Sehari sebelum pernikahan, Selena Anderson ditinggalkan tunangannya. Ethan Carter pergi ke luar negeri tanpa berpamitan hanya meninggalkan pesan bahwa ia belum siap menikah.
Ketika kepergian Ethan mengancam nama baik dua keluarga besar, Jason Carter, kakak Ethan datang dengan sebuah tawaran yang tak pernah Selena bayangkan. Ia bersedia menggantikan Ethan di altar.
Selena akhirnya menikah dengan pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Namun kehidupan bersama Jason perlahan mengubah segalanya. Di balik sikap dinginnya, Selena menemukan perhatian yang tidak pernah ia dapatkan dari Ethan.
Sampai Ethan kembali. Dan ingin mendapatkan Selena kembali. Sayangnya, perempuan yang dulu ia tinggalkan kini telah menjadi istri kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Seminggu setelah ia pergi, Ethan Carter akhirnya kembali.
Sepanjang penerbangan pulang, ia tidak bisa berhenti memikirkan Selena. Rasa bersalah yang ia habiskan selama seminggu terakhir untuk diredam dengan alasan seperti "aku butuh waktu untuk berpikir" kini datang menghantam kembali dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari yang ia duga.
Aku akan memperbaiki ini, pikirnya sambil menatap awan dari jendela pesawat. Aku akan meminta maaf. Aku akan berlutut jika memang harus melakukannya. Aku akan melakukan apa pun yang diperlukan agar Selena bisa memaafkanku, dan kami bisa memulai dari awal lagi.
Ia mencoba menelepon Selena berulang kali dalam perjalanan dari bandara, panggilan yang selalu berakhir dengan nada dialihkan. Ia juga terus mengirim pesan, tetapi tidak ada satu pun yang menunjukkan status terbaca. Antara ponsel Selena mati, atau wanita itu telah memblokir nomornya.
Pikiran-pikiran buruk mulai menggerogoti dirinya sepanjang perjalanan pulang. Bagaimana jika Selena benar-benar membencinya sekarang? Bagaimana jika ia sudah kehilangan kesempatan untuk memperbaiki segalanya?
Ethan tiba di rumah keluarganya sore hari, dengan satu rencana sederhana di benaknya. Ia ingin meminta maaf kepada orang tuanya terlebih dahulu, menerima kemarahan apa pun yang memang pantas ia dapatkan, lalu pergi menemui Selena untuk memohon kesempatan kedua.
Rencana itu buyar begitu matanya menangkap sosok di balkon lantai dua. Selena berdiri di sana, embusan angin sore menerbangkan ujung rambutnya. Wanita itu selalu terlihat cantik, bahkan sekarang, saat menatap langit dengan ekspresi yang dari kejauhan tampak seperti kesedihan yang mendalam.
"Selena," gumam Ethan, dadanya tiba-tiba dipenuhi kehangatan yang sebenarnya tidak berhak ia rasakan. "Kamu menungguku di sini?"
Tanpa berpikir panjang, ia bergegas masuk dan meninggalkan kopernya begitu saja di teras depan.
Ethan berlari menaiki anak tangga karena tahu persis arah mana yang menuju ke balkon tempat tujuannya, balkon yang terhubung dengan sebuah kamar di lantai dua. Untuk sekejap saja, sesuatu membuat langkahnya hampir terhenti.
Mengapa Selena ada di kamar itu?
Ia tahu persis kamar siapa itu. Kamar yang terhubung langsung dengan kamar utama. Kamar Jason.
Namun, rasa rindu yang telah menumpuk selama seminggu terakhir mengalahkan pertanyaan itu sebelum sempat terbentuk sepenuhnya di dalam benaknya. Ethan mendorong pintu hingga terbuka tanpa mengetuk dan tanpa berpikir panjang. Matanya segera menemukan Selena yang masih berdiri membelakanginya di balkon, menatap kosong ke langit sore.
Hatinya terasa sakit. Dia pasti sedih karena aku, pikirnya, keyakinan itu tumbuh semakin kuat di setiap langkah kaki yang mendekat. Ia langsung memburu memeluk tubuh wanita itu dari belakang.
Selena tersentak, tubuhnya seketika menjadi kaku. Reaksi pertamanya bukanlah rasa takut, melainkan kebingungan yang bercampur dengan sesuatu yang mendekati kepasrahan, karena hanya ada satu orang yang berhak memeluknya seperti ini, meskipun bemum pernah terjadi.
"Kau sudah kembali?" Suara Selena keluar dengan lirih, tubuhnya masih kaku. Ini tidak seperti Jason. Suaminya selalu menjaga jarak, selalu berhati-hati dengan setiap sentuhan yang terjadi di antara mereka. Namun, status mereka sebagai suami istri membuatnya menahan diri, memilih untuk tetap diam meskipun sesuatu di dalam dirinya merasa tidak nyaman dengan pelukan yang tiba-tiba dan terlalu erat itu.
Dekapan di tubuhnya semakin mengencang, dan sebelum Selena sempat mencerna apa yang sedang terjadi, sebuah ciuman mendarat di lehernya. Ciuman itu terasa hangat, terburu-buru, penuh dengan sesuatu yang jauh lebih intens daripada apa pun yang pernah ia rasakan dari siapa pun sejak pernikahannya.
Selena membeku sesaat, tubuhnya gemetar bukan karena gairah melainkan karena kebingungan yang tiba-tiba berubah menjadi kewaspadaan. Ini salah. Ini terlalu salah untuk seseorang yang seharusnya menjaga jarak.
"Jason, tunggu..." Selena mencoba berbalik, berusaha memahami situasi yang mendadak terasa asing.
Mendengar nama itu membuat sosok di belakangnya terdiam sejenak, tetapi bukan karena ia menyadari kesalahannya. Justru sebaliknya. Mendengar nama itu hanya meyakinkan Ethan bahwa Selena tidak semarah yang ia takutkan.
Ethan membalikkan tubuh wanita itu agar menghadap ke arahnya, dan sebelum Selena sempat melihat sepenuhnya wajah di depannya, bibirnya sudah terkunci oleh sebuah ciuman yang kasar dan penuh keputusasaan.
Butuh waktu sepersekian detik bagi Selena untuk benar-benar mengenali siapa yang berdiri di hadapannya, dan saat ia menyadarinya, tubuhnya yang sempat membeku karena bingung langsung berubah menjadi perlawanan penuh.
"Ethan!" Kata itu nyaris tidak sempat keluar sebelum bibirnya kembali dikunci. Selena mendorong dada pria itu dengan sekuat tenaga, memalingkan wajahnya, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman yang jauh lebih kuat dari yang pernah ia bayangkan.
"Lepaskan aku!" Suaranya kali ini keluar dengan lantang, cukup keras hingga menggema di dalam ruangan, cukup marah agar siapa pun yang mendengarnya tahu bahwa ini bukanlah sesuatu yang diinginkannya.
Namun Ethan, yang telah buta oleh rasa rindu dan keyakinan yang keliru, menolak untuk melepaskannya. Malah, tangannya mengunci semakin erat di sekeliling pinggang Selena, mencoba menariknya mendekat kembali seolah-olah memaksa kedekatan ini bisa mengembalikan segalanya seperti semula.
"Selena, tolong... Aku tahu aku salah, tapi aku sudah kembali sekarang. Kita bisa memperbaiki ini..."
"Lepaskan aku, Ethan!" Selena mendorongnya lebih keras, air mata amarah mulai menggenang di sudut matanya. "Aku sudah menikah! Kau tidak berhak menyentuhku seperti ini!"
Ethan terdiam kaku sejenak, seolah kata-kata itu membutuhkan waktu untuk benar-benar tersampaikan ke otaknya. "Menikah?" ulangnya, suaranya tiba-tiba kehilangan semua kepastian yang telah membawanya menaiki tangga tadi. "Menikah dengan siapa? Selena, aku baru saja kembali. Aku pikir kamu... Aku pikir kamu masih menungguku."
"Menunggumu?" Suara Selena bergetar, tetapi kali ini bukan karena takut, melainkan karena amarah murni yang telah ditahannya sejak menerima pesan perpisahan seminggu lalu. "Kau melarikan diri sehari sebelum pernikahan kita, Ethan. Apakah kau benar-benar berpikir aku hanya akan duduk diam menunggumu kembali seolah tidak terjadi apa-apa?"
Untuk sesaat, cengkeraman Ethan melonggar, cukup bagi Selena untuk mendorongnya mundur dengan sekuat tenaga, menciptakan jarak yang seharusnya tidak pernah hilang di antara mereka sejak awal.
Dan pada saat itulah sebuah suara memotong ketegangan di dalam ruangan dari arah pintu yang masih terbuka lebar. Suara itu terdengar datar dan terkendali, namun membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada teriakan apa pun.
"Sedang apa kau di kamar istriku?"
Baik Ethan maupun Selena langsung menoleh ke arah pintu secara bersamaan, dan di sana Jason berdiri. Setelan jasnya masih terpasang dengan sempurna, wajahnya hampir tanpa ekspresi kecuali matanya, yang menatap adik kandungnya sendiri dengan tatapan kilatan yang tidak pernah Jason tunjukkan kepada siapa pun sepanjang hidupnya.
Ethan Carter