Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Imut

Transmigrasi Gadis Imut

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadia Utari

Lily adalah gadis biasa yang suka makan kue dan membaca novel, tiba-tiba masuk ke dalam dunia buku yang baru saja ia baca! Dan yang lebih parah—ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan penjahat sampingan yang nasibnya berakhir sangat menyedihkan di akhir cerita.

Dengan wajah imut, sifat polos, dan hobi makan kue, Lily bertekad mengubah takdirnya. Tapi siapa sangka, rencana hidup tenangnya malah berubah jadi rumit—karena siswa paling dingin di sekolah, ketua OSIS yang tegas, dan bahkan pewaris perusahaan besar… semuanya jadi terpesona padanya!

"Kau ini sebenarnya makhluk apa?" tanya siswa dingin itu dengan wajah datar, tapi tangannya tak melepaskan pinggangnya.
Lily tersenyum polos sambil memegang kue: "Aku cuma gadis yang suka makan, Mas~"

Apakah Lily bisa selamat dari akhir cerita yang tragis? Atau malah menemukan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia Utari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 11: Hari Festival dan Stan Kue yang Penuh Warna

Hari pertama Festival Budaya akhirnya tiba! Sekolah yang biasanya tertib dan hening kini berubah menjadi tempat yang penuh warna, suara tawa, dan semangat. Setiap lorong dan ruang kelas dihiasi dengan spanduk, balon, dan hiasan tangan buatan siswa-siswi. Berbagai stan bermunculan di sepanjang koridor dan halaman sekolah—mulai dari stan makanan tradisional, stan kerajinan tangan, hingga stan permainan yang penuh tawa dan sorak-sorai. Udara terasa hangat dan penuh harapan, seolah seluruh sekolah merasakan kebahagiaan yang sama.

Stan kue kami terletak di tempat yang paling strategis, tepat di tengah halaman utama sekolah, di bawah pohon rindang yang teduh. Ethan telah merancangnya dengan sangat indah: dinding stan dilapisi kain berwarna krem lembut yang dihiasi pita sutra merah muda dan putih, di bagian atas tertulis nama stan kami dengan tulisan tangan yang rapi dan elegan—"Kue Senyum". Di sudut-sudut stan, kami menaruh vas-vas kecil berisi bunga matahari yang segar, membuat siapa pun yang lewat merasa disambut dengan hangat. Meja kami ditutup taplak meja berwarna putih bersih, dan di atasnya tertata raci berbagai macam kue yang kami buat sendiri sejak kemarin sore: kue sus krim, kue keju lembut, kue cokelat dengan taburan almond, kue stroberi segar, serta minuman cokelat hangat dan teh susu manis yang harumnya tercium sampai ke ujung halaman.

"Kita siap!" seru Elena dengan mata berbinar penuh semangat sambil merapikan piring-piring kecil. "Wangi sekali, semuanya pasti akan laku keras!"

"Pasti laku keras," tambah Mark sambil tersenyum puas melihat hasil kerja keras kami berempat. "Tampilan saja sudah begitu cantik, rasanya pasti jauh lebih enak."

Aku tersenyum bahagia melihat semuanya begitu sempurna. "Terima kasih semuanya. Tanpa bantuan kalian, aku tidak akan bisa melakukan ini sendirian."

Belum sempat aku melanjutkan kata-kataku, pengunjung mulai berdatangan. Awalnya hanya satu atau dua orang yang penasaran melihat stan kami yang cantik dan mencium aroma kue yang menggugah selera. Namun tak lama kemudian, antrean mulai memanjang hingga keluar dari bawah pohon. Siswa-siswi, guru, bahkan beberapa orang tua siswa yang datang berkunjung ikut berhenti dan membeli kue kami. Mereka memuji rasanya yang enak, manisnya pas, dan teksturnya yang lembut.

"Kue ini luar biasa lezat!" seru salah satu guru sambil tersenyum puas. "Rasanya seperti dibuat dengan penuh kasih sayang."

Kami berempat sibuk melayani dengan senyum dan sapaan ramah. Ethan mengantrekan pesanan dengan tenang dan teliti, memastikan setiap orang dilayani dengan cepat. Mark mengurus pembayaran dan mengatur antrean agar tetap tertib. Elena mengemas kue dengan rapi dan cantik. Sementara aku, menyajikan kue dan minuman dengan senyum tulus, sesekali memberikan potongan kecil kue gratis kepada anak-anak yang datang bersama orang tua mereka. Suasana di sekitar stan kami penuh dengan tawa, ucapan terima kasih, dan wajah-wajah bahagia.

Saat antrean mulai berkurang dan kami sempat beristirahat sejenak, Ethan mendekatiku sambil menyerahkan segelas teh susu hangat. Wajahnya sedikit berkeringat namun senyumnya tak pernah hilang. "Kau hebat, Lily. Semua orang menyukai kue buatanmu. Dan… mereka juga menyukaimu. Cara kau melayani mereka dengan tulus… itu yang membuat semuanya terasa lebih istimewa."

Aku menerima gelas itu dengan wajah yang sedikit memerah. "Terima kasih, Ethan. Tapi ini berkat kita semua. Tanpa kalian, stan ini tidak akan seindah dan seberhasil ini."

Mark yang sedang merapikan meja di sisi lain menoleh dan tersenyum melihat kami berdua. Tatapannya penuh pengertian, meskipun ada sedikit kesedihan yang samar di sana. "Dia benar, Lily. Kue itu enak, tapi senyummu yang membuat orang-orang kembali lagi."

Hari itu berakhir dengan kebahagiaan yang luar biasa. Kami berhasil menjual hampir semua kue yang kami buat, dan uang hasil penjualannya akan kami sumbangkan untuk dana amal sekolah—sesuai keputusan kami bersama sejak awal. Saat kami berempat berjalan pulang meninggalkan stan yang kini kosong namun penuh kenangan manis, langit di ufuk barat berwarna jingga keemasan, hangat dan indah. Seolah-olah langit pun tersenyum melihat kebersamaan kami.

Namun di dalam hatiku, aku tahu bahwa momen bahagia ini juga semakin mendekatkan aku pada keputusan yang harus kuambil. Keputusan yang akan mengubah hubungan kami selamanya. Dan entah mengapa, jantungku berdegup kencang—bukan karena takut, tapi karena aku semakin yakin dengan apa yang diinginkan hatiku.

1
little girl
terima kasih ya sudah mampir 😍😍
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!