Indonesia
NovelToon NovelToon
AKU MILIKMU

AKU MILIKMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:422
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANJI DONI

Doni duduk di ruang tamu tersebut bersama Mama Kristin. Di atas meja kayu yang mengkilap itu, dua gelas teh hangat masih mengepulkan uap tipis, menyebarkan aroma harum yang menenangkan ke seluruh ruangan. Suasana di dalam rumah itu terasa begitu hangat, kontras sekali dengan udara dingin dan rintik hujan yang masih terdengar membasahi halaman luar. Doni menyandarkan punggungnya di sofa empuk, sedikit merapatkan kemejanya yang masih terasa lembap terkena percikan air hujan, lalu menatap lembut ke arah wanita paruh baya yang duduk di hadapannya.

Mama Kristin menatap Doni dengan senyum yang tulus dan ramah, lalu mulai bercerita dengan suara yang lembut namun tegas. "Kami berdua memang hanya hidup berdua saja di rumah ini, Nak. Sejak lama, rumah ini terasa sepi jika Kristin sedang kuliah. Kakaknya, Jerry, bekerja di sebuah perusahaan swasta yang letaknya jauh di luar kota. Jaraknya begitu jauh dari kota kita, sehingga Jerry hanya bisa pulang menemui kami berdua setahun sekali, itupun jika ia memiliki waktu luang yang cukup."

Doni mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk tanda paham. Di matanya, terpancar rasa hormat yang tulus kepada wanita yang telah membesarkan putrinya seorang diri dengan penuh ketabahan. "Aku sangat memaklumi hal itu, Tante," ucap Doni perlahan dengan nada yang sopan dan rendah hati. "Dan aku pun semakin mengerti mengapa Kristin tumbuh menjadi wanita yang dewasa dan bijaksana. Ia mampu memahami perjuangan Tante dalam membesarkannya seorang diri, menjaga rumah, dan berusaha keras agar segala kebutuhan terpenuhi. Kesabaran dan keteguhan hati Tante itulah yang kini tercermin dalam diri Kristin."

Mendengar ucapan Doni, Mama Kristin tersenyum lebar hingga kedua sudut matanya tampak berkerut halus. Wanita itu merasa tenang melihat ketulusan yang terpancar dari sorot mata pemuda di hadapannya. "Terima kasih atas pujianmu, Nak Doni. Namun satu hal yang ingin aku sampaikan kepadamu hari ini..." Mama Kristin menatap Doni lekat-lekat, suaranya berubah menjadi lebih serius namun tetap penuh kelembutan. "Aku sama sekali tidak melarang Kristin dekat dengan siapa pun, termasuk denganmu. Aku percaya pada penilaian putriku sendiri. Namun ada satu syarat yang aku harap dapat kau pegang teguh: asalkan lelaki tersebut mampu menjaga Kristin dengan sepenuh hatinya, menjaga perasaannya, dan tak akan pernah menyakiti hatinya sedikit pun."

Doni menegakkan punggungnya perlahan, menatap lurus ke arah mata Mama Kristin dengan tatapan yang teguh dan tulus. Ia mengerti sepenuhnya makna tersirat dari pesan tersebut — itu bukan sekadar pesan biasa, melainkan sebuah kepercayaan besar yang diberikan seorang ibu kepadanya. "Aku mengerti sepenuhnya maksud Tante," jawab Doni dengan suara yang mantap dan penuh keyakinan. "Dan aku berjanji kepada Tante, di sini dan saat ini, bahwa aku akan menjaga Kristin sebaik-baiknya. Aku tak akan membiarkan siapa pun menyakitinya, dan aku tak akan pernah berbuat hal yang dapat melukai hatinya. Selama aku bernapas, aku akan melindunginya dan menjaganya."

Mama Kristin tersenyum lega mendengar janji yang diucapkan dengan begitu tulus itu. Ia mengangguk pelan, lalu menunjuk gelas teh yang masih terisi penuh di hadapan Doni. "Sudahlah, mari kita minum teh ini selagi masih hangat. Apalagi tubuhmu pasti terasa kedinginan baru saja terkena hujan deras tadi. Segelas teh hangat ini sedikit banyak akan membantu menghangatkan tubuhmu."

Doni tersenyum tipis, lalu mengangkat gelas itu dan meminumnya perlahan. Panas yang menjalar dari tenggorokan hingga ke dada membuatnya merasa jauh lebih nyaman.

"Terima kasih juga ya, Nak Doni," ucap Mama Kristin tiba-tiba dengan nada penuh kehangatan. "Kau jadi kehujanan dan pakaianmu basah kuyup hanya untuk mengantar Kristin pulang dengan selamat sampai rumah."

Doni meletakkan gelasnya perlahan ke atas meja, lalu menatap wanita itu dengan senyum yang tenang. "Tante tak perlu berterima kasih. Itu adalah hal yang paling pantas aku lakukan. Memastikan Kristin pulang dengan selamat adalah tanggung jawabku. Aku tak akan membiarkannya berjalan sendirian di tengah cuaca yang buruk seperti ini."

Belum lama berselang, terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah lorong. Tak lama kemudian, Kristin muncul dari balik pintu. Rambutnya kini telah kering dan tersisir rapi, berubah menjadi pakaian rumah yang nyaman dan sopan, wajahnya tampak segar kembali setelah mandi dan membersihkan diri. Ia berjalan mendekat dengan langkah ringan, lalu duduk di samping Doni sambil melirik ke arah Mamanya dengan tatapan penuh tanya.

Mama Kristin tersenyum melihat putrinya yang tampak berseri-seri, lalu berdiri perlahan dari tempat duduknya. "Sudah selesai mandinya? Kalau begitu, biarkan kalian berdua mengobrol sebentar di sini dulu. Mama akan ke dapur sebentar." Tanpa menunggu jawaban, Mama Kristin melangkah pergi meninggalkan mereka berdua menuju arah dapur.

Begitu sosok Mamanya menghilang di balik pintu, Kristin segera memiringkan wajahnya ke arah Doni dengan tatapan penuh selidik dan senyum menggodanya. "Hei... apa saja yang dibicarakan Mamaku padamu tadi? Jangan-jangan Mamaku menakut-nakutimu ya?"

Doni menatap wajah Kristin yang penasaran itu, lalu sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis yang jenaka. "Bukan menakut-nakuti..." jawab Doni pelan sambil menatap mata Kristin. "Tapi Mamamu ternyata telah menugaskanku menjadi seorang pengawal pribadimu tanpa bayaran sepeser pun."

Kristin mengerjap bingung. "Pengawal pribadi? Maksudnya?"

"Tugasku satu dan hanya satu," lanjut Doni dengan nada yang tetap serius namun matanya berkilat jenaka. "Menjagamu setiap saat, dan memastikan kau tak akan mengalami kesulitan atau bahaya sedikit pun. Aku harus memastikan kau selalu aman, tak boleh kenapa-kenapa."

Kristin seketika tertawa renyah mendengar penuturan itu. Tawanya terdengar begitu jernih dan tulus hingga membuat suasana ruangan itu terasa semakin hangat. "Aduh, Kak Doni... Kakak ini berlebihan sekali ya! Aku bukan anak kecil yang perlu dijaga terus-menerus seperti itu!"

Doni ikut tersenyum melihat tawa gadis itu, namun di dalam hatinya, ia menyadari bahwa janji yang baru saja diucapkannya bukan sekadar bercandaan. Itu adalah janji tulus yang akan ia tepati seumur hidupnya. Doni lalu melirik ke arah jendela yang masih terlihat gelap, lalu perlahan berdiri dari tempat duduknya. "Sudah hampir malam, sebaiknya aku pulang sekarang. Lagipula pakaianku masih cukup lembap dan basah terkena air hujan tadi. Aku takut jika terlalu lama di sini, malah membuat Tante khawatir."

Baru saja Doni hendak melangkah, tiba-tiba Mama Kristin kembali muncul dari arah dapur sambil membawa sebuah kotak bekal yang tertutup rapi. Wanita itu menyodorkan kotak tersebut kepada Doni dengan senyum yang hangat.

"Nak Doni, tunggu sebentar," panggil Mama Kristin lembut. "Bawalah ini bersamamu. Makanlah ketika kau sudah sampai di rumah nanti, selagi masih hangat. Tadi siang aku memasak ayam gulai yang ternyata porsinya terlalu banyak untuk dihabiskan hanya berdua saja bersama Kristin di rumah ini. Daripada terbuang percuma, lebih baik kau bawa pulang."

Doni tertegun sejenak menatap kotak bekal itu, lalu menatap wajah Mama Kristin yang tampak begitu tulus dan ramah. Hatinya seketika terasa hangat, seolah ada kehangatan yang menjalar dari kotak bekal itu menuju seluruh tubuhnya. Ia merasakan kelembutan dan perhatian seorang ibu yang selama ini tak pernah ia rasakan sejak kecil. Perhatian yang begitu sederhana namun terasa begitu berharga baginya.

"Terima kasih banyak, Tante..." ucap Doni perlahan dengan suara yang terdengar sedikit bergetar menahan haru. Ia menerima kotak bekal itu dengan kedua tangannya, memeluknya sejenak di dada seakan memeluk kehangatan kasih sayang yang baru pertama kali ia terima. "Terima kasih banyak kepada Tante dan juga kepada Kristin. Aku pamit pulang dulu."

Doni pun melangkah keluar dari rumah itu, membawa kotak bekal itu erat di pelukannya, meninggalkan dua wanita yang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum melihatnya melangkah pergi.

Sesampainya di rumahnya yang besar dan sepi, Doni tidak langsung berganti pakaian atau membersihkan diri. Ia justru duduk sendirian di ruang tamu yang luas itu, menatap lama kotak bekal yang masih terasa hangat di tangannya. Matanya menatap kotak itu lekat-lekat, seakan sedang melihat sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar makanan di dalamnya. Di keheningan malam itu, hatinya dipenuhi rasa haru yang mendalam. Ia merasakan kehangatan sebuah keluarga — kehangatan yang begitu lembut, tulus, dan penuh kasih sayang. Sesuatu yang tak pernah ia rasakan sejak masa kecilnya yang sepi dan sunyi. Perlahan, ia membuka tutup kotak bekal itu. Aroma harum ayam gulai yang masih mengepul hangat seketika memenuhi ruangan. Dengan perlahan, Doni mulai menyantap makanan itu satu suapan demi satu suapan. Di sela-sela suapannya, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum yang tulus dan bahagia. Di setiap suapan yang ia telan, terasa bukan sekadar rasa lezatnya masakan yang disiapkan dengan penuh kasih sayang, melainkan juga kehangatan kasih sayang seorang ibu dan kebahagiaan memiliki orang-orang yang tulus menyayanginya. Malam itu, di tengah kesepian rumahnya yang besar, Doni merasa tak lagi sendirian. Karena di dalam hatinya, kini telah tersimpan kehangatan yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!