongak.
Reyhan berdehem kaku, memalingkan pandangannya ke arah jam dinding dapur, menolak bertatap mata secara langsung. "Masukkan ke dalam tas kerja saya."
Nadhira berkedip bingung. "Hah? Katanya tadi makanan gak sehat?"
"Saya tidak bilang tidak akan memakannya," sahut Reyhan cepat dengan nada agak ketus untuk menutup ketegangannya.
"Saya hanya memberikan evaluasi nutrisi. Karena kamu sudah bersusah payah membuatnya dan... tangan kamu terluka, akan sangat tidak etis dan mubazir jika dibuang atau tidak dimakan."
Pria itu kemudian meraih tas kerja kulit hitamnya di atas kursi, memegang ritsletingnya dan membukanya lebar-lebar di hadapan Nadhira. "Cepat masukkan. Kita bisa terlambat kalau kamu masih berdiri melamun di situ."
Binar gembira di mata Nadhira seketika kembali meluap. Senyum lebarnya terkembang sempurna. "Siap, Pak Dosen!" seru Nadhira penuh semangat seraya menyelipkan kotak makan kelinci merah muda itu ke dalam tas kulit hitam elegan milik suaminya.
Reyhan menutup kembali ritsleting tasnya, menutupi 'aib' warna merah muda di dalamnya, lalu berbalik jalan menuju garasi dengan langkah tegap, berusaha keras menjaga raut wajahnya tetap sedingin es.
...****************...
Pukul satu siang. Suasana Gedung FSD sedang di puncaknya. Jam istirahat makan siang membuat koridor dan area kantor dosen agak lengang karena beberapa staf pergi ke kantin luar atau masjid.
Di dalam ruang dosen yang sejuk dan tenang, Reyhan duduk sendirian di meja kerjanya yang sangat rapi. Berkas-berkas mahasiswa menumpuk di sisi kiri, sementara laptopnya menyala menampilkan lembar kerja penilaian.
Reyhan melirik jam tangannya. Sudah waktunya makan siang. Perutnya memang sudah menyuarakan protes sejak setengah jam yang lalu.
Dengan gerakan pelan dan penuh kewaspadaan, Reyhan menarik ritsleting tas kulitnya. Ia mengeluarkan benda yang sejak pagi mengusik ketenangannya, kotak bekal merah muda bergambar kelinci kartun.
Reyhan menatap kotak itu lama. Sungguh, kontras yang sangat konyol jika dibayangkan seorang dosen muda berpenampilan dingin dan berwibawa memangku tempat makan anak sekolah dasar berwarna merah muda.
"Benar-benar seperti anak kecil," gumam Reyhan pada dirinya sendiri, merujuk pada pilihan wadah istrinya.
Namun, saat ia membuka tutupnya, aroma gurih sosis dan nugget goreng langsung tercium. Di atas nasi putih, potongan rumput laut berbentuk huruf 'R' menyambut pandangannya.
Reyhan terdiam sejenak. Sudut bibirnya yang biasanya terkunci rapat mendadak terangkat tipis, membentuk ukiran senyum sangat tipis yang hampir tak terlihat.
Ia mengambil sendok plastik yang diselipkan Nadhira, lalu mulai mengunyah potongan nugget pertama. Dagingnya renyah, rasanya sebenarnya cukup enak untuk ukuran makanan siap saji.
Baru saja Reyhan hendak menyendok potongan sosis gurita, pintu ruangan dosen mendadak terdorong terbuka tanpa ketukan sebelumnya.
Brak!
"Rey! Lo nggak ikut ke kantin depan-"
Bagas melangkah masuk sambil membawa segelas es teh manis. Namun, kalimatnya terhenti seketika saat matanya menangkap pemandangan spektakuler di meja kerja Reyhan.
Reyhan, dengan refleks tempur tingkat tinggi, langsung menarik berkas laporan tebal bersampul keras di sebelahnya dan menutupi kotak bekal merah muda itu dalam hitungan detik.
Puk!
Kotak makan itu kini sepenuhnya tersembunyi di bawah tumpukan kertas laporan tebal, hanya menyisakan bagian ujung sendok plastik yang mencuat sedikit.
Bagas mengerutkan kening, melangkah mendekati meja Reyhan dengan pandangan penuh selidik. "Lo... lagi makan siang di meja, Rey?"
Reyhan menegakkan punggungnya, membetulkan letak kacamatanya dengan jari tengah, lalu menatap Bagas dengan raut wajah paling dingin yang bisa ia tampilkan.
"Ya. Saya sedang ada pekerjaan yang harus diselesaikan," jawab Reyhan datar, intonasi suaranya tenang luar biasa seolah tidak terjadi apa-apa.
Bagas menyipitkan mata, tatapannya turun ke tumpukan berkas yang dipegang erat oleh tangan kiri Reyhan di atas meja. "Bentar... lo makan apaan? Kok gue kayak ngendus bau sosis goreng? Terus itu... apaan warna pink nyelip di bawah laporan lo?"
Jantung Reyhan berdesir kencang, namun wajahnya tetap seperti tembok beton. "Ini dokumen evaluasi riset mahasiswa. Dan warna merah muda yang kamu lihat itu adalah pembatas map plastik folder data."
"Masa sih?" Bagas memiringkan kepalanya, mencoba mengintip dari samping. "Tapi kok ada aroma-aroma minyak goreng gurih gitu ya? Jangan-jangan lo dibawain bekal sama mami lo?"
"Bagas," potong Reyhan tegas, suaranya naik satu nada penuh otoritas.
"Apa kamu nggak punya udah ngoreksi draf maket mahasiswa yang harus dikumpulkan sore ini? Laporan kamu di meja dekanat saja belum lengkap."
Senjata ampuh bernama 'tugas akademis' itu menghantam Bagas telak. Bagas langsung menepok jidatnya sendiri.
"Astaga! Gue lupa draf anak-anak belum gue cek!" seru Bagas panik, langsung memutar badannya menuju mejanya sendiri di sudut lain ruangan.
"Ya udah deh, lanjutin makan bekel lo itu, Rey!"
Setelah dipastikan perhatian Bagas sepenuhnya teralih, Reyhan menghembuskan napas lega yang sangat panjang.
Ia perlahan mengangkat kembali berkas tebal itu dari atas tempat makannya. Kotak kelinci merah muda itu kembali terlihat.
Reyhan melirik potongan sosis gurita yang agak terpipi tertekan folder tadi. Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi, menggeleng-gelengkan kepala pelan dengan senyum geli yang tak mampu ia tahan lagi.
"Dasar anak kecil..." bisik Reyhan halus.
Dengan sangat hati-hati dan sembunyi-sembunyi di balik benteng tumpukan buku tebal yang disusunnya di depan meja, Reyhan melanjutkan makan siangnya. Ia menyendok suapan demi suapan nasi dan lauk olahan itu hingga tak tersisa satu butir pun.
Makanan yang menurut teorinya 'tidak sehat' itu, entah bagaimana, terasa sebagai makan siang paling nikmat yang pernah ia santap di ruangan dosen ini.
...Bersambung... ...