Indonesia
NovelToon NovelToon
HABISNYA CINTA SUAMIKU

HABISNYA CINTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Duda
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.

​Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.

​Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HABISNYA CINTA SUAMIKU

​Sinar matahari pagi yang menembus celah-celah tirai ruang makan tak mampu mencairkan hawa beku yang membendung di dalam rumah. Suasana hening, kaku, dan serba canggung masih menggantung pekat, menyelimuti setiap sudut ruangan. Meski demikian, Alana tetap melangkah anggun menyusuri tangga lantai dua. Wajahnya telah terpoles riasan tipis yang rapi untuk menyamarkan binar sembap di matanya, memancarkan ketenangan yang terkontrol dengan amat sempurna.

​Bagi Alana, situasi ini bukan alasan untuk menelantarkan kewajibannya pada putri kecilnya. Di depan Tania, Alana bertekad untuk menyembunyikan retaknya fondasi rumah tangga mereka. Ia tak ingin kepolosan dan keceriaan Tania ternodai oleh perang dingin yang tengah bergejolak antara dirinya dan Gema.

​"Pagi, Anak Pintar," sapa Alana dengan suara merdu dan hangat begitu sampai di ruang makan. Ia mengecup puncakan kepala Tania yang sudah rapi berseragam sekolah.

​"Pagi, Bunda!" sahut Tania riang. Senyum manis seketika mengembang di wajah bocah itu, seolah melupakan suasana mencekam yang sempat merayapi rumah semalam.

​Alana duduk di samping Tania, mengusap lembut punggung putrinya. Dengan cekatan, ia mengoleskan selai cokelat di atas selembar roti tawar, lalu meletakkannya di piring kecil milik Tania. Gerakannya terlihat alami, penuh kehangatan khas seorang ibu, seolah tidak pernah terjadi badai besar di rumah itu beberapa jam sebelumnya.

​Gema, yang sudah duduk di ujung meja sejak setengah jam lalu, menatap interaksi itu dengan dada yang bergemuruh lesu. Pria itu tampak berantakan walau sudah mengenakan kemeja kerja yang rapi. Lingkaran hitam menegas di bawah matanya, menjadi saksi bisu dari malam panjang penuh penyesalan dan tangisan yang meluruhkan seluruh egonya.

​Gema menatap Alana tanpa berkedip. Ada rasa cemas, kerinduan, sekaligus ketakutan hebat yang bersarang di matanya. Pria itu ingin menyapa, ingin meminta maaf, atau sekadar menanyakan kabar kesehatannya pagi ini. Namun, setiap kali tatapan mereka berselisih, Alana mengalihkan pandangannya dengan begitu datar menganggap keberadaan Gema tak lebih dari embun pagi yang menempel di jendela; dingin dan transparan.

​Bi Sastro meletakkan secangkir kopi hitam di samping piring Gema dengan gerakan serba salah, lalu segera mundur kembali ke dapur.

​"Bunda nanti antar Tania sampai depan kelas ya?" pinta Tania di sela-sela kunyahan rotinya. "Hari ini ada pelajaran menggambar, Tania mau perlihatkan gambar rumah kita yang kemarin ke Ibu Guru."

​"Tentu saja, Sayang. Bunda antar sampai depan kelas," jawab Alana lembut seraya tersenyum manis.

​Gema meneguk ludahnya yang terasa pahit. Ia membersihkan tenggorokannya pelan, mencoba menyusupkan suaranya ke dalam percakapan hangat itu. Pria itu tahu ia harus mulai mengambil langkah, sekecil apa pun itu, untuk menunjukkan bahwa ia ingin berubah.

​"Pagi ini..." suara Gema terdengar serak, membuat Alana dan Tania menoleh sejenak. Gema menatap Alana lurus-lurus dengan tatapan memohon. "Pagi ini biar Mas yang antar kamu dan Tania. Mas akan antar Tania sampai ke sekolah, setelah itu Mas antar kamu sampai ke toko kue."

​Suasana di meja makan seketika membeku.

​Kalimat itu meluncur dari bibir Gema sebagai sebuah tawaran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sepanjang enam tahun sejarah pernikahan dingin mereka, Gema tidak pernah mau membuang waktunya untuk mengantar Alana ke toko kue. Jangankan mengantar, menanyakan jadwal kegiatan Alana pun tak pernah terlintas di benaknya. Gema selalu menyerahkan urusan antar-jemput kepada Pak Mamat atau membiarkan Alana mengemudikan mobilnya sendiri.

​Tania menatap ayahnya dengan mata membelalak heran, sementara Alana hanya terdiam sejenak. Jemari Alana yang sedang memegang serbet meremas kain itu pelan, sebelum akhirnya ia meletakkannya kembali ke atas meja dengan gerakan amat tenang.

​Alana menatap Gema. Tatapan matanya lurus, jernih, namun begitu dingin hingga terasa menusuk sampai ke tulang belang Gema.

​"Tidak usah, Mas Gema," tolak Alana dengan suara tegas dan lugas, tanpa ada keraguan sedikit pun. "Pak Mamat sudah siap di depan. Saya bisa mengantar Tania sendiri dan langsung pergi ke toko."

​Gema tersentak. Tolakan itu begitu spontan dan tanpa kompromi, menghantam sisa-sisa harapan kecil yang dipupuknya sejak subuh tadi.

​"Alana, tolong..." bisik Gema, suaranya mengandung nada permohonan yang amat sangat di depan putri mereka. "Mas cuma ingin mengantar kalian. Jalanan menuju toko kamu serah dan searah dengan jalur kantor Mas. Biar Mas yang menyetir hari ini."

​"Saya bilang tidak perlu, Mas," ulang Alana, nadanya tetap datar namun sarat akan penegasan garis batas yang amat tebal. "Terima kasih atas tawarannya, tapi saya tidak butuh."

​Penolakan tegas itu membuat suasana kian menegang. Gema terpaku di tempatnya, matanya memerah menahan kebas di dadanya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hubungan mereka, Alana menunjukkan penolakan terbuka atas kebaikan yang baru coba ia sodorkan.

​Namun Alana tak berhenti di situ. Ia memiringkan tubuhnya ke arah Tania, menatap manik mata bulat putrinya dengan kelembutan yang kontras dari nada bicaranya pada Gema tadi. Alana tidak ingin memaksakan kehendaknya pada Tania, tetapi ia juga tidak sudi lagi menyembunyikan kenyataan bahwa ia memberikan kebebasan penuh pada anak itu.

​"Tania..." panggil Alana halus seraya mengusap pipi lembut putrinya. "Hari ini Ayah menawarkan diri untuk antar ke sekolah. Tapi Bunda juga sudah siap untuk berangkat sama Pak Mamat."

​Alana meletakkan kedua tangannya di pundak Tania, menatap anak itu penuh kasih. "Sekarang Bunda serahkan keputusannya sama Tania. Tania hari ini mau diantar sama Bunda... atau mau diantar sama Ayah?"

​Gema menahan napasnya seketika. Jantungnya berdegup kencang hingga seperti hendak melompat keluar dari rongga dadanya. Pria itu menatap Tania dengan pandangan penuh harap dan rasa cemas yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya. Ia berharap putri kandungnya akan memilihnya, atau setidaknya memilih untuk pergi bertiga agar ia memiliki kesempatan berada di dekat Alana.

​Tania tertegun. Anak berusia enam tahun itu memandangi dua sosok orang tua di hadapannya secara bergantian.

​Ia menatap Ayahnya pria yang selama ini selalu sibuk dengan pekerjaan, pria yang selalu bersikap dingin di rumah, dan pria yang sering kali membuatnya takut saat menceritakan hal-hal buruk tentang Bundanya di depan nisan Mama Kirana.

​Lalu matanya beralih menatap Alana wanita yang selalu ada di sampingnya saat ia terbangun karena mimpi buruk, wanita yang mengobati lukanya saat terjatuh, wanita yang selalu tersenyum hangat meski matanya sering kali terlihat sembap dan lelah.

​Keheningan yang mencekam kembali melingkupi ruang makan itu selama beberapa detik yang terasa bagaikan keabadian bagi Gema.

​Tania perlahan menggeser duduknya, lalu mengulurkan kedua tangan kecilnya untuk merengkuh lengan Alana rapat-rapat. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Alana dengan penuh rasa nyaman dan perlindungan.

​"Tania mau diantar sama Bunda aja," sahut Tania pelan namun sangat jelas, suaranya bergema di ruangan yang sunyi itu.

​Bocah itu kemudian melirik ayahnya sebentar dengan tatapan polos yang menyiratkan jarak. "Ayah kan harus kerja. Nanti Ayah terlambat kalau antar Tania sama Bunda dulu. Tania berangkat sama Bunda dan Pak Mamat aja."

​Jleg!

​Pilihan sederhana dari bibir mungil Tania itu menghantam tepat di ulu hati Gema. Hukuman itu terasa begitu nyata, amat telak, dan sama sekali tak terbantahkan. Pria itu membeku total di kursinya, seolah seluruh tenaga di tubuhnya telah dilucuti sampai habis.

​Putri kandungnya sendiri anak yang ia jaga dan ia besarkan dengan segala fasilitas materi tanpa ragu lebih memilih ibu sambungnya daripada dirinya. Jawaban Tania bukan sekadar alasan tidak ingin ayahnya terlambat, melainkan sebuah penegasan implisit tentang siapa yang sebenarnya memiliki tempat utama di dalam hati kecil bocah tersebut.

​Alana mengulas senyum tipis, sebuah senyuman penuh kehangatan untuk Tania, namun menjadi pukulan dingin bagi Gema.

​"Baiklah kalau begitu. Ayo, anak pintar. Nanti kita kesiangan," kata Alana lembut seraya berdiri dari kursinya dan merapikan tas sekolah Tania.

​Tania berdiri dengan patuh, meraih tas punggung kecilnya, lalu menggenggam erat jemari Alana. Sebelum melangkah keluar, Tania menoleh pelan ke arah Gema yang masih duduk terpaku. "Tania berangkat ya, Ayah. Da-dah Ayah."

​Gema mencoba menyahut, mencoba memaksakan bibirnya untuk mengucapkan kata hati-hati, namun tenggorokannya terasa begitu tersumbat oleh rasa sesak yang luar biasa. Pria itu hanya mampu mengangguk pelan dengan tatapan mata yang hampa.

​Alana menuntun Tania melangkah meninggalkan ruang makan, berjalan menyusuri foyer tanpa berpaling sedikit pun ke belakang. Langkah sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer dengan irama yang tenang dan pasti, menandakan bahwa ia telah benar-benar lepas dari belenggu intimidasi dan kontrol emosional Gema.

​Begitu deru mesin mobil Pak Mamat terdengar menjauh dari carport dan perlahan menghilang di balik pagar utama, pertahanan diri Gema benar-benar runtuh.

​Pria itu memegangi dadanya yang terasa amat nyeri. Tangannya yang menopang di atas meja gemetar hebat. Gema menundukkan kepalanya dalam-dalam di atas meja makan yang kini benar-benar kosong dan dingin.

​Ia ingat bagaimana selama enam tahun ini ia selalu menomorduakan Alana, mengabaikan keberadaan wanita itu, dan menganggap bahwa posisinya sebagai pencari nafkah utama memberikan kekuasaan mutlak atas rumah tangga mereka. Namun pagi ini, di meja makan yang sama, Gema dipaksa menyaksikan betapa ia telah terasingkan sepenuhnya dari kehidupan istri dan anaknya sendiri.

​Penyesalan yang datang bertubi-tubi sejak semalam kini menjelma menjadi ketakutan yang menggerogoti setiap jengkal pikirannya. Gema menyadari bahwa uang, status, dan kekuasaannya sebagai pengusaha sukses tak berarti apa-apa saat ini. Hati Alana telah membatu, dan Tania telah memilih berdiri di pihak Bundanya.

​Gema duduk sendirian di ruang makan yang megah namun terasa bagai sangkar besi yang hampa. Pria itu menyadari satu hal dengan sangat menyakitkan perjuangannya untuk mendapatkan kembali kehangatan rumah ini baru saja dimulai, dan jalan yang harus ia tempuh akan sangat panjang, berliku, dan penuh dengan kepedihan yang harus ia telan sendiri sebagai balasan atas enam tahun keabaiannya.

1
sutiasih kasih
kabur tuh yg jauh alana.... minimal kabur ya keluar kota... ato keluar pulau...
Lee Mba Young
Kabur cm semeter Dari rumah buat apa. ya gk move on.

kabur sekalian kluar pulau, buka hidup baru. Tania Ada bpk nya ngapain di pikirin.

sebenere yg buat sulit itu bukan melupan Tania tp Alana yg bucin ma Gema mkne gk bisa pergi jauh, di siksa taunan mau mau saja. alasan Tania.
Lee Mba Young
kabur cm ngekost, kabur kok nanggung banget. gk niat.

kl niat pergi luar pulau naik kapal biar gk di lacak. mobil di jual. trus nnti buka toko lagi tmpat lain. itu br Jos gandos.
Mundri Astuti
kedeketan Alana ...
Lee Mba Young: kabur cm segitu, nanggung banget 😄
total 1 replies
Elina thea
next....
Sri Widiyarti
nyesek banget 😭😭😭
Sasikarin Sasikarin
kok g greget Thor 2 bab ini 🙏
Ma Em
Bagus Alana keputusan Alana sdh benar jgn menyiksa diri sendiri hanya untuk membahagiakan orang lain lbh baik Alana cari kebahagiaan Alana sendiri , semoga Alana dapat pengganti gema lelaki baik yg mencintai dan menyayangi Alana 🤲🤲.
Arieee
mantap alana💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
Sri Widiyarti
nyesek banget Alana 😭 semoga author kasih pasangan hidup yang memuliakan Alana ...
Zhafran Althaf
good job alana
Lee Mba Young
eleh paling nnti juga balikan🤣. soale yg bucin Alana nya nnti dng alasan Tania pasti balikan.
Chintya Ananda
bagus alana pergilah dan raihlah kebahagiaanmu...lanjut thor💪💪
Lee Mba Young: nnti pling juga balikan, biasanya bgitu sih 🤣.
total 1 replies
sutiasih kasih
telatttt gema....
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
sutiasih kasih
bukan tiba" dodol.....
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
sutiasih kasih
keren g tuh......
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅
Elina thea
akhirnya Alana membuat keputusan yg benar👍... please Alana setelah ini kamu harus lebih berani kalo di rendahkan ibumu atau orang lain,jangan mudah luluh sampai rujuk lagi kayak cerita kebanyakan yah...
Susi Susanti: ini judul nya mesti di balik🤭
total 1 replies
Elina thea
memang mikirnya harusnya kesana alana...buat apa mempertahankan pernikahan dgn alasan anak kalo diri sendiri udah sakit,sakit secara fisik masih bisa ke dokter untuk bisa sembuh...tapi batin dan jiwa yg sakit,sekalipun bibir berucap sudah ikhlas dan memberikan kesempatan kedua belum tentu bisa sembuh meski dalam waktu yg panjang,karna sakit batin yg tidak terlihat justru akan slalu di ingat dan akan jadi bayangan di dalam pernikahan...
Sri Widiyarti
Ya Allah terbayang diposisi Alana 😭😭😭
Arieee
menguras emosi💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!