Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Ponsel Sasi yang tergeletak di atas nakas mendadak berdering nyaring, memecah keheningan kamar. Nama Darren—pemilik kafe tempat Sasi dulu bekerja—terpampang jelas di layarnya.
Darren memanggil dengan nada penuh kecemasan.
Ia benar-benar khawatir melihat keadaan Sasi yang kemarin dipaksa pulang secara kasar oleh Adrian dari kafe.
Dengan jemari yang sedikit bergetar, Sasi menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo, Sasi? Kamu tidak apa-apa? Aku benar-benar cemas dari kemarin." suara Darren terdengar panik dari seberang telepon.
"Aku tidak apa-apa, Mas." jawab Sasi lirih, berusaha menenangkan Darren.
Belum sempat Sasi melanjutkan kalimatnya, Adrian perlahan mengulurkan tangan dan mengambil ponsel tersebut dari genggaman Sasi.
Sasi seketika menahan napas; dadanya mendadak berdebar kencang digelayuti rasa khawatir kalau-kalau Adrian akan kembali cemburu atau marah besar seperti sebelum-sebelumnya.
Namun, dugaan Sasi meleset. Wajah Adrian tetap tenang, tanpa ada kilatan amarah sedikit pun.
"Darren, ini aku, Adrian," ucap Adrian dengan suara tegas namun terkontrol.
"Sasi aman bersamaku. Bisakah kamu datang ke alamat yang akan kukirimkan sekarang? Tapi ingat, jangan beritahu siapa-siapa soal ini. Ini demi keselamatan Sasi."
Di ujung telepon, Darren sempat tertegun mendengar perubahan nada suara Adrian yang begitu berbeda dari pria pemarah yang dilihatnya kemarin.
Mengetahui hal ini menyangkut keselamatan Sasi, Darren pun menganggukkan kepalanya.
"Baik, kirimkan lokasinya. Aku akan segera ke sana," balas Darren mantap sebelum panggilan berakhir.
Tak berselang lama, bel pintu apartemen berbunyi.
Darren tiba di apartemen rahasia milik Adrian setelah menerima alamat yang dikirimkan.
Begitu pintu dibuka, Adrian menyambutnya dengan tenang dan mempersilakannya masuk ke dalam.
"Maaf soal kejadian kapan hari itu," ucap Adrian jujur, menatap Darren tanpa ada lagi raut keangkuhan atau rasa cemburu yang buta.
Darren sempat tertegun melihat sikap Adrian yang jauh lebih tenang dan terbuka. Ia mengangguk pelan.
"Tidak apa-apa, yang penting Sasi selamat," jawab Darren singkat, lalu pandangannya langsung beralih ke arah Sasi yang duduk di sofa.
"Sasi, sebenarnya ada apa ini? Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Darren penuh rasa cemas, melangkah mendekat untuk memastikan kondisi mantan karyawannya itu.
Sasi menatap Darren dengan senyum tipis yang memancarkan rasa lega.
"Aku baik-baik saja, Mas Darren."
Adrian kemudian mendudukkan diri di samping Sasi, menatap Darren dengan ekspresi sangat serius.
Pria itu menghela napas panjang sebelum akhirnya menjelaskan situasi yang sebenarnya terjadi tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Adrian menceritakan secara panjang lebar tentang rencana licik Fitria yang berpura-pura mandul, hubungannya dengan Hendrik yang ternyata belum usai, hingga niat keji mereka untuk merebut kekayaan keluarga dengan skenario penukaran bayi.
Ia juga menjelaskan bagaimana Hendrik berusaha mencelakai Sasi di rumah sakit, alasan keberangkatannya ke Kanada yang palsu, serta keberadaan CCTV rahasia yang kini merekam seluruh aksi pengkhianatan Fitria dan Hendrik di rumah utamanya.
"Oleh karena itu, aku meminta tolong padamu, Darren," tegas Adrian di akhir penjelasannya.
"Jika ada orang-orang Hendrik, Fitria, atau siapa pun yang datang ke kafenya dan bertanya soal Sasi, katakan saja kamu tidak tahu keberadaannya sejak hari aku membawanya pergi. Alihkan perhatian mereka dan bersikaplah seolah-olah Sasi benar-benar menghilang."
Darren mendengarkan seluruh penjelasan itu dengan raut wajah tegang dan terkejut.
Ia tidak menyangka ada konspirasi sebesar dan sekejam itu yang sedang mengintai nyawa Sasi.
Setelah menguasai rasa terkejutnya, Darren menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Baik, aku mengerti. Kamu tenang saja, Adrian. Aku akan bantu tutup mulut dan memastikan orang-orang di kafe tidak memberi bocoran apa pun jika ada yang mencari Sasi."
"Terima kasih, Darren," ucap Adrian tulus seraya menjabat erat tangan pria di hadapannya.
"Sama-sama," balas Darren mantap, membalas genggaman tangan Adrian tanpa ada lagi kecanggungan di antara mereka.
Kemudian Darren berpamitan kepada mereka berdua untuk kembali ke kafe agar keberadaannya tidak memancing kecurigaan pihak lain.
Namun, sebelum melangkah keluar pintu, Darren merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang sudah ia persiapkan.
Ia menyerahkannya langsung kepada Sasi. "Sasi, ini hakmu. Gaji bulan ini dan bonus atas kerja kerasmu selama di kafe."
Sasi menatap amplop itu dengan mata berbinar haru, lalu menggeleng pelan seraya mendorong lembut amplop tersebut kembali ke arah Darren.
"Mas Darren, boleh aku minta tolong?" tutur Sasi penuh harapan.
"Tolong berikan uang ini langsung kepada ayahku. Beliau sedang sakit dan sangat membutuhkan biaya pengobatan."
Darren tersenyum hangat, mengerti betapa besarnya rasa sayang Sasi kepada ayahnya.
"Baiklah, Sasi. Kamu tenang saja, besok pagi aku sendiri yang akan mengantarkan uang ini langsung ke tangan ayahmu."
Setelah Darren pamit dan pintu kembali terkunci rapat, Adrian merengkuh bahu Sasi dengan lembut, membiarkan istrinya merasa tenang mengetahui sang ayah akan mendapatkan bantuan yang dibutuhkan.
"Kamu putri yang berbakti, sayang. Sementara kamu harus sabar tinggal di sini dulu, ya," bisik Adrian penuh kelembutan seraya merengkuh bahu Sasi, mengusap lengan istrinya untuk menyalurkan kehangatan dan rasa aman.
Sasi menganggukkan kepalanya pelan, menyandarkan kepalanya sejenak di dada Adrian.
Kelelahan fisik dan emosional yang menguras tenaganya sepanjang hari kini mulai memuncak. Kelopak matanya terasa kian berat dihantam efek obat penenang dan vitamin dari Dokter Maya.
"Aku mengantuk, Mas." adu Sasi lirih, suaranya terdengar makin melambat.
Adrian menyunggingkan senyum hangat yang begitu tulus.
Ia menyelipkan jemarinya di jemari Sasi, lalu membantunya berbaring secara perlahan di atas kasur yang empuk.
"Ayo, Mas temani tidur," ucap Adrian lembut.
Ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Sasi, menarik selimut tebal hingga menutupi dada istrinya.
Adrian melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Sasi, membiarkan wanita itu berbaring nyaman di dalam pelukannya.
Dengan penuh kasih sayang, Adrian merapikan helai rambut yang menutupi wajah Sasi dan mendaratkan satu kecupan hangat di pelipisnya.
Di bawah naungan dekapan suaminya yang hangat dan perlindungan yang nyata, Sasi akhirnya terlelap dengan tenang—tanpa lagi dibayangi ketakutan akan ancaman Fitria dan Hendrik.
Pagi harinya, sinar matahari menembus celah gorden apartemen rahasia, membiaskan cahaya hangat ke dalam kamar.
Adrian membuka matanya lebih awal. Pandangan pertamanya jatuh pada wajah Sasi yang tertidur lelap di dadanya, bernapas teratur tanpa rintihan ketakutan seperti malam-malam sebelumnya.
Perlahan, tanpa membangunkan istrinya, Adrian bergeser dan mengecup dahi Sasi dengan sangat lembut.
Ia memperbaiki posisi selimut Sasi sebelum berjalan menuju ruang kerja untuk mengecek koneksi streaming CCTV di rumah utamanya.
Di layar laptop, tampilan kamar utama rumah mewahnya menyajikan pemandangan yang makin memuakkan.
Fitria dan Hendrik tampak sedang menikmati sarapan mewah di atas ranjang mereka.
Hendrik berkali-kali tertawa lepas sambil mengelus perut Fitria yang kini tak perlu lagi disembunyikan di dalam rumah itu.
"Kita harus secepatnya mengurus berkas kepemilikan aset, Hendrik," ujar Fitria santai sambil menyesap kopi.
"Selagi Adrian di Kanada, aku bisa memalsukan beberapa dokumen kuasa dengan bantuan pengacara yang sudah kita bayar."
"Tenang saja, sayang. Semuanya berjalan sesuai rencana kita," balas Hendrik dengan senyum licik.
"Si idiot Adrian itu mengira dia sedang menyelamatkan bisnisnya, padahal dia sedang menyerahkan seluruh harta kekayaannya pada anak kita."
Di dalam kamar apartemen yang dingin, Adrian menyaksikan setiap detail percakapan itu dengan wajah datar yang membeku.
Tidak ada lagi amarah yang meledak-ledak; yang ada hanyalah kalkulasi matematis tentang bagaimana ia akan menghancurkan hidup kedua orang itu hingga tak tersisa.
Adrian menekan tombol merekam, mengarsipkan rekaman berdurasi panjang tersebut ke dalam folder bukti primer milik tim hukumnya.
"Kalian merencanakan pemalsuan dokumen dan pengambilalihan aset." bisik Adrian dingin pada layar monitornya.
"Terima kasih sudah memberikan bukti pidana tambahan secara sukarela."
Saat Adrian sedang fokus menata berkas digitalnya, suara langkah kaki pelan terdengar mendekat dari arah pintu kamar.
Sasi berdiri di sana dengan piyama longgarnya, memegang tepi pintu sambil menatap suaminya dengan mata yang masih agak sembab.
Adrian seketika menutup setengah layar laptopnya, lalu mengubah raut wajahnya menjadi hangat dan penuh senyum saat menyambut kedatangan istrinya.
"Sudah bangun, sayang?" tanya Adrian lembut, bergegas berdiri dan berjalan menghampiri Sasi untuk merengkuh pinggangnya.
Sasi mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya sejenak di dada bidang Adrian.
Rasa hangat dan aroma tubuh suaminya seketika mengusir sisa-sisa cemas yang sempat mengintai pikirannya saat terbangun di ruangan yang asing baginya.
"Mas Adrian sudah bangun dari tadi?" tanya Sasi lirih, mendongak menatap rahang tegas suaminya yang kini terlihat jauh lebih tenang.
"Lumayan, sayang," jawab Adrian lembut. Jemarinya dengan penuh kasih mengusap helai rambut Sasi yang agak berantakan.
"Mas, cuma sedang memeragakan beberapa pekerjaan di laptop. Bagaimana lehermu? Masih terasa sakit untuk menelan?"
Sasi memegang lehernya sendiri, mencoba menggerakkannya perlahan.
"Masih agak memar, tapi sudah jauh lebih mendingan dari kemarin. Obat dari Dokter Maya sangat membantu."
"Syukurlah," Adrian mengulas senyum lega. Ia merengkuh pinggang Sasi dan menuntunnya berjalan pelan menuju sofa di ruang tengah.
"Kamu duduk di sini sebentar ya. Mas sudah minta layanan apartemen untuk menyiapkan sarapan yang lembut—bubur ayam tanpa cuka dan sup hangat buat kamu."
Sasi menatap Adrian yang bergerak sigap dan begitu memperhatikan setiap detail kecil kebutuhannya.
Ada perasaan hangat yang kian membuncah di dalam dadanya.
Pria yang dulunya ia takuti, pria yang pernah melukainya karena manipulasi bisikan iblis Fitria, kini menjelma menjadi pelindung terhebat dalam hidupnya.
"Mas," panggil Sasi pelan saat Adrian hendak berjalan ke area dapur.
Adrian menghentikan langkahnya dan membalikkan badan dengan alis terangkat halus.
"Ya, sayang? Ada yang sakit lagi?"
"Tidak," Sasi menggeleng pelan, lalu menyunggingkan senyum tulus yang amat manis.
"Terima kasih ya, Mas. Terima kasih sudah percaya padaku dan melindungiku."
Pandangan Adrian meredup penuh haru. Ia berjalan mendekat, berlutut tepat di hadapan Sasi yang sedang duduk di sofa, lalu menggenggam kedua tangan istrinya erat-erat.
"Mas yang seharusnya minta maaf dan berterima kasih karena kamu masih mau memberikan Mas kesempatan, Sasi," ucap Adrian dengan suara parau yang sarat akan kesungguhan.
Ia mendaratkan kecupan hangat di punggung tangan Sasi.
"Mas janji, setelah semua badai ini berlalu dan dua iblis itu membusuk di penjara, Mas akan menebus semua air mata yang pernah kamu keluarkan." ucap Adrian sambil mencium kening istrinya.