"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."
Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.
Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.
Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.
Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Kenyataan Yang Menyakitkan
"Ya, ambil saja. Toh Kak Zidan juga tidak bakal pernah suka sama kamu," cibir Siska sinis seraya melempar pandangan meremehkan.
"Daripada pusing cari uang buat biaya rumah sakit adikmu, 500 juta ini besar, loh. Sangat cukup buat kehidupanmu dan keluargamu!"
Humaira hanya diam. Tak menolak, juga tak menerima.
Melihat Humaira yang bergeming, Melodi berdiri melangkah mendekat, menatap Humaira dengan tatapan penuh tuntutan dan keangkuhan.
"Dan setelah kau terima uang ini, aku mau kau segera bercerai dengan Mas Zidan," tekan Melody mendesak ponakannya itu.
Setelah sejak tadi diam dan membiarkan kedua wanita itu menyudutkan serta merendahkannya, Humaira akhirnya perlahan mendongak.
"Kenapa tidak tanya langsung saja padanya?" sahut Humaira datar, perkataannya cukup untuk menghentikan keangkuhan mereka.
"Kenapa bukan Tante sendiri yang menyuruhnya? Karena sampai detik ini... dialah yang bersikeras tidak mau menceraikanku." Lanjut Humaira.
"Cih! Kamu lagi mimpi? Bilang Kak Zidan tidak mau cerai sama kamu?" Sahut Siska, "Jangan kebiasaan berhalusinasi, Humaira! Kamu itu cuma perawat biasa yang kebetulan mendapat nasib baik bisa dinikahi Kak Zidan secara terpaksa. Mana mungkin Kak Zidan mau mempertahankan wanita miskin dan menyusahkan seperti kamu!"
Melodi mengibaskan tangannya condong ke depan, menatap Humaira dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Jangan bertingkah seolah-olah kamu punya harga diri di depan kami, Humaira. Kami tahu siapa kau dan seberapa susahnya hidupmu. Lima ratus juta ini sudah lebih dari cukup untuk membeli seluruh kehidupanmu dan biaya berobat adikmu yang hampir mati itu! Harusnya kamu sadar diri, tahu terima kasih, lalu angkat kaki dari kehidupan Mas Zidan secara tahu diri!"
"Benar banget, Kak Melodi!" potong Siska bersemangat, ikut memojokkan. "Dasar wanita tidak tahu malu! Kamu sengaja kan tidak mau cerai, agar bisa memanfaatkan status pernikahan ini untuk memeras Kak Zidan? Ngaku saja! Jangan sok suci berpura-pura seolah-olah Kak Zidan yang mengemis padamu!"
Hinaan demi hinaan terlontar dari mulut kedua wanita itu.
Tapi Humaira masih tetap tenang, meskipun hatinya mulai terasa sakit atas semua tuduhan mereka.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Humaira perlahan membuka resleting tas sandangnya.
Jemarinya merogoh ke dalam, mengeluarkan selembar amplop putih, lalu menarik keluar beberapa lembar kertas dari dalamnya.
Srett.
Humaira melangkah lebih mendekat, menghempaskan kertas-kertas tersebut tepat di atas meja di hadapan Melodi dan Siska.
Mata Melodi dan Siska mendadak tertuju pada lembaran kertas di meja. Tulisan tebal di bagian atas kertas itu langsung membuat mereka kehabisan kata-kata: SURAT PERJANJIAN PERCERAIAN.
"Buka dan lihat sendiri," ujar Humaira.
Melodi segera menyambar kertas itu dan memeriksanya. Matanya terpaku sempurna saat melihat kolom tanda tangan di bagian bawah.
Tanda tangan atas nama Humaira Zahara sudah tertera di sana dengan jelas.
Namun, pada kolom di sebelahnya—kolom untuk pihak suami—masih kosong tanpa coretan tinta sedikit pun.
"Aku sudah menandatanganinya sejak beberapa hari yang lalu. Aku yang meminta perceraian ini," ucap Humaira, menatap Melodi. "Tapi... pria yang kalian bangga-banggakan itu... justru menolak menandatanganinya."
"Kalau dia mau, aku tidak akan pernah menolak uang lima ratus juta milikmu itu, Tante Melodi..." Ucap Humaira.
Ternyata, Zidan juga berdiri di dekat sana dan mendengar semua pembahasan mereka sejak awal.
Melodi tak sengaja melihat keberadaan Zidan, tak sanggup lagi menahan rasa kekecewaannya.
Dada wanita itu bergemuruh hebat, tatapannya nyalang penuh luka.
Air mata Melodi perlahan luruh.
Ia sama sekali tak menyangka bahwa kenyataannya, kekasih yang sangat ia cintai itulah yang bersikeras menolak bercerai dari wanita miskin di hadapannya.
"Kamu jahat, Mas..." Seru Melodi dengan suara bergetar dipenuhi rasa sakit hati.
Segera wanita itu berbalik dan berlari kencang keluar dari sana.
"Melodi!" panggil Zidan spontan, pria itu langsung bergegas mengejarnya yang berlari dengan derai air mata.
Humaira melihat punggung Zidan yang menjauh dan menghilang di balik pintu.
Perlahan, senyum miris terukir di bibirnya.
Kau menolak menceraikanku, tapi kau juga tidak pernah bisa memilih di antara kami. Egois, dan keliru dengan perasaanmu sendiri, batin Humaira.
Tes
Setetes air mata luruh membasahi pipinya. Sedih, meratapi nasibnya yang terjebak menjadi orang ketiga di antara hubungan Zidan dan Melodi—posisi serba salah yang sama sekali tidak pernah ia inginkan.
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂