Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 5
Nama Author: Senja

"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."

Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.

Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.

​Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.

​Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.

​Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.

Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 26 Amplop Putih

Ruangan itu menjadi saksi bisu kehancuran seorang ibu. Tangis histeris Kirana akhirnya perlahan mereda, menyisakan isak-isak kecil yang menyayat hati. Bahu ringkihnya masih naik turun dengan ritme yang tak beraturan. Di atas pangkuannya, kedua tangannya yang bergetar hebat terus meremas gumpalan tisu yang telah basah dan hancur oleh air mata.

Dokter Laras, psikolog paruh baya yang duduk di seberangnya, tidak buru-buru memotong atau berbicara. Wanita itu memiliki sorot mata keibuan yang sangat teduh. Ia membiarkan Kirana mengeluarkan seluruh sesak, amarah, dan rasa sakit yang selama berhari-hari ini dipendamnya sendirian di balik topeng kesombongannya.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang hanya diisi oleh embusan napas berat. Setelah bahu Kirana mulai sedikit tenang, wanita itu baru membuka suara.

“Kirana.”

Kirana perlahan mengangkat wajahnya yang sembap dan memerah. Tatapannya kosong, seolah sebagian jiwanya masih tertinggal di jalanan aspal tempat kecelakaan maut itu terjadi.

“Apa saya boleh bertanya satu hal sama kamu?” tanya Dokter Laras pelan.

Kirana mengusap sudut matanya yang kembali basah, lalu mengangguk pelan. “Silakan, Dok.”

Dokter Laras mencondongkan tubuhnya sedikit. “Kalau hari ini bayi kamu masih ada di sini, melihat ibunya menangis seperti ini. Menurut kamu, apa yang dia inginkan dari ibunya?”

Pertanyaan sederhana nan mematikan itu membuat seluruh tubuh Kirana membeku. Udara di sekitarnya seakan tersedot habis. Air matanya yang tadi sempat reda, kembali menetes deras tanpa bisa dicegah.

“Dia...” Bibir Kirana bergetar hebat. Ia mencengkeram dadanya yang terasa seolah ditusuk ribuan jarum. “Dia... pasti ingin saya bahagia, Dok.”

“Benar.” Dokter Laras tersenyum sangat lembut.

“Seorang anak, sekecil apa pun jiwanya, tidak pernah ingin melihat ibunya hancur. Dan dia pasti tidak ingin melihat ibunya terus-menerus menyalahkan diri sendiri atas kepergiannya.”

Kirana menunduk dalam-dalam. Tangisnya kembali menguat.

“Tapi semua ini murni salah saya, Dok! Ini salah saya!” jeritnya tertahan, meremas gaunnya.

“Kalau saja waktu itu saya menurut dan tidak keluar rumah. Kalau saja saya lebih hati-hati saat menyeberang. Kalau saja saya bisa melindungi perut saya., anak saya pasti masih hidup sekarang!”

Dokter Laras menggeleng pelan. Ia menyodorkan kotak tisu yang baru ke hadapan Kirana.

“Namanya trauma yang mendalam, Kirana, selalu membuat otak kita mencari seseorang untuk disalahkan. Dan biasanya orang pertama yang paling mudah untuk disalahkan adalah diri kita sendiri,” jelas Dokter Laras dengan nada menenangkan.

“Padahal, belum tentu itu kesalahan kamu. Kecelakaan itu terjadi murni di luar kendali kamu.”

“Tapi saya gagal, Dok! Saya gagal menjaganya!” Kirana meraung pilu. “Ibu macam apa saya ini? Saya gagal melindungi darah daging saya sendiri....”

“Bukan.” Dokter Laras memotong dengan nada yang jauh lebih tegas, menatap lurus ke dalam sepasang mata Kirana yang hancur.

“Kamu tidak gagal, Kirana. Kamu kehilangan seorang anak. Itu adalah sebuah tragedi, sebuah musibah yang luar biasa berat. Tapi ingat ini baik-baik, kehilangan anak itu sangat berbeda dengan gagal menjadi seorang ibu.”

Kalimat itu bagaikan pelukan hangat yang langsung meruntuhkan seluruh sisa benteng pertahanan Kirana. Ia menangis semakin keras, menumpahkan segala luka yang bernanah di dadanya. Selama ini, tak ada satu orang pun yang pernah mengatakan kalimat melegakan itu kepadanya.

Dokter Laras membiarkan tangisan memilukan itu memenuhi ruangan selama beberapa saat, sebelum kembali bersuara.

“Kirana. Sebagai langkah awal penyembuhanmu, saya ingin kamu mulai melakukan tiga hal untuk saya. Kamu bersedia?”

Kirana mengusap air matanya dengan kasar. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. “Apa itu, Dok?” tanyanya.

“Pertama. Berhenti berpura-pura kuat setiap saat. Tolong lepaskan topengmu. Kalau kamu ingin menangis, menangislah sekeras yang kamu mau. Menangis bukanlah tanda kelemahan, Kirana. Itu justru tanda bahwa hati kamu sedang berusaha menyembuhkan dirinya sendiri.”

Kirana menggigit bibir bawahnya, mengangguk kecil.

“Kedua. Jangan membuat balas dendam menjadi tujuan utama hidupmu. Saya tahu kamu marah karena pengkhianatan suamimu, saya tahu kamu ingin menghancurkan orang-orang yang menyakitimu. Balas dendam memang bisa memberi kepuasan sesaat. Tapi percayalah, kebahagiaan sejati tidak akan pernah lahir dari rahim kebencian. Jangan biarkan hatimu ikut menghitam bersama mereka.”

Kirana terdiam kaku. Ia merasa tertampar. Ia tahu betul, selama beberapa hari terakhir ini, ia memaksakan diri untuk berdiri tegak hanya karena digerakkan oleh api dendam pada Ardy, Siska, dan ibu mertuanya yang kejam.

“Lalu yang ketiga, Dok?” tanya Kirana dengan bibir bergetar.

Psikolog paruh baya itu tersenyum dengan mata berkaca-kaca. “Hiduplah untuk dirimu sendiri. Bukan demi Ardy. Bukan demi keluarga suamimu yang menuntut kesempurnaan. Bahkan, bukan demi membuktikan kehebatanmu kepada siapa pun yang telah merendahkanmu.”

Dokter Laras menggenggam tangan Kirana yang sedingin es.

“Hiduplah karena hidup kamu sendiri masih sangat berharga. Kamu berhak bahagia demi dirimu sendiri.”

Kirana memejamkan mata rapat-rapat.

Untuk pertama kalinya setelah terbangun dari maut, dadanya yang selalu terasa dihimpit batu raksasa, kini terasa sedikit lebih ringan. Udara segar seolah kembali menemukan jalan masuk ke paru-parunya.

Kirana memang belum sembuh sepenuhnya. Bayangan suaminya yang berkhianat dan suara tangis bayi dalam mimpinya pasti masih akan sering datang menghantui. Tangisnya mungkin masih akan pecah setiap malam di sudut kamar mandi yang sepi.

Namun setidaknya, hari ini ia belajar satu hal berharga.

Bahwa menjadi kuat bukan berarti harus memiliki hati sekeras baja dan tidak pernah menangis. Melainkan tetap memilih untuk bangkit perlahan, merangkai kembali hidupnya yang hancur, meskipun hati ini masih dipenuhi oleh ribuan bekas luka.

“Akan saya usahakan, Dok.” meski dalam hatinya, Kirana tidak pernah berdiam diri melihat Siska dan Ardy bahagia diatas penderitaannya.

*

*

“Sudah selesai, Nona?” tanya Tristan yang sejak tadi menunggu di luar.

Kirana mengangguk. “Antar aku pulang,” pintanya.

“Tunggu,” ucap Tristan menahan tangan Kirana. “Ada yang harus saya sampaikan pada anda.” Tristan mengeluarkan sebuah amplop putih bercap rumah sakit yang baru saja ia dapatkan dari seseorang beberapa saat lalu.

Dan ya, Tristan memang sempat membukanya. Awalnya ingin di buang, tapi Tristan urungkan niatnya itu. Siapa tahu setelah melihat itu pikiran Kirana akan semakin jernih.

“Apa ini Tristan? Jangan membuatku penasaran.” tanya Kirana, dahinya mengernyit bingung melihat amplop tersebut.

“Silahkan buka saja, Nona. Saya tidak yakin apakah anda akan bahagia atau justru sebaliknya,” jawab Tristan membuat Kirana semakin penasaran.

1
Ayla Anindiyafarisa
aku sudah menebak sih kalau Tristan ini anak orang kaya
Ayla Anindiyafarisa
oala masih belum sadar juga tu emak
Risa Ristiani
ya kalo ngomongnya sama Ardi yg di bicarain siapa lagi ya Kirana lah 😆 oon semua😄
Ayla Anindiyafarisa
manusia manusia aneh pengen kaya tapi g mau kerja pengennya ngerampok harta orang
Ummee
uang tok pikiran mu mak lampir
Ummee
admin keuangan? haha siap² digerogoti
Ummee
selingkuhan nya siska ini pasti dan ayah dari anak yg dikandung siska ini kek nya
Anonim
mantap💞
rahmah
ceritanya bagus Kirana bukan berubah jadi bar² tapi memang seharusnya dari awal bersikap seperti itu biar tidak dihina terus²an sebelum menikahkan tau keluarga calon suaminya seperti apa apalagi mertuanya yg gak suka sama dia tapi dasarnya Kirana baik dan penurut terbuktikan 3 tahun dia mengabdi sampai anak yg dikandung jadi korban suaminya mana pernah perduli dan lebih percaya sama selingkuhannya dan setelah berubah dan berpisah dg suaminya Kirana justru mendapat kebahagiaan berkali lipat apalagi bertemu dg Tristan yg selalu setia bersamanya hingga bersatu membangun keluarga kecilnya tapi bagaimana nasib bu Sarah ya setelah dioperasi kirain meninggal aja..🤭
Nunuy Aja
good Kirana
Ayla Anindiyafarisa
kalau kirana kaya kenapa selama ini mau aja di hina dan di rendahakan
Thix
hasilnya tidak memuaskan krn mereka adopsi anak pelakor😒
Anonim
dak sadar diri🤣
Dewa Nara
ogah ah baca novel yg perempuannya lemah
𝓢𝓮𝓷𝓲 𝓢𝓮𝓿𝓲𝔂𝓸𝓻𝓾𝓶: baru bab 2 lho, blm selanjutnya
total 1 replies
evana gusani
baru mampir
Ida Susmi Rahayu Bilaadi
keeekk 🤣🤣🤣
Mujiono Año
gitu dong jadi perempuan.balas jika dihina
Deera__
memang /Proud/
Deera__
ngimpi /Hammer//Sly/
Deera__
diihh naif dan gengsi.. bilang aja kau suka dan cinta nonamu itu 🤣🤣🤣🤣🤣🤣/Tongue//Tongue//Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!